Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 204. Laura Eugene wedding (2)


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


"Tuan Dorman, tangkap dia!" titah Liliana pada Dorman.


"Ya, yang mulia." Dorman memerintahkan pengawal lainnya untuk menangkap Kyle. Ketika Kyle ditangkap, tentu saja dia memberontak terhadap mereka.


"Yang mulia Putri, anda tidak bisa melakukan ini pada saya! Saya adalah kstaria tertinggi di bawah yang mulia ini suri! Anda tidak bisa--"


Jleb!


Belati yang di pegang Liliana tiba-tiba sudah beralih di ************ pria itu. Dorman, Kyle dan para pengawal yang melihatnya sampai ngeri. Bahkan Liliana tak ragu menunjukkan mata elangnya, padahal gadis itu dikenal dengan kelembutannya. Nyatanya Liliana sebelah dua belas dengan kekasihnya Max.


"Kau pikir kau siapa? Beraninya bicara tidak sopan pada putri kerajaan Gallahan! Tunggu saja, setelah ini kau akan TAMAT." ancamnya seraya mengisyaratkan kematian pada Kyle.


Kyle tidak bicara lagi, mungkin dia tak berani. Dia takut akan aura Liliana. Dorman dan para pengawal itu membawa Kyle ke dalam kereta barang dan mengikat tubuhnya.


Setelah itu Liliana menolong Laura, dia membuka ikatan ditangan, kaki, dan mulut Laura. Gadis itu masih belum sadarkan diri, akhirnya Liliana mencipratkan air ke wajahnya.


"Putri Laura! Bangunlah!" ujar Liliana pada gadis itu yang berada di dalam kereta bersamanya.


Ah, aku sudah tau bahwa ibu suri Freya pasti akan melakukan ini. Dari dulu dia memang tidak berubah.


Tak berselang lama, Laura membuka matanya perlahan. Dia merasakan dirinya berada di dalam sebuah kereta dan kepalanya pusing. "Putri... Liliana?" sambutnya terkejut saat melihat Liliana berada di sana.


Gadis berambut merah itu tersenyum. "Tenanglah, kau sudah baik-baik saja. Kau akan menikah hari ini," ucap Liliana seraya tersenyum.


Laura menangis, lalu dia memeluk Liliana dengan perasaan lega. Dia pikir hari ini dia tidak akan bisa menikah dan bertemu dengan Eugene lagi, namun Liliana menyelamatkannya tentu dia sangat bersyukur. "Terima kasih kakak ipar, terima kasih!"


"Huh? Kakak ipar?" Tanya Liliana sambil melepaskan pelukannya dan menatap gadis cantik didepannya itu.


"Sebentar lagi...setelah pernikahanku dan Eugene. Bukankah putri akan menikah dengan kakakku? Artinya putri akan menjadi kakak iparku, benar kan?" Laura tersenyum.


"Hehe, mungkin itu benar." ucap Liliana sambil tersenyum.


"Itu pasti!" kata Laura.


Sesampainya di depan istana, Laura dan Liliana turun dari kereta. Bersamaan dengan Kyle yang terikat dalam pengawasan ketat Dorman.


"Yang mulia, kita akan apakan dia?" tanya Dorman pada Liliana.


"Bawa saja dulu dia masuk ke--"


"Putri Laura!" teriak seorang pria yang memakai setelan baju putih. Dia berlari mendekati Laura dengan panik dan terburu-buru.


"Eugene?" Laura menengadah.


Eugene memeluk Laura didepan gerbang istana. Di belakang Eugene ada Max, Adrian dan juga beberapa pengawal istana. "Apa kau baik-baik saja? Apa kau terluka?" tanya Eugene dengan nafas yang terengah-engah. Atensi pria itu menatap cemas pada kekasihnya.


"Aku baik-baik saja, Putri Liliana yang menyelamatkan aku!" jawabnya seraya melirik ke arah Liliana.


"Yang mulia, terima kasih..." ucap Eugene dengan sopan seraya membungkukkan setengah badannya.


"Tidak usah berterimakasih, ini sudah tugasku menolong orang yang kesulitan dan lagipula aku tidak sengaja melihatnya di jalan." ucap Liliana sambil tersenyum. "Yang mulia Raja, mohon anda berikan hukuman pada ksatria ini, karena dia sudah berani mencelakai anggota keluarga kerajaan." sambungnya sambil menatap Max.


"Tentu saja dia akan dapatkan hukuman yang setimpal." Max menatap tajam ke arah Kyle. "Adrian, bawa dia ke penjara! Hukuman untuknya akan ditentukan setelah pernikahan Putri Laura dan duke Rhodes selesai." titah sang Raja pada Adrian, si ajudan setianya.


