Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 77. Max kepergok


__ADS_3

Deg!


Liliana tersentak kaget mendengar pertanyaan dari Duke Geraldine kepadanya. Pertanyaan apakah dia adalah Adaire


Hati Liliana berdebar mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut ayahnya, apalagi pelukan Geraldine terasa erat dan lembut.


"Ayah, apa yang ayah katakan? Kenapa ayah bertanya seperti itu?" tanya Liliana yang masih berada didalam pelukan Duke Geraldine.


Kenapa ayah tiba-tiba bertanya seperti ini?


Duke Geraldine melepaskan pelukannya dari gadis itu. Dia menatap Liliana dengan tatapan berkaca-kaca. "Kau.. Adaire ku? Kau Adaire.."


"Aku bukan.. bukan.." Liliana memalingkan wajahnya dari Duke Geraldine seolah tidak mau mengakui bahwa dia adalah Adaire.


"Adaire...maafkan ayah nak, maafkan ayah. Kau pasti tidak mengakui ayahmu ini karena semua yang pernah ayah lakukan padamu. Ayah minta maaf karena ayah sudah bersikap tidak adil padamu selama ini.." Duke Geraldine memegang tangan Liliana sambil menangis. Dia menangis penuh penyesalan karena tidak bisa bersikap adil saat dirinya masih hidup.


"Apa yang ayah katakan? Aku bukan Adaire, aku Liliana.." ucap Liliana sambil menahan tangisnya.


"Ayah sudah tau semuanya, pembicaraanmu dan Adara di penjara..."


Liliana tercekat mendengarnya, matanya melebar menatap Duke Geraldine. Dia sudah tau semuanya.


Gadis itu tak bisa menyangkalnya lagi, dia ingin bicara tapi mendadak bibitnya beku. Hanya air mata dan bahasa tubuh yang bicara saat itu.


BRUGH!


Duke Geraldine berlutut didepan Liliana, sambil memegang tangannya. "Maafkan ayah Adaire, maafkan ayah..."


"Hentikan ini ayah, permintaan maaf ayah hanya membuatku semakin sedih." ucap Liliana dengan bibir gemetar.


"Ayah tidak tahu bagaimana caranya kau bisa menjadi Liliana dan berada ditubuh ini. Tapi ayah bahagia karena selama ini kau berada disamping ayah dan menjaga ayah. Maaf karena ayah bukan ayah yang baik untukmu.. maaf Adaire.."


Liliana tak kuasa menahan tangisnya, dia membantu ayahnya berdiri. "Jangan menangis ayah,"


Duke Geraldine memeluk anaknya dengan penuh perasaan. Walau anaknya berada didalam tubuh lain, namun dalam bayangannya dia sedang berpelukan dengan Adaire yang mayatnya sudah dikebumikan itu.


Setelah pengakuan itu, Duke Geraldine berjanji akan memperlakukan Liliana alias Adaire dengan sebaik-baiknya. Namun Liliana berkata pada ayahnya bahwa dia ingin meninggalkan identitasnya sebagai Adaire, dia ingin hidup dengan identitas Liliana.

__ADS_1


"Tapi.. kau adalah anakku. Bagaimana bisa kau hidup dengan identitas ini, nak?" tanya Duke Geraldine keheranan.


"Ayah, jika aku hidup dengan identitas Adaire yang sudah mati. Apa semua orang akan membiarkanku? Adaire sudah mati, Ayah. Aku adalah Liliana, sekarang atau nanti." jelas Liliana pada Ayahnya.


Jika semua orang tau aku adalah Adaire, mereka tidak akan percaya dan mereka tidak akan jadi menghukum Arsen. Aku tidak bis membiarkan Arsen hidup tenang.


"Ayah mengerti apa maksudmu. Baiklah, siapapun dirimu.. kau tetaplah anakku," ucap Duke Geraldine sambil menatap putrinya itu. Dia masih tidak percaya bahwa dia masih diberikan kesempatan kedua oleh Tuhan untuk melihat Adaire meski anaknya berada didalam wujud lain.


"Ayah, ini sudah malam. Ayah beristirahatlah," ucap Liliana pamit pada ayahnya seraya membungkukkan badan dengan hormat.


Karena aku juga mau istirahat, aku harus bangun lebih awal untuk mempersiapkan diriku melihat kepala seorang brengsek di penggal.


"Liliana, kenapa kau pergi dari sini? Harusnya aku yang pergi dari sini, tinggallah di kamar ini. Bukankah kau sangat menyukai kamar lamamu?" tanya Duke Geraldine sambil menatap putrinya.


