Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 213. Wanitaku hanya satu


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


8 bulan kemudian di Istana kerajaan Istvan.


Kandungan Laura semakin besar dan sebentar lagi dia akan melahirkan. Dari perkiraan waktunya adalah dua minggu lagi. Eugene dan Laura sangat menantikan kelahiran buah hati mereka ke dunia.


Pada suatu sore, Liliana berkunjung ke istana Laura dan melihat pasangan suami-istri tengah duduk santai di taman. Eugene mengelus perut buncit Laura dengan bahagia, penuh kasih sayang.


Mengapa hatinya miris melihat pemandangan itu? Tanpa sadar dia memegang perutnya yang masih datar. Terbesit keinginan didalam hatinya ingin seperti Laura. Liliana merasa tidak nyaman dengan ucapan terakhir Freya yang berkaitan dengan kehamilannya. Apa ini berkaitan dengan ucapannya itu?


Semua orang membicarakannya dibelakang karena dia belum kunjung hamil. Bahkan ada beberapa orang yang mendesak agar Liliana cepat memberi keturunan untuk Max, pewaris kerajaan Istvan. Ya, siapa lagi kalau bukan para menteri dan bangsawan kelas atas. Tapi Max menepisnya dengan mengatakan bahwa dia belum menginginkan keturunan.


Bohong! Itu semua bohong dan Liliana tau itu. Dia hanya ingin melindungi Liliana.


Liliana berjalan ke arah Laura dan Eugene.


"Hormat kepada Baginda Ratu!" ucap Eugene Laura bersamaan. Ketika Laura akan berdiri memberi hormat, Liliana langsung memintanya untuk duduk saja.


"Tidak apa-apa duduklah, kau kan sedang hamil." Liliana paham dengan keadaan Laura yang perutnya sudah besar.


Mereka pun duduk bertiga di kursi taman. Seorang dayang menyajikan teh untuk Liliana yang baru datang. "Putri Laura berapa lama lagi waktu untukmu melahirkan bayi kalian?" tanya Liliana pada Laura dan Eugene.


"Menurut perkiraan tabib, waktunya hanya tinggal dua Minggu lagi, yang mulia..." jawab Eugene.


"Syukurlah...aku sudah tidak sabar ingin melihat keponakan pertamaku. Sehat selalu ya, untukmu Laura dan kau juga Pangeran Eugene." ucap Liliana tulus mendoakan.


"Terima kasih kakak ipar!" kata Laura seraya tersenyum.


Liliana tidak bisa menahan rasa penasarannya. "Putri Laura, apakah aku boleh menyentuh perutmu?"


"Oh! Silahkan yang mulia Ratu," Laura mempersilahkan dengan senang hati.


Wanita berstatus ratu itu, mendekati Laura dan tangannya mulai membelai perut buncit Laura. Tanpa sadar air matanya menetes, membuat Eugene dan Laura terperangah.


"Yang mulia Ratu!" pekik Eugene.


"Ah...maaf, aku harus segera pergi. Semoga kalian sehat selalu," ucapnya sembari menyeka air mata yang jatuh membasahi pipinya itu.


Liliana langsung pergi dari sana, dia berusaha menahan tangisnya. Laura dan Eugene iba melihat Liliana sedih. Setelah itu Liliana langsung menemui tabib Chris di ruang perawatan istana dan menanyakan kondisinya, tapi jawaban yang dia terima tetap sama. Tidak ada yang salah dengan dirinya.


"Tabib Chris, aku tau kau berbohong padaku! Kau pasti tau apa yang terjadi denganku,"


"Saya tidak berbohong dengan yang mulia," jawab Chris.


"Apa yang kau katakan padaku ini berkaitan dengan masa depan kerajaan? Kalau kau terus berbohong, maka aku tidak punya pilihan lain selain memaksamu."


"Yang mulia..."


Liliana menatap tajam ke arah pria paruh baya itu, wajahnya terlihat berkeringat. Chris hampir tidak tahan karena Liliana terus menanyakan hal yang sama padanya selama i bulan ini, dia juga kasihan pada Liliana yang tidak tahu apa-apa tentang keadaannya sendiri.

__ADS_1


Jika bukan karena janjinya pada yang mulia Raja, mungkin dia sudah mengatakan semuanya pada Liliana.


"Baiklah kalau kau tidak mau mengatakannya, tapi tolong jawab pertanyaanku yang satu ini..."


Deg!


Chris langsung mendongak ke arah Liliana.


"Apakah yang mulia Raja tau tentang apa yang terjadi padaku?" tanyanya serius.


