
Liliana terkejut manakala dia melihat bola sihir yang menunjukkan wajah pria yang ia cintai disana sedang melihat dirinya.
"ACKK!! Dasar mesum!!"
Gadis itu segera memakai handuk, ia melempar pakaiannya ke arah bola sihir itu. Sementara itu Max mematikan panggilan bola sihirnya.
"Halaahhhh.... Liliana pasti marah padaku, aku kan tak sengaja melihatnya. Lagipula dia kenapa membawa bola sihir ke kamar mandi? Bukan salahku yang melihatnya!" gumam Max dengan tangan gemetar.
Sebenarnya pikirannya mulai melayang, membayangkan Liliana tanpa busana tadi. Padahal dia sudah pernah melihat tubuh polos itu dari kehidupan pertama mereka. Tapi tetap saja dia malu sendiri, tak sabar dia ingin memiliki lagi tubuh Liliana yang cantik itu.
*****
Di kamar Liliana, gadis itu baru saja berganti baju dengan gaun tidurnya. Masih saja dia kesal dengan Max yang dikira mengintip dirinya. "Dasar mesum! Beraninya dia melihat tubuhku, dia pasti sudah gila!" Gadis itu terus saja menggerutu soal Max.
"Putriku...siapa yang melihat tubuhmu?"
Suara lembut itu membuat Liliana tersentak kaget, dia melihat ke arah asal suara itu. Di sana ada ibu suri datang menghampiri Liliana. "Yang mulia..."
"Hem...ibu, bukan yang mulia. Apa kau lupa? Kalau aku adalah ibumu?" Tanya ibu suri kepada Liliana. Wanita paruh baya itu berjalan mendekatinya.
Aiden, terima kasih...kau sudah memberiku seorang ibu yang baik. Liliana merasa bersyukur di dalam hatinya kepada sosok Aiden yang telah tiada. Aiden seperti telah memberikan kehidupan baru kepadanya. Apalagi kasih sayang seorang ibu yang tidak bisa dia dapatkan di masa lalu.
"Ibunda... ada apakah gerangan ibunda datang ke kamarku malam-malam begini?" tanya Liliana seraya memegang tangan ibu suri, kemudian mereka sudah duduk saja di atas sofa di kamar itu.
Keduanya duduk bersampingan. Ibu suri menatap Liliana sambil tersenyum. "Dari dulu...aku pernah bermimpi mempunyai seorang anak perempuan, tapi Tuhan tidak mentakdirkanku untuk hamil lagi setelah aku melahirkan Aiden. Kandunganku lemah, tapi aku merasa sangat bahagia karena aku memiliki seorang putra yang sangat menyayangiku. Dan kini setelah dia pergi, dia masih memberikanku kebaikannya....yaitu kehadiran dirimu di dalam hidupku, seorang putri yang sangat cantik." lirih wanita paruh baya itu sambil membelai wajah Liliana dengan lembut.
"Iya ibu, Aiden adalah pria yang sangat baik, dia memberikan banyak kebahagiaan untuk orang-orang di sekitarnya termasuk diriku. Aku merasa sangat bersyukur karena dia di dalam hidupku..." Liliana juga merasakan hal yang sama dengan ibu suri, Aiden bagai matahari yang menyinari hidupnya. Sahabat yang baik, pria yang baik, tapi sayangnya dia tidak mendapatkan cinta dari gadis itu.
"Benar, Aiden telah memberikan kehidupan yang indah kepada kita. Terutama kepadamu, Liliana. Dan ibu berharap, kalau kau memikirkan keputusanmu untuk menikahi Raja Istvan."
Liliana tercengang, akhirnya Ibu suri membuka mulut mengatakan apa maksudnya datang ke kamarnya malam-malam begini. "Ibu!"
"Maaf, bukannya ibu melarangmu untuk menerima pinangannya kelak. Namun, Masih banyak pria yang pantas dan jauh lebih baik darinya."
"Ibu, aku mencintainya dan Aiden juga sudah mengatakan perihal hubungan kami." Jelas Liliana.
"Hem...ibu paham, tapi rasanya terlalu mudah saja baginya untuk mendapatkan dirimu." Ibu suri terlihat berpikir keras.
"Maksud ibunda?"
"Ibu, tidak akan membiarkannya semudah itu untuk mendapatkan dirimu. Liliana, kau adalah Putri Ibu...seorang putri dari kerajaan yang besar, jika dia ingin menikahimu. Maka ia harus melalui prosedur yang sudah ditetapkan oleh kerajaan kita!" Seru ibu suri sambil tersenyum.
"Hah? Prosedur macam apa itu, ibu?" Liliana menatap ke arah sang Ibu suri dengan bingung.
Ibu suri hanya tersenyum, kemudian dia berkata. "Kau tanyakan saja kepada Dorman, dia lebih tahu prosedur apa saja yang harus dilalui oleh beberapa pelamar yang ingin melamar putri kerajaan Gallahan."
Aku ingin melihat kekuatan cinta kalian sekali lagi, apakah Tuhan memang mentakdirkan kalian bersama seperti apa yang dikatakan oleh Aiden.
Ibu suri melihat Liliana terlihat bingung. Kemudian setelah mengatakan itu, dia keluar dari kamar Liliana. Tak berselang lama setelah obrolannya dan ibu suri, bola sihir kembali menyala. Dia melihat sosok Max berada di bola sihir itu.
