Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 110. Liliana menghilang


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Di gang sempit itu, Bianca, Brietta dan Adrian masih berada disana untuk mencari keberadaan Liliana yang hilang bagai ditelan bumi.


Brietta bahkan menggunakan penglihatan batin dan sihirnya untuk mencari keberadaan Liliana. Namun penglihatannya dihalangi oleh sosok ular raksasa yang entah siapa.


"Saya masih belum bisa menemukan keberadaan Putri mahkota," ucap Brietta sambil menggelengkan kepalanya.


"Astaga! Bagaimana ini? Putri mahkota menghilang? Jika yang mulia putra mahkota tau.. maka..." Adrian takut dan cemas karena Liliana menghilang.


Max sudah memberikan amanat kepada Adrian untuk menjadi kstaria pengawal Liliana dan menjaganya. Kini gadis itu menghilang entah kemana, apa yang akan terjadi pada hidupnya selanjutnya.


Bianca berlari menghampiri Adrian bersama beberapa para prajurit yang dikerahkannya untuk mencari Liliana..


"Sir Adrian, aku dan para prajurit sudah mencari ke setiap rumah dan setiap toko di wilayah ini tanpa terlewat. Bahkan kami sampai menggeledahnya, namun yang mulia putri mahkota maupun pria misterius itu tidak ada dimana-mana." Jelas Bianca pada Adrian dengan wajah gelisah dan cemas.


Dalam hati dia menyesal karena membiarkan Liliana bergerak sendirian. Jika dia tau betapa berbahayanya pria itu, Bianca akan lebih memperhatikan Liliana dan mengikutinya kemana-mana.


Adrian bingung dan resah saat mendengar penjelasan Bianca. Hari yang tadinya pagi itu ternyata sudah sore. Matahari sudah mulai akan terbenam dan Liliana masih belum di temukan.


"Kita harus tetap mencari! Sampai kapanpun itu!" Teriak Bianca si sektretaris itu.


"Nona Bianca, saya akan mencari yang mulia putri mahkota meski harus sampai ke penjuru negeri ini!"


"Kita harus menemukan yang mulia putri mahkota, mau bagaimanapun caranya!" Seru Bianca tegas.


"Saya akan menemui beberapa penyihir kenalan saya, siapa tau mereka bisa ikut membantu untuk menemukan putri mahkota. Karena saya yakin, hal ini berhubungan dengan sihir!" Kata Brietta ikut bicara.


Adrian dan Bianca mengangguk, mereka setuju dengan ucapan Brietta. Mereka bersama para prajurit mencari Liliana ke setiap penjuru negeri itu.


Didalam pencarian itu, Adrian terus merasa bersalah karena dia belum bisa menemukan Liliana dan dia tidak bisa memenuhi amanat putra mahkota kepadanya untuk menjaga Liliana.


Maafkan saya yang mulia putra mahkota, saya tidak bisa menjaga putri mahkota dengan baik.


Semua orang sibuk mencari keberadaan Liliana, gadis yang belum lama menjabat sebagai putri mahkota dan dicintai rakyat kalangan bawah. Rakyat kalangan bawah juga ikut mencari Liliana bersama para prajurit istana dan petugas pemerintah.


Duke Geraldine yang tau anaknya menghilang, juga ikut mencari putrinya itu. Dia meninggalkan semua pekerjaan dan mencari putrinya di setiap sudut kerajaan Istvan tanpa terlewat.


"Ya Tuhan, tolong lindungi selalu putriku. Lily, kau harus baik-baik saja nak.." Duke Geraldine mengatupkan kedua tangannya. Pria paruh baya itu naik di atas kuda, dia baru saja mencari Liliana di wilayah barat kerajaan Istvan.


Raja juga tidak tinggal diam ketika dia tau menantunya menghilang. Dia mengerahkan seluruh prajurit istana bahkan sampai kstaria bayangan yang handal dalam pencarian untuk mencari keberadaan Liliana.


"Kalian harus mencarinya sampai ketemu! Jangan pulang sebelum kalian menemukan putri mahkota!" Teriak Raja Alberto pada para kstaria bayangannya.


"Baik yang mulia! Siap melaksanakan titah Baginda!" ucap ke 5 orang kstaria bayangan itu patuh pada perintah.


Sementara itu Blackey baru sampai di tengah kota pada malam hari. Dia dalam perjalanan menuju ke istana kerajaan Istvan. Namun saat dia berada di tengah kota, Blackey melihat orang-orang sedang sibuk mencari sesuatu.


