Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 9. Adaire sudah mati


__ADS_3

Pria itu masih duduk diatas pohon dengan anteng, bahkan dia tidak ketahuan oleh penjaga di mansion itu. Dia memperhatikan Liliana yang masih duduk sendirian di dekat air mancur. Liliana yang berusaha sekuat tenaganya menahan air mata.


"Sebenarnya apa yang kau alami dimasa lalu, mengapa kau berusaha terlihat kuat? Haahhhhhh.. ini semakin membuatku penasaran denganmu," gumam Max dengan topeng di wajahnya. "Ngomong-ngomong, para pengawal di mansion ini tidak ada yang menyadari keberadaan ku. Bukankah Duke Geraldine adalah ksatria kekaisaran yang terhebat? Masa pertahanan rumahnya seburuk ini? Bahkan mereka tertidur hanya dengan sedikit sihir yang aku gunakan," gumam Max heran.


Padahal begitu banyak wanita cantik di luar sana, tapi Max penasaran dengan Liliana. Apa hubungan Liliana dengan Adaire? Kenapa Liliana terlihat tidak suka dengan saudara tiri Adaire dan suaminya?


Ketika Liliana akan kembali ke dalam mansion, dia merasa ada seseorang diatas pohon. Entah kenapa dia menjadi sangat peka setelah terlahir kembali."Siapa kau? Keluarlah!" Teriak Liliana pada seseorang diatas pohon itu.


Max langsung turun dari pohon, dia tersenyum dan menyapa Liliana. "Hai, apa kau merindukanku?" tanya Max dengan senyuman cassanova nya.


"Kau? Kenapa kau bisa ada disini? Apa kau mengikuti ku?" Liliana terkejut karena pria yang dia temui ditempat pelacuran berada di rumahnya.


"Aku kesini karena kau memanggil namaku dan karena kau merindukanku," kata pria itu dengan percaya diri.


"Hah! Merindukanmu? Kenapa bisa ada ya pria yang sangat percaya diri seperti dirimu? Kata siapa aku merindukan mu?" tanya Liliana dengan senyuman sinis nya.


"Kata aku. Aku merasa kau merindukanku, bilang saja kalau kau ingin bertemu denganku," ucap Max sambil tersenyum berjalan mendekati Liliana.


"Apa kau sudah gila?" Liliana menatap tajam ke arah pria itu. "Hah, sudahlah aku tidak mau bicara denganmu. Lebih baik kau pergi dari sini sebelum para penjaga di rumah ini menemukan mu," Liliana menyuruh Max untuk pergi dari rumah itu.


Melihat dari pakaian yang di kenakan pria narsis ini, seperti nya dia seorang perampok.


Entah kenapa Max terlihat kecewa karena Liliana mengacuhkan nya. Jika wanita lain melihat nya, mereka akan langsung bertekuk lutut dan berlomba-lomba untuk menggodanya. Tapi, Liliana tidak seperti wanita-wanita yang mengejar dirinya.


"Hei hei jangan pergi dulu! Apa kau tidak mau tau siapa aku?" Max berjalan dibelakang gadis itu.


"Tidak penting!" Liliana cuek dan terus berjalan tanpa memedulikan Max.


Aku tidak percaya bahwa aku ditolak!. Max mengerutkan kening.


"Kau harus tau siapa aku, karena kita akan bertemu lagi!"


"Apa yang kau inginkan? Kenapa kita harus bertemu lagi?" tanya Liliana yang akhirnya menanggapi Max, karena dia lelah dengan pria yang mengikutinya itu.


"Apa harus ada alasan kenapa aku harus menemui mu?" tanya Max heran. Karena selama dia tinggal di istana dan posisinya sebagai putra mahkota, dia berhak menemui siapa saja tanpa alasan juga dalam keadaan apapun. Tidak harus ada alasan yang mendasarinya ketika dia harus bertemu dengan seseorang.

__ADS_1


"Jika tak ada kepentingan, kenapa harus bertemu?" tanya Liliana ketus dan dingin.


"Apa begitu?" tanya Max dengan wajah bingung.


Mungkinkah orang biasa memang seperti itu? Harus ada alasan dulu untuk bertemu?


Gadis itu hanya menghela napas sambil melangkah pergi dengan wajah malas. Dia tidak mau melihat lagi Max disekitarnya.


"Kau mau kemana?"


"Tidur," jawabnya singkat.


Max terlihat ketar-ketir, dia memutar otak untuk menemukan alasan supaya bisa bertemu lagi dengan Liliana. Wanita yang menarik perhatian nya dan berbeda dari wanita lain yang mendekati dirinya.


Ayo Max, pikirkan sebuah alasan! Pikirkan!


