
...🍀🍀🍀...
"Liliana, aku adalah suamimu. Apa kau tidak tau siapa aku?" Max melepaskan pelukannya kemudian dia mendongakkan kepala.
"Anda suami saya? Tidak, saya belum menikah.." ucap Liliana dengan wajah bingung dan mata polosnya.
Max langsung panik dan ketar-ketir, "Kau benar-benar tidak mengenaliku?" Tanya Max sambil menatap wanita didepannya itu.
Liliana menggelengkan kepalanya, dengan wajah datar dan bingung.
"Pendeta agung! Apa yang terjadi? Kenapa dia tidak mengenaliku? Apa aku salah membawa orang?" Tanya Max sembari menghampiri pendeta agung, matanya menatap tajam si pendeta.
Liliana tersenyum diam-diam, melihat Max panik sendiri. Pendeta agung juga ikut tersenyum malah tertawa melihat wajah panik Max.
"PFut..."
"Kenapa pendeta agung malah tertawa? Aku bertanya serius..." Max keheranan melihat pendeta agung itu tersenyum dan tertawa. Padahal dia sedang bicara serius dengannya.
Kemudian Max melihat ke arah Liliana sekali lagi, dia melihat Liliana juga tersenyum. "Kau juga.. kenapa kau tersenyum?"
"Karena kau serius sekali yang mulia," jawab Liliana sambil tersenyum manis.
Max menyadari bahwa semua ini hanyalah akting dan candaan Liliana padanya. Max langsung memeluk lagi wanita yang sudah menjadi istrinya itu dengan perasaan bahagia. "Kau ini! Lucu ya bercanda seperti itu disaat kau baru sadar? Kau tau aku sangat takut.. aku sangat takut kehilanganmu, aku juga takut kalau kau akan melupakanku." Ucap Max sambil memeluk erat wanita itu.
"Su-sudahlah.. aku tidak bisa ber-nafas!" Liliana kesulitan untuk bernafas karena pelukan dari suaminya.
Max melepaskan pelukannya yang erat itu, "Maafkan aku," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Liliana membelai lembut pipi suaminya, dia menatap Max dengan penuh kasih sayang dan mata berkaca-kaca. "Terimakasih sudah membawaku kembali, terimakasih yang mulia.."
"Senang kau sudah kembali dengan selamat," Max bernafas lega. Kemudian dia mendekatkan wajahnya pada wajah Liliana. Pria itu seperti hendak menciumnya, Liliana juga tidak menghindar.
Saat bibir mereka hanya tinggal beberapa inci lagi akan bersentuhan, pendeta agung tiba-tiba saja berada ditengah mereka.
"Ehem.. ehem.. apa kalian lupa bahwa masih ada saya disini?" Tanya pendeta agung dengan kening berkerut.
Liliana langsung menghindar, wajahnya memerah. Dia dan Max sama-sama terbawa suasana, hingga mereka lupa masih ada pendeta agung disana.
"Sepertinya yang mulia putra mahkota dan yang mulia putri mahkota lupa, kalau masih ada orang diluar sana yang menunggu kabar baik ini."
"Tu-tunggu...kenapa aku dipanggil putri mahkota?" Tanya Liliana yang baru ngeh bahwa dia dipanggil putri mahkota. Dia lebih bingung lagi saat Max bilang bahwa dia sudah menikah dengannya.
__ADS_1
"Aku akan jelaskan nanti. Sekarang aku akan memberitahu dulu pada ayah mertua, Raja dan Ratu bahwa kau sudah kembali." Senyuman Max tampak bahagia.
Ya Tuhan syukurlah..
Max melangkah pergi keluar dari ruangan itu dengan raut wajah bahagia. Dia memberitahukan kepada semua orang yang ada diluar bahwa Liliana sudah kembali selamat.
"Terimakasih yang mulia putra mahkota," ucap Duke Geraldine pada menantunya itu.
Max hanya tersenyum sambil mengangguk. Duke Geraldine, Raja, Ratu dan Laura masuk ke selama ruangan itu untuk melihat Liliana yang baru saja kembali dari mati surinya.
Duke Geraldine menghampiri anaknya, kemudian memeluknya dengan penuh perasaan lega. "Anakku... akhirnya kau kembali. Terimakasih Tuhan.. terimakasih.."
"Iya Ayah, maafkan aku karena sudah membuat ayah cemas," ucap Liliana sambil membalas pelukan ayahnya.
Setelah semua orang terdekatnya mengucapkan selamat karena dia telah kembali. Liliana langsung meminta penjelasan tentang dia yang sudah menikah dengan Max.
Duke Geraldine menjelaskan semuanya pelan-pelan bahwa Max terpaksa harus menikahi Liliana demi menyelamatkan dirinya. Pendeta agung juga menceritakan tentang sihir dan benang takdir yang terikat antara Max dan Liliana. Saat itu hanya Max satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan Liliana, karena mereka sudah ditakdirkan bersama.
Liliana masih tak percaya bahwa dirinya terpaksa menikah, itu pun terpaksa menikah dengan orang yang dia cintai. Yang otomatis membuatnya menjadi putri mahkota negeri Istvan, juga calon ratu.
