Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 96. Rindu


__ADS_3

...****...


Di sofa atau di ranjang apa maksudnya?


Pikiran Liliana sudah melayang kemana-mana, dia terdiam dengan wajah malunya itu.


"Lily, kenapa wajahmu memerah? Apa kau demam?" Max mendekatkan wajahnya pada Liliana.


"Yang mulia, kau jangan sembarangan menyentuh.." Liliana gugup didepan suaminya itu.


Kening Max menyentuh kening Liliana untuk memastikan apa istrinya sedang demam ataukah tidak. "Kau tidak demam. Jadi, mau dimana? Sofa atau ranjang?" Tanya Max yang masih menggendong istinya layaknya tuan putri.


"Kau.. kita baru saja menikah dan bukankah ini terlalu cepat. Aku masih belum siap," ucap Liliana sambil menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajah malu itu.


"Hah? Apanya yang terlalu cepat? Aku janji akan pelan, kau tenang saja!" Max tersenyum tenang.


"A-Apa? Mau pelan mau cepat juga, tetap saja belum boleh. Kita masih... maksudku aku masih lemas dan aku tidak bisa melakukan hubungan itu,"


"Hubungan apa yang kau maksud? Lily, aku tidak paham." Max menatap Liliana dengan bingung, dia tak paham apa yang dimaksud Liliana.


"Hu-hubungan itu! Bukankah kau mengajakku untuk melakukannya?!" Tanya Liliana sambil menatap suaminya dengan kedua mata polos itu.


Max tersenyum lalu dia tertawa kecil setelah mendengar pertanyaan istrinya. Liliana bertanya kenapa pria itu tertawa dan Max berkata. "Kau ini punya pikiran mesum darimana? Kau pikir aku akan melakukan itu padahal kau sedang sakit? Apa kau pikir aku hewan? Tenang saja.. aku tidak akan melakukannya, tidak saat ini tidak malam ini."


Max akhirnya paham apa maksud perkataan istrinya itu.


"Terus.. kenapa kau tanya mau melakukannya di sofa atau di ranjang? Apa maksudnya itu?"


"Oh itu.. tadi kan tabib Chris bilang kalau kau memerlukan pijatan. Karena tubuhmu pasti kaku setelah 3 hari berada diranjang. Aku bermaksud ingin memijat tubuhmu. Kau mau dipijat di ranjang atau di sofa?" Max memperjelas semua ucapannya yang sempat membuat salah paham istrinya itu.


Liliana malu, dia menundukkan kepalanya. Rupanya dia salah paham karena berfikir terlalu jauh. Dia pikir bahwa Max mengajak malam pertama.


"Oh begitu, aku pikir.. aku pikir..."


"Istriku, apa kau sangat menginginkannya?" Tanya Max pada Liliana.


"Ti-tidak.." sangkal Liliana sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Padahal aku mau, tapi aku tidak bisa mewujudkannya malam ini. Kau sedang sakit, aku takut menyakitimu. Jadi sebagai gantinya aku akan memberikanmu perawatan spesial ala putra mahkota!" Ucap Max sambil membaringkan istrinya diatas ranjang empuk itu dengan hati-hati.


"Perawatan spesial?" Liliana tercekat mendengarnya.


Max tersenyum, kemudian dia mengambil minyak urut dan lotion. Dia mencampurkannya lalu memijat tubuh sang istri dengan lembut. Dari mulai kakinya lebih dulu.


"Ahhh... AHHHh...." Liliana mengerang.


"Istriku, kenapa kau mengeluarkan suara seperti itu? Apa enak?" Tanya Max sambil memainkan tangannya memijat semakin ke atas tubuh Liliana.


"Hen-hentikan.. jangan naik lagi, cukup yang mulia. Ini menggelikan,"' Liliana meminta Max untuk berhenti karena dia merasa kegelian.


"Sayang, ternyata kau sangat sensitif. Baru disentuh begini saja sudah kegelian. Diam dan tunggu saja, kau akan merasa lebih baik setelah dipijat.." Max meminta gadis itu percaya padanya karena dia akan memberikan pijatan terbaik untuk Liliana.


Saat jari-jari Max mulai naik ke bagian punggung Liliana, disanalah hasrat Max mulai membara. Pertahanan dirinya mulai runtuh, tatkala dia melihat tubuh yang cantik itu.


Dirinya mulai tergoda akan manisnya cinta dan kecantikan istrinya. Max terdiam dan berhenti memijat istrinya. Liliana keheranan karena Max berhenti memijat dirinya.