"Kamar ini?" Liliana melihat ke setiap sudut kamar itu. Dia memang menyukai kamar lamanya, dia merindukan suasana di kamar itu.


"Kamar ini milikmu," ucap Duke Geraldine sambil menyerahkan kunci kamar itu ke tangan Liliana.


Duke Geraldine pun pergi dari kamar Liliana, namun ketika dia mulai membuka pintu kamar. Pria paruh baya itu kembali menoleh ke arah Liliana.


"Ada apa ayah?"


Lebih baik bicarakan besok saja tentang putra mahkota.


Liliana tersenyum pada ayahnya, dia meminta sang ayah untuk kembali ke kamarnya dan beristirahat karena hari sudah semakin larut. Namun duke Geraldine pergi ke kamar Liliana yang sebelumnya, untuk melihat keadaan kamar itu.


Saat dia sedang berada di dekat pintu kamar mandi, dia mendengar suara seseorang mengetuk jendela kamar Liliana.


Tok, tok, tok


"Kucing galak...kucing galak.." bisik seseorang sambil mengetuk jendela kamar Liliana. Siapa lagi yang memanggil Liliana seperti itu kalau bukan...


Duke Geraldine bersiap dengan pedangnya, dia mengira yang masuk ke dalam kamar Liliana adalah penyusup atau pencuri.


Bagaimana bisa ada pencuri masuk ke kediamanku? Apa para ksatria ku yang bodoh atau orang ini bukan orang biasa?


Master pedang kekaisaran itu berjalan mengendap-endap ke arah jendela, dia bersiap untuk menyergap seseorang yang berada diluar jendela kamarnya.

__ADS_1


Namun saat Duke Geraldine membuat jendela kamar itu, seseorang memeluknya dari belakang.


"Kenapa kau lama sekali membuka pintunya, sayang..." suara Max mengecil ketika dia merasakan ada yang salah dengan orang yang dia peluk.


Tunggu, mengapa tubuh ini begitu besar dan bau keringat? Ini bukan Lily ku!


Max membuka matanya lebar-lebar, dia memeluk pria paruh baya bukan kekasihnya. Sontak dia melepaskan pelukannya itu, ketika pelukan Max terlepas.


Duke Geraldine langsung membalikkan badannya dan mengacungkan pedangnya pada leher Max.


"Siapa kau? Beraninya kau masuk ke dalam kamar put-"


Perkataannya terhenti saat dia melihat dengan jelas siapa pria yang berada didepannya itu. Duke Geraldine langsung menjatuhkan pedangnya dan duduk berlutut didepan putra mahkota itu.


"Hormat saya yang mulia putra mahkota," ucap Duke Geraldine dengan wajah yang masih syok. dengan kehadiran si putra mahkota di kamar putrinya.


Mau apa putra mahkota berada disini? Apa dia selalu muncul ke kamar Liliana selama ini secara diam-diam? Hubungan mereka pasti sudah jauh, kan? Bagaimana bisa aku tidak tahu?


Max membeku ditempatnya, dia tidak tahu apa yang harus dia katakan dan apa yang harus ia lakukan. Dia sudah membuat kesalahan besar didepan Duke Geraldine yang sebelumnya telah memberi nilai minus padanya.


Gawat! Aku masuk ke kamar ini diam-diam, aku memeluknya tanpa sengaja, aku juga memanggil putrinya dengan panggilan sayang. Apa yang harus aku lakukan? Maximilian ayo berpikir...


Pria itu terlihat tenang di luar namun panik didalam. Satu kata yang tepat untuknya saat ini adalah skak mat!


"Berdirilah, tuan Duke!" Ujar Max dengan suara berkarisma dan berwibawa.


Duke Geraldine patuh pada perintah, dia segera berdiri didepan putra mahkota itu. Masih dengan posisi kepala yang menunduk. Max terlihat canggung dan gugup, dia tidak tahu darimana dia harus mulai bicara.


"Tuan Duke, saya-"


"Yang mulia mohon maaf jika saya menyela. Apakah saya boleh mengajukan beberapa pertanyaan pada yang mulia terlebih dahulu?" Duke Geraldine bicara dengan kepala menengadah dan sorot mata yang tajam.


Max terlihat tegang mendengar pertanyaan Duke Geraldine yang tajam.


Mampus aku! Kenapa aku berdebar seperti ini?


...---****----...

__ADS_1


Hai Readers makasih atas dukungan kalian ya 🥰🥰 insyaallah besok author up 3,tolong ingatkan takutnya author lupa up 😂 Kadang up novel sana, lupa up novel ini 🤧


__ADS_2