"Ada apa ya? Kenapa malam-malam begini prajurit istana bahkan masyarakat masih berkeliaran?" Tanya Blackey kebingungan.


Akhirnya dia merubah dirinya seperti manusia. Blackey dengan rambut pirang dan kulit agak kecoklatan. Itulah wujudnya sebagai manusia.


Dia berjalan di tengah kota dan bertanya pada salah satu pedagang obor disana. "Maaf, kenapa semua orang berkumpul ramai-ramai begini ditengah kota ya?" Tanya Blackey pada pedagang itu.


"Apa tuan tidak tahu?"


"Maaf, saya sebenarnya bukan orang sini." Jawab Blackey.


"Oh...pantas saja tuan tidak tahu. Semua orang sedang sibuk mencari keberadaan Putri mahkota." Jelas si pedagang itu pada Blackey.


Putri mahkota menghilang?


"Mencari putri mahkota?! Memangnya putri mahkota menghilang?" Tanya Blackey terperangah mendengarnya.


"Benar, katanya yang mulia putri mahkota sedang melakukan tugas berbahaya lalu dia menghilang seolah ditelan bumi. Semua orang sedang mencarinya," ucap si pedagang itu yang juga mencemaskan Liliana. "Putri mahkota adalah orang yang sangat baik hatinya, pasti Tuhan akan melindungi yang mulia putri mahkota. Aku harap begitu.." ucap si pedagang mendoakan keselamatan Liliana.


Ketika si pedagang itu sedang berdoa dan memejamkan matanya sebentar. Blackey sudah menghilang dari pandangannya. "Eh, kemana tuan yang tadi?" Si pedagang pria itu kebingungan.


Blackey sendiri langsung mengubah dirinya menjadi burung gagak dan bergegas menemui Adrian untuk menanyakan tentang Liliana.


...🍀🍀🍀...


Sementara itu di tempat yang tidak tau apa namanya. Dia berada bersama Lucis disana. Pria itu bersikeras ingin menikah dengan Liliana untuk memperbanyak keturunannya.


"Kau sudah gila ya? Beraninya kau bernegosiasi denganku? Nyawa manusia bukan sesuatu yang bisa kau pertaruhkan seperti ini!" Bentak Liliana pada pria yang berada didepannya itu.

__ADS_1


"Hahahaha.. putri mahkota, bahkan kau tidak punya hak untuk bernegosiasi denganku? Aku tidak sedang bernegosiasi, tapi aku sedang memberimu pilihan! Pertama kau menjadi istriku, hamil anakku dan rakyatmu akan aman.. kedua...kau tidak memilih pilihan pertama, lalu mereka semua akan mati dan menjadi iblis." Lucis tertawa sambil memegang dagu gadis cantik itu.


Gadis itu menepis tangan Lucis, "Hah!" Liliana mendesah kesal.


"Bagaimana putri mahkota? Apa kau bersedia?"


"Rupanya kau sudah gila, otakmu itu perlu refreshing." Liliana menunjukkan jadi pada kepala Lucis.


Apa pria ini benar-benar iblis? Untuk ukuran seorang iblis, tidakkah dia terlalu tampan?


"Jadi kau menolak? Oh.. jadi kau memilih pilihan kedua,"


CTAK!


Lucis menjentikkan jarinya, kemudian para iblis yang semula manusia, menghampiri Liliana. Karena Lucis memenjarakan Liliana di dalam kurungan itu bersama mereka.


BRAK!


Kini Liliana sudah berada didalam kurungan bersama para iblis yang haus darah. Liliana yang tidak tahu cara menghadapi mahluk hidup namun mati itu, merasa ketakutan karenanya.


"Arrghhhhhhhhhh... Rraarrrr..."


Makhluk-makhluk bergigi taring itu mendekati Liliana.


Deg!


Liliana merasa berdebar, saat ini jantungnya berpacu begitu cepat. Otaknya seperti berhenti berfikir, karena semuanya seperti dikuasai oleh rasa takut dalam jiwanya.


Maxim, apa yang harus aku lakukan? Kau harus menolong aku? Maximilian!


"Kau! Lepaskan aku dari sini!" Teriak Liliana sambil memegang jeruji besi itu.


"Sudahlah, kau disana saja bersama mereka. Kalau kau beruntung, mungkin kau akan menjadi bagian mereka atau mungkin kau akan mati. Tapi...aku lebih senang kalau mau memohon padaku sekarang untuk menjadi istriku," ucap Lucis sambil tersenyum menyeringai. Dia pun menjentikkan jarinya lagi, kemudian mahluk itu terdiam seperti dikurung oleh sesuatu yang tidak terlihat.