Apa Ini namanya berkah didalam musibah? Liliana dan Max telah bersatu dalam ikatan pernikahan. Walau menurut semua orang mereka terlihat seperti terpaksa menikah, tapi mereka sangat bahagia.
Selain itu Liliana juga melihat perubahan sikap Duke Geraldine yang mulai bersikap sedikit ramah pada Max. Karena hari sudah malam, semua orang pun kembali ke istana mereka masing-masing.
"Yang mulia, syukurlah nona Liliana.. maksud saya yang mulia putri mahkota." ucap Annie pada Laura, dia tulus mengkhawatirkan Liliana. Sejujurnya dia juga senang karena Liliana yang menjadi putri mahkota, bukannya Julia.
"Iyah, aku juga sangat senang. Mereka mendapatkan kebahagiaan berlipat-lipat dibalik air mata yang sebelumnya. Syukurlah...semuanya akan bahagia.." Laura tersenyum bahagia.
Lalu, kapan aku dan Eugene akan bersatu seperti kakak dan kakak ipar? Aku harus segera bicara dengan Ayahanda Raja. Dia pasti akan lebih mengerti diriku dibandingkan ibunda.
Ketika Laura memikirkan hubungannya dan Eugene yang akan dia perjuangkan didepan ayahnya. Eugene sendiri masih memikirkan bagaimana masa depan hubungannya dan Laura.
Bisakah aku yang seorang rakyat biasa ini menikahimu tuan putri? Akan seperti apa masa depan kita kedepannya?
Setelah selesai mengantar Laura ke istananya. Eugene dan Adrian pamit pergi dari sana. "Tunggu sir Eugene, tunggu disini sebentar.. dan kau sir Adrian, kau bisa pergi." Ucap Laura pada Adrian.
"Saya mengerti yang mulia, selamat malam.." Adrian langsung paham, dia pergi lebih dulu meninggalkan Eugene disana bersama Laura.
"Ada apa yang mulia?"
"Aku punya sesuatu untukmu," jawab Laura sambil mengambil sesuatu dari kantong gaunnya. Laura langsung memakaikan kalung untuk Eugene, kalung berbandul permata berwarna putih.
__ADS_1
"Yang mulia.. apa yang anda-"
Cup!
Laura mengecup bibir Eugene dengan mesra. Hingga membuat pria itu terdiam. "Ini adalah kalung yang aku dapatkan dari kuil, katanya bisa menjaga seseorang yang memakainya dari bahaya."
Eugene terharu, "Yang mulia...tapi aku tidak memberikan apapun padamu." Pria itu merasa tak enak dengan pemberian Laura padanya.
"Kau tidak usah memberikan apapun padaku. Hanya perlu menerimaku saja, Eugene.. aku harap kau akan bertahan denganku sampai akhir. Karena aku juga tidak akan berhenti," ucap Laura bersungguh-sungguh.
"Aku janji akan bertahan dengan yang mulia sampai akhir," Eugene memegang tangan Laura. Dia sudah membulatkan tekadnya untuk berjuang bersama Laura.
"Kau harus tepati janjimu itu, Eugene.." Laura menatap dalam pria yang dia cintai itu.
Tidak peduli hal seperti apa yang akan terjadi pada hubungan ini. Aku akan mempersiapkan diriku untuk saat-saat tersulit, karena aku sangat mencintaimu.
...****...
Dikamar putra mahkota, disanalah kini Liliana berada. Karena dia sudah sah menjadi putri mahkota kerajaan itu, maka dia harus tinggal satu kamar dengan suaminya. Sementara Duke Geraldine menginap di istana, namun berada di kamar lain.
Di malam pertama itu, Max menggendong Liliana yang masih lemah ke kamarnya. Semua orang yang melihat itu, merasa bahwa Max sangat romantis.
Begitu pintu kamar putra mahkota dibuka, Liliana takjub melihat kamar mewah dan luas itu. "Ini kamarmu?"
"Hem.. apa kau tidak suka? Maafkan aku, karena pernikahan kita yang mendadak.. kami belum mempersiapkan kamar pengantin," ucap Max memohon maaf.
"Ti-tidak apa-apa, padahal kita bisa tinggal terpisah lebih dulu." Ucap Liliana gugup.
Kenapa aku jadi gugup ya?
"Apa maksudmu? Kau sudah menjadi istriku, tentu saja kita harus tinggal satu kamar. Dan aku juga ingin bersamamu malam ini, aku harus menjagamu! Aku sudah janji pada dewa dan ayah mertua,"
"PFut..haha.. kau memanggil ayahku dengan panggilan ayah mertua cukup cepat juga," ucap Liliana sambil tertawa kecil.
"Aku sudah lama latihan untuk itu," ucap Max sambil tersenyum memandang istrinya. "Oh ya, kau mau aku melakukannya di sofa atau di ranjang?" ucapnya bertanya.
Liliana tersentak kaget mendengar ucapan Max, "Ah.. A-Apa?" Matanya melebar menatap sang suami.
"Mau dimana? Ranjang atau sofa?"
Apa maksudnya ranjang dan sofa?. Batin Liliana panik dengan ucapan ambigu itu.
__ADS_1
...****...