Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 118. Kelahiran Lucifer (1)


__ADS_3

Adrian dan beberapa prajurit menghampiri Eugene yang terluka. Pria itu muntah darah, dia terlihat menahan sakit.


"Siapa bajingan yang berani melukaimu sir Eugene?!" Adrian membantu Eugene berdiri.


Eugene menatap ke atas atap, dia melihat siluet pria disana. Wajah pria itu tidak terlihat, yang jelas dia membawa panah. Dialah pria yang memanah Eugene dengan sengaja. Tapi apa tujuannya?


"Saya akan membantu anda melepaskan panahnya, sir Eugene." kata seorang bawahan Eugene.


"Ba-baiklah..." Eugene kesulitan bernapas. Dia tak tahu panahnya beracun.


Setelah panah di cabut dari dadanya, tubuh Eugene melemah. Bahkan sekujur tubuhnya membiru. "Sir Eugene! Wajahmu..."


"Bawa aku pada Chris, hanya dia yang bisa menolongku saat ini." Ucap Eugene lemas.


Panahnya beracun. Siapa yang ingin melenyapkanku? Siapa?


Adrian memapah Eugene masuk ke dalam istana. Kemudian dia membawanya pada tabib Chris.


"Tuan Chris, tolong!!" Ujar Adrian sambil membaringkan Eugene diatas ranjang dengan panik.


"Apa yang terjadi?" Chris baru selesai memeriksa pasien lain. Dia langsung melihat Eugene dengan tatapan cemas.


"Sepertinya sir Eugene terkena panah beracun!" Jelas Adrian singkat.


"Panah beracun?" Chris segera memeriksa kondisi Eugene yang kritis.


Tubuh Eugene melemah, dia mulai kehilangan kesadarannya. Luka di dadanya sudah dibalut oleh perban. Kstaria tingkat atas itu terbaring lemah diatas ranjang.


"Fyuhh.. syukurlah sir Adrian segera membawanya kemari. Jika terlambat sedikit saja, mungkin sir Eugene tidak akan selamat karena racun yang berada ditubuhnya." Jelas Chris merasa bersyukur karena Adrian membawa Eugene dengan cepat.


"Terimakasih tuan Chris, kau sudah menyelamatkan sir Eugene." Adrian melihat kondisi Eugene yang terbaring lemah tak berdaya. Dia tidak memakai baju karena lukanya. Otot-otot dadanya juga terlihat bagus.


Tidak heran, sir Eugene ada kstaria terbaik di kerajaan. Ototnya saja bagus.


"Orang-orang sedang sibuk melawan iblis dan menyelamatkan diri satu sama lain. Mengapa ada orang yang ingin mencelakai Sir Eugene?" Chris bertanya-tanya.


"Aku juga tidak tau tuan Chris, siapa orang yang ingin mencelakai Sir Eugene." Adrian tidak mencurigai siapapun yang berniat mencelakai Eugene.


*****


Di desa tempat Liliana dan Max berada. Mereka sudah berhasil menyelamatkan yang bisa diselamatkan. Sementara yang lainnya sudah mati atau menjadi iblis.


"Nona, ini untuk anda. Anda pasti haus karena sudah kesana kemari untuk membantu warga desa." Kata sir Theron sambil memberikan sebotol air minum pada Liliana yang sedang duduk di kursi gereja.


"Terimakasih tuan,"


Baru beberapa saat yang lalu dia bersikap tidak baik padaku, sekarang dia berubah.


Tangan Liliana bergerak untuk mengambil air minum, namun Max datang dan mengambil botol minum itu dengan cepat. Dia langsung meneguknya.


"Hey! Kau sangat tidak sopan," ucap Theron sambil menatap kesal ke arah pria yang mengambil botol minum dari tangannya itu.


"Berani sekali kau memanggilku hey? Kau pikir kau siapa?" Max meremukkan botol air minum itu lalu melemparnya.


Pria ini beraninya menggoda istriku didepan mataku?


Liliana melihat kemarahan di mata suaminya, dia melihat api di wajahnya. "Sepertinya mode cemburu sedang on. Apa aku harus padamkan? Atau biarkan saja?"


"Theron! Jaga bicaramu, beliau adalah yang mulia putra mahkota!" Farbas menepuk tangan Theron dengan keras.

__ADS_1


Mata Theron melebar ketika dia mendengar ucapan rekannya itu. Theron langsung duduk berlutut didepan Max. "Mohon ampuni saya yang mulia putra mahkota! Mohon maaf atas ketidaksopanan saya!"


