Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 86. Kumohon kembalilah


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Duke Geraldine menunggangi kudanya menuju ke istana kerajaan Istvan dengan cepat. Perjalanan itu berlangsung selama kurang lebih dua puluh menit. Akhirnya Duke Geraldine sampai di istana, sesampainya disana ia langsung segera pergi ke ruang perawatan keluarga kerajaan.


Disana dia melihat banyak tabib dari seluruh penjuru negeri sedang berbaris didepan ruangan.


"Ada apa ini? Kenapa tabib yang ada di kota sampai tabib desa berada disini? Bahkan pendeta juga..." gumam Duke Geraldine bingung melihat apa yang terjadi.


"Yang mulia Duke," Eugene dan Adrian yang berada di depan ruangan itu langsung memberikan hormat pada Duke Geraldine dengan sopan.


"Ada apa ini? Kenapa banyak tabib disini?" tanya Duke Geraldine pada kedua pengawal putra mahkota itu.


Mereka kan pengawal pribadi putra mahkota?


BRUGH!


Seorang tabib terlempar keluar dari ruangan itu hingga jatuh ke lantai. Tabib muda itu gemetar ketakutan dengan wajah pucat. Duke Geraldine melihatnya.


"Kau tidak bisa menyelamatkannya? Mati saja kau! Dia tidak MATI!" Teriak Max dari dalam ruangan itu. Dia marah kepada tabib yang tidak bisa menyelamatkan Liliana. "Pierre, berikan semua tabib ini hukuman!" Teriak Max pada Pierre yang berdiri tepat didepan pintu yang rusak itu.


Mati? Siapa yang mati?. Batin Duke Geraldine cemas.


Orang-orang di luar sana berbisik-bisik membicarakan putra mahkota, dia mengusir tabib tabib yang mencoba menyembuhkan dan menghidupkan kembali Liliana, membawanya dari kematian.


Namun tidak ada satupun dari mereka yang berhasil. Duke Geraldine pun masuk ke dalam ruangan itu, dia melihat putrinya terbaring di atas ranjang dengan kondisi tidak sadarkan diri.


Melihat Duke Geraldine disana, membuat Max dan semua orang menjadi diam.


"Lily, anakku..apa yang terjadi padamu? Nak... Lily.." Duke Geraldine memegang kedua pipi Liliana. Dia merasakan tubuh gadis itu yang dingin, melihat wajahnya yang pucat membuat Duke Geraldine merasakan firasat tidak enak.


Apalagi disana mendadak hening saat dia datang. Apa yang terjadi? Kenapa anaknya tidak kunjung membuka matanya walau sudah dipanggil beberapa kali?


Duke Geraldine memegang pergelangan tangan Liliana dan mengecek nafasnya. Dia tidak merasakan tanda-tanda kehidupan pada tubuh Liliana.


Aku tidak merasakan nafas atau denyut nadinya. Lily, apa yang terjadi?


"Tabib Chris! Apa yang terjadi pada anakku? Mengapa dia tidak kunjung membuka matanya?" tanya Duke Geraldine panik.


"Yang mulia Duke, nona Liliana...beliau sudah tiada." Jelas tabib Chris angkat bicara. Ketika semua orang disana tak berani menjawab dan hanya diam.


Apalagi Max yang terlihat sangat terpukul dengan keadaan Liliana. Dia tidak menangis, namun wajahnya pucat. Dia bahkan membatalkan perjalanannya ke kerajaan Lostier.


"Tidak.. ini pasti salah! Dia baik-baik saja saat berangkat ke istana! Mengapa.. mengapa jadi begini..." Duke Geraldine berteriak-teriak histeris, tak percaya dengan apa yang dia dengar dan apa yang dia lihat. Tanpa peduli ada siapapun disana, Duke Geraldine menunjukkan amarahnya.

__ADS_1


Dia memeluk putrinya yang tidak bernyawa itu dengan berurai air mata. Tubuh Liliana masih basah karena air danau yang belum kering, membuat pakaian yang dipakai ayahnya menjadi basah juga.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa anakku bisa seperti ini? Seseorang tolong jelaskan padaku!" Duke Geraldine terpukul dengan berita mendadak ini.


Padahal sebelum berangkat ke istana tadi, Liliana baik-baik saja. Tapi saat sampai ke istana, putrinya sudah tiada. Suasana di ruangan itu terasa tegang dan hening. Laura terus menangis, Max diam dan para tabib juga ketakutan mereka akan di marahi oleh Max lagi.


Tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan pada wanita yang sudah tiada itu. Mau menyembuhkan bagaimana? Nyawa saja sudah tidak ada. Yang ada hanya tubuh kaku tanpa jiwa.


Tidak sanggup berada lebih lama lagi disana, Max memutuskan untuk pergi dari sana. Dia terlihat syok dan tidak mampu bicara. Hari itu tes calon pemilihan putri mahkota juga dibatalkan karena insiden Liliana.


