Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 215. Kabar bahagia


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Armodinte masih berada di sana, dia terlihat mencemaskan keadaan Liliana. Bahkan ketika ada suaminya di sana, dia masih berdiri. Sepertinya dia tidak akan pergi sebelum dia mendengar diagnosis dari tabib tentang keadaan Liliana.


"Apa yang terjadi pada istriku?" tanya Max yang sudah stay memegang tangan sang istri.


"Izin menjawab yang mulia, Baginda Ratu jatuh pingsan di lorong dan tuan Duke Armodinte yang membawanya kemari." jelas Dorothy pada sang Raja.


Sontak saja Raja Istvan menoleh ke arah pria tampan yang berdiri tegak tak jauh darinya. Sorot matanya tajam dipenuhi api yang bernama cemburu, dia benar-benar tidak suka dengan tatapan pria itu pada istrinya.


"Terima kasih, kau boleh pergi!" ujarnya pada Armodinte dengan suara dingin.


Armodinte tidak bisa berbuat apa-apa selain patuh, walau sebenarnya dia enggan pergi dari sana. Dia pun melangkah pergi dari sana.


"Semoga kau baik-baik saja Liliana," ucapnya sambil memegang dada, dia menatap pintu ruang perawatan itu. Panggilan itu begitu akrab dengan Liliana, siapakah Armodinte? Apa dia mengenal Liliana? Liliana mana yang ia kenal? Liliana asli ataukah Liliana berjiwa Adaire?


Di dalam ruang rawat itu, Chris memeriksa kondisi Liliana beberapa kali. Dia mengernyitkan keningnya, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya seolah tak percaya. Max setia disana menemani istrinya yang masih belum siuman.


"Hey! Cepat katakan sesuatu! Kenapa kau menggelengkan kepalamu terus seperti itu?" Kesal Max karena Chris sedari tadi hanya diam saja.


"Yang mulia...saya sekarang benar-benar yakin!" Kata Chris seraya menatap ke arah Max.


"Yakin apa? Katakan yang jelas dan jangan buat aku bertanya sampai tiga kali!" pintanya kesal.


Chris tersenyum lebar. "Selamat yang mulia, yang mulia Ratu sedang mengandung!"


Max terdiam membeku mendengar perkataan Chris. Apa katanya? Liliana hamil? Apa dia tidak salah? Oh tuhan! Jantungnya seakan berhenti saat itu juga, tiba-tiba Max merasakan sesak di dada. Matanya menatap Chris dengan tajam.


Disisi lain ada Dorothy yang juga mendengarnya, dia sangat bahagia dengan kabar baik itu.


"Kau...apakah kau tidak berbohong? Apa kau tidak salah? Benarkah ratuku sedang mengandung?" tanyanya sekali lagi untuk memastikan bahwa yang dia dengar ini benar.


Chris kembali tersenyum, dia mengangkat wajahnya. "Ya yang mulia, yang mulia Ratu sedang mengandung! Selamat yang mulia!"

__ADS_1


"Yang mulia selamat!" Dorothy dan satu orang tabib wanita juga memberinya selamat.


Syukurlah Tuhan! Terima kasih karena engkau telah mengabulkan doa yang mulia Ratu dan yang mulia Raja.


Air mata haru tak tertahankan, Max menangis sambil memegang tangan istrinya. Dia tidak percaya dengan berita baik ini. Akhirnya setalah menunggu dua tahun lamanya, Max dan Liliana dikaruniai seorang anak.


Tidak ada yang bisa menggantikan rasa bahagia dan haru ini. Hingga tak lama kemudian, Liliana membuka matanya perlahan manakala ia merasakan ada tetesan air membasahi tangannya. "Yang mulia Raja..." lirihnya seraya menatap sang suami yang kini tengah menangis. "Kenapa kau menangis?"


"Ratuku...aku...aku tidak sanggup mengatakannya." ucap Max yang masih tidak bisa menahan air matanya karena bahagia.


Terima kasih Tuhan, terima kasih Brieta...


"Ada apa ini?" tanya Liliana bingung.


Akhirnya Dorothy yang angkat bicara. "Yang mulia...selamat, anda sedang hamil." ucapnya yang membuat kedua mata Liliana membulat.


Sungguh hatinya berdebat tak karuan mendapatkan berita ini, apakah ini benar-benar bukan mimpi? Ya Tuhan!