Tidak peduli dia putra mahkota atau bukan, lalu kenapa dia menganggu nona impianku?


Max menatap tajam ke arah pria yang sedang duduk berlutut didepannya itu. "Kau ingin aku mengampunimu? Apa kau yakin?"


"Ya, yang mulia. Tapi saya mohon anda jangan menganggu nona ini,"


"Oh kenapa aku tidak boleh mengganggunya?" Max tersenyum menyeringai.


"Karena yang mulia sudah memiliki putri mahkota dan yang mulia sudah bersumpah kepada putri mahkota untuk setia selamanya." Kata Theron dengan percaya diri.


Beberapa petugas desa disana yang mengetahui identitas Max dan Liliana, tidak berani bicara apa-apa. Walau mereka tau situasinya. "Apa yang Theron lakukan?"


"Apakah kita harus memberitahu dia?"


"Jangan.. jangan terlibat jika mau selamat!"


Mereka berniat memberitahu Theron, namun mereka takut dengan Max dan takut terkena masalah.


"Apa yang kau katakan benar, aku memang sudah memiliki putri mahkota dan berjanji akan setia padanya selamanya. Lalu kenapa kau mengungkit hal ini?"


"Itu karena yang mulia menganggu nona ini!"


"A-apa? Kau berani bicara seperti ini padaku?!" Max bersiap-siap memegang pedangnya. Wajahnya seperti akan menelan orang.


"Yang mulia, hentikan! Tahan amarahmu, bagaimanapun juga.. tuan ini adalah rakyat negeri kita. Kau tidak boleh melukai rakyat, turunkan pedangmu." Liliana memegang tangan putra mahkota kerajaan Istvan itu, seraya memintanya untuk menahan amarah.


"Istriku, pria ini... beraninya dia menceramahiku, dia bahkan mendekatimu!" Max mengepalkan tangannya dengan kesal.


Istriku? Rakyat negeri kita? Jadi, nona ini adalah putri mahkota. Sial! Apa yang sudah aku lakukan? Aku menggali kuburku sendiri!.


Liliana dan Max memaafkan Theron. Rencananya pada pagi nanti, mereka akan pergi ke pusat kota kerajaan Istvan dan membawa yang selamat. Pada siang hari, iblis itu tidak akan berkeliaran dan menganggu perjalanan mereka.


Saat sedang beristirahat, Liliana membuat daging panggang untuk suaminya. "Kau pasti lapar, ayolah makan dulu yang mulia."


"Iya aku benar-benar lapar. Sampai-sampai aku ingin memakan orang." Max menggertakkan giginya. Dia masih kesal dengan Theron yang sudah mendekati Liliana.


"Sudahlah, lupakan saja semua itu dan makan saja. Besok kita harus memiliki banyak tenaga untuk perjalanan ke kota." Liliana menyuapi suaminya dengan tangan.


"Hem..rasanya tidak buruk." Max mengunyah daging itu.


"Tidak bisakah kau bilang enak saja?" Liliana tersenyum sambil memakan daging panggang itu sambil meniupnya.


"Iya ini memang enak. Biasanya nona bangsawan tidak bisa memasak, tapi kau bisa." Max memuji istrinya.


"Tentu saja, kau kan tau kalau aku pernah bekerja di restoran. Saat pertama kali aku berada didalam tubuh ini," ucap Liliana sambil tersenyum.


Baguslah, amarahnya sudah mulai mereda. Liliana merasa lega karena susah berhasil mengalihkan pembicaraan Max. "Makan pelan-pelan," ucap Liliana sambil menyodorkan piring berisi daging yang sudah dia potong untuk suaminya.


"Aku mau disuapi saja, tidak mau makan sendiri." Max membuka mulutnya, dia mendekati Liliana.


"Kau sangat manja ya, kau punya dua tangan yang masih sehat, kan?" Liliana menggelengkan kepalanya, dia melihat sikap manja Max padanya.


"Ayolah, jarang-jarang kita bisa sedekat ini. Di istana, jarang sekali kita makan bersama karena selalu sibuk dengan urusan masing-masing. Tidak bisakah kalau-"


Cup!


Liliana mengecup bibir suaminya, kemudian dia mengambil sepotong daging dari piring. "Baiklah, aku akan menyuapimu."

__ADS_1


Tiba-tiba saja Max memeluk Liliana, "Daripada makan daging, aku lebih suka memakan sesuatu yang lain." Max menatap istrinya dengan tatapan nanar.


