
...🍁🍁🍁...
Max tidak menjawab pertanyaan dari Duke Geraldine, dia hanya fokus pada Liliana yang berada didalam pelukannya dalam keadaan tidak sadarkan diri dan berlumuran darah.
"Yang mulia..."
Dia memberikan nafas buatan pada Liliana, memberikan sihirnya pada wanita itu. Liliana sama sekali tidak bergerak ataupun merespon. Bahkan Max tidak merasakan detak jantungnya ataupun detak jantung bayi yang ada didalam kandungannya.
Lily tidak bernafas, jantungnya tidak berdetak. Bayiku juga tidak terasa.
Raja Istvan itu asyik, "TIDAK!! Lily, aku mohon...aku mohon sadarlah!"
Duke Geraldine, Andreas dan para ksatria lain disana terkejut melihat Max panik dan berteriak. Duke Geraldine menarik Liliana yang tidak sadarkan diri ke pelukannya. "Lily, putriku...apa yang terjadi? Lily!" Bibir pria paruh baya itu gemetar merasakan tubuh putrinya yang dingin, wajahnya pucat.
"Panggil Chris! CEPAT!" Teriak Max pada prajurit yang ada disana.
"Baik yang mulia!"
Chris, tabib yang dibawanya dari kerajaan Istvan langsung dipanggil untuk memeriksa kondisi Liliana. Wanita itu dibaringkan di atas ranjang empuk di salah satu kamar di rumah berlantai dua tersebut.
Hanya ada Max, Duke Geraldine dan Chris di ruangan itu. Max dan sang Duke terlihat cemas menunggu hasil pemeriksaan Chris. Tabib yang uangnya sudah tidak diragukan lagi, dia adalah seorang tabib yang memiliki lisensi dalam ilmu medis dan penyembuhan sihir.
Chris menatap ke arah Max dan Duke Geraldine, keningnya berkerut seolah menunjukkan kecemasan. Raut wajahnya sudah jelas tidak baik. "Bagaimana? Bagaimana keadaan putriku tabib Chris?" Duke Geraldine mendahului Raja Istvan itu untuk bertanya tentang keadaan putrinya.
"Maafkan saya yang mulia Duke, nona Liliana dan bayi yang ada di dalam kandungannya sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Mereka...sudah tiada." Kata Chris menjelaskan dengan berat hati dan kepala tertunduk.
Jedddeeerrrr!!
Bagai tersambar petir, di hati mereka menggelegar, jantung kedua orang pria yang dekat dengan Liliana itu seakan berhenti saat itu juga.
Max langsung menarik baju Chris, hingga pria paruh baya itu terangkat sedikit ke atas. Dia menatap Chris dengan tatapan tajam. "APA maksudmu? Katakan yang benar, kau bilang apa? Lily dan anakku tiada?!"
"Yang-yang mulia." Chris terbata-bata, dia tidak bisa memungkiri dan hasil diagnosanya benar, bahwa Liliana dan bayi yang ada didalam kandungannya telah tiada.
__ADS_1
Duke Geraldine mendekati Liliana yang terbaring tak bernyawa diatas ranjang. Sang master pedang kerajaan Istvan itu memeluk jenazah putrinya dengan erat.
Bulir-bulir air mata membasahi sang master pedang legendaris itu, pria yang selalu berlumuran darah di medan perang. Kini menangis meraung-raung dengan fakta mengerikan yang ada didepan matanya. Liliana alias Adaire, putri tercintanya telah meninggal dunia bersama dengan bayi yang ada di dalam kandungannya.
"LILY!! TIDAK! Ayah mohon jangan tinggalkan ayah nak, ayah belum lama bertemu denganmu lagi...kenapa kau pergi meninggalkan ayah? Bukankah kau pernah bilang, kalau kau akan membiarkan ayah menggendong cucu ayah? Lalu kenapa kau pergi bersama anakmu...hu...hu..."
Tangisan Duke terdengar sampai keluar rumah, para ksatria jadi berbisik-bisik mungkinkah ada hal buruk yang menimpa Liliana hingga sang Duke menangis sampai meraung-raung. "Apa yang terjadi didalam sana ya? Kudengar mantan putri mahkota jatuh tidak sadarkan diri,"
"Mungkinkah terjadi sesuatu yang buruk padanya, sampai yang mulia Duke menangis seperti itu?" bisik seorang ksatria.