__ADS_1
"Lily, kenapa kau mematikan bola sihirnya? Apa kau marah kepadaku? Maafkan aku Lily, aku benar-benar tidak sengaja melihat tubuhmu!" Max mengatupkan kedua tangannya seraya memohon maaf kepada gadis itu, Iya sungguh tidak sengaja melihat dirinya yang sedang mandi. Lebih tepatnya, keadaan telanjang.
"Aku tau... jadi sudahlah jangan meminta maaf lagi." Kata Liliana yang tak ingin membahas masalah itu. Yang ingin dia bahas justru masalah lain.
"Kenapa kau masih terlihat marah? Lihat wajahmu yang seperti kepiting rebus itu!" tunjuk Max pada wajah Liliana yang merah.
"Aku tidak marah! Aku hanya sedang bingung,"
"Bingung? Bingung kenapa?" Tanya Max sambil melihat Liliana dari bola sihir.
"Kau belum bisa mengajukan lamaran kepadaku," ucap Liliana.
"Hah? Apa maksudmu? Kenapa tidak bisa?" Kedua mata hitam kelam milik pria itu membulat sempurna saat mendengar ucapan kekasihnya.
"Kata ibuku, kau harus melalui prosedur yang seharusnya."
"Prosedur apa? Aku tidak membutuhkan prosedur apa-apa untuk menikahi kekasihku sendiri? Ah salah... bukan kekasihku tapi mantan istriku, orang yang kucintai!" Tegas Max pada Liliana.
"Hem...aku tidak tahu prosedur apa yang disebutkan oleh ibuku, aku akan tanyakan ini kepada Dorman besok pagi. Ya sudah, aku mengantuk...aku akan tidur." ucap Liliana yang akan menutup kembali bola sihir.
"Tidak! Tunggu dulu, kenapa kau buru-buru sekali? Kita sudah 52 jam, 33 menit dan 30 detik, tidak saling bertemu dan tidak saling bicara! Kenapa kau begitu saja ini mengakhiri percakapan kita? Apa kau tidak rindu padaku?" oceh pria itu menggerutu.
Terlihat kening Max yang berkerut, dia tidak senang dengan Liliana yang begitu saja memutus percakapan mereka. Jujur, Liliana merasa terharu oleh perkataan pria itu, lantaran dia bahkan mengingat semua waktu yang mereka lewatkan ketika tak bersama.
"Aku rindu." balas Liliana sambil tersenyum.
"Tapi kenapa kau mau bicarakan kita begitu saja?"
"Hem...kalau kau tidak mau aku marah, kau harus nyanyikan sebuah lagu untukku."
"Apa?!"
"Ayo nyanyi, aku ingin mendengarmu menyanyikan lagu tidur seperti dulu." Pinta Max sambil bersandar di headboard ranjang miliknya.
Apa Max masih kesulitan untuk tidur?
Liliana agak cemas mendengar permintaan Max kepadanya. Dia tau bahwa Max mempunyai insomnia, apalagi setelah dia banyak pekerjaan.
"Iya, aku masih sulit untuk tidur. Makanya, kau harus bantu aku agar aku bisa tertidur." Max menjelaskan semuanya, seakan dia paham dengan apa yang dia lihat dari raut wajah Liliana.
"Baiklah...kau dengarkan lagu ini baik-baik," ucap Liliana yang lalu menghela nafas.
🎶🎶🎶
Here comes a wave
Meant to wash me away
A tide that is taking me under
__ADS_1
Swallowing sand..
Left with nothing to say
My voice drowned out in the thunder
But I won't cry
And I won't start to crumble...
Whenever they try
To shut me or cut me down
I won't be silenced
You can't keep me quiet
Won't tremble when you try it
All I know is I won't go speechless
'Cause I'll breathe
When they try to suffocate me
Don't you underestimate me
'Cause I know that I won't go speechless..
🎶🎶🎶
Liliana melihat Max sudah tertidur hanya dengan beberapa lirik lagu saja yang dia bacakan. "Good night, Maximillian..." Liliana memberikan kecupan jauh kepada kekasihnya itu. Kemudian dia mematikan sambungan bola sihir yang menghubungkan mereka berdua.
*****
Keesokan harinya, Liliana mau mulai aktivitas sebagai seorang putri kerajaan Gallahan. Ternyata semua cukup mudah baginya, tentu saja karena dia sebelumnya pernah menjadi seorang Putri mahkota di kerajaan Istvan.
Dia mengerjakan semua tugasnya sebagai Putri dengan sangat baik, menghadiri acara amal, mengerjakan beberapa dokumen yang biasanya dikerjakan oleh Aiden. Dia bisa melakukan segalanya, karena dalam kehidupan pertamanya dia sudah berpengalaman mengurus tatanan kerajaan, dengan segudang tugas yang menumpuk, dia sudah terbiasa.
Kemudian, di saat waktu senggangnya. Liliana menanyakan kepada Dorman tentang Prosedur yang dimaksud oleh ibu suri. "Prosedur pernikahan?"
"Benar, apa kau tau?"
"Tentu saja yang mulia. Prosedur yang dimaksud adalah sebuah kompetisi, jadi ada beberapa lamaran yang masuk dan semua pelamar itu harus melalui sebuah kompetisi dan seleksi. Tidak peduli orang itu berasal dari anggota keluarga kerajaan sekalipun, mereka harus tetap mengikutinya." Jelas Dorman sambil mencatat sesuatu di atas kertas.
"Hah? Benarkah ada yang seperti itu?" Liliana terperangah, ia tak menyangka bahwa ada prosedur seperti ini juga untuk memilih calon suami untuknya.
Liliana terdiam sejenak, dia tampak berpikir.
__ADS_1
...****...