
Tadinya Max enggan memberikan permintaan terakhir Arsen untuk bertemu Liliana. Namun akhirnya dia setuju karena Liliana juga ingin bicara dengan Arsen.
"Kau serius ingin bicara dengan si bajingan itu?" tanya Max.
"Iya, aku ingin bicara dengannya yang mulia." Kata Liliana yakin.
"Kenapa kau ingin bicara dengannya apa jangan-jangan kau menyukainya?" tanya Max curiga kalau Liliana alias Adaire masih ada perasaan untuk mantan suaminya itu.
"Karena aku adalah Adaire," jawab Liliana yang akhirnya mengungkapkan identitasnya pada Max
"Apa? Apa maksudmu?" tanya Max pura-pura tak tau dengan apa yang dimaksud oleh Liliana. Padahal sejak awal dia sudah tau bahwa Liliana adalah Adaire. Tapi dia pura-pura kaget seolah tak tahu apapun.
"Aku adalah Adaire, jiwaku berada didalam tubuh ini. Aku adalah wanita gemuk yang jelek itu, yang mulia.." ucap Liliana sambil menundukkan kepalanya. Tiba-tiba saja dia kehilangan kepercayaan dirinya, ketika teringat sosoknya yang dulu.
Ya benar, aku harus mengungkapkan semuanya. Sekarang aku dan yang mulia putra mahkota sedang menjalin hubungan, jadi aku tidak mau menyembunyikan sesuatu darinya.
Max tersenyum tipis, dia tau betapa beratnya hati Liliana saat dia mengungkap jati dirinya. Tapi Max sangat senang karena artinya Liliana sangat mempercayainya untuk mengatakan tentang dirinya.
"Jadi kau adalah Adaire? Bagaimana bisa?" Max menutup mulutnya yang ternganga. Namun, Liliana tak tahu bahwa pria itu sedang berakting.
Aku ingin mengganggunya dulu ah...
"Aku masuk ke tubuh ini setelah aku mati.. aku pun tidak tahu bagaimana caranya. Maafkan aku karena aku yang asli bukanlah tubuh ini, tapi Adaire Charise Geraldine.." Liliana menatap pria itu dengan mata berkaca-kaca. "Maafkan aku karena sudah menipumu," ucapnya lagi
Maximilian pasti kecewa karena dia tau kalau aku sudah menipunya. Aku bukanlah wanita cantik yang bernama Liliana tapi aku adalah Adaire. Jiwa ini adalah Adaire.
Tangan Max meraih pipi Liliana dengan lembut, "Kalau kau memang Adaire, maka aku tidak salah jatuh cinta pada seseorang,"
Matanya menatap pria itu dengan heran, dahinya mengerut. "Apa maksudmu? Tidak salah jatuh cinta?"
"Benar, yang aku cintai bukan Liliana. Tapi Adaire, apa yang ada didalam dirimu. Aku jatuh cinta padanya untuk pertama kali sejak 12 tahun yang lalu.."
"A-apa maksudmu yang mulia?" Liliana semakin bingung dengan apa yang dikatakan Max.
"Apa kau tidak ingat bahwa dua belas tahun yang lalu, ada seorang anak laki-laki yang menangis di istana mantan Ratu? Anak itu wajahnya penuh lumpur dia menangis dibawah pohon beringin yang besar, saat itu dia memberikan ku sapu tangan dan dia berkata padaku seperti ini,"
"Seperti yang kau lihat, aku jelek! Aku selalu di hina semua orang karena penampilan ku, tapi aku tetap semangat.. aku tetap bahagia dan aku tidak menangis, itu karena aku masih punya orang-orang yang mencintaiku dan menerimaku apa adanya. Aku tidak tau bagaimana dan seperti apa masalahmu, karena hidup memang tidak selalu seperti apa yang kita inginkan. Karena itu, kau harus tetap semangat.. hidup terus berjalan,"
Max mengingat dan dia mengucapkan setiap kata yang pernah Adaire kecil katakan padanya. Liliana tercengang mendengar ucapan Max yang membuatnya kembali teringat ketika dia bertemu dengan anak kecil bermata merah dan berwajah kotor, anak laki-laki itu menangis dibawah pohon.
"Jadi anak itu adalah dirimu, yang mulia?" Liliana sadar.
"Benar, itu aku. Saat itulah aku bertemu dengan dirimu yang asli, Lily..."
"Ternyata.. kau.."
"Yang mulia! Bolehkah saya masuk?" kata Eugene terburu-buru dari depan pintu.
"Ada apa? Katakan saja disana!" Ucap Max tegas.
"Saya hanya ingin memberitahukan bahwa eksekusi Count Wales akan segera dilaksanakan."
"Yang mulia, mohon izinkan aku bicara dengannya sebentar!" Pinta Liliana pada Max.
