
Laura dan Max saling berhadapan. Mereka berdua memiliki tujuan yang sama, malam itu mereka akan menemui Liliana. Max melarang Laura untuk pergi menemui Liliana karena dia yang akan bicara pada Liliana lebih dulu.
"Baiklah.. aku akan kembali ke istanaku. Tapi kakak, apakah benar kau dan nona Julia melakukan itu?"
Max terdiam dengan raut wajah yang tidak dapat diartikan oleh Laura.
Apakah aku melakukan itu dengannya atau tidak? Aku tidak tau dan aku tidak ingat. Max meragu, dia tidak menjawab apa-apa.
"Meski kakak tidak melakukannya dan ini hanya salah paham saja, hati seorang wanita tetap akan terluka dan sakit. Saat dia melihat pria yang dia cintai tidur bersama wanita lain, dia mungkin akan bicara baik-baik saja dan tidak apa. Tapi sebenarnya, hatinya itu hancur." Laura menasehati kakaknya tentang wanita.
"Terimakasih Laura, kau memberikanku saran yang bagus." ucap Max sambil tersenyum tipis. "Oh ya, pernikahanmu dan Eugene sedang disiapkan." ucap pria itu pada Laura.
"Terimakasih kakak," jawab Laura sambil tersenyum. Dia juga melihat ke arah Eugene yang juga tersenyum padanya.
Max melanjutkan kembali perjalanannya, menuju ke istana putri diikuti Eugene di belakangnya. Beberapa dayang disana memberi hormat pada Max. Max langsung masuk ke kamar Liliana dan tidak ada siapapun disana. Baik Liliana maupun Daisy pelayan setianya.
Hatinya mulai resah, dia mencari Liliana ke kamar mandi bahkan sampai ke balkon. Akhirnya dia bertanya kepada para dayang dan pengawal yang berjaga didepan istana putri mahkota.
"Dimana putri mahkota?" tanya Max pada salah satu dayang disana.
"Yang mulia putri mahkota, beliau.."
Kenapa dayang dayang dan pengawal ini terlihat resah?. Max mengerutkan keningnya.
"Jawab aku yang benar! Apa kalian mau mati?!" tegas Max pada para dayang disana. Dayang dan pengawal disana menundukkan kepala, takut melihat ke arah pria itu.
"Izin menjawab yang mulia.." ucap Bianca sambil membungkukkan kepalanya didepan Max.
"Kau tau dimana putri mahkota?" tanya Max pada Bianca.
"Yang mulia putri mahkota sudah meninggalkan istana, beliau pergi dengan yang mulia Duke Geraldine." jelas Bianca pada Max.
Degg!
Max tersentak kaget saat mendengarnya. Hal yang dia takutkan akhirnya terjadi, Liliana pergi kembali ke rumah orang tuanya tanpa pamit.
"Pergi? Siapa bilang dia boleh pergi dari istana ini tanpa seizinku?!" Max mengambil pedang. Dia melukai pengawal yang berjaga di istana putri mahkota.
Mereka dianggap telah lalai melaksanakan tugas menjaga Liliana di istananya dan membiarkan Liliana pergi dari sana.
"Maafkan kami yang mulia, kami tidak bisa mencegahnya. Itu semua karena yang mulia putri mahkota telah mendapat izin dari Ratu."
"APA? Hey kau dasar bodoh! Siapa pemegang kekuasaan tertinggi disini? Apakah itu Ratu? Akulah penguasanya!"
"Yang mulia tenangkan diri anda," Eugene mencoba menenangkan emosi Max sebelum pria itu membunuh orang.
Max menurunkan pedangnya. Dia langsung pergi meninggalkan istana putri mahkota dan bergegas pergi ke kediaman Duke untuk menemui Liliana.
Aku tidak menyangka kau akan semarah ini sampai meninggalkan istana. Ini semua pasti hanya salah paham, Lily.. semoga kau mau mendengarkanku.
__ADS_1
Hyat!!
Max menunggang kuda sendirian ke kediaman Duke Geraldine. Dia melajukan kudanya lebih cepat.
...*****...
