Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 203. Laura Eugene wedding (1)


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Undangan pernikahan Eugene dan Laura sudah disebar ke seluruh penjuru negeri. Tanpa mempedulikan perasaan Freya yang jelas-jelas menolak pernikahan itu. Dia dan Kyle ksatria kepercayaannya, merencanakan sesuatu di hari pernikahan mereka.


Siang itu, Max baru saja selesai rapat dengan para menterinya tentang calon permaisuri baru. Awalnya para menteri itu menentang keputusan Max untuk mengambil Liliana sebagai permaisuri. Namun Max mengancam dengan kelemahan mereka masing-masing hingga mereka tak berkutik di depan sang Raja.


Para menteri itu keluar dari ruang rapat dengan wajah suram dan helaan nafas berat yang mereka buang dengan kasar.


"Hihhh...aku hampir saja dibuat mati dalam keadaan berdiri oleh yang mulia," ucap seorang menteri pertahanan sambil menghela nafas.


Ucap Mentri lainnya. "Sial! Jantungku juga mau copot rasanya,"


"Yang mulia seperti ingin menguliti kita hidup-hidup saat itu juga, kalau kita tidak mematuhi perintahnya." sambungnya.


"Benar, beruntunglah kita masih berada di dunia ini dan masih bernafas."


Mereka semua bernafas lega, manakala Max membebaskan mereka dari jurang yang bernama ketegangan. Mereka pun sepakat tidak ingin mengganggu rajanya dengan beragam keputusan mereka yang kira-kira akan membahayakan nyawa mereka sendiri. Rajanya itu memang tidak bisa diganggu gugat dan tidak bisa dilawan, ketika dilawan maka Raja itu akan menggigit atau mengerat mangsanya.


Bahkan yang lebih buruk lagi, dia kan seperti ular. Membelit mangsanya hingga kehabisan nafas lalu memakan mangsanya hidup-hidup. Ya, seperti itulah sikap dari raja Maximilan Gallan Istvan.


"Sudahlah, jangan sekali-kali lagi kita melawan lagi perintah yang mulia raja!" kata seorang menteri keuangan.


"Ya kau benar, jika kita masih sayang dengan nyawa. Kita jangan mengusik yang mulia raja dan keinginannya."


"Hem, lagi pula yang mulia Raja memilih seorang putri bukan? Ya... walaupun Putri itu awalnya berasal dari kalangan rakyat jelata, akan tetapi aku dengar dia memiliki pengetahuan luas dan wajahnya juga cantik." tutur seorang menteri lainnya membenarkan.


Memang akan lebih baik untuk mereka tidak mengusik Max. Lebih baik bungkam daripada nyawa mereka melayang. Karena dalam status sosial di kerajaan, Max memiliki posisi yang paling tinggi di kerajaan itu. Tidak ada yang bisa membantahnya atau melanggar peraturannya.


Ketika para menteri bernafas lega dalam kesal, Max terlihat begitu bahagia karena keinginannya untuk menikahi Liliana akan segera terwujud. Namun sebelum itu dia akan menikahkan dulu Laura dan Eugene.


"Gustaf kapan pernikahan Putri Laura dan duke Rhodes?" tanya Max pada orang kepercayaannya itu. Gustaf, adalah orang kepercayaanmu mendiang raja yang juga mengatur segala hal tentang masalah internal kerajaan.


"Dua hari lagi yang mulia." jawab Gustaf seraya menundukkan kepalanya di depan Raja itu.


"Bagaimana persiapannya?" tanya Max.


"90 persen sudah selesai yang mulia, hanya tinggal memanggil pendeta agung untuk melakukan upacara sucinya." jelas Gustaf sambil tersenyum.


Max tersenyum tipis. "Dua hari lagi? Dia pasti tidak akan berdiam diri," gumam pria itu dengan suara kecilnya. Tak berselang lama, ia pun beringsut dari tempat duduknya. "Gustaf, kau sudah kirimkan undangan ke kerajaan Gallahan, bukan?" tanyanya seraya menatap Gustaf.

__ADS_1


"Sudah yang mulia," jawab Gustaf.


"Baiklah, aku akan melihat persiapan pernikahan putri Laura dan duke Rhodes." ucap Max yang lalu melenggang pergi dari sana.


"Silahkan yang mulia,"


Max dan Gustaf pergi meninggalkan ruang rapat itu, kemudian mereka pergi ke aula kerajaan yang akan menjadi tempat janji suci Laura Eugene akan dilakukan dua hari lagi.


Persiapan pernikahan itu baik dan juga sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Laura, sebuah pernikahan sederhana yang penting sah. Itulah yang diinginkan oleh Laura tentang pernikahannya. Tamu undangan yang diundang juga tidak terlalu banyak, hanya beberapa menteri dan juga anggota keluarga kerajaan saja.


****


Tak terasa waktu pun berlalu, kini Laura sudah mengenakan gaun putih dengan rambut di sanggul dihiasi mahkota indah. Gadis berusia 16 tahun itu tampak cantik dengan riasan natural yang sederhana. Wajahnya terpancar kebahagiaan di sana, tentu saja karena hari ini adalah hari pernikahannya. Hari yang selalu dia tunggu-tunggu selama ini, pernikahannya dengan pria yang sangat ia cintai. Oh betapa indahnya cinta, betapa bahagianya hati ini. Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu itu datang juga.


"Annie, apakah aku cantik?" tanya Laura kepada dayang setianya itu.