"A-apa itu benar?" rasanya Liliana tidak menyangka.


Liliana memeluk Max, saking bahagianya ia saat ini dan lupa dengan keberadaan Dorothy dan dua tabib disana. Liliana menangis haru dengan kabar gembira ini, jadi gejala pusing, mual dan mudah mengantuknya ini karena ia sedang hamil.


"Ayo kita pergi beristirahat ke kamar, Ratuku!" Max menggendong istrinya dengan bahagia. Tanpa peduli siapapun yang melihatnya.


Armodinte dan beberapa pengawal disana melihat kemesraan pasangan suami-istri itu. Sementara Armodinte tersenyum getir saat melihatnya. "Selamat berbahagia Liliana." ucap Armodinte bergumam dengan suara yang lirih.


Pria itu berjalan pergi dari sana dengan wajah sedih dan langkah gontai. Armodinte adalah seseorang di masa lalu Liliana yang asli, dia menyukai Liliana sejak kecil.


Seandainya aku datang lebih cepat, mungkin aku bisa datang melamarmu. Maafkan aku Liliana.


Belum dekat, Armodinte sudah menjadi sad boy.


*****

__ADS_1


Setelah Liliana dikabarkan sedang hamil, semua orang memberikan ucapan selamat dan hadiah kepadanya. Max juga tidak memperbolehkan istrinya untuk melakukan pekerjaan negara terlebih dahulu.


Max juga membagi-bagikan uang dan makanan kepada rakyat miskin sebagai bentuk rasa syukurnya atas kehamilan sang istri.


Dia tidak mau jika terjadi sesuatu pada Liliana dan calon anak pertama mereka. Pria itu begitu posesif dan sangat melindungi istinya bahkan kadangkala ia mengurung istrinya di kamarnya agar dia tidak beraktivitas karena Chris bilang kalau kandungannya lemah.


"Dorothy aku sangat bosan." keluhnya sambil menghela nafas panjang.


"Maafkan saya yang mulia, tapi baginda memerintahkan agar yang mulia Ratu tidak pergi kemana-mana." ucapnya menyesal. Dalam hati sebenarnya dia tidak tega karena Liliana harus berada di dalam kamarnya terus menerus.


"Tapi aku jenuh, aku ingin jalan-jalan keluar dari kamarku." katanya merengek sambil memegang perutnya.


Memang semua kebutuhannya terpenuhi, akan tetapi dia juga butuh yang namanya refreshing. Namun Max tidak paham akan hal itu, kesehatan mental juga sangatlah penting untuk Liliana yang sedang hamil. Bukan hanya kebutuhan finansial dan pangan saja.


"Saya mohon maaf yang mulia," kata Dorothy sekali lagi.


"Baiklah kalau begitu, aku akan tidur saja. Tinggalkan aku sendiri! Pergilah sana!" Seru Liliana dengan wajah yang ditekuk itu.


"Hem...baiklah yang mulia, kalau yang mulia perlu sesuatu, yang mulia tinggal panggil saya saja. Saya ada di luar sana."


Sepertinya yang mulia Ratu merajuk.


Dorothy meninggalkan Liliana seorang diri di kamarnya. Wanita hamil itu merajuk, dia benar-benar kesal dengan suaminya yang memperlakukannya seperti tahanan.


"Aku akan bukan tahanan, kenapa aku dikurung kurung seperti ini? Benar-benar menyebalkan." gerutu Liliana sambil merebahkan tubuhnya diatas ranjang.


Semenjak hamil, dia memang jadi lebih sensitif dan mudah terbawa perasaan. Seringkali dia marah-marah pada Max dan meminta hal-hal aneh ditengah malam.Ya fase ini adalah fase yang dinamakan mengidam.


Malam itu Max baru saja kembali dari pekerjaannya yang menumpuk. Dia melihat istrinya berbaring di atas ranjang dan sengaja membelakangi punggungnya. "Istriku, ada apa?"


"Hemph!"


"Kau ingin sesuatu? Apa kau mau aku memanjat lagi pohon jambu untukmu?" godanya pada sang istri seraya memeluk Liliana.

__ADS_1


"Aku tidak mau kau kurung lagi! Aku ingin jalan-jalan!" teriaknya protes.


...****...


__ADS_2