Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 108. Tidak ada surat untukku?


__ADS_3

Liliana dan duke Geraldine duduk di sofa empuk yang berada di ruangan itu. Didepan mereka saji dua cangkir teh hangat dan cemilan kecil diatas piring.


"Silahkan dinikmati.. ayah," Liliana mempersilahkan ayahnya untuk meminum teh atau memakan makanan yang tersedia diatas meja.


"Terimakasih yang mulia Putri mahkota," ucap Duke Geraldine sambil tersenyum.


"Ayah, tidak usah bicara formal kepadaku kalau kita sedang berdua. Bicara saja seperti biasa," ucap Liliana meminta pada ayahnya untuk tidak bicara formal padanya.


Duke Geraldine mengubah cara bicaranya. "Baiklah putriku," ucap pria paruh baya itu sambil mengambil cangkir berisi teh hangat yang sebelumnya sudah diseduhkan oleh Bianca.


Dia menyeruput teh itu dengan perlahan-lahan. Liliana tersenyum melihat ayahnya, dia senang Duke Geraldine datang menemuinya setelah sekian lama mereka sibuk dengan urusan masing-masing.


"Ayah..ada apakah gerangan ayah menemuiku?" Tanya Liliana dengan sopan.


"Ada dua alasan, pertama karena ayah merindukanmu dan yang kedua itu karena adikmu, Adara." Jelas Duke Geraldine pada putrinya.


Mendengar nama Adara disebut, raut wajahnya langsung berubah menjadi dingin. Wanita hamil yang sedang dipenjara itu adalah wanita yang sudah membuat dirinya mati dimasa lalu. Membuat dia menderita sebagai Adaire dan menjalani kehidupan dengan penuh rasa tak percaya diri. Dalam hati, Liliana sudah tak menyimpan dendam pada Adara karena semuanya sudah mati bersama Arsen yang sudah mati dihukum gantung.


Hanya saja dia tak menyimpan rasa suka lagi pada adik tirinya itu. "Kenapa Ayah membicarakan Adara? Aku rasa dia baik-baik saja di penjara," ucap Liliana dengan suara yang sarkas.


Liliana sepertinya masih marah pada Adara, ya wajar saja. Aku pun kalau jadi dia pasti akan marah malah membencinya seumur hidup. Namun, Adara tetap darah daging ku.


"Maafkan Ayah jika ayah membuatmu tidak nyaman dengan membahas Adara. Kemarin ayah mendapat kabar kalau Adara diganggu oleh tahanan lain di penjara, Adara... adikmu sedang hamil. Ayah hanya meminta padamu untuk memindahkan Adara ke penjara lainnya, penjara yang khusus dirinya saja." Jelas Duke Geraldine seraya memohon pada putri sulungnya itu.


"Ayah, apa ayah masih membelanya? Ayah tidak membelaku? Sampai saat ini Ayah masih lebih sayang padanya daripada aku?" Liliana menatap ayahnya dengan penuh rasa kecewa.


"Lily...kenapa kau bicara seperti itu? Ayah sayang padamu dan Adara!"


"Buktinya, setelah apa yang dia lakukan padaku, ayah masih membelanya. Memang dari dulu, ayah selalu saja mengedepankan Adara." Liliana menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca.


"Liliana, kau salah paham! Ayah.."


"Baiklah Ayah, aku akan mengabulkan permintaan Ayah. Adara akan mendapatkan fasilitas yang baik di penjara, sesuai dengan apa yang Ayah inginkan." Jelas Liliana tegas dengan hati yang sakit karena dia menganggap sang ayah lebih menyayangi Adara bahkan melindungi wanita itu dari hukuman berat.


Duke Geraldine terkejut melihat reaksi Liliana tentang Adara, "Lily, bukan begini maksud ayah. Ayah hanya peduli pada adikmu, karena hubungan darah.."


"Jika ayah disuruh memilih antara aku dan dia. Sepertinya ayah lebih memilih Adara, selamanya aku hanya anak tiri Ayah!"

__ADS_1


Untuk pertama kalinya Liliana marah dan bersikap tegas didepan ayahnya. Dia lelah selalu di kesampingkan oleh ayahnya.


"Liliana!" Ujar Duke Geraldine.


Tak lama kemudian sebuah ketukan pintu membuat obrolan mereka harus terputus. Bianca masuk ke ruangan itu dan mengatakan bahwa para prajurit sudah kembali dari wilayah Utara. Liliana dan Duke Geraldine terkejut mendengarnya.


Apa Max juga sudah kembali?


Gadis itu senang karena dia mengira Max telah kembali dari wilayah Utara. Raja dan Laura juga datang ke depan istana untuk menyambut anaknya. Namun mereka kecewa saat yang datang hanya prajuritnya saja, tidak ada Max, Eugene dan Kyle.


"Saya menghadap pada Baginda Raja, hormat saya," ucap Demian sambil duduk berlutut didepan Raja.


"Hormat kami, pada yang mulia Raja!" Kata Prajurit lainnya sambil berlutut didepan Raja.


