
Tak lama setelah Max dan Liliana pergi meninggalkan tempat itu. Eugene dan Blackey memberikan pelajaran kepada dua orang pria yang sudah menatap Liliana dengan tatapan nanar.
Eugene membuat dua pria itu babak belur, karena dia diperintahkan oleh Max untuk melakukannya. Kedua pria itu terkapar dibelakang rumah judi itu.
"A-Apa sebenarnya salah kami tuan? Kenapa tuan memukuli kami?" tanya seorang pria dengan tubuh tergelatak di tanah dengan wajah babak belur.
"Kalian tidak salah, hanya nasib kalian saja yang sial. Kalian sudah menganggu orang yang salah," Eugene menggeleng kasihan. "Beruntunglah kalian, aku tidak membuat mata kalian buta.. karena aku kasihan," ucap Eugene miris sendiri saat mengatakannya.
Eugene! Jangan habisi mereka, congkel saja mata mereka!
Eugene menggelengkan kepala dengan ngeri, mengingat perintah yang diucapkan Max padanya. Untuk membuat kedua pria itu tidak bisa melihat dunia lagi. Namun, Eugene masih memiliki rasa kasihan dan dia tidak membuat keduanya buta, hanya dibuat babak belur saja.
Setelah selesai dengan urusannya, Eugene dan Blackey yang berubah menjadi burung kecil supaya tidak menarik perhatian orang banyak. Berniat kembali menyusul Max dan Liliana.
"Aku tidak percaya kalau yang mulia bisa bersikap sangat posesif pada seorang gadis," Eugene menghela napas.
"Tampaknya yang mulia bukan sekedar tertarik pada nona Liliana, saya rasa lebih dari itu." Blackey menambahkan asumsinya tentang perasaan Max pada Liliana.
"Kau sepemikiran denganku Blackey, tapi bisakah dia menjadi putri mahkota masa depan? Dia kan hanya rakyat biasa, belum lagi baginda ratu pasti tidak akan membiarkannya," Eugene memikirkan kisah cinta Max dan Liliana yang mungkin akan memiliki banyak rintangan ke depannya.
"Meskipun begitu, saya yakin yang mulia akan bisa mengatasinya. Yang mulai putra mahkota selalu mendapatkan apa yang dia mau dengan cara apapun dan dia harus mendapatkan semua keinginannya," jelas Blackey yang tahu betul bagaimana sifat Max yang tidak bisa ditentang dan keras kepala. Segala keinginannya harus terpenuhi.
"Kau benar Blackey," Eugene menghela napas lagi. "Sepertinya besok tempat ini juga akan hancur karena kecemburuan yang mulia," Eugene melihat rumah judi ilegal itu dengan tatapan cemas.
Eugene dan Blackey bergegas kembali menyusul Liliana dan Max. Namun, ditengah perjalanan mereka melihat sosok pria yang terlihat seperti Arsen masuk ke dalam tempat judi ilegal itu.
...*****...
Max membawa Liliana menjauh dari sana dan mereka malah pergi ke sebuah kedai tempat makan. "Apa kau selalu seenaknya seperti ini?" tanya Liliana kesal dengan sikap Max yang semaunya.
"Bukankah kau ada bersamaku sekarang untuk membayar hutang? Harusnya kau yang ikut denganku, bukan aku yang ikut denganmu." ucap Max kesal.
__ADS_1
"Haaahhh..." Gadis itu mendesah kesal, padahal dia ingin sekali melihat Arsen disana. Tapi Max malah membawanya pergi dari sana. Rasa penasarannya akhirnya tertunda lagi.
Aku ingin sekali menemukan kelemahan Arsen, satu kecacatan dalam dirinya yang bisa membuatnya menderita. Jika benar Arsen terlibat dalam bisnis rumah judi itu, maka aku bisa membuat dia dipenjara.
Max berteriak sambil menggebrak meja, "Pelayan! Aku ingin pesan-"
Plakkkk
Liliana menepuk punggung kekar Max dengan kening berkerut. "Hey, kenapa kau berteriak seperti itu? Kalau kau mau pesan makanan, kau harus pesan dengan sikap yang sopan!" Seru Liliana menasehati.
Beraninya dia memukul punggung calon raja, apa dia tidak takut mati? Aku akan memaafkanmu karena aku suka padamu.
Max menahan kesal, dia yang tidak pernah pesan makanan ditempat ramai seperti itu, tidak pernah tau bagaimana caranya hidup rakyat biasa. "Baiklah, lalu harus bagaimana?"
"Bukankah kau kstaria yang hidup di pedesaan? Masa kau tidak tau hal-hal seperti ini?" tanya Liliana keheranan. Sebelumnya dia mendengar cerita dari Adrian kalau Eugene adalah ksatria terbaik di kekaisaran yang terpilih dari daerah pedesaan.
