
...🍀🍀🍀...
Duke Geraldine mengepalkan tangannya, matanya menatap ke arah Liliana dan Max yang berdiri dengan jarak yang berdekatan.
Apa aku tidak salah lihat? Barusan putra mahkota dan Liliana akan berciuman?
Max dan Liliana menyadari tatapan tidak bersahabat dari Duke Geraldine yang ditujukan pada Max.
Darimana asal hawa dingin ini? Max merasakan bahwa ada hawa dingin disekitarnya yang muncul entah darimana. Mungkinkah dari tatapan Duke Geraldine padaku?. Pikirnya dalam hati.
"Maafkan saya yang mulia putra mahkota, tapi saya harus membawa putri saya pergi. Ada sesuatu yang harus kami bicarakan!" kata Duke Geraldine tegas.
"Silahkan," jawab Max tanpa bicara panjang lebar. Dia merasakan sikap Duke Geraldine yang tidak welcome kepadanya.
"Lily, ayo kita pulang.. ada sesuatu yang ingin ayah bicarakan denganmu di rumah." Ucap pria paruh baya itu sambil melihat ke arah Liliana dengan mata merah dan sembab.
"Baik ayah," jawab Liliana patuh.
Ayah kenapa ya? Kenapa ayah seperti habis menangis?
"Yang mulia putra mahkota, hamba mohon undur diri.." ucap Liliana dengan sopan dan membungkukkan setengah badannya didepan pria itu.
"Ya, berhati-hatilah.. tuan Duke, anda juga." ucap Max berwibawa.
"Terimakasih yang mulia putra mahkota.." ucap Duke Geraldine formal seperti biasanya.
Duke Geraldine dan Liliana pergi dari penjara bawah tanah itu. Mereka dalam perjalanan pulang ke mansion Geraldine. Sementara itu Max melihat kereta yang membawa kekasihnya dan Duke Geraldine pergi dari istana.
"Blackey..."
Wush~~
Begitu dipanggil, Blackey langsung menunjukkan dirinya dari dalam pedang.
__ADS_1
"Ya, yang mulia.." sahut si burung gagak ajaib itu.
"Blackey, apa menurutmu Duke Geraldine menyukaiku? Kenapa aku merasa bahwa dia..." Max menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tidak menyelesaikan ucapannya.
"Maafkan saya yang mulia. Tapi saya merasa bahwa Duke Geraldine tidak menyukai anda," tanpa ragu Blackey mengutarakan pendapatnya. "Saya menangkap ada sinyal calon ayah mertua galak," tambahnya lagi.
"Haahhh.. sudah kuduga. Mataku tidak salah, dia memang tidak suka padaku. Tapi kenapa?" Max terlihat bingung.
"Bukankah itu sudah jelas karena anda adalah yang mulia putra mahkota." Jawab Blackey yakin.
"Mengapa? Bukankah harusnya dia senang jika aku memiliki hubungan dengan putrinya?" pikir Max bahwa setiap orang tua ingin anaknya menjadi putri mahkota, memiliki status yang tinggi. Harta kekayaan yang tidak akan pernah habis, dia akan diagungkan. Yang juga akan menjadi penguasa negeri itu.
"Maafkan saya yang mulia. Tapi saya tidak melihat Duke Geraldine ingin menjadi bagian dari keluarga kerajaan, bukankah selama ini bangsawan yang menjaga jarak dengan keluarga kerajaan adalah keluarga Geraldine?" jelas Blackey pada Max.
Max langsung menyadari bahwa ucapan Blackey itu benar. Alasan Duke Geraldine tidak menyukainya adalah karena dia adalah bagian dari anggota keluarga kerajaan. Duke Geraldine, terkenal sebagai keluarga yang setia pada kerajaan Istvan, namun dia juga selalu membatasi hubungan dekat dengan keluarga kerajaan.
Max jadi bertanya-tanya apa yang membuat Duke Geraldine tidak mau keluarganya terlibat dalam kerajaan. Maka Max pun memerintahkan kepada Pierre untuk menyelidiki hal ini.
Malam itu Laura sedang makan malam bersama raja dan ratu di ruang makan kerajaan. Disanalah Ratu Freya mulai membahas tentang calon putri mahkota selanjutnya.
"Yang mulia putra mahkota sedang menyelesaikan beberapa dokumen di kantornya, Baginda.." Gustaf menjawab dengan suara sopan.
"Baguslah, dia akan segera menjadi Raja dalam beberapa tahun lagi. Dia harus belajar dalam mengurus hal internal didalam kerajaan," Raja Alberto tersenyum karena Max sudah bisa mengurus masalah internal dan tidak hanya tentang eksternal saja alias perang.