"Bangunlah kalian! Aku memiliki banyak pertanyaan di kepalaku saat ini. Tapi aku akan menanyakan satu hal dulu, dimana putra mahkota?" Tanya Raja Alberto dengan tatapan tajamnya pada Demian dan para prajurit yang baru saja kembali itu.


Liliana, Laura dan Duke Geraldine berada dibelakang Raja. Mereka juga bingung kenapa Max tidak kembali bersama pasukannya.


"Yang mulia putri mahkota...apa kakak dan sir Eugene baik-baik saja? Mereka tidak apa-apa kan?" Tanya Laura yang panik karena tidak melihat Eugene dan kakaknya disana.


Maxim, apa kau baik-baik saja? Dimana kau?


Demian menjelaskan pada raja tentang apa saja yang terjadi di desa wilayah Utara. Raja, Liliana, Laura dan Duke Geraldine sangat terkejut ketika mendengar kabar kurang menyenangkan itu. Raja iblis yang hanya ada dalam mitos itu ternyata benar-benar ada dan bangkit.


"Yang mulia Raja, yang mulia putra mahkota mengirimkan surat ini untuk yang mulia!" Ucap Demian sambil menyodorkan surat itu sambil duduk berlutut.


Raja mengambil surat yang memiliki stempel merah kerajaan diatas kertasnya itu.


Liliana dan Laura sangat mencemaskan keadaan Eugene dan Max. Kemudian Demian juga memberikan surat pada Liliana dan dia menyebutkan surat itu dari Max.


Ternyata kau tidak menulis surat untuk Raja saja tapi juga untukku.


Liliana membuka suratnya dan dia terkejut ketika melihat tulisan dan isi surat itu. Dia yakin bahwa tulisan disuratnya bukan tulisan Max.


Dear putri Laura..


"Hah!" Liliana mengangkat bahu dan mendesah kesal disertai rasa kecewa. Ternyata surat itu bukan untuknya dan bukan dari suaminya, melainkan surat atas nama suaminya yang ditujukkan untuk sang kekasih hati yang bernama Laura Evania De Istvan.

__ADS_1


"Yang mulia putri mahkota?" Laura heran melihat wajah Liliana yang terlihat kesal itu.


Liliana berbisik pada Laura. "Surat ini?" Laura terperangah setelah Liliana berbisik padanya.


Liliana menunjuk ke arah Laura dengan wajah sebal karena surat itu bukan dari Max. Liliana pun pergi meninggalkan Laura sendirian bersama suratnya. Laura sangat senang karena Eugene mengirimkannya surat.


Sementara Liliana kesal karena tak ada surat untuknya dari suaminya itu. "Kenapa dia menulis surat untuk semua orang tapi tidak mengirim surat padaku? Menyebalkan! Awas saja kalau kau pulang nanti, aku tidak akan memberikan apa yang kau inginkan itu dengan mudah! Kau bahkan tidak memahamiku, apa kau merindukanku sama seperti aku? Untuk apa aku merindukan suami durhaka sepertimu! Istrinya menunggu dengan cemas tanpa kabar selama 4 hari, tapi tidak ada satupun kata darinya!"


Gadis itu menggerutu kesal, Max tidak ada mengirim surat padanya. "Sudahlah, aku tidak peduli dia mau mengirim surat atau tidak! Aku tak peduli!" Liliana mengacak-acak rambutnya dengan kesal.


Tok, tok, tok!


"Siapa?!" tanya Liliana sedikit membentak.


"Ini saya, yang mulia.."


"Masuklah sir Adrian," ucap Liliana sambil kembali merapikan rambutnya dan duduk dengan tegap.


Adrian membuka pintu kamar itu, dia datang bersama Daisy dan Bianca. Adrian memberikan laporan tentang kasus kehilangan anak-anak remaja secara misterius di pusat kota dan meresahkan kaum bangsawan maupun masyarakat kelas bawah.


"Kau sudah menemukan siapa yang kemungkinan menjadi pelakunya?" Tanya Liliana pada Adrian.


"Kami belum menemukan petunjuk apapun selain gang sempit itu. Mereka selalu menghilang di sekitar sana."


"Hem...kita bisa menemukan pelakunya kalau kita menemukan tempat itu. Besok, kita harus pergi ke sana lagi!" Seru Liliana.


Adrian dan salah satu mengawal disana menganggukkan kepala dengan patuh.


🍀Di istana putri Laura🍀


Sementara itu Laura berada di kamarnya, dia membaca suratnya dengan haru. Tulisan tangan Eugene dan isi surat itu membuat dia semakin jatuh cinta pada ayah bayinya itu.


"Nak, apa kamu melihat juga surat ini? Ayahmu mengatakan pada kita untuk selalu baik-baik saja dan menunggunya pulang. Kita akan menunggu dia pulang kan? Kita akan menunggunya dan mengatakan tentang keberadaanmu. Kita akan bersama-sama menjadi keluarga yang bahagia," ucap Laura sambil tersenyum bahagia.


Dia berdoa agar Eugene segera kembali.


...-----*****-----...

__ADS_1


__ADS_2