Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 166. Sebelum memutar waktu


__ADS_3

Pov Aiden


...🍀🍀🍀...


Sebelum kembali ke masa sekarang dimana aku pertama kali bertemu lagi dengan Liliana. Sebenarnya, aku tau bahwa Raja Maximillian memutar waktu.


Sebenarnya akulah yang merencanakan semua ini. Bagaimana awalnya? Bagaimana ini bisa terjadi?


Hal itu bermula ketika Liliana dinyatakan tiada karena penyihir hitam yang katanya adalah seseorang yang berada disisi Raja Maximillian. Aku sedih bercampur marah saat melihat sendiri wanita pertama yang kucintai telah tiada bahkan sebelum aku bisa merebut hatinya.


Aku berdiri didepan tempat dia di semayamkan untuk terakhir kalinya. Hatiku sakit, dadaku ini rasanya seperti ditusuk-tusuk tiada habisnya rasa sakit ini. Ada rasa ingin menghabisi Raja Istvan yang sudah menyebabkan semua ini terjadi, dia sudah menyebabkan penderitaan untuk Liliana.


Dalam hati, aku bersumpah jika ada kehidupan kedua. Aku akan membahagiakan Liliana, merebut dia dari Maximillian yang sama sekali tidak pantas untuknya. Tepat setelah pemakaman itu selesai, dengan langkah yang gontai dan hati yang terluka. Aku memutuskan untuk pergi lebih dulu dari sana. Sungguh aku tak sanggup berada lebih lama lagi disana, perih sekali batinku ini.


Ketika semua orang pergi, hanya tinggal ada Raja Maximillian dan seorang pengawalnya disana. Saat itu hujan turun dengan deras, seperti paham akan hatiku yang memang sedang dilanda hujan badai yang lebat. Hujan badai itu bernama duka.


****


Seakan doaku didengar oleh Tuhan, Abartia temanku yang tak lain adalah seorang penyihir agung datang menemuiku.


"Yang mulia, penyihir agung ingin bertemu dengan anda." Ucap Dorman melapor padaku yang masih duduk di sofa dengan galau. Saat ini aku masih berada di kerajaan Istvan dan rencananya esok aku akan kembali ke negeriku.


"Mau apa dia kemari?" Tanyaku malas, sambil memutar-mutar gelas kosong ditanganku. Aku sudah menghabiskan banyak minuman keras, entah berapa gelas.


"Katanya beliau ingin membicarakan masalah penting soal nona Liliana." Jelas Dorman padaku.


Liliana? Mendengar nama wanita yang aku cintai, aku langsung terperangah, namun disisi lain aku merasa heran kenapa Abartia membahas tentang Liliana?


Ah sudahlah! Mungkin ini penting, lalu ku putuskan untuk menerima kunjungannya. "Suruh dia masuk."


"Baik yang mulia." Kulihat Dorman pergi meninggalkanku dan pergi keluar ruangan. Kemudian tak berselang lama setelah Dorman pergi, kini sosok Abartia sudah ada didepan mataku.


Kulihat dia memberi salam padaku dengan hormat. "Salam yang mulia Raja!"


Aku menjawab salamnya dengan anggukan, lalu aku persilakan dia duduk di sofa yang telah berada di seberang ku. "Ada apa?" Tanpa banyak basa-basi aku bertanya padanya.

__ADS_1


"Yang mulia, saya punya cara agar nona Liliana bisa kembali hidup."


Deg!


Sontak saja aku tercekat mendengarnya, apa telingaku tidak salah dengar? Abartia bilang kalau dia punya cara agar Liliana kembali hidup?


"Kau jangan bercanda denganku!" Ujarku sambil menatapnya dengan tatapan tajam. Apakah dia bercanda denganku? Sungguh aku tak percaya dia akan mengatakan hal konyol seperti itu.


"Yang mulia, tenanglah dulu...saya akan jelaskan." Ucapnya seraya menenangkanku.


Disinilah aku mulai menjadi pendengarnya, Abartia menjelaskan bahwa dia punya cara agar Liliana bisa hidup kembali yaitu dengan membuat perjanjian dengan raja iblis Utara.


Aku tercengang mendengarnya, namun jika hal itu memang bisa membuat Liliana hidup kembali dan aku bisa melihatnya lagi. Aku pasti akan melakukannya dan dengan tidak sabar, aku bertanya padanya seperti apa perjanjian dengan iblis itu.


Abartia menjelaskan, perjanjian dengan iblis itu tidak bisa dilakukan olehku karena aku bukanlah orang yang dicintai oleh Liliana. Hal ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang Liliana cintai.


Sayang sekali, aku yakin bahwa orang itu bukan diriku melainkan Raja Istvan mantan suaminya Liliana. Aku mendesah kecewa karena merasa tak gunanya Abartia menjelaskan ini padaku.