"Baik, yang mulia." Adrian membungkuk patuh padanya lalu melaksanakan perintahnya.


Biang masalah pun di bawa pergi. Kemudian Laura dan Eugene juga semua orang, pergi memasuki aula kerajaan tempat pernikahan akan dilangsungkan. Di sana Freya mendengus kesal karena rencana Kyle gagal dan Laura tetap bisa datang pada pernikahannya.


Sial! Kenapa si Kyle bisa gagal? Tidak berguna!. Batin Freya sambil melirik ke arah Laura dengan tajam. Freya sedih dan kesal karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk menggagalkan pernikahan itu.


Kini Laura dan Eugene berjalan bersama ke depan altar, di sana ada pendeta agung yang akan menikahkan mereka. Keduanya saling melempar senyum bahagia.


"Eugene Ellenio Rhodes, bersediakah anda menjadi suami dari Laura Evania Istvan? Mencintainya sampai maut memisahkan, setia padanya seumur hidup dan menjaganya."


Eugene menatap gadis cantik yang berada di hadapannya itu penuh cinta. "Saya bersedia dan saya berjanji akan menjadi suami yang baik untuk Laura Evania Istvan, setia padanya seumur hidup sampai maut memisahkan."


Kini sang pendeta beralih bertanya pada Laura, pertanyaan yang kurang lebih sama. Dan Laura memberikan jawaban yang kurang lebih sama juga. "Saya bersedia menjadi istri dari Eugene Ellenio Rhodes, mencintainya seumur hidup saya, bersamanya sampai maut memisahkan, setia dan melakukan kewajiban saya sebagai seorang istri."


Setelah sumpah janji suci dilakukan, Eugene menyematkan cincin di jari manis Laura. Semua tamu bertepuk tangan untuk kebahagiaan mereka, kemudian mereka pun berciuman sebagai tanda mereka telah sah menjadi pasangan suami istri.


Semua orang bahagia kecuali Freya, wanita itu langsung meninggalkan aula kerajaan dalam keadaan marah.


"Tenang saja,kita akan segera menyusul." kata Max pada Liliana, sambil menggenggam tangan cantik Liliana.


"Haahhhh...baiklah, aku tau dan aku akan menunggu." ucapnya sambil tersenyum.


*****


Usai acara pernikahan dan pesta, Eugene dengan buru-buru membawa Laura ke kamar pengantin mereka. Sebab Laura mengeluh lelah dan sakit kepala. Dia tak membiarkan gadis itu berjalan.


Dibaringkannya gadis itu diatas ranjang, ia masih memakai gaun pengantinnya. "Apa kau baik-baik saja? Aku akan panggilkan tabib untukmu," ucap Eugene cemas pada Laura yang sekarang sudah berstatus sebagai istrinya itu.


Namun saat Eugene akan pergi, Laura menarik tangannya dan menyambar bibir Eugene. "Euh--"


Eugene membalas ciuman Laura, perlahan tubuhnya melemas dan ikut duduk di atas ranjang bersama Laura. Pria itu mulai terbuai dengan setiap permainan lidah Laura yang mulai mahir.


"Putri--"


Laura meletakkan jarinya di bibir Eugene dan menghentikan pria itu bicara. "Saat kita berdua, panggil aku Laura..sayang..aku sekarang istrimu. Artinya kita harus semakin dekat, bukan?"


"Ya, Laura. Bukankah kau sakit kepala? Kenapa kau malah--"

__ADS_1


Cup!


Laura mengecup bibir Eugene sekilas, dia mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami. "Aku tidak sakit kepala, sebenarnya--itu hanya alasan agar aku bisa berduaan denganmu."


"Laura..." lirih Eugene menatap nanar sang pemilik mata cantik berwarna biru itu. Sungguh Laura membuatnya tak bisa berkedip. Apalagi sikap wanita itu begitu agresif, membuat Eugene semakin bergairah saat bersamanya.


Ya, malam pertama pasti terjadi bukan?


Laura kembali mencium Eugene dengan lembut, Eugene membalasnya. Mereka pun sudah berada di atas ranjang dengan Eugene yang mengukung tubuh istrinya.


Tangan-tangan Eugene mulai berkeliaran, padahal masih berada dalam posisi saling bertukar Saliva dengan istrinya. Tangannya membuka gaun pengantin yang dikenakan istrinya.


Eugene menghujani tubuh istrinya dengan bibir panasnya. Dia meremass dua buah gunung kebanggaan istrinya dengan penuh gairah. "Eu--gene...ahh.." Laura menggelinjang kegelian, kemudian ia mendorong tubuh suaminya.


