Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 175. Mengapa menangis?


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Selepas kepergian Aiden, Dorman dan bawahannya pergi menaiki kapal laut untuk segera kembali ke kerajaan mereka. Liliana mengajak Max untuk bicara berdua saja.


Entah apa yang akan dibicarakan oleh Liliana kepada Max. Tak lama kemudian, Max dan Liliana sudah berada di dekat taman Sakesfir.


Di sepanjang perjalanan, Max entar heran heran sebab Liliana mengajaknya ke taman tempat mereka selalu berkencan dulu. Mungkinkah pilihan yang mengingat sesuatu tentang masa lalu mereka? Max masih berharap banyak bahwa ingatan Liliana akan segera kembali, meski Brieta sempat berkata bahwa tidak ada kesempatan agar Liliana mengingat kembali masa lalunya.


Tidak apa!


Walaupun Liliana tidak bisa mengingat masa lalunya dan kenangan tentang mereka berdua. Max akan menumbuhkan kembali perasaan cinta itu di dalam hati Liliana. Ia sudah bertekad akan mengingkari janjinya kepada sang iblis. Aturan dibuat mungkin untuk dilanggar olehnya. Tak peduli akan nyawanya yang menjadi taruhannya. Satu hal yang Max yakini, ingatan boleh saja lupa tapi tidak dengan perasaan dan Max yakin, kalau perasaan Liliana ada kepadanya.


Cinta, akan tahu kemana dia harus pulang. Bagi Max, Liliana seperti rumah baginya dan begitu juga sebaliknya.


Meski ia harus mulai dari awal, dia akan menjalaninya dengan senang hati.


Kini, kedua insan muda itu duduk di kursi panjang berwarna putih. Terlihat beberapa orang masih berada di sana dan mereka pun berada di tengah keramaian. Liliana memperhatikan wajah Max dengan seksama, Max tidak bisa menebak apa yang berada di pikiran gadis itu saat ini.


"Nona Liliana, bukankah tadi kau bilang ingin bicara denganku? Lalu, apa yang ingin kau bicarakan kepadaku?" Tanyanya.


Tangan Liliana terkepal, ia menggigit bibir bagian bawahnya. Entah apa yang membuatnya seperti itu. "Bukan Liliana,"


"Ya?"


"Kau tadi tidak memanggilku seperti itu, kau memanggilku dengan nama yang lain."


Nama dan suara yang membuat hatiku bergetar, yang membuat jantungku berdebar. Liliana meneruskan ucapannya di dalam hati.


"Lily." ucapnya meluncur begitu saja dari bibirnya.


Lagi-lagi aku merasakan perasaan ini, nama Lily begitu familiar dan sangat nyaman kudengar. Perasaan aneh apa ini? Kenapa aku selalu memiliki perasaan ini saat didekatnya? Padahal aku sama sekali tidak mengenalnya dengan baik.


Gadis itu merenggut dadanya, ia menghela nafas. Sungguh perasaannya sangat tidak karuan ketika dia berada di dekat pria itu.


"Nona Liliana, apa kau baik-baik saja?"

__ADS_1


Tenanglah Maximillian, jangan terburu-buru. Biarkan semua mengalir apa adanya. Tapi jangan lupakan usaha. Ucap pria itu dalam hatinya.


"Bukan Liliana! Panggil aku seperti yang barusan." Ucap Liliana seraya memohon pada Max untuk memanggilnya dengan nama kecil.


Max mengerutkan keningnya, ia heran mengapa Liliana tiba-tiba saja bersikap aneh seperti ini. "Lily..."


Belum lama nama Lily, terucap dari bibir Max. Gadis itu tiba-tiba saja meneteskan air mata, mengalir deras air mata itu membasahi pipinya. "Hiks....hiks..."


Terdengar suara isak tangis dari Liliana yang membuat hati Max terhenyak. Tangannya bergerak sesuai dengan naluri hati, bergerak menyeka air mata yang membasahi pipi Liliana dengan lembut. Ditatapnya wanita itu dengan cemas. "Ada apa? Kenapa kau malah menangis? Apa aku berbuat salah padamu? Apa aku menyinggung perasaanmu ya?" Max jadi serba salah melihat gadis itu menangis tak tahu kenapa.


"Hiks...apa...kita pernah bertemu sebelumnya?" Pertanyaan tidak terduga tiba-tiba terlontar dari Liliana.