"Kau harus membayar ku! Kau berhutang nyawa padaku! Aku sudah menyelamatkan mu dari tempat itu, jangan lupa!"


"Terus?" Liliana menoleh ke arah Max.


"Baik," Liliana menjawab dengan malas dan cepat.


"Kalau begitu aku akan datang lagi, nona Liliana!" Max langsung pergi begitu saja dari tempat itu.


Liliana bingung dengan pria yang baru bertemu dua kali dengannya itu. Dia bahkan lupa menanyakan siapa nama nya atau tempat tinggalnya?


****


2 minggu sudah berlalu sejak Liliana tinggal di rumah itu. Duke akan segera mengangkatnya menjadi anggota keluarga.


Satu persatu pelayan yang bekerja di bawah Adara, berhasil disingkirkan oleh Liliana. Hanya tersisa satu orang pelayan setianya, dia sengaja menyisakan pelayan itu untuk menyiksanya. Dia ingat bahwa pelayan setia Adara itu berulang kali membuatnya kesulitan saat dia hidup sebagai Adaire, menindasnya secara halus. Saat itu Adaire tidak tahu bahwa dirinya ditindas. Karena Adaire yang lama sudah mati, maka kini lewat tubuh Liliana akan membalas kan dendamnya.


Adaire sudah mati, yang ada hanya Liliana. Dan sebagai Liliana dia akan membalas perbuatan jahat Adara dan Arsen padanya.


Pagi itu semua orang berkumpul di ruang makan, termasuk Liliana. "Kau sudah datang Lily?" sambut Duke Geraldine dengan wajah ramah.

__ADS_1


"Maafkan saya sedikit terlambat tuan Duke," ucap Liliana sambil menundukkan kepalanya dengan sopan.


Mengapa ayah sangat baik kepada pemilik tubuh ini? Tapi padaku ayah selalu bersikap dingin? Apa ayah malu padaku?. Liliana sedih karena dia ingat bahwa ayahnya selalu bersikap dinginnya, sedangkan pada Liliana, dia bersikap baik dan ramah.


"Tidak apa-apa, ayo duduk. Ada yang ingin aku bicarakan padamu," ucap Duke Geraldine ramah.


Liliana duduk di kursi yang bersebrangan dengan tempat duduk Adara. Wanita itu menatap sinis ke arah Liliana dan seperti biasanya, Liliana selalu tersenyum mengejeknya.


Benar-benar sial! Bisa-bisa nya dia menyingkirkan semua kaki tangan ku, siapa sia sebenarnya? Mengapa dia ingin merebut semuanya dariku?


Adara menatap Liliana dengan penuh kebencian. Arsen melihat istrinya, dia heran karena Adara yang pertama kali dia kenal adalah gadis cantik dan penyabar.


Tapi, sekarang Adara tidak terlihat begitu.


Kenapa dia selalu menindas nona Liliana? Adara yang aku kenal tidak begini.


Setelah menyelesaikan sarapan pagi, Duke mengatakan bahwa dia akan segera mengadakan pesta untuk memperkenalkan Liliana sebagai anggota keluarga Geraldine. Adara memang sudah tau hal itu, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk menentang keputusan ayahnya.


"Tuan Duke saya menolak permintaan anda," ucap Liliana menolak permintaan pengangkatan itu.


"Berikan aku alasannya, kenapa?" tanya Duke Geraldine dengan tegas.


"Saya tidak berhak dan tidak pantas endapatkan semua ini, saya hanya sahabat pena mendiang Adaire," Liliana menundukkan kepalanya dengan sopan. Dia tak menyangka bahwa Duke Geraldine sampai mengangkatnya menjadi seorang anak hanya karena dia adalah teman dekat putrinya.


"Kau tidak bisa menolaknya, karena kau adalah satu-satunya teman Adaire. Aku ingin memperlakukan temannya dengan baik,"


"Itu benar, nona Liliana tolong jangan menolak niat baik ayahku. Kakak ku pasti senang karena kau berada disini dan menjadi bagian dari keluarga kami," Adara tersenyum manis. Padahal dalam hatinya dia mengutuk wanita itu.


"Aku mohon terimalah ini," Duke Geraldine menatap Liliana dengan mata berkaca-kaca.


Adaire anakku, hanya ini yang bisa ayah lakukan untukmu. Semoga kau memaafkan semua kesalahan ayah. Ayah akan menebus semua kesalahan ayah pada teman yang sangat kau sayangi ini.


Liliana menerima permintaan Duke Geraldine untuk menjadi putrinya. Duke Geraldine langsung memerintahkan Adara agar dia mengurus pesta untuk Liliana. Walau malas, Adara mengangguk setuju dan patuh dengan perintah ayahnya.


...---***---...

__ADS_1


__ADS_2