Lama tak mendapatkan jawaban dari tabib itu, Liliana kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama. Lalu Chris menjawab Ya dengan singkat. Memang seharusnya tidak cukup untuk Liliana mendengar jawaban itu, karena sebenarnya dia sangat ingin mengetahui apa yang terjadi kepada tubuhnya. Mengapa dirinya belum kunjung hamil? Tapi Liliana tahu, bahwa tabib itu diperintahkan oleh Max untuk tutup mulut. Dia menghargai pria paruh baya itu dalam menjaga rahasia.


"Ya, walaupun aku tidak puas dengan jawabanmu.... tapi itu sudah cukup. Biarkan suamiku, yang menjawabnya kemudian." ucap Liliana sambil tersenyum getir.


"Sekali lagi, mohon Maafkan saya yang mulia Ratu!" serunya seraya membungkukkan badan, dia tidak pernah bermaksud untuk merahasiakan semua ini dari ratunya.


"Tidak apa-apa, aku paham dengan keadaanmu."


Setelah menemui Chris, malam itu Liliana dan Max sudah berada di kamar mereka. Liliana duduk di atas kursi sambil menyeruput kopi.


"Ratuku, kau belum tidur?"


"Tidak," jawabnya cuek.


Max mendekati Liliana, dia menuntun sang istri untuk naik ke atas ranjang. "Sayang, apa yang terjadi padamu sebenarnya? Apa kau sakit?"


Kini keduanya sudah duduk di atas ranjang. Mata pria itu menatap Liliana, sementara sang istri hanya menundukkan kepala dan memalingkan wajah. "Sayang...ada apakah gerangan? Apa yang membuat Ratuku begitu gelisah?"


"Lalu?"


"Mengapa aku belum juga hamil? Padahal di masa lalu, aku sangat mudah untuk hamil. Apakah semua ini ada hubungannya dengan ucapan terakhir ibu suri Freya? Apa ini berkaitan dengan racun penggugur kandungan yang kuminum saat itu?" tanya Liliana sambil menatap wajah suaminya dengan sendu.


Ia mencoba untuk berbicara lebih lembut terlebih dahulu, berharap agar kali ini suaminya dapat memberitahu apa yang terjadi kepada dirinya.


"Ratuku, mengapa engkau menanyakan hal ini lagi? Bukankah kita sudah pernah membahas ini sebelumnya? Tidak terjadi apa-apa padamu, semuanya baik-baik saja...bukankah Chris juga sudah bilang kalau semuanya sehat."


"Ya, aku tau karena setiap aku menanyakan hal yang sama jawabannya tetap seperti itu. Aku juga tau, bahwa kau dan dia menyembunyikan keadaanku. Maxim, Aku ingin kau jujur padaku! Apakah aku tidak bisa mengandung?"


"Lily... istriku..." lirih Max dengan kedua mata yang melebar menatap sang istri.


"Kumohon... jujurlah padaku yang mulia, karena hal ini juga berkaitan dengan masa depan dua kerajaan." Pinta Liliana pada suaminya, namun pria itu masih tetap bungkam 1000 bahasa.


Dia memalingkan wajahnya seakan tak mau menjawab pertanyaan itu, seakan pertanyaan itu adalah ujian yang sulit untuk dijawab dan bahkan mungkin tidak ada jawabannya. Max gundah dan gelisah, ia takut juga jika Liliana tau semuanya.


"Maxim, bukankah kita telah saling berjanji untuk selalu jujur satu sama lain dan tidak ada yang ditutupi. Lalu mengapa kau begini? Apakah kau takut kalau aku tidak bisa menerima kenyataan?"


"Lily, aku akan mengatakan segalanya, tapi kau harus berjanji padaku untuk tidak marah."


Liliana menganggukkan kepalanya. Max menghela nafas, dia tidak mau menyembunyikan ini terlalu lama lagi. Karena Liliana hanya akan terluka nantinya. Akhirnya Max mengatakan kebenaran dari mulutnya sendiri, bawa istrinya kan sulit untuk mengandung, begitulah kata tabib istana. Itu semua karena efek racun penggugur kandungan yang merusak rahim Liliana.

__ADS_1


"Sayang, kau tenanglah...kau bukan tidak bisa mengandung, kau hanya sulit mengandung. Kita masih bisa mempunyai anak, mungkin tidak sekarang, mungkin itu nanti." Max berusaha menenangkan hati istrinya yang gundah.


Dan pada akhirnya, air mata wanita itu jatuh juga. Liliana memeluk suaminya, dia berharap agar dirinya segera hamil.