Berbagai spekulasi mulai bermunculan di dalam kepalanya, mungkinkah memang Liliana akan kembali mengingat masa lalunya. Ada, rasa takut dan bahagia di dalam batinnya saat ini. Bahagia, karena Liliana akan mengingat kenangan tentang mereka berdua, dan takutnya adalah ketika Liliana ingat semuanya. Ia malah membenci Max, karena Max adalah penyebab penderitaan Liliana di masa lalu.


"Apa tuan tidak akan menjawab pertanyaanku?" Tanya Liliana sekali lagi padanya.


"Tidak...kita tak pernah bertemu sebelumnya."


"Tapi...kau ada--"


"Ada apa?"


"Tidak ada apa-apa, aku mau pulang." Kata Liliana yang beranjak dari tempat duduk itu begitu saja. Kemudian dia berjalan pergi dari sana meninggalkan Max sendiri dengan wajah bingung.


Max mengekori gadis itu dari belakang. "Nona Liliana! Tunggu!"


Ada apa dengannya?


Mereka pun tidak bicara setelah itu, Liliana kembali ke penginapan dan Max juga kembali ke istana bersama Eugene.


Selama menghabiskan waktunya bersama Liliana, Max telah meninggalkan pekerjaannya di istana. Tentu saja dia tidak bisa terus menerus meninggalkan pekerjaannya.


"Yang mulia,"


"Ada apa Pierre?"

__ADS_1


"Semua dokumen sudah saya simpan diatas meja kerja yang mulia."


"Ckckck...padahal aku sudah berperang Deni negara ini, tapi masih saja aku harus mengerjakan tugas negara." gerutu pria itu kesal.


Ratu, dia dari dulu tidak pernah berubah. Aku harus menyingkirkannya lebih dulu sebelum dia mencoba menyingkirkanku.


"Yang mulia...anda hanya tinggal memeriksa dan menandatanganinya. Sisanya saya yang akan bereskan!" Ucap Pierre seraya menentukan kepalanya di depan Max.


"Terimakasih, tapi malam ini biar aku yang mengerjakan semuanya." Kata pria itu sembari tersenyum tipis.


Ya, memang benar selama dia berada di ruang kerjanya. Memeriksa dokumen diatas meja dengan teliti, meski fokusnya juga terbagi pada Liliana.


Wajah gadis itu yang menangis terus terngiang-ngiang di kepalanya, bak kaset film yang terus diputar ulang. "Kenapa Liliana menangis? Kenapa sebenarnya? Lily, aku sebenarnya bingung....kalau kau ingat semuanya, bagaimana perasaanmu padaku? Akankah mau memaafkanku karena aku sudah membuatmu dan anak kita tiada."


Pria itu memandang langit malam berbintang, memikirkan masa depannya bersama Liliana. Jika saja di masa lalu, Liliana dan anak yang ada didalam kandungannya tidak tiada. Mungkin dia sudah bahagia dan bermain bersama keluarga kecilnya. Namun semua takdir tidak selalu indah.


Tiba-tiba saja lamunannya buyar, tatkala ia melihat Raja iblis Utara datang kepadanya. "Kau? Mau apa kau kesini?"


"Ckckck...dasar manusia, sudah ditolong tapi tidak tahu diri. Setelah mendapatkan keinginanmu, kau mau membuangku?"


"Dasar iblis licik! Kau... bukan yang memenuhi keinginanku, tapi kamu memenuhi keinginan pria itu. Aku... sudah tahu semuanya bahwa kau bekerja sama dengan raja Gallahan untuk melakukan semua ini." Pria itu menumpahkan semua marahnya yang sudah ia tahan. Akhirnya si raja iblis Utara itu datang dengan sendirinya..


"Tidak sepenuhnya benar, karena kau juga menginginkan wanita itu hidup kembali bukan? Jadi... Apa kau menyesal menyerahkan semua hidupmu untuknya?" Raja iblis Utara tersenyum menyeringai.


"Tutup mulutmu! Karena aku tidak mau mendengarnya! Pergilah dari sini," usir Max pada si Raja iblis itu.


Tiba-tiba saja sinar hitam berbentuk tali yang muncul entah dari mana, mengikat leher Max. "Kkkeukhhhh...."


"Sepertinya aku harus mengingatmu yang terlena oleh cinta, bahwa kau telah menjadi budakku! Dan kau lupa itu!" Raja iblis Utara menjerat pria itu dengan tali yang bersinar hitam.


Sial! Aku benar-benar tidak bisa melawannya. Segelku...aktif!!


Max terlihat kesakitan, dirinya seperti seekor anjing yang diikat oleh pemiliknya.


...🍁🍁🍁...

__ADS_1


__ADS_2