"Yang mulia, kenapa kau berhenti?" Tanya Liliana heran. "Ini sangat enak, ayo lanjutkan!" Gadis itu merasa keenakan dengan pijatan suaminya.


Dia melihat Max sedang menatap dirinya dengan nanar, instingnya bergerak bahwa dia harus menutupi tubuh bagian atasnya. Dia mulai terjebak dalam tatapan dalam Max kepadanya.


Tatapan yang berkata seolah dia ingin memakannya.


Hati dan jantungnya berdebar-debar, bersamaan dengan tubuh mereka yang memanas tanpa sebab. Kedua wajah dua sejoli itu sama-sama memerah.


"Lily..." Lirih pria itu sambil memegang kedua tangan Liliana. Dia menyelipkan jari-jarinya pada tangan cantik sang istri.


"Ya-yang mulia.."


"Aku sangat merindukanmu," ucap Max yang lalu membenamkan bibirnya pada bibir istrinya.


Liliana juga membalas pagutan bibir itu, rasanya sudah lama dia tidak bertemu dengan Max. Dia juga sangat merindukan pria itu. Max mencium Liliana dengan lembut dan dalam. Tanpa ada gerakan yang keras darinya.


Dia takut kalau tubuh Liliana akan sakit jika dia terlalu keras. Lagipula dia hanya ingin ciuman saja, tidak lebih dari itu. Untuk malam pertama biarlah nanti saja, pikir Max yang tidak mau menyakiti tubuh wanita yang baru saja sadar dari mati surinya.


Setelah lama-lama dalam ciuman menggelora penuh kerinduan, keduanya melepaskan pagutan bibir mereka. "Yang mulia.. " Liliana menatap Max dengan penuh cinta.

__ADS_1


"Maafkan aku karena aku tidak bisa melindungimu dengan baik. Aku janji, mulai sekarang aku akan menjagamu dengan baik." Ucap Max sambil mencium kening Liliana penuh kasih sayang.


"Yang mulia, karena kita sudah berada dijalan ini. Karena kita sudah berada dalam ikatan pernikahan, aku ingin kita selalu berada dijalan yang sama. Aku ingin kepercayaan, kesetiaan, kejujuran, didalam hubungan kita. Jangan ada yang disembunyikan...apa kau bisa melakukan itu?" Tanya Liliana sambil menatap tajam pria yang berada di atas tubuhnya itu.


Max tersenyum lalu memeluk Liliana, "Baik.. aku akan selalu melakukan itu. Tapi, kau juga harus melakukan hal yang sama."


"Ya, aku juga akan memegang janjiku.."


Max langsung melepaskan pelukannya, dia berkata pada Liliana bahwa Ratu lah yang merencanakan pembunuhan untuknya. Max mengatakan bahwa dia akan menunggu momen yang pas untuk menjebak dan membongkar kejahatan ratu dihadapan semua orang saat waktunya tiba.


Keduanya menjalin janji satu sama lain, untuk saling menjaga kepercayaan dan saling terbuka. Liliana telah menjadi putri mahkota kerajaan Istvan.


Dua minggu telah berlalu, hari itu bertepatan dengan penobatan Liliana sebagai putri mahkota. Dia sudah berdandan cantik dengan mahkota dan jubah kebesarannya, keadaannya juga sehat setelah sebelumnya dia sempat mati suri.


"Yang mulia anda cantik sekali," Daisy memuji Liliana yang terlihat cantik dengan gaun berwarna merah dan memakai jubah berwarna merah itu.


"Terimakasih Daisy," jawab gadis itu sambil tersenyum.


Ratu, akhirnya tiba juga pada hari ini. Aku akan membongkar semuanya.


Tak lama kemudian Laura dan Annie datang ke ruangan itu untuk melihat kakak iparnya yang akan segera dinobatkan resmi sebagai putri mahkota.


"Kakak ipar, kau sangat cantik sekali.." Laura memuji kakak iparnya itu dengan tulus.


"Terimakasih putri Laura." ucap Liliana sambil beranjak dari kursinya.


"Yang mulia, anda belum memakai parfum." Daisy menyemprotkan parfum pada tubuh Liliana.


"Oh baiklah,"


Kenapa aku tiba-tiba merasa pusing?


"Uwekk... uwekk.." Laura tiba-tiba saja mual-mual, tangannya memegang mulutnya.


"Tuan Putri!" Ujar semua orang yang berada di ruangan itu terkejut dengar Laura yang tiba-tiba seperti ingin muntah.


...---***---...

__ADS_1


__ADS_2