Mereka berhenti mendekati Liliana. Hingga gadis itu sedikit bernafas lega.


"Aku ini.. aku adalah istri orang, aku tidak bisa mengkhianati suamiku." Ucap gadis itu tetap teguh.


Liliana menatap Lucis dengan tatapan tajam, wajahnya terlihat tidak tenang. "Kalau masalahnya karena kau sudah bersuami, aku bisa membunuh suamimu. Lalu kau akan menjadi janda dan menikah denganku? Bagaimana? Masih tidak mau?" Lucis menatap tajam pada Liliana, mata merahnya menyala-nyala seperti api. Persis seperti Max ketika dia marah.


"Aku tidak akan menikah denganmu! Cintaku, diriku hanya milik suamiku. Dan jangan berani bicara soal membunuh suamiku, karena kau tidak akan bisa melawannya!"


Mereka kembali bergerak mendekati Liliana. Belum apa-apa, tubuh gadis itu sudah banjir dengan keringat. Dia tak bisa lari kemana-mana dan kini dia hanya bisa melindungi dirinya sendiri.


"Arrghhhhhhhhhh...." makhluk-makhluk itu mendekati Liliana.


"Aku pergi dulu mencari mangsa, semoga kita bisa bertemu lagi. Itupun jika kau masih hidup." Ucap Lucis sambil tersenyum sinis.


"Bajingan!" Liliana menggertakkan giginya dengan kesal.


Lucia menghilang begitu saja, sementara Liliana berada didalam jeruji besi bersama para iblis itu yang bersiap memakannya kapan saja.


"Dasar sialan! Bajingan! Astaga, apa aku mengumpat? Suamiku...cepat tolong aku!" Liliana mencoba melawan iblis iblis itu dengan belati yang dipegangnya itu sekuat tenaganya walau dia takut.


...*****...


Setelah mengetahui Liliana menghilang dari pesan yang dikirimkan Blackey melalui cermin ajaib. "Astaga! Lily.."


Pantas saja perasaanku tidak enak, ternyata terjadi sesuatu pada Lily.


"Yang mulia? Ada apa? Apa yang disampaikan oleh Blackey?" Eugene menatap cemas ke arah putra mahkota itu.


"Apa yang mulia putri mahkota baik-baik saja?" Tanya Kyle pura-pura peduli dan bersimpati pada Max.


"Kita harus hentikan pencarian ini!"


"Tapi, kenapa yang mulia?" Tanya Kyle.


"Iblis itu..mungkin saat ini berada di kerajaan kita." Jawab Max tidak menjelaskan apapun tentang istrinya pada kedua kstaria itu.


"Jadi, kita akan segera kembali?" Tanya Eugene pada Max.


"Ya, kau dan aku kembali dengan teleportasi. Kyle, kau kembali dengan kereta kuda!" Ujar Max pada Kyle. Dia meminta kstaria itu untuk membawa kereta kuda.


"A-Apa? Mengapa sir Eugene kembali dengan anda? Lalu saya tidak?"

__ADS_1


Padahal ada kesempatan jika aku berdua saja dengan si Eugene ini. Tapi..


"Jika kau ikut denganku dan sir Eugene, siapa yang akan membawa kereta kuda?"


"Tapi yang mulia, bukankah sir Eugene juga harusnya bersama saya?" Tanya Kyle sambil melihat Eugene.


"Dari kemarin kau terus menyela ucapanku! Aku membutuhkan dia daripada kau, jangan bilang padaku kalau kau tidak berani kembali sendirian ke istana? Prajurit macam apa kau?" Tanya Max meremehkan dan berkata ketus pada Kyle.


Kyle tidak bisa melawan titah sang putra mahkota. Pada akhirnya, dia menurut dan patuh pada Max. Max dan Eugene kembali dengan teleportasi, sementara Kyle membawa kereta kuda sendirian menuju ke istana.


"Sial! Aku tidak bisa menyelesaikan tugas dari Ratu dengan cepat! Eugene, kau masih selamat..." gerutu Kyle sambil membawa kereta kuda sendirian.


Eugene belum ditakdirkan untuk mati, setiap Kyle ingin membunuhnya. Selalu saja ada halangan. Dia kembali ke istana dengan selamat tanpa luka sedikitpun.


Sling!!