"Baiklah, ini untuk yang terakhir kali." Max memberikan izin.
__ADS_1
Arsen masuk ke dalam ruangan itu, dengan kedua tangan terikat. Dia berada bersama Liliana saja disana. Itu karena Arsen ingin bicara dengan Liliana secara pribadi.
"Apa yang ingin kau katakan padaku, Arsen?" tanya Liliana malas.
"Aku tau kalau ini sangat tidak tahu malu. Tapi, aku ingin meminta sesuatu padamu." Kata Arsen dengan wajah yang memelas.
"Apa?"
"Ini adalah permintaan terakhir dari orang yang akan pergi dari dunia ini untuk selamanya. Aku ingin kau menjaga Adara dan anak yang ada didalam kandungannya,"
Liliana terpana mendengar permintaan pria itu padanya. Dia berfikir kalau permintaannya tidak serius, tapi wajahnya menunjukkan kalau dia tulus meminta itu.
"Adara dan anak yang ada didalam kandungannya tidak bersalah, aku mohon agar kau menjaga mereka. Itu saja permintaanku. " ucapnya sambil tersenyum pahit, kematian sudah tinggal beberapa menit lagi akan menjemputnya.
"Kau sangat tidak tahu malu," Liliana mendesah sinis.
Ternyata kalian saling mencintai. Tapi aku tidak sakit hati, karena aku punya seseorang yang aku cinta dan mencintaiku juga.
Liliana melangkah pergi meninggalkan Arsen disana. Kemudian Arsen berkata, "Aku tau kau akan melakukannya karena kau punya hati dan kau orang yang baik. Adaire, maaf aku terlambat.. tapi aku minta maaf," ucap Arsen penuh penyesalan. Matanya berkaca-kaca. Arsen menitipkan sebuah surat pada Liliana yang ditujukan untuk Adara, istrinya.
Liliana mengepalkan tangannya, dia tersentak kaget mendengar permintaan maaf dari mantan suaminya di masa lalu itu. Setelah percakapan singkat itu, Arsen dibawa ke alun-alun kota ditengah-tengah masyarakat untuk di eksekusi atas kejahatan membunuh putri Duke Geraldine.
Liliana dan Duke Geraldine berada diantara kerumunan rakyat untuk menyaksikan eksekusi mati Count itu.
Arsen berada ditengah-tengah masyarakat sekarang. Dari atas sana dia melihat Liliana yang sedang melihatnya. Arsen tersenyum dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya.
Disaat-saat terakhirnya itu dia teringat dengan kenangannya tentang Adaire. Dimana pria itu selalu menyakiti istrinya.
Ya Tuhan semoga dengan semua ini, aku bisa menebus dosa dosaku. Maafkan aku Adaire, Adara dan anakku yang belum lahir. Semoga Tuhan selalu melindungi kalian semua.
"Lakukan, sekarang!" ujar Max pada algojo itu.
Arsen menangis, saat dia akan menutup mata. Dia melihat Adara sedang berlari ke arahnya. "Arsen! Arsen!!" teriak Adara sambil menangis. Dibelakang Adara ada prajurit istana yang mengejarnya. "Aku ingin melihat suamiku!" kata Adara pada prajurit istana yang mengejarnya itu.
Sebelum kepala itu terpenggal, Arsen tersenyum pada istrinya. Dan tak lama setelah itu alat pancung dijatuhkan. Kepala Arsen dan tubuhnya terpisah. Kepala berdarah-darah menggelinding ke tanah.
Adara sakit hati melihat suaminya mati dengan cara mengenaskan. Bahkan Liliana juga tidak berani melihat Arsen saat pria itu dipenggal kepalanya. Padahal harusnya dia senang melihat pria yang sudah berulang kali menyakitinya itu tiada dengan cara yang sadis. Namun, Liliana masih punya hati.
Selamat tinggal Arsen. Semoga kau tenang didalam sana. Ucap Liliana dalam hatinya.
"TIDAK! Arsen.. suamiku!! hiks .. huuuhhh.. huhuu...kenapa hiks.." Adara menangis tersedu-sedu melihat suaminya mati dihadapannya dengan kepala terpenggal. Adara bukan menangis lagi, tapi dia histeris sampai duduk ditanah.
Hujan deras mengguyur negeri Istvan itu, membasahi tanah disana. Semua rakyat yang melihat eksekusi itu berhamburan pergi dari sana. Kecuali Liliana, Adara dan beberapa prajurit kerajaan yang mengawal Adara.
Liliana membiarkan air hujan mengguyur dirinya, hingga seluruh tubuhnya basah. Begitu juga dengan Adara, yang sedang berduka karena kehilangan suami dan ayah bayinya.
