
Di hadapan semua orang, Liliana mengucapkan sumpah sebagai putri mahkota. Tanpa teks dia hafal semuanya. Dirinya dikenal orang-orang sebagai rakyat biasa yang naik tingkat karena nobel status menjadi anak angkat Duke Geraldine. Tentu saja diragukan banyak bangsawan dari berbagai fraksi, tapi banyak juga yang mendukungnya naik ke kursi putri mahkota.
Selama dua Minggu itu, Liliana telah belajar banyak untuk menjadi putri mahkota. Memantaskan dirinya bersama Maximilian pria yang telah menjadi suaminya. Dia berhasil menggaet beberapa perhatian Bangsawan yang bertolak belakang dari pihak keluarga Geraldine.
Dan mau tidak mau Duke Geraldine harus ikut dalam urusan politik karena putrinya sudah menikahi keluarga kerajaan. Akibatnya para bangsawan terbentuk menjadi 3 fraksi yang awalnya hanya dua fraksi karena hadirnya Liliana yang menduduki posisi putri mahkota.
Setelah mengucap sumpahnya, Liliana dan Max sama-sama meneguk minuman secara bersamaan. Mahkota putri mahkota kini terpasang dikepalanya.
PROK
PROK
PROK
Semua orang bertepuk tangan tepat setelah acara penobatan Putri mahkota selesai.
"Selamat untuk putri mahkota! Hidup kekaisaran Istvan! Hidup!" Seru orang-orang disana memberikan selamat pada Liliana dan juga kerajaan Istvan.
Liliana dan Max saling melemparkan senyuman satu sama lain. Mata mereka menatap seperti mengisyaratkan sesuatu.
Apa kau siap untuk pertunjukan ini?
Ya, aku siap yang mulia.
Max dan Liliana seperti bicara dengan telepati. Padahal mereka hanya saling mengisyaratkan mata saja.
"Silahkan semuanya nikmati pesta ini!" Seru Raja sambil tersenyum pada para bangsawan.
Saat semua orang sedang ramai, tiba-tiba saja seorang wanita berpakaian lusuh masuk ke dalam aula istana. Dia dihentikan oleh beberapa pengawal disana.
"Tolong! Saya ingin bertemu dengan yang mulia Raja!" Teriak wanita itu sambil berlari ke tengah-tengah aula istana menghindari para pengawal.
Wanita itu menjadi pusat perhatian semua orang karena dia berada ditengah-tengah aula istana. Dimana semua orang ada disana.
"Baginda Raja, saya ingin bertemu dengan anda.." ucap wanita itu sambil menatap Raja dengan wajah memelas.
Raja melihat ke arah wanita berpakaian lusuh itu. Begitu pula dengan Ratu, dia langsung terperanjat dari singgasananya saat melihat wanita didepannya.
Dia kan.. dia adalah dayang yang ku perintahkan untuk mencelakai wanita j*l*ng itu. Kenapa dia masih hidup dan berada disini?
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, Ratu langsung memerintahkan pengawalnya untuk mengusir dayang istana itu."Pengawal! Cepat seret wanita ini keluar!"
Para pengawal yang akan menyeret wanita itu, dihentikan oleh Max. "Tunggu! Wanita ini bilang dia ingin bicara dengan Ayahanda Raja. Dan sepertinya wanita ini tidak asing," ucap Max sambil melihat ke arah Raja dan Ratu.
Ratu mencengkeram roknya erat-erat, dia panik karena wanita itu masih hidup dan berada di pesta. Sudah jelas, jika wanita itu mengaku maka dia akan tamat!
Perhatian semua orang masih tertuju pada si wanita yang harusnya sudah mati itu.
"Untuk apa wanita ini bicara dengan Raja, putra mahkota? Pasti wanita ini tidak ada kepentingan!" Seru Ratu mencoba mengusir wanita itu dari sana.
"Yang mulia Ratu, bagaimana bisa anda membuang saya seperti ini?" Wanita itu tiba-tiba berlutut di depan sang Ratu.
"A-Apa yang kau bicarakan? Aku bahkan tidak mengenalmu!"
Raja, Liliana dan Max melihat ke arah Ratu dengan pandangan curiga.
Keira, Arina dan Shopia tiba-tiba saja maju ke depan. Mereka ingin melihat wanita itu dari dekat. "Mohon izin bicara yang mulia," ucap Keira seraya memberi hormat pada sang Raja.
"Silahkan nona," Raja mempersilakan.