Di dalam ruang tengah kediaman duke Geraldine. Liliana dan Daisy menaiki tangga untuk kembali ke kamar dan beristirahat. Semua pelayan dan penjaga di rumah itu menyambut Liliana dengan hangat seperti biasanya.
"Nona, maaf maksud saya yang mulia...apa perlu saya hangatkan air untuk yang mulia mandi?" tanya seorang maid di rumah itu.
"Hem..baiklah," sahut Liliana sambil tersenyum.
Semua orang masih menerimaku di rumah ini. Walau setelah apa yang terjadi padaku. Istri yang terbuang, istri yang diabaikan, putri mahkota yang malang. Itulah diriku saat ini. Tapi aku tidak peduli semua itu, yang aku pedulikan adalah perasaanmu Maximilian.
Pelayan itu pergi ke kamar mandi untuk menyiapkan keperluan mandi Liliana. Sementara Liliana berada di dalam kamar bersama Daisy.
"Yang mulia," Daisy duduk berlutut di depan Liliana. Dia merasakan sakit hati Liliana karena suaminya.
"Sudahlah Daisy, jangan seperti ini terus. Aku tidak apa-apa, kalau kau terus menunjukkan wajah seperti ini. Aku akan semakin sedih, aku sedang mencoba untuk-"
Daisy memeluk Liliana dengan penuh kasih sayang. Air mata mengalir deras membasahi bahu Liliana, air mata itu berasal dari Daisy. "Mohon maaf atas sikap tidak sopan saya ini, yang mulia. Saya ingin sekali memeluk yang mulia saat ini."
Liliana membalas pelukan hangat dari Daisy. Ia bisa merasakan, betapa Daisy tulus menyayanginya. Sejak dia masih berada didalam tubuh Adaire, bahkan ketika saat ini dia menjadi Liliana.
"Aku tidak apa-apa, kau jangan menangis lagi."
"Hiks.. maafkan saya yang mulia. Tapi bagaimana bisa yang mulia putra mahkota menyakiti yang mulia seperti ini, saya tidak terima! Hiks...hiks..padahal dia sudah berjanji untuk selalu setia mencintai yang mulia, tapi nyatanya apa? Dia sama saja seperti mendiang Raja yang hidung belang!" Daisy memakai keluarga kerajaan, karena tak terima Liliana disakiti. "Bagaimana bisa dia membuat yang mulia menunggu selama berjam-jam ditengah hujan!"
"Saya tidak peduli yang mulia, biarkan saja." Ucap Daisy sambil melepaskan pelukannya dari Liliana. Bibir wanita itu terlihat mengerucut.
"Jangan menangis lagi," ucap Liliana sambil mengusap air mata Daisy dengan satu tangan cantiknya. "Aku sedikit lapar, bisakah kau mengambilkan aku minuman atau makanan?"
"Oh ya! Yang mulia belum makan sejak kembali dari taman danau, saya akan mengambilkan makanan untuk yang mulia. Tunggu sebentar ya," Daisy mengusap air matanya.
Wanita itu segera pergi keluar dari kamar Liliana. Senyum di wajah Liliana menghilang, raut wajahnya kembali menunjukkan kesedihan. Ingatannya tentang Max yang tidur bersama Julia, terus terlintas tak mau hilang dari kepalanya dan menyakiti hatinya.
Dia melepaskan kalung yang dipakainya, kalung pemberian Max padanya. "Dasar kau laki-laki buaya darat!" Liliana membuka jendela kamarnya, dia berencana untuk membuang kalung itu. Namun tangannya malah meremas kalungnya dengan kuat.
"Kenapa...kenapa aku tidak bisa membuangnya?!" Liliana menahan kesalnya sendiri. "Kenapa aku malah menggenggamnya?" Liliana memegang erat kalung berbentuk hati berwarna merah itu.
Ketika air matanya akan jatuh, Liliana segara menyekanya karena dia tidak mau menangis lagi. "Kau harus kuat Lily, didepan ayahmu kau harus kuat. Kau pasti bisa melewati semuanya...justru yang harus aku khawatirkan adalah perasaan ayah saat ini. Dia pasti sedih dan marah mendengar berita tentangku dimana-mana." gumam wanita itu pada ayahnya.