"Berdirilah, kau tidak boleh mati! Ada orang yang hidup didalam perutmu itu," ucap Liliana seraya mengulurkan tangannya pada Adara.
Adara menatap Liliana dengan penuh kebencian, dia menepis tangan Liliana yang terulur untuk membantunya itu.
"Adara!"
"Ini semua karena kau, jika bukan karena dirimu...aku tidak akan kehilangan suami dan ayah anakku, kau benar-benar iblis.. kau kejam.." Adara menumpahkan semua kemarahannya pada Liliana.
"Aku pikir kau memang butuh waktu sendiri. Aku harap kejadian ini bisa menyadarkanmu, bahwa akan ada karma disetiap perbuatan jahat yang manusia lakukan," ucap Liliana tegas tanpa ampun pada Adara. Meski dalam hatinya Liliana kasihan pada Adara dan anak didalam kandungannya.
__ADS_1
"Diam kau wanita busuk!" Adara memaki Liliana lalu mendorong gadis itu hingga jatuh ke tanah yang kotor dan becek karena air hujan.
BRUGH!
"Pengawal, bawa wanita ini kembali ke dalam penjara!" Titah Max pada para prajurit istana itu. Max membantu Liliana berdiri.
"Baik yang mulia!"
Mereka semua patuh dan menyeret Adara untuk kembali ke penjara bawah tanah istana. "Liliana...kau akan mendapatkan karmamu! Kau yang akan mendapatkannya!" Teriak Adara menyumpahi Liliana.
Liliana terdiam dengan wajah sedih melihat Adara seperti itu. Max berada disampingnya dengan wajah marah. Dia menggunakan payung yang diberikan oleh Eugene untuk memayungi Liliana.
"Apa kau mau aku membunuhnya? Menyiksanya?" kata Max menawarkan.
"Tidak,"
"Bukankah kau marah?"
"Tidak, aku hanya kasihan. Ternyata dia masih belum berubah, atau mungkin tidak akan pernah berubah." Liliana miris melihat Adara yang masih belum bertaubat.
"Sepertinya dia tidak akan bertaubat sama seperti apa yang kau pikirkan," ucap Max sambil memegang tangan Liliana yang dingin itu.
Dari kejauhan, Julia dan putri mahkota yang lain melihat kedekatan Max dan Liliana. Mereka juga ada disana untuk melihat Arsen dihukum pancung.
"Cih! Bagaimana kita bisa menang dalam pemilihan putri mahkota secara adil? Belum apa-apa sudah nepotisme!" kata Arina sarkas, dia tidak senang melihat Liliana dan Max berdekatan. Dia merasa iri.
"Kau benar nona Arina. Sudah jelas kan siapa pemenang yang ada disini?" kata Keira sambil melihat Liliana dengan sinis.
"Kalian jangan seperti itu, memang salahnya nona Liliana kalau putra mahkota suka padanya?" tanya Shopia dengan wajah polosnya.
"Nona Shopia, jangan ikut campur kalau kau tidak tau apa-apa!" kata Nona Arina kesal pada nona yang polos itu.
Diantara semua nona yang ada disana, Julia lah yang paling iri dan dengki melihat Liliana dan Max bersama.
Kenapa mereka semakin dekat saja? Tidak ,harus aku yang menjadi putri mahkota. Harus aku yang menjadi Ratu berikutnya.
Julia nekat pergi ke bawah hujan, dia menghampiri Liliana dan Max. Ketiga nona yang sedang berteduh itu melihat Julia dengan keheranan. Julia kehujanan dan dia tiba-tiba berdiri ditengah-tengah Max dan Liliana. "Maaf yang mulia, saya juga kehutanan. Bolehkah saya ikut berteduh di payung ini dengan yang mulia?"
Julia menatap Max dengan tatapan memelas, dia menganggap seolah Liliana tak ada disana dan hanya bertanya pada Max saja.
"Oh, kau mau payungnya? Silahkan," ucap Max sambil menyerahkan payung itu pada Julia.
"Benarkah ini untuk saya yang mulia?" Julia mengambil payung itu, dia tersenyum senang.
Tuh kan, aku sudah menduganya kalau tidak ada yang bisa menahan pesonaku.
"Iya ambil saja. Lily, apa tidak apa-apa kalau kita berjalan kesana dengan menggunakan ini?" kata Max sambil tersenyum dan melepas jas miliknya dengan bahan anti air. Dia memayungi Liliana dengan jasnya itu.
"Tidak masalah yang mulia," jawab Liliana sambil tersenyum.
"A-apa?" Julia ternganga mendengar ucapan dan sikap Max pada Liliana.
Dua sejoli itu meninggalkan Julia sendirian disana dengan payungnya ditengah hujan. Hal itu membuat ketiga nona tertawa melihatnya.
...---****----...
__ADS_1