"Jadi, yang mulia bukanlah orang yang dicintai oleh nona Liliana?" Tanyanya lagi padaku.


Aku pun terdiam, lalu pikiran buruk mulai muncul dikepalaku. Aku mengatakan pada Abartia agar dia mengatakan ini pada Raja Istvan dan aku juga berpesan padanya, jika ritual jual jiwa iblis itu berhasil memutar waktu. Aku ingin Liliana kehilangan ingatannya tentang masa lalu karena Abartia bilang sebelumnya, meski berhasil memutar waktu, Liliana akan tetap mengingat masa lalunya bersama Maximillian. Sungguh aku tidak mau hal yang sama terulang dan Liliana akan mengalami penderitaan yang sama.


Aku akui aku egois, aku tidak mau jika Liliana dan Maximillian bersama. Aku juga tidak mau Raja Istvan itu bahagia, tapi jujur dari dalam lubuk hatiku. Aku sama sekali tidak membencinya, aku hanya tidak suka padanya karena dia mendapatkan cinta dari wanita yang aku cintai.


Abartia menyanggupi permintaanku dan begitulah kami mencapai kesepakatan. Merugikan Raja Istvan dan aku yang akan mengubah masa lalu juga masa depan. Aku akan mengatur alur yang sudah aku persiapkan nantinya, bila masa lalu berubah karena aku ingat semuanya.


Aku ingat Liliana, masa lalu dan juga tentang Maximillian. Setelah bicara dengan Abartia, pria itu pun pergi menemui Maximillian untuk menjalankan apa yang sudah ku perintahkan padanya.


Lalu tak lama kemudian...


Ya Tuhan! Apa yang terjadi? Tiba-tiba saja diriku berada didalam kamarku, padahal baru saja aku berada di ruang tamu istana Istvan.


Aku pun segera melihat ke arah jendela yang terlihat terang, aku yakin hari itu sedang siang. Aku tersenyum lebar, karena aku benar-benar ke masa lalu. Harapanku untuk bertemu dengan Liliana kembali bisa segera terwujud dan aku akan memanfaatkan kesempatan ini untuk bisa bersamanya dan menyingkirkan nama Maximillian dari dalam hatinya.


Kejam.

__ADS_1


Licik.


Egois.


Aku tak peduli jika ada yang bilang seperti itu tentangku, nyatanya aku melakukan ini atas dasar rasa cinta dan aku ingin Liliana bahagia dalam kehidupannya kali ini.


"Yang mulia, anda sudah bangun?"


"Dorman, kosongkan semua jadwalku dalam dua hari ke depan!" Ujarku pada Dorman.


"Eh, kenapa..."


Kulihat Dorman tercekat dengan apa yang kukatakan. Tentu saja, selama ini aku tak pernah mengajukan cuti dan lain sebagainya karena aku adalah orang yang giat bekerja. Lalu sekarang aku minta mengosongkan semua jadwal. Ini semua demi mengejar cintanya lebih dulu.


"Dorman, jangan buat aku mengatakannya dua kali." Ucapku sekali lagi padanya.


"Baik yang mulia, tapi dengan alasan apa yang mulia ingin mengosongkan jadwal?"


"Liburan, aku ingin berlibur."


Aku mencari informasi tentang Liliana dan Maximillian. Aneh sekali! Saat aku mencari tentang Liliana di Istvan terdaftar sebagai anak Duke Geraldine dan tidak ada namanya disana. Apakah masa lalu juga berubah karena waktu berubah? Astaga!


Seingatku, Liliana pernah mengatakan bahwa dia pernah tinggal di pulau Gardian. Aku pun pergi kesana untuk mencarinya dengan alasan berlibur, bersama sebagian prajuritku dan tentu saja Dorman, orang kepercayaanku juga ikut denganku.


Aku pun berada didalam kapal menuju ke kerajaan Istvan setelah aku menemukan informasi dari orang-orang di pulau Gardian tentang wanita berambut merah yang kuyakini sebagai Liliana, bahwa gadis itu pergi kerajaan Istvan.


Naiklah aku ke kapal itu dan berharap takdir akan mempertemukan kami kembali. Aku pun mabuk laut, mual dan muntah karena aku memang tak terbiasa dengan perjalanan kapal laut.


Lalu ku dengar suara seseorang yang tidak asing untukku. Astaga! Sumpah demi tuhan, hatiku berdebar kencang, tak menyangka bahwa aku melihat wanita yang kucintai kembali hidup didepan mataku.


Liliana....dia ada didepan mataku?


Dalam hati aku bersumpah, kali ini aku akan mendapatkannya. Aku akan buat dia jatuh cinta padaku.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2