🍁🍁🍁


Dua tahun telah berlalu dan segala cara telah dilakukan oleh Liliana dan Max agar mereka segera mendapatkan keturunan. Namun mereka tak kunjung mendapatkannya, belum ada kabar baik tentang kehamilan. Hingga semua menteri mulai angkat bicara dan mengkritik Liliana.


"Yang mulia, ini sudah dua tahun. Saya mewakilkan semua orang yang ada di sini, sebelumnya saya mohon maaf karena saya lancang menanyakannya. Saya dan semua menteri yang ada di sini menanyakan hal ini karena kami memikirkan masa depan kerajaan." tutur seorang menteri dengan lantang.


"Kenapa? Masalah keturunan lagi? Kalian berdiri di sini dan berbicara tentang keturunanku?! Aku kan sudah pernah mengatakan kepada kalian, bahwa aku dan Ratu sama sekali tidak memiliki masalah!" tegasnya pada semua orang yang ada di aula rapat itu.


"Kami tau yang mulia, akan tetapi pada faktanya. Yang mulia Ratu, belum juga mengandung setelah 2 tahun menikah dengan Baginda Raja. Jadi, kami memiliki kesimpulan bahwa Baginda Ratu mungkin mandul karena insiden racun penggugur kandungan itu? Apa saya salah?"


Max terperanjat dan langsung berdiri dari kursinya, dia melemparkan pedang ke arah si menteri yang berbicara kasar itu. Pedang itu mengenai tangan kirinya, beruntungnya dia hanya tergores. Tapi dia bisa saja mati bila pedang itu sedikit lebih dekat ke arah tubuhnya yang lain.


"Beraninya kau, bicara seperti itu tentang Ratuku? Tentang RATU negeri ini!" suara Max menggelegar layaknya petir yang menyambar.


Kini seorang menteri yang lain ikut bicara. "Yang mulia, mohon maaf.... kami hanya ingin masa depan kerajaan ini terjamin dan memiliki seorang pewaris. Jadi, kami sarankan pada yang mulia untuk mengambil selir."


BRAK!


Saking emosinya pria itu, dia sampai menancapkan pedang pada bagian dada menteri yang berani bicara tentang selir itu. Max sungguh tak habis pikir dengan semua menterinya.


"Ugh...yang mulia..." menteri itu memegang dadanya dan kesakitan.


"TIDAK ada pembicaraan tentang selir! Satu-satunya wanitaku adalah Ratuku saja! Kalau kalian berani berbicara tentang selir, maka aku yang akan membunuh kalian!" Tunjuk Max pada para menterinya.


Para menteri pun bubaran dari ruang rapat setelah kemarahan Max tidak bisa diredakan, beruntungnya Liliana datang dan membuat keadaan menjadi lebih tenang.


"Yang mulia, kau yang seharusnya emosi seperti itu di hadapan para menteri! Apa tanggapan mereka setelah ini?" Liliana berusaha menenangkan suaminya yang dipenuhi oleh kabut emosi.


"Tapi mereka beraninya menyinggung soal SELIR. Mereka pasti sudah tidak waras!" dengus Max yang masih emosi.


"Apa yang mereka katakan itu tidak salah? Memang kekuranganku belum bisa mengandung keturunan untuk kerajaan ini, jadi itulah yang membuat mereka mengajukan permohonan tentang mengambil selir."


"Lily, dari dulu, sekarang dan sampai seterusnya, hanya kaulah satu-satunya wanita yang bisa menempati hatiku dan menempati hidupku. Tidak ada wanita lain selain dirimu, Lily." Max memegang tangan Liliana, kemudian mencium punggung tangan sang istri dengan lembut.


"Aku tau...tapi--"


Cup!


Max membungkam bibir istrinya dengan sebuah ciuman singkat. "Jangan pernah kau mengatakan padaku untuk mengambil selir, karena kau tau semua itu tidak akan pernah terjadi. Aku sudah cukup tau dan cukup merasakan, bagaimana sakitnya hatimu dulu ketika aku berdekatan dengan wanita lain. Aku tidak mau semua itu kembali terulang. Lily..."


"Lalu aku harus bagaimana Maxim? 2 tahun sudah kita menikah dan belum juga--"


"Mari kita temui Brieta, maksudku mati kita cari dia. Dia pasti punya jawaban untuk semua keresahan kita."


Brieta?

__ADS_1


Mengingat tentang wanita tua itu, kemanakah dia? Selama dua tahun ini dia tak pernah terlihat lagi.


...*****...


__ADS_2