
...๐๐๐...
"PFut.. hahaha, apa kalian lihat itu?" tanya Arina pada Shopia dan Keira sambil melihat ke arah Julia yang ditinggal sendirian bersama payung ditengah hujan.
"Hahaha.. benar-benar memalukan. Bukankah ini namanya penolakan didepan umum? Kalau aku jadi dia, aku sudah pasti menggali lubang lalu bersembunyi disana.. hahaha.." Keira tak hentinya tertawa menertawakan Julia yang di acuhkan oleh Max dan lebih memilih Liliana dibandingkan dirinya.
"Lihatlah, bahkan nona Shopia yang pendiam saja sampai menahan tawa.. haha.." Arina melihat Shopia yang menahan tawa sekuat tenaga.
"Sudahlah tidak usah ditahan, tertawa saja sepuasnya. Kalau ditahan nanti jadi penyakit!" seru Keira mengingatkan.
Shopia hanya tersenyum lembut mendengar ucapan kedua nona itu.
Sementara Julia masih berada ditengah-tengah hujan dengan payung yang diberikan Max padanya. Dia menahan kesal karena diacuhkan oleh pria itu.
Memalukan, aku ingin menggali lubang saja rasanya. Apalagi melihat mereka menertawakanku!
Julia menghampiri ketiga nona itu dengan percaya diri, walau dia tau kalau ketiga nona menertawakannya. Shopia, Arina dan Keira menahan tawa saat Julia datang kesana. Mereka langsung hening melihat tatapan Julia yang tajam dan tak berani bicara.
Huh! Lihatlah kalian langsung diam saat aku datang! Keluarga kalian akan tamat kalau kalian berani bicara atau bersikap buruk padaku.
Status Julia memang berada jauh diatas ketiga nona bangsawan itu. Jadi mereka tidak akan berani mengusik Julia, apalagi kekuatan keluarga Norton yang setara dengan kekuatan Duke Geraldine.
*****
Setelah Adara dikembalikan ke dalam penjara. Liliana juga akan bergegas pulang, tapi Max terus menahannya di salah satu ruangan didekat tempat eksekusi itu dengan alasan hujan.
"Yang mulia, aku harus segera pulang. Ayah akan mencariku." Liliana berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Max.
"Itu kalau dia tidak sibuk. Dia pasti akan mencarimu. Kau juga ada di rumah, jadi dia tidak akan tau kalau kau pergi dari rumah." Kata Max sambil memeluk Liliana seolah dia adalah boneka kesayangan.
"Apa maksudmu aku tak paham?" tanya Liliana keheranan dengan perkataan Max, lebih tepatnya dia tidak paham.
"Hahaha, hari ini kau bersamaku ya? Kumohon.." ucap Max seraya memohon pada Liliana.
"Tapi ayah, aku harus meminta ijin padanya dulu.."
"Tidak usah, aku jamin Duke Geraldine tidak akan tau kau tidak ada di rumah. Sehari ini saja aku mohon.."
"Yang mulia, tolong jangan begini. Aku harus pulang," ucap Liliana sambil melepaskan pelukannya dari Max.
"Besok akan pergi ke kerajaan Lostier, mungkin aku tidak akan pulang dalam beberapa hari. Apa kau tidak mau mengabulkan permintaanku? Hari ini saja...sebelum kita berpisah," ucapnya memelas. "One day with you,"
Aku memang akan pergi ke kerajaan Lostier, tapi hanya satu hari saja. Hehe..
__ADS_1
Liliana menghela nafas, dia tidak sanggup melihat tatapan memelas itu. Apalagi saat Max mengatakan bahwa dia akan pergi ke kerajaan Lostier. "Baiklah, tapi apa maksudmu ayah tidak akan tau aku tidak berada dirumah?"
"Itu..." Max menggaruk lehernya,
๐Saat ini di kamar Liliana kediaman Duke Geraldine, seorang wanita yang mirip Liliana sedang duduk diatas ranjang. Ada Daisy disana menemaninya.
Kenapa aku harus menjadi nona Liliana? Astaga yang mulia! Aku tidak percaya bahwa aku meminum ramuan pengubah tubuh untuk menyamar.
"Nona, saya akan siapkan air hangat untuk nona mandi.."
"Tidak! Aku tidak akan mandi sekarang, lebih baik kau tinggalkan aku sendiri! Aku tidak enak badan, kau paham?" Adrian dalam wujud Liliana berteriak kesal pada Daisy.
Mata wanita itu berkaca-kaca setelah dibentak oleh Liliana alias Adrian.
"Ma-maafkan aku Daisy, aku tidak bermaksud membentakmu," ucap Adrian memohon maaf.