"Saya mengenal wanita ini, maksud saya.. kami. Wanita ini, dialah yang sudah mendorong putri mahkota ke dalam danau dan saat itu wanita itu memakai pakaian dayang," jelas Arina yakin.
Kini giliran Shopia yang bersaksi, "Yang mulia Raja, saya juga bersaksi..bersama nona Keira dan nona Arina. Benar, wanita ini yang sudah mendorong Putri mahkota ke danau."
Bagus, nona Keira, nona Shopia dan nona Arina. Terimakasih kalian sudah membantu semuanya menjadi lebih mudah. Liliana melihat ke tiga nona bangsawan itu.
Suasana pesta yang harusnya berlangsung meriah, suasananya malah menjadi tegang. Semua orang mulai kasak-kusuk.
"Apa itu benar? Apa artinya putri mahkota dicelakai?"
"Astaga! Pelakunya pasti orang dalam istana," bisik seorang wanita dipesta.
"Tapi kenapa wanita itu kenal dengan Ratu?"
Pembicaraan itu terdengar oleh Raja. Raja menatap Ratunya dengan tajam. Kemudian Raja menodongkan pedangnya pada leher si dayang itu.
"Katakan! Siapa kau dan apa tujuanmu datang kemari? Apa benar kau yang sudah mencelakai putri mahkota?!" Tanya Raja menyentak wanita itu.
"Na-nama saya Marry, saya adalah dayang istana Ratu. Saya.. memang orang yang sudah mencelakai putri mahkota," ucap Marry mengakui segalanya.
__ADS_1
"Siapa yang memerintahkan mu untuk mencelakai putri mahkota?" Tanya Raja lagi dengan suara yang meninggi.
Marry mengambil nafas, kemudian dia berkata. "Baginda Ratu yang sudah meminta saya mencelakai putri mahkota!" jawab Marry tanpa ragu dan tegas.
Semua orang tercengang mendengar pengakuan Marry.
"Itu tidak benar! Baginda Raja jangan dengarkan ucapan wanita ini, aku tidak melakukan itu! Ini semua jebakan, pasti wanita ini diperintahkan untuk memfitnahku!" Ratu berkelit mencoba mengambil simpati Raja dengan wajah memelas.
Celaka! Hancur sudah semuanya, kalau Raja percaya pada ucapan mereka.
Raja diam saja tidak bergeming, dia mencoba mencerna apa yang baru saja dia dengar. Entah apa yang ada dipikirannya.
"Maafkan saya yang mulia Ratu karena saya sudah mengkhianati anda. Itu karena yang mulia sendiri yang sudah mengkhianati saya lebih dulu! Saya hampir mati karena anda memerintahkan pengawal anda untuk membunuh saya," jelas Marry dengan suara meninggi. Dia sengaja seperti itu agar semua orang disana mendengarnya
"Ti-tidak! Aku tidak-" Ratu gelagapan, tatapan semua orang menusuk padanya.
"Bukti sudah ada, saksi juga ada.. yang mulia Ratu, kenapa anda melakukan ini pada saya? Apa salah saya?" Tanya Liliana sambil menangis.
Sayangku sangat cerdik, dia bisa berakting dengan sangat baik. Baiklah aku akan membantumu.
"Putri mahkota, ini semua terjadi karena ku. Sejak dulu sampai sekarang, ratu tidak pernah menyukaiku!" Max menambahkan drama lagi didalamnya. Dia ikut-ikutan memelas seperti istrinya
Raja menatap ratu dalam-dalam, "Ratu, apa benar kau mencelakai putri mahkota?" Tanya Raja pada Ratunya itu.
"Saya.. saya tidak melakukannya." Ratu menyangkalnya lagi.
Benar, jika aku menyangkalnya...maka yang mulia Raja juga akan membantuku. Dia kan sangat mencintaiku.
"Ayahanda, saya mohon keadilan anda sebagai Raja negeri ini!" Kata Max dengan tegas pada ayahnya.
Pesta ini sudah kacau, Ratu juga sudah terbukti bersalah. Ada saksi disini dan semua orang menyaksikannya.
Pesta penobatan Liliana menjadi kacau, semua orang menjadi tegang karenanya. Raja tidak bisa menutupi opini semua orang.
"Pengawal! Bawa Ratu ke penjara!" Titah Raja pada pengawal disana.
"Baik yang mulia!" Jawab pengawal serempak dan patuh.
"A-Apa? YANG MULIA RAJA!!" Ratu terbelalak, dia panik dengan apa yang baru saja didengarnya dari sang Raja.
__ADS_1
...---****---...