"Ngomong-ngomong soal putra mahkota. Dia akan segera diangkat menjadi Raja menggantikan yang mulia, bukankah dia harus segera memilih calon putri mahkota.. Baginda?"tanya Ratu yang bermaksud untuk mendesak Max segera memilih putri mahkotanya.
Laura mendengar obrolan ayah dan ibunya itu sambil memakan makanannya dengan elegan.
Ibu pasti ingin menjodohkan kakak dengan nona Julia. Kau tidak akan berhasil ibu, karena kakak pasti akan melakukan segala cara untuk bersama dengan orang yang dia cintai.
"Iya itu memang benar. Maximilian harusnya memilih calon putri mahkota dengan segera. Aku pikir...putri Duke Geraldine juga cocok, siapa namanya Gustaf?" tanya Raja pada Gustaf.
"Nona Liliana Eissa Geraldine, yang mulia!" jawab Gustaf cepat.
__ADS_1
"Tapi yang mulia, dia kan hanya putri angkat dan bukan putri kandung Duke Geraldine. Kita bahkan tidak tahu asal-usulnya dengan jelas. Kabar burung mengatakan kalau dia pernah berada didalam tempat pelacuran di pulau Gardian," jelas Ratu yang memperoleh informasi langsung dari orang kepercayaannya.
Laura terkejut mendengarnya, dia tak pernah mendengar berita seperti ini tentang Liliana. Laura sampai menghentikan suapan makannya.
Benarkah nona Liliana pernah masuk ke tempat pelacuran?
"Benarkah itu? Lalu kenapa kau memilihnya sebagai kandidat putri mahkota kalau kau sudah tau semua itu, Ratuku?" tanya Raja keheranan.
"Itu karena saya pikir yang mulia ingin mengikutsertakan salah satu putri Duke Geraldine. Bukankah keluarga Geraldine dari dulu hingga sekarang sangat loyal pada keluarga kerajaan? Saya hanya melakukan hal untuk menghargai keluarga mereka saja," jelas Ratu beralasan. Padahal niatnya mengikutsertakan Liliana dalam pemilihan itu adalah untuk menindasnya.
"Ohh.. begitukah? Kau memang ratu yang paling pengertian," ucap raja Alberto sambil memandang ke arah sang Ratu dengan tatapan terpesona.
Ratu tersenyum senang mendapatkan pujian dari suaminya. Lalu dia meminta agar Raja memajukan waktu ujian putri mahkota dan mempersingkat waktunya dalam satu hati. Ujian itu akan dilaksanakan satu hati setelah eksekusi Arsen Frederick Wales.
Selain membahas tentang putra mahkota, Ratu juga membahas masalah jodoh Laura. Dia tetap ingin menjadikan putra mahkota kerajaan Lostier untuk menjadi suami Laura, karena pria itu akan segara diangkat Raja. Maka Laura juga akan menjadi Ratu.
Utusan dari kerajaan Lostier sudah meminta maaf begitu pula dengan urusan kerajaan Istvan. Perang yang hampir terjadi itu, akhirnya berakhir dengan damai. Karena putra mahkota Lostier ingin melanjutkan lamarannya pada Laura.
Laura sangat tidak senang dengan keputusan ibunya, karena hatinya hanya untuk Eugene. Dia terlihat galau setelah keputusan ibunya yang tetap ingin menikahkan dirinya dengan pangeran negeri seberang itu. Terkadang Laura menyesal karena telah terlahir dari rahim ratu jahat itu, dia bahkan tidak bisa punya teman dalam urutan yang normal.
Saat akan berjalan menuju ke kamarnya, Laura berpapasan dengan Eugene dan beberapa kstaria lainnya. Laura berhenti ditempatnya saat melihat Eugene. Namun Eugene hanya membungkuk hormat bersama dengan ksatria lainnya, lalu mereka berjalan melewati Laura.
"Tunggu!" Seru Laura tegas.
"Apa yang mulia memanggil kami?" tanya seorang kstaria yang bersama Eugene, pada Laura.
"Tidak, aku memanggil sir Eugene saja. Kalian pergilah, sementara Sir Eugene tetap disini!" pinta Laura tegas.
Para ksatria itu membungkuk hormat lalu meninggalkan Laura dan Eugene disana. Pelayan Laura juga disuruh pergi lebih dulu.
"Hormat saya yang mu-"
"Hentikan! Kau ikut aku sekarang, kita harus bicara!" Laura menatap tajam ke arah Eugene. Sementara Eugene tidak berani menatap dirinya.
__ADS_1
...****...
Mau up lagi? Yuk komen 🤧 jangan lupa like nya 😍😍🥰