"Yang mulia, yang mulia sangat cantik sekali...saya sampai pangling begitu melihat yang mulia. Duke Rhodes pasti tidak akan bisa memalingkan wajahnya dari yang mulia Putri," tutur Annie memuji kecantikan tuan putrinya itu. Bukan hanya sekedar pujian, tapi itu memang faktanya. Laura memang sangatlah cantik, bukan karena gaun dan riasan wajahnya. Tapi karena wajahnya tercetak kebahagiaan dan cahaya.


Tiba-tiba saja ketika asyik mengobrol dan saling memuji, seseorang mengetuk pintu kamar Laura. Dia adalah Kyle, Kyle datang ke sana untuk memberitahukan bahwa pengantin pria sudah siap. Laura dengan polosnya mengikuti Kyle pergi, namun saat di tengah jalan Laura merasakan ada yang aneh.


Ajudan setia ibunya itu, bukannya membawa dirinya ke tempat pernikahan, akan tetapi membawanya ke tempat lain. "Tuan Kyle, apa kau sedang bermain-main denganku?"


Mata Laura membulat, ya memang ada yang salah dengan ajudan ibunya ini. "A-apa maksud---"


Belum sempat Laura meneruskan kata-katanya, mulutnya sudah dibungkam oleh telapak tangan besar itu. "Hmphh---"


Tak berselang lama, Laura pun jatuh pingsan. Kyle dengan pikiran jahatnya, dia membawa Laura entah kemana.


Sementara itu sang pengantin pria bersama dengan para tamu sedang menunggu kehadiran pengantin wanita yang tak kunjung tiba. Bahkan Max sampai memerintahkan Adrian untuk menjemput Laura yang begitu lama di ruang rias.


"Ini benar-benar tidak beres....Adrian segeralah kau pergi ke tempat Putri Laura, dan bawa dia kemari!" titah sang raja kepada pengawal setianya itu.


"Ya, yang mulia." jawab Adrian patuh.


Eugene juga terlihat cemas, dia takut terjadi sesuatu kepada calon istrinya. Namun Max memintanya untuk tenang karena Ibu suri tidak akan bisa berbuat apa-apa di istananya sendiri. Dia meyakinkan, bahwa pernikahannya dan Laura akan tetap terjadi.


****


Di tempat lain, Liliana bersama Dorman dan beberapa prajurit dari kerajaan Gallahan sedang berada dalam perjalanan menuju ke kerajaan Istvan. Mereka mengendarai kereta kuda yang mewah. Penjagaan ketat juga dilakukan ibu suri Gallahan kepada Liliana.

__ADS_1


Saat di perjalanan, Liliana melihat ada sebuah kereta mencurigakan dan lebih mencurigakannya lagi. Ketika Liliana lihat ajudan Freya berada di sana. Hah! Gadis itu yakin, pasti ada yang tidak beres di dalam kereta itu. Akhirnya, Liliana memberhentikan keretanya lalu dia berjalan sendiri ke arah kereta itu.


"Kau?" Kyle mendongakkan kepalanya begitu dia melihat sosok Liliana di sana.


Kenapa wanita ini harus bertemu denganku di saat seperti ini?. Batin Kyle panik.


"Beraninya seorang ksatria rendahan sepertimu memanggil tuan Putri dengan sebutan 'Kau?" Dorman menyadarkan pedangnya ke arah leher Kyle.


Kyle langsung membungkukan setengah badannya lalu memohon maaf kepada Liliana. "Yang mulia, mohon maaf atas ketidaksopanan saya." ucap Kyle.


"Tuan Dorman buka karung yang ada kereta itu!" ujar Liliana pada Dorman, seraya melirik sebuah karung berisi sesuatu di atas kereta barang tersebut.


"Yang mulia putri, mohon maaf--apa yang akan yang mulia lakukan?!" Kyle mulai panik setelah mendengar ucapan Liliana.


"Maaf, aku penasaran dengan isi karung itu." Liliana tersenyum tipis. Namun atensinya menatap tajam pada karung itu.


"Itu hanya karung berisi sampah, yang mulia..."


"Sampah? Benarkah? Kalau begitu biarkan aku memeriksanya," ucapnya tidak percaya pada Liliana.


"Yang mulia, anda tidak boleh--"


Tanpa disangka-sangka, Liliana menyodorkan belati ke arah leher Kyle dengan berani sampai membuat semua pria di sana yang melihatnya kaget.


"Aku akan melihatnya, atau aku akan potong ANU-mu!" Liliana mengancam Kyle dengan tajam.


Kyle sedikit ngeri dengan wanita cantik namun licik yang ada di hadapannya ini. Dorman juga tidak menyangka bahwa Liliana punya kemampuan seperti anggota kstaria.


Kemudian Liliana langsung membuka karung itu dengan kedua tangannya sendiri. Dilihatnya seorang wanita tidak sadarkan diri dengan mengenakan gaun putih. Firasatnya benar.


"Kau! Apa kau tau apa hukuman bagi orang yang sudah mencelakai anggota keluarga kerajaan?" tanyanya dengan sorot mata tajam pada Kyle.


Kedua mata Kyle terbuka lebar, tiba-tiba keringat dingin bercucuran di wajahnya.


Satu kata untuk Kyle saat itu, yaitu MAMPUS.


...*****...


Hai Readers! Sabar ya guys, gak lama lagi couple MaxLi akan nyusul juga wedding nya...tapi Laura Eugene yang duluan ya ,☺️❀️ jangan lupa tinggalkan komennya.

__ADS_1


__ADS_2