"Oh ya, tadi aku melihat ada sihir hitam disana. Siapa kira-kira penyihir hitam yang masih hidup dan berada di sekitar kita?"
"Siapapun itu...dia pasti telah membuat keadaan mantan putri mahkota menjadi buruk. Ini benar-benar berbahaya,"
"Jaga ucapan kalian! Nona Liliana pasti baik-baik saja!" Kata Andreas pada para ksatria itu. Dia meneguhkan hati bahwa nonanya dalam keadaan baik-baik saja.
Nona, anda pasti baik-baik saja kan?
Berulang lagi, upaya penyelamatan dilakukan oleh Chris dan Max. Namun apapun yang dilakukan oleh mereka berdua adalah PERCUMA, Liliana dan anaknya telah tiada.
Apa yang sudah mati tidak akan hidup kembali? Kecuali takdir yang menentukan.
"Chris! Kau adalah tabib terhebat di seluruh benua ini, kau pasti bisa menggunakan sihir penyembuhan untuk membuatnya sadar kembali. Aku akan memberikan apapun yang kau mau, gelar, kehormatan, uang, kekayaan berlimpah....asalkan kau menolong Liliana dan anakku. Kumohon!"
Raja Istvan itu memohon sambil mengatupkan kedua tangannya, air matanya perlahan jatuh. Chris tidak pernah melihat sosok Raja yang seperti itu, kecuali saat dia kehilangan mendiang Ratu (ibunya) dan saat ini karena Liliana.
Pria paruh baya itu tak bisa melawan takdir Tuhan, dia bukan tuhan yang bisa mengambil nyawa seseorang apalagi menghidupkannya. Punya sihir bukan berarti dia bisa segalanya ,ada keterbatasan dalam diri manusia.
"Yang mulia, yang mulia tau bahwa sihir saya bisa menyembuhkan namun tidak bisa menghidupkan orang yang sudah tiada."
Max langsung melotot ke arah Chris dengan murka . "Siapa yang kau bilang tiada? SIAPA? Lily dan anak kami baik-baik saja! Aku kesini untuk menjemputnya lalu kami akan hidup bahagia bersama selamanya. Tidak ada yang tiada, tidak ada!"
Fakta tentang Liliana dan anaknya yang tiada tampaknya tak bisa dia terima hingga membuat dia menjadi gila. Sampai-sampai dia mencekik leher si tabib itu.
__ADS_1
Kkkeukhhhh...
Chris memegang lehernya yang dicekik itu, lehernya serasa mau putus. "Yang...mu--liahh..."
Duke Geraldine dengan cepat menolong Chris yang hampir saja kehilangan nyawanya. Chris jatuh ke lantai, dia berusaha kembali mengatur nafasnya. "Yang mulia, apa dengan melampiaskan kekesalan anda, apa bisa membuat anak dan cucu saya yang belum lahir, hidup kembali? Apa yang anda lakukan ini hanya PERCUMA."
"Duke..."
"Yang mulia ingin apa lagi dari saya? Putri saya sudah menderita selama hidup bersama yang mulia, dia menyerahkan hatinya pada yang mulia. Tapi, yang mulia menyakitinya...bahkan sampai akhir hayat, putri saya menerima kemalangan akibat ulah yang mulia!" Duke Geraldine emosi, dia jadi menyalahkan Max atas kepergian Liliana dan bayinya.
Ya, Max memang merasa bersalah. Penyebab semua penderitaan Liliana adalah dirinya. Jika saja dia bukan Raja dan hanya orang biasa, mungkin kehidupan Liliana tidak akan begitu rumit dengan politik istana.
"Maaf Duke, maafkan aku yang tidak bisa membuat--"
"HENTIKAN maaf anda yang mulia, seorang Raja tak pantas minta maaf pada orang rendahan seperti saya." Ucap sang Duke marah.
Sudah jatuh tertimpa tangga, mungkin peribahasa inilah yang cocok untuk yang terjadi pada Max saat ini.
Sesal!
Sedih!
Merasa bersalah!
Duka!
Seandainya dia bisa memutar ulang waktu, dia akan menyerahkan segalanya demi kehidupan Liliana.
Saat itu juga Duke Geraldine menggendong putrinya yang sudah tiada. Entah kemana dia mau membawa Liliana. "Duke, kau mau membawa dia kemana?"
Duke Geraldine acuh, dia tidak peduli Max raja atau bukan dan berani mengabaikannya.
...****...
__ADS_1