Wush~~


Sebuah cahaya terang menerangi didekat istana putri Laura. Disanalah Eugene dan Max muncul melalui lubang teleportasi.


Laura sedang duduk di atas balkon istananya. Dia terkejut dan langsung beranjak begitu melihat sosok Eugene dan kakaknya berada disana.


"Eh?" Mata Laura melebar menatap kedua pria tampan bertubuh kekar dan berwajah tampan itu. Dia mengucek matanya beberapa kali, untuk meyakinkan bahwa ini bukan halusinasinya lagi.


Beberapa kali dia berhalusinasi melihat Eugene didepannya, saling rindu nya pada ayah dari bayinya itu. "Apa ini bukan mimpi?"


Eugene tersenyum melihat wanita cantik itu, dia juga merasakan rindu yang sama dengan Laura.


"Sana, pergilah! Tidak ada siapapun disini, peluklah dia."


"Yang mulia.." Eugene terharu karena Max sengaja pergi ke istana Laura agar dia bisa bertemu dengan pujaan hatinya itu.


"Aku menunggumu di ruangan ku," ucap Max sambil tersenyum. Dia paham bahwa dia tak bisa menganggu dua orang yang saling merindukan.


"Terimakasih yang mulia, saya akan segera menemui yang mulia disana." Ucap Eugene sambil tersenyum senang.


"Kau santai aja, ada yang ingin putri Laura katakan padamu." Ucap Max sambil tersenyum.


Max membalikkan badannya lalu dia melangkah pergi dengan langkah yang gontai karena tidak ada yang menyambutnya pulang.


Lily.. kau harus baik-baik saja.


Eugene memberanikan diri saat tidak siapapun disana, dia memeluk Laura lebih dulu. Pelukan yang lembut dan penuh kasih sayang. "A-Apa ini nyata? Apa aku tidak bermimpi lagi?" Laura menyentuh lengan kekar prianya itu. Berharap bahwa ini bukan mimpi.


"Aku merindukanmu, putri Laura." Ucap Eugene sambil memegang lembut tubuh gadis mungil itu.


Laura mendorong sedikit tubuh Eugene, dia mendongakkan kepala. Menatap Eugene, lalu dia bertanya. "Apa ini benar-benar kau? Kau benar-benar sudah kembali?" Tanya Laura dengan mata berkaca-kaca.


"Ya, ini aku.." Eugene tersenyum sambil membelai lembut pipi Laura.


"A-apa kau terluka? Kau.. baik-baik saja kan?" Tanya Laura cemas.


Nak, ayahmu sudah kembali. Aku akan memberitahu dia bahwa kau ada didalam rahimku, buah cinta kami berdua.


Kedua tangan Eugene meraih pinggul Laura, dia membungkukkan sedikit tubuhnya, kemudian dia membenamkan bibirnya pada bibir ranum nan cantik milik Laura.


"Hem!"


Ciuman Eugene terasa dalam dan penuh kerinduan. Mengisyaratkan betapa besar cinta dan sayangnya Eugene pada Laura. Laura bahagia, dia tak pernah mendapatkan ciuman inisiatif dari Eugene.


Kali ini dia melayani kekasihnya itu dan membalas ciumannya. Mereka saling merindukan.


"Haahh.." Eugene dan Laura sama-sama menghela nafas. Kening mereka bersentuhan, begitu pula dengan hidung mereka yang sama-sama mancung.


Keduanya tersenyum satu sama lain. "Eugene, ada yang ingin aku katakan padamu."


"Apa itu harus sekarang?" Tanya Eugene sambil memegang tangan Laura. Tatapannya selalu hangat pada gadis itu.


"Iya, harus sekarang. Kau tadi dengar kan, apa kata kakak? Dia bilang kalau ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu," ucap Laura sambil menatap pria itu dengan serius.


"Apa yang mulia putra mahkota sudah tau apa yang akan kau katakan padaku?" Tanya Eugene sambil tersenyum.


"Iya. Aku ingin mengatakan padamu, bahwa didalam rahimku saat ini...ada anak kita." Kata Laura sambil tersenyum semangat. Dia melihat dan memperhatikan raut wajah Eugene.


Namun Eugene kehilangan senyumannya data mendengar ucapan Laura. Matanya melebar tak percaya. "Apa?" Eugene tercengang.

__ADS_1


"Aku sedang hamil, buah cinta kita." Laura meneruskan ucapannya sambil memegang perutnya yang masih datar itu.


...----****----...


__ADS_2