"Apa nona.. membenci saya? Hiks..." Daisy menangis sedih.
"A-apa? Itu tidak benar! Aku..." Adrian kebingungan sendiri.
Astaga, dia pasti salah paham karena aku membentaknya.
"Aku sedang dalam masa periode ku, jadi aku mudah marah. Kau tau kan masa periode?" tanya Adrian sambil tersenyum dengan tubuh Liliana.
"Baiklah! Daisy jangan lupa kau harus melayani Lizzy dan tuan Geordo." Jelas Adrian pada Daisy.
"Ya, baiklah nona."
Setelah Daisy keluar dari ruangan itu, Adrian langsung merebahkan dirinya diranjang. Adrian sangat malu karena dia mengaku sebagai Liliana yang sedang datang bulan. "Yang mulia, nona Liliana! Saya mohon cepatlah kembali!" gerutu Adrian dengan dahi berkerut. Dia berharap agar Max dan Liliana cepat kembali.
...****...
Ketika Adrian sedang menderita, Liliana dan Max sedang jalan-jalan berdua setelah hujan. Mereka berdua berganti pakaian dan menyamar menjadi orang biasa. Rambut mereka juga diubah warnanya oleh sihir Max, Liliana memiliki rambut hitam seperti Max dan Max memakai rambut merah seperti warna rambut Liliana yang asli.
Keduanya bermaksud pergi kencan untuk ketiga kalinya. Tapi kali ini mereka sudah berada didalam hubungan kekasih.
"Yang mulia,"
"Apa?" tanya Max sambil melirik ke arah wanita yang ada disebelahnya itu.
"Apakah aku bisa belajar sihir sama sepertimu?" tanya Liliana dengan wajah polosnya.
"PFut.. hahaha, kau lucu sekali. Kau mau belajar sihir? Kucing galak, tidak semua orang terlahir dengan bakat sihir. Malah hanya sedikit orang yang terlahir dengan bakat itu. Dan aku melihat kau tidak punya Mana yang cukup untuk belajar sihir," jelas Max pada kekasihnya itu.
__ADS_1
"Ohhh.. begitu ya? Aku pikir semua orang bisa belajar, tapi ternyata tidak bisa."
"Tapi kenapa kau mau belajar sihir?" tanya Max pada Liliana.
"Aku ingin belajar melindungi diriku, jika aku punya sihir. Aku tidak perlu bergantung pada orang lain," ucap Liliana sambil berjalan-jalan disekitar taman kota.
"Woah.. aku sangat kecewa mendengarnya."
"Apa? Kenapa?"
"Kau ingin belajar melindungi dirimu sendiri dan tidak mau bergantung pada orang lain. Apa itu termasuk aku? Apa aku tidak cukup kuat untuk menjadi tempatmu bergantung?" tanya Max sambil menatap Liliana dan mendekatkan wajahnya pada Liliana.
Deg!
Deg!
Jantung Liliana berdebar kencang ketika mata berwarna merah pria itu menatapnya. Saat wajah mereka berdekatan, Liliana langsung menutup mulut Max. "Aku sudah tau niatmu, jangan sembarangan menciumku! Atau aku akan marah!"
Apa ini? Padahal Eugene bilang wanita itu mudah dirayu, tapi wanita ini....haihhh..
Max mendesah kecewa karena niatnya sudah tercium oleh Liliana. "Kalau ciuman tak boleh, lalu pelukan?"
"Tidak! Kita sedang jalan-jalan, jangan merusak jalan-jalan kita dengan otak mesummu itu," ucap Liliana sambil berjalan mendahului Max. Dia tertarik melihat sebuah toko dessert disana.
Max mengekori gadis itu, tangan mereka saling bertabrakan karena jalan berdampingan.
Lalu Max mengambil tangan kiri Liliana dan menggenggamnya. "Yang mulia.. kau.." liriknya pada Max.
"Tanganmu terus menabrak tanganku," ucap Max sambil tersenyum pada kekasihnya itu.
"Ahh.. dasar, alasan saja kau. Bilang saja kalau kau ingin memegang tanganku," ucap gadis itu sambil tersenyum. Dia sudah bisa menebak apa yang ada dipikiran Max.
"Aku tidak!" Seru Max sambil menggelengkan kepalanya.
"Dasar kau si tukang modus!" Liliana tertawa karena Max.
"Kau mau ke toko dessert itu kan? Ayo kita pergi kesana," ucap Max sambil tersenyum.
Mereka berdua masuk ke toko dessert dan menikmati kencan sambil makan yang manis-manis didalam sana.
...-----*****------...
Dan kencan masih berlanjut di episode berikutnya.. bersambung dulu ya readers๐
__ADS_1