"Itu kan si Eugene bukan ak-" Max langsung terdiam ketika lidahnya hampir saja tergelincir. Dia langsung menutup mulutnya.
Sialan kau Maximilian! Saat ini kau adalah Eugene.
"Apapun yang kau pilihkan, aku akan menyukainya," Max tersenyum menatap gadis itu.
"Cih! Aku bertanya serius, kau jawabnya begitu?" Liliana mendesis geram dengan tingkah Max yang seperti playboy. Dia jadi teringat Arsen yang selalu memujinya.
"Aku serius, aku akan suka kalau kau yang memilihkannya," jawab Max yang tidak fokus, di hanya fokus melihat wanita cantik didepannya itu.
"Baik, jangan menyesal ya?" Liliana tersenyum menyeringai.
Aku akan mengerjai mu!
Gadis itu memanggil seorang pelayan, dia memesan 2 porsi makanan dan 2 gelas minuman. Entah apa yang dipesan oleh Liliana, Max tidak mendengarnya karena dia hanya fokus pada gadis itu.
__ADS_1
Tak lama kemudian si pelayan datang membawa satu porsi makanan pedas, satu porsi makanan biasa dan dua gelas berisi minuman dingin. "Ayo makan, jangan dilihat saja. Katanya kau lapar?" Liliana tersenyum licik, menantikan reaksi Max saat melihat makanan itu.
"Baik, aku akan makan."
Max melihat sup yang berwarna merah didalam mangkuk makanannya. Max terlihat berfikir, di tertegun. "Apa dia berniat mengerjaiku? Baiklah kalau begitu,"
"Kenapa? Apa kau tidak bisa makan pedas?" tanya Liliana dengan senyum jahilnya.
"Kata siapa? Aku suka, aku sangat suka pedas!" Seru Max dengan senyuman semangat, dia mengaduk-aduk sup berwarna merah yang tampak menyeramkan itu. Kebetulan Max memang tidak terlalu suka dengan pedas. Namun karena Liliana yang memesannya, dia memakan semua sup itu dengan susah payah.
"Haaahhh.. haahhh..." Max menghela napas. Dia merasa lidahnya seperti terbakar. Sementara Liliana hanya tertawa melihat Max beberapa kali mengambil air minum kedalam gelas, entah berapa gelas air yang dia habiskan.
Walaupun dia suka pedas atau bisa makan pedas, tidak akan ada yang bisa menahan pedas sebanyak itu. Rasakan, siapa suruh kau berbuat seenaknya padaku.
"Hahaha," Liliana tak bisa menahan tawa melihat bibir Max yang merah, belum lagi pria itu terus menjulurkan lidahnya.
Max terlihat tidak marah ketika melihat gadis itu tertawa, dia malah tersenyum senang. "Akhirnya aku bisa melihatmu tersenyum dan mendengar mu tertawa, aku senang sekali.." Max tidak dapat menahan rasa senangnya melihat gadis didepannya itu tertawa dan tersenyum karena dirinya, walaupun diatas penderitaannya.
Uh, aku harap reaksi alerginya tidak terlalu parah. Karena aku makan pedas terlalu banyak. Max mulai merasakan gatal-gatal ditubuhnya, tapi dia menahan untuk tidak menggaruknya. Dia tidak mau jalan-jalannya dan Liliana terhambat.
"Apa kau sudah gila? Jangan bicara gombal terus, ayo kita pergi! Katanya kita akan pergi ke pacuan kuda?" Liliana beranjak dari tempat duduknya. Dia terlihat gelagapan setelah mendengar kata-kata Max.
Kenapa hatiku berdebar seperti ini? Padahal dia hanya mengucapkan kata-kata sederhana. Tidak ada alasan untukku berdebar.
Demi melihat satu senyuman dan sedikit tawa dari Liliana, Max rela menahan reaksi alerginya terhadap pedas.
Setelah selesai makan, mereka pergi ke area pacuan kuda untuk menyaksikan pertandingan menunggang kuda. Disana Liliana sambil belajar melihat trik menunggangi kuda yang baik. "Hey Eugene, apa mungkin kau bisa-" Liliana menoleh ke arah Max, dia melihat wajah Max memerah, tangan dan lehernya juga terdapat bintik merah.
Dia kenapa? Mengapa wajahnya begitu merah, juga ada bintik merah disana?
"Ada apa?" tanya Max sambil menahan rasa gatal ditubuhnya itu.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Liliana memegang kedua pipi Max dengan tangannya. Max terpana melihat gadis itu memegang pipinya. Kedua mata mereka kembali bertemu dan saling menatap.
...----****----...