Liliana. Ini pasti mimpi kan? Kau tidak mungkin mati.. kau tidak mungkin...


"Eugene, bawa pendeta agung kemari!" Kata Max pada Eugene.


"Maafkan hamba yang mulia, seperti yang kita ketahui...pendeta agung masih belum kembali dari perjalanannya dan keberadaannya juga tidak jelas,"


"Eugene.. pergilah cari pendeta agung! Cari dia secepatnya! Dia pasti bisa mengembalikan Liliana, Eugene..." Max tidak punya harapan lain selain mencari pendeta agung untuk menyelamatkan Liliana dan itulah harapan terakhirnya.


"Baiklah yang mulia, saya akan mencoba mencari tau keberadaan pendeta agung.." Ucap Eugene patuh.


Dia pun pergi meninggalkan Max disana besar Adrian. Pria itu berdiri tegak, dengan tatapan mata yang kosong. Dunia saat ini serasa kacau untuknya.


Kumohon ini hanya mimpi.. Lili..kembalilah...


"Maaf nona-nona, tapi saat ini yang mulia putra mahkota sedang tidak ingin bicara dengan siapapun!" Seru Adrian para ketiga nona bangsawan itu.


"Tapi kami ingin bicara tentang nona Liliana, kami melihat kejadian nya!" Kata Arina sambil melihat Max.


Max langsung melirik ke arah Arina dengan mata yang tajam.


"Apa maksudnya? Kejadian apa?"


"Nona Liliana tidak jatuh sendiri ke dalam danau, yang mulia.. ada seseorang yang mendorongnya dengan sengaja." Jelas Keira memberikan kesaksian.


"Apa kau bilang?" Max langsung menarik baju Keira, hingga gadis itu terangkat ke atas.


"Ya-yang mulia.." ucap Keira ketakutan.


"Yang mulia, mohon tenangkan diri anda!" ujar Adrian sambil memegang tangan Max seraya menenangkannya.


Max melepaskan Keira dan gadis itu langsung mengambil nafas.


"Jelaskan! Apa yang terjadi pada Liliana?!" tanya Max tegas setengah berteriak.

__ADS_1


****


Sementara itu ditempat lain, Raja dan Ratu berjalan bersama untuk melihat keadaan Liliana yang katanya tenggelam di danau dan telah meninggal dunia.


"Yang mulia, aku harap berita ini tidak benar..." ucap Ratu sambil berjalan disamping raja. Wajah itu menunjukan kecemasan dan simpati.


Apa dia benar-benar mati? Baguslah, jadi anak sombong itu akan hancur!


"Ya, semoga saja.. jika terjadi sesuatu pada putri Duke Geraldine, maka aku tidak akan bisa mengangkat kepalaku didepannya."


Setelah apa yang pernah aku lakukan pada mendiang putra dan putri mahkota di masa lalu. Jika terjadi sesuatu yang menyakiti keluarga Duke Geraldine lagi, maka hubungan kami akan semakin memburuk meski Vlad adalah orang terdekatku.


*Vlad: Nama depan, nama asli Duke Geraldine


Raja dan Ratu sampai di salah satu kamar kosong di istana. Liliana sudah dipindahkan kesana.


"Raja dan Ratu telah tiba!" Seru seorang pengawal memberitahukan kedatang Raja dan Ratu keruangan itu.


Pintu kamar itu dibuka oleh pengawal istana. Dikamar itu terlihat Duke Geraldine sedang duduk dengan lesu sambil menemani putrinya yang terbaring diatas ranjang. Chris juga berada disana.


"Bagaimana keadaan putrimu, Duke?" tanya Raja sambil melihat gadis yang terbujur kaku diatas ranjang.


"Seperti yang anda lihat sendiri yang mulia, lagi-lagi di istana dan karena istana ini..saya kehilangan orang-orang yang saya cintai!" Duke Geraldine berdiri sambil menangis, dia meluapkan semua amarahnya.


"Duke Geraldine, jaga bicaramu!" Ratu menyanggah ucapan Duke Geraldine yang dirasanya tidak sopan.


"Putrimu... tiada?" tanya Raja lagi.


"Benar, tidak cukup istana mengambil kakak, kakak ipar dan keponakan saya, sekarang...putri saya juga?" tanya Duke Geraldine yang sedang berduka itu.


"Duke Geraldine!" sergah Ratu yang tidak suka dengan ucapan Duke Geraldine.


"Saya.. akan menyelidiki hal ini sampai akhir meski harus melawan anggota keluarga kerajaan Istvan!" Kata Duke Geraldine tegas.


Raja terdiam mendengarnya, dia sepertinya juga terpukul. Sementara Ratu menatap Duke Geraldine dengan tatapan sinis dan tidak senang.


Apa yang dibicarakan oleh Duke Geraldine? Siapa kakak, kakak ipar dan keponakan yang dia bicarakan kepada Raja?


Tunggu di next episode..


Tenang guys, pemeran utama tak mati!


...----*****---...

__ADS_1


__ADS_2