Second Life Liliana

Second Life Liliana
220. Beraninya kau!


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


"Apah--kau sudah--gi--la??" Raja Lostier bicara terbata-bata, dia memegangi lehernya yang di sihir oleh Max. Dicekik dengan erat, seperti akan memutuskan leher pria itu saat ini juga.


Apa dia ingin mematahkan leherku?


Kemarahan Maximillian sudah berada di ambang batas, apalagi menyangkut soal Liliana istri tercintanya, pasti dia akan menjadi gila.


"Aku tidak suka mengulang pertanyaanku, katakan padaku di mana istriku berada!" teriak Max mengulang pertanyaan yang sama lagi kepada pria itu.


"Uhukk...uhuk..."


Bagaimana pria itu mau menjawab pertanyaannya? Sedangkan lehernya saja saat ini dicekik dengan begitu kuat oleh Maximillian yang emosi.


Sihir dan Mana yang keluar dari tubuh Maximilian, membuat tanah di medan perang itu berubah menjadi merah lalu terbakar. Beberapa prajurit disana terbakar karena mana yang ada di dalam tubuhnya menyebar ke sana. Seperti kemarahannya saat ini yang begitu membara.


Salah siapa?


Raja Lostier yang menyulut apinya.


Wush~~

__ADS_1


Api disana begitu besar sehingga tidak bisa dikendalikan.


"Yang mulia! Saya mohon tenanglah, atau anda akan membuat semua orang yang ada disini tiada!" Ujar Eugene pada Max yang emosi.


Tapi apapun yang dikatakan oleh Eugene pada Max tidak membuat pria itu menghentikan amarahnya. Suasana di medan perang itu mendadak menjadi lautan api dan darah. Angin yang berhembus datang entah dari mana membuat api itu semakin besar dan melahap apapun yang berada di sana.


"Yang mulia....tenangkan diri anda, saya mohon. Yang mulia harus berpikir jernih, yang mulia Ratu pasti baik-baik saja saat ini." ucap Eugene yang kembali berusaha untuk menenangkan rajanya. "Yang mulia Ratu, adalah perempuan yang kuat! Pasti beliau bisa melindungi dirinya dan juga kandungannya, percayalah yang mulia."


Berhasil!


Kali ini kemarahan Maximillian mereda, api yang tadinya berkobar begitu besar, kini menghilang dalam sekejap. Begitu pula dengan Raja Lostier, pria itu jatuh tersungkur di tanah dengan nafas terengah-engah. Matanya menatap marah ke arah Max.


Max menahan lemasnya tubuh itu, dia berusaha tetap terlihat kuat. Dia mengangkat pedangnya, menodongkan pedang itu tepat ke leher Raja Lostier. "Katakan dimana istriku, maka aku akan membiarkanmu mati tanpa rasa sakit!"


Raja Lostier memang sudah kalah, ratusan prajuritnya sudah gugur disana karena kekuatan api dari Max. Kini wajahnya yang tadi sempat angkuh itu langsung menghilang dalam sekejap, berganti dengan wajah gelisah.


"Aku benar-benar tidak tahu..." jawabnya dengan nafas tak beraturan.


Sret!


Tanpa basa-basi, Max menggores pedangnya yang tajam ke leher Raja Lostier itu hingga lehernya berdarah. Si Raja itu memekik kesakitan.

__ADS_1


"Aaakhh! Apa kau sudah gila? Beraninya kau--"


"Beraninya kau berurusan dengan orang seperti AKU! Sepertinya kau harus merasakan apa artinya hancur," darahnya berdesir hebat, sedari tadi dia menahan amarahnya untuk tidak membunuh pria itu.


"Su-sungguh...aku benar-benar tidak tahu kemana si William itu membawanya, dia tidak memberitahuku!" kata Raja Lostier tegas dan jujur.


Ya, dia memang tidak tahu kemana William membawa pergi Liliana sebab dia hanya memerintahkan pria itu membawa Liliana untuk dijadikan sandera. Kemana pria itu membawanya dia tidak tahu?


Namun sungguh di luar dugaan, ternyata ia kalah dan pasukannya sudah berguguran. Harapan satu-satunya adalah Liliana yang dijadikan sebagai tameng.


Max mengangkat tubuh pria itu, dia pun melemparnya ke sembarang arah. "Auww!!"


"Kalian ikat dia dan bawa dia! Jangan sampai dia kabur. Sekarang kita harus mencari Ratuku, ratu negeri Istvan!" tegasnya pada semua para prajurit.


"Ya, yang mulia!"


Lily, kau dan anak-anak kita pasti akan baik-baik saja kan? Kau pasti baik-baik saja. harapnya cemas dalam hati.


Max memandangi gelang yang ditangannya, gelang pemberian istrinya. Dia harap Liliana akan baik-baik saja.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2