Setelah selesai membersihkan dirinya, Liliana berencana menemui ayahnya di ruang kerja untuk bicara. Namun, tiba-tiba saja tubuh wanita itu ambruk.
"Yang mulia, apa anda baik-baik saja?" tanya Daisy cemas melihat wanita itu tiba-tiba duduk dan memegang kepalanya.
"Aku baik-baik saja, hanya sedikit pusing."
"Sepertinya ini karena kehujanan tadi, yang mulia lebih baik anda beristirahat saja. Biar saya yang memberitahukan pada yang mulia Duke, bahwa yang mulia sedang tidak enak badan." Jelas Daisy cemas.
__ADS_1
"Tidak Daisy, aku benar-benar tidak apa-apa. Antarkan aku pada ayah-"
Ketika Liliana berdiri, dia mendengar suara teriakan dari luar.
"Beraninya kalian menghalangi jalanku! Apa kalian tidak takut mati? Minggir kalian, aku harus bertemu dengan istriku!"
Setelah mendengar suaranya, Liliana langsung tau siapa yang datang ke kediaman Duke tengah malam begini. Liliana dan Daisy langsung pergi keluar dari kamar itu lalu berjalan menuju ke lantai bawah.
Liliana melihat Max dari lantai atas, dia mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan Max. Rasanya sesak di dada, saat dia melihat pria itu.
"Yang mulia, apa anda tidak akan menemui yang mulia putra mahkota?" tanya Daisy pada Liliana.
"Aku..."
Apakah aku bisa bertemu dengannya saat ini? Sepertinya aku belum bisa.
Duke Geraldine mengerahkan para prajuritnya untuk menghalangi Max masuk ke dalam rumah itu. "Yang mulia, maafkan saya tapi anda tidak bisa masuk sembarangan ke kediaman saya!"
"Aku hanya ingin menjemput istriku kembali ke istana. Duke, tolong jangan menghalangi ku!" Max terlihat berapi-api. Dia ingin bertemu dengan Liliana saat itu juga.
"Istri yang mulia? Maaf, apa saya tidak salah dengar? Disini tidak ada istri yang mulia," ucap Duke Geraldine. "Yang ada hanya ada saya dan putri saya, nona Liliana Eissa Geraldine." Kata Duke Geraldine tegas.
Max tercekat mendengarnya, "Duke...apa kau sedang bicara tentang putri mahkota Liliana Eissa Istvan? Sepertinya Duke lupa kalau status Liliana masih putri mahkota kerajaan ini!"
"Saya tidak lupa, tapi saya ingatkan lagi kepada yang mulia putra mahkota. Bahwa putri saya sudah bukan istri anda lagi. Yang mulia.. tolong jangan mempersulit putri saya lagi,"
"Aku datang kemari bukan untuk mempersulit dirinya, tapi untuk menjelaskan semua kesalahpahaman diantara kami. Aku ingin bicara dengannya...aku mohon."
"Sebagai seorang ayah, saya tidak bisa mengizinkan yang mulia untuk bicara dengan anak saya."
"Duke!"
Max membuat keributan di kediaman Geraldine pada tengah malam. Liliana tak bisa diam saja dan pada akhirnya Liliana turun dari lantai atas, dia menghampiri Max.
"Lily, kenapa kau turun nak?" tanya Duke Geraldine.
Max terlihat lega saat melihat wanita itu mau melihatnya, "Lily....aku ingin bicara denganmu."
"Sepertinya saya tidak bisa membiarkan yang mulia terus membuat keributan disini. Daripada yang mulia membuat keributan disini, kenapa yang mulia tidak kembali ke istana saja dan menyelesaikan masalah disana?" Liliana mengusir Max secara halus.
"Bagaimana bisa aku kembali ke istana tanpamu, istriku?"
"Yang mulia, tolong jangan melewati batas. Saya dan anda bukanlah suami istri lagi," ucap Liliana tegas.
"Lily, mari kita bicara berdua! Aku mohon...kita harus bicara."
"Ini sudah malam yang mulia, jika ada yang ingin anda bicarakan...bisa besok saja? Kepala saya pusing,"
"Aku belum tenang jika kita belum bicara," ucap Max sambil memegang tangan wanita itu.
__ADS_1
...-----*****----...