"Makan apa itu?" tanyanya polos.


"Memakanmu.." bisik Max pada istrinya.


"Maxim! Kau ini benar-benar mesum. Cepat makan!" Liliana memukul kepala suaminya dengan centong.


"Aduh sakit.." Max memegang kepalanya.


Liliana beranjak dari tempat duduknya, kemudian merapikan gaunnya. "Kau mau kemana?"


"Aku akan melihat orang-orang, siapa tau ada yang membutuhkan bantuanku. Kau makanlah dulu, yang mulia." Kata Liliana perhatian.


"Cepatlah kembali! Kita harus tidur," ucap Max sambil tersenyum.


"Aku hanya melihat saja, tidak akan lama."


Liliana pergi meninggalkan suaminya di ruangan tertutup dalam gereja itu. Sementara Max memakan daging panggangnya.


 


🍁Di istana 🍁


Lucifer masih menyerang Raja dengan sihirnya. Dia tidak terima di katakan sebagai pembawa bencana. "Baiklah, kalau kau menganggapku sebagai pembawa bencana! Maka aku akan membawa bencana untukmu, yang bernama kematian!"


"A-aku punya alasan mengapa aku membuangmu. Apa kau ingin tau kisah kelahiranmu?" Raja bicara dengan suara yang terbata-bata.


Lucifer terdiam, dia memang ingin tau bagaimana kisah kelahirannya. Dia menurunkan ayahnya kembali ke tanah. Pria tua itu jatuh terduduk, dia berusaha mengatur nafasnya kembali. "Ceritakan padaku! Sekarang!"


#Flashback


17 tahun yang lalu..


Saat itu Raja Alberto belum lama diangkat menjadi Raja. Dia memiliki seorang ratu yang baik hati dan cantik, yaitu Rosabella. Suatu hari Raja berpamitan pergi ke hutan terdekat untuk berburu bersama para pengawalnya dan bangsawan lain. Raja meninggalkan istrinya yang sedang hamil tua di istana.


Niat mereka untuk berburu harus dihentikan untuk sementara waktu karena mereka tersesat. "Yang mulia, bagaimana ini? Kita belum bisa kembali karena cuaca yang sedang hujan."


Suara hujan gemericik hujan membuat Raja dan yang lainnya terpaksa harus berteduh disebuah tempat. "Kita istirahat dulu saja disini."


Ketika Raja dan para bangsawan sedang beristirahat. Raja terbangun saat melihat sesosok ular besar yang menelan mangsa buruannya. Ular itu melahap beruang dengan sekali serangan.


"Ular itu...apa ini benar-benar masuk akal? Aku melihat ular itu melahap beruang?" Raja mengusap-usap matanya beberapa kali, dia tak percaya dengan hal yang tidak masuk akal didepannya itu.


Tidak peduli siapapun ular itu, aku harus membunuhnya karena dia sudah memakan buruanku!


Kemudian dia melihat ular itu berubah menjadi ular kecil. Raja mengikuti ular itu dan sampailah dia disebuah gua yang tak jauh dari tempatnya berteduh.


Kemudian Raja mengarahkan panah pada ular kecil itu, dia menggunakan Mana di dalam tubuhnya. Dalam sekali serangan, ular itu langsung tumbang karena sihirnya. Dia melihat ular itu mati didepannya.


"Hah! Tuh kan, tadi pasti aku berhalusinasi.. ular ini benar-benar ular biasa. Dia bukan ular raksasa, aku pasti sudah gila karena berfikir begitu. Dia hanya ular kecil yang lemah," ucap Raja sambil memegang ular berwarna hitam yang sudah mati itu. Dia menertawakan kematiannya.


Tiba-tiba saja sebuah cahaya aneh muncul pada bangkai ular itu. Hingga sang Raja menutup matanya karena silau. Alangkah kagetnya sang Raja saat dia melihat ular itu menghilang dan berganti dengan sosok anak kecil berpakaian aneh. Dikeningnya terdapat permata berwarna ungu.


"I-ni... mustahil... bagaimana bisa?" Raja tercengang melihat sosok anak kecil yang rupawan dan terlihat tak bernyawa itu.


"Siapa yang berani membunuh anakku?!"


Terdengar suara keras dari dalam gua yang gelap itu. Raja melihat ke arahnya dan terkejut dengan apa yang akan dia hadapi.

__ADS_1


...****...


__ADS_2