Tanpa sadar kini tubuh bagian atas Laura sudah polos tanpa sehelai benang ataupun. Dengan sekali tarikan, Eugene melepas kain penutup bagian bawah Laura. Dia melakukan Foreplay pada istrinya sebelum melakukan penyatuan.


Suara mereka memenuhi ruangan itu, kamar yang penuh dengan aroma bunga yang menyeruak. Dessahan, erangan, lolos begitu saja dari bibir mereka. Menikmati keindahan tubuh masing-masing atas nama cinta.


Setelah keduanya polos tanpa sehelai benang, barulah Eugene memulai ritualnya. "Laura, aku mulai ya?" ditatapnya wanita yang ada di bawah kungkungan tubuhnya itu. Diusapnya anak rambut berwarna perak itu ke belakang yang semakin penampakan kecantikan Laura.


Gadis itu mengangguk setuju, dia pun tersenyum. "Pelan-pelan ya...sayang..." lirihnya lembut.


Malam itu Eugene dan Laura melakukan penyatuan yang indah, pada malam pertama mereka. Malam yang selalu mereka impikan dalam ikatan cinta yang sah tanpa menodai cinta mereka. Akhirnya mereka pun bersatu dalam pernikahan.


*****


Di saat Laura dan Eugene sedang menikmati indahnya surga dunia dan tenggelam dalam hasrat cinta yang menggelora. Max dan Liliana pun sedang di mabuk asmara.


"Maxim, kau mau membawaku kemana? Apa aku sudah boleh membuka penutup matanya?" Liliana kebingungan, dia dipakaikan penutup mata dan disuruh berjalan mengikuti Max. Tangannya dibimbing oleh kekasihnya dengan hati-hati.


"Sabar dulu, kau boleh membuka matamu ketika aku sudah mengizinkannya." ucap Max seraya berbisik ditelinga Liliana.


"Jadi kau mau main rahasia-rahasiaan begini?" Liliana makin penasaran dengan apa yang direncanakan oleh Max kepadanya.


"Ini bukan rahasia lagi, begitu kau membuka penutup matanya. Tenang saja, berjalanlah perlahan..." ucap Max yang masih menuntun tangan Liliana.


Max menatap ke sekelilingnya, dia senang karena persiapannya sudah bagus. Kemudian tak lama kemudian, Max melepaskan tangan Liliana dan membuat Liliana kebingungan. "Maxim...kau kemana? Kenapa kau melepaskan tanganku?!"


Max berjalan ke depan, tepat di sana ada sebuah meja yang sudah dihasilkan ala dinner mewah. "Berjalanlah ke depan, terus saja...berjalan ke arah suaraku." katanya menuntun gadis itu.


"Ish...kau ini." dengusnya sembari tersenyum.


Liliana berjalan ke asal suara tempat Max berada dengan langkah hati-hati, berjalan dengan mata yang tertutup walau ia sedikit takut akan salah langkah.


Kemudian dia sampai di dekat Max walau ia tak tau Max didekatnya. Max membawa gitar, dia duduk di kursi lalu memandangi wanita itu. "Sial! Ya Tuhan, aku deg degan." batinnya.


"Lily, berhenti disitu lalu kau boleh membuka penutup matamu!" Titah Max pada gadis itu.


Pria itu mulai memetik gitar dan menyanyikan sebuah lagu dalam bahasa Inggris.


🎢🎢🎢


...Heart beats fast...


...Colors and promises...


...How to be brave?...


...How can I love when I'm afraid to fall?...


...But watching you stand alone...


...All of my doubt suddenly goes away somehow...


...One step closer...


...I have died every day waiting for you...


...Darling, don't be afraid...


...I have loved you for a thousand years...


...I'll love you for a thousand more...


...Time stands still...


...Beauty in all she is...


...I will be brave...


...I will not let anything take away...


...What's standing in front of me...


...Every breath...


...Every hour has come to this...


...One step closer...


...I have died every day waiting for you...


...Darling, don't be afraid...

__ADS_1


...I have loved you for a thousand years...


...I'll love you for a thousand more...


...And all along I believed I would find you...


...Time has brought your heart to me...


...I have loved you for a thousand years...


...I'll love you for a thousand more...


...One step closer...


...One step closer...


...I have died every day waiting for you...


...Darling don't be afraid...


...I have loved you for a thousand years...


...I'll love you for a thousand more...


...And all along I believed I would find you...


...Time has brought your heart to me...


...I have loved you for a thousand years...


...I'll love you for a thousand more......


Liliana tersenyum, kemudian matanya mengembun dan akhirnya tetesan air itu turun dari kedua matanya yang indah. Max langsung panik dan beranjak dari tempat duduknya. "Hey! Kenapa kau menangis? Apa suaraku seburuk itu??!"


"Tidak...bodoh! Aku menangis bukan karena itu, hiks...hiks..." sanggah Liliana sambil menyeka air matanya.


"Lalu kenapa?" tanya pria itu bingung.


"Aku menangis karena aku terharu...aku tidak menyangka kau bisa--" ucapnya terbata-bata, lalu dia memukul-mukul dada pria itu.


"Kalau kau terharu, janganlah kau menangis. Lebih baik kau cium aku saja!" godanya sambil tersenyum.


"Kau ini benar-benar ya...masih saja kau bersikap mesum!" Liliana tersenyum, dia tidak menangis lagi mendengar godaan Max padanya.


Max pun berlutut didepan gadis itu, dia mengambil sesuatu dari sakunya. "Hah? Kemana?!"


Kenapa kotak cincinnya tidak ada?. Batin Max panik.


"Kemana apanya?" Liliana mengerutkan keningnya.


"I-itu..." Max terlihat bingung, kotak cincin yang sudah dia siapkan ternyata tidak ada di saku bajunya. Padahal dia yakin sebelumnya sudah menyimpan kotak cincin itu.


Tak berselang lama kemudian, Gustaf datang terburu-buru menghampiri Max ditengah-tengah suasana romantis itu. "Yang mulia, anda menjatuhkan ini--" ucap Gustaf lalu menyerahkan kotak cincin itu kepada Max.


"Ya sudah, pergilah kau dari sini!" titah Max sambil mengambil kotak cincin itu dari tangan Gustaf.


Astaga...ini memalukan, bagaimana bisa aku menjatuhkan cincinnya?


Gustaf pun buru-buru pergi meninggalkan Max dan Liliana berdua di sana, dia tahu bahwa rajanya itu terlihat tidak baik.


"Maximilian? Apa kau akan tetap berlutut begitu?"


"Astaga...maafkan aku, tadinya aku sudah menyiapkan lamaran yang sempurna untukmu tapi-- malah terjadi hal memalukan seperti ini." dessahnya kesal sendiri.


"Tidak apa, kau lanjutkanlah. Kalau kau tidak melanjutkannya, akan pergi saja dari sini." godanya pada pria itu.


"Ah...jangan begitu. Aku akan katakan, aku akan katakan sekarang! Tidak, akan aku lakukan..."


Liliana tersenyum simpul, dia siap mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh pria itu padanya. "Liliana Charise Gallahan, maukah kau menghabiskan seluruh hidupmu bersamaku? Maukah kau menjadi istriku, menjadi ibu dari anak-anakku, bersediakah engkau bersamaku sampai maut memisahkan kita?" ucap Max dengan segala ketulusan dalam hatinya. Dia menyodorkan cincin itu kepada Liliana. Cincin berbentuk bunga lili dengan berhiaskan permata berwarna merah. "I love you...Will you marry me?" sambungnya lagi bertanya.


Desiran hebat menembus hati Liliana dengan ucapan romantis yang keluar dari bibir sensual milik pria itu. Rupanya Max berhasil sukses membuat Liliana tertegun, tenggelam dalam suasana yang bernama romantis.


"Tidak...aku tidak bisa." jawab Liliana tanpa ekspresi.


Max langsung mendongakkan kepalanya begitu mendengar jawaban dari Liliana, seketika wajah tegang itu berubah menjadi kepanikan. "Lily..."


Ah, apa dia ditolak? Pikirnya dalam hati.


"Aku tidak bisa menolakmu, Maximillian..." jawabnya seraya tersenyum.


Wajah panik Max yang tadi lalu menghilang, dia pun memasangkan cincin itu di jari manis kekasihnya. Max kembali berdiri, dia memegang tangan Liliana. Keduanya saling melempar senyuman, menatap penuh cinta dengan mata berembun.


Setelah jalan yang berliku, mereka akhirnya bisa sampai pada titik ini. Titik dimana cinta mereka semakin kuat setelah di uji berkali-kali.


"Aku mencintaimu," ucap Max bersungguh-sungguh.


"Aku juga mencintaimu," balas Liliana, lalu memeluk kekasihnya itu.


Mereka pun berpagutan mesra, memeluk dan berciuman. Menikmati indahnya malam ditemani bintang dan bulan yang bersinar, seolah memberikan restu kepada mereka berdua.


Apakah ini adalah akhir dari perjuangan cinta mereka?


...****...

__ADS_1


__ADS_2