Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 156. Ada yang hilang


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Seseorang berjalan menuju ke arahnya, dia adalah Eugene yang saat ini statusnya masih sebagai ksatria pelindung sekaligus sahabat baiknya.


Pria yang selalu menemaninya dalam suka dan duka, teman yang berjuang bersamanya dalam peperangan. Ayahnya sang Raja dan Ratu Freya juga saat ini masih hidup, Raja Alberto masih memerintah kerajaan Istvan.


Tidak ada yang berubah tentang itu, jadi Max pikir bahwa tidak ada masalah dengan hidup Liliana. Dia pikir gadis itu kini hidup bahagia, namun dia akan memastikannya lebih dulu.


Jika dia tak salah menebak, mungkin sekarang Liliana masih hidup sebagai Adaire dan dia sudah menikah dengan Arsen.


"Yang mulia, apa kita akan berhenti dulu di pulau Gardian?" Tanya Eugene sambil melihat ke arah pulau yang berada ditengah laut itu. Pulau itulah tempat Liliana berada.


"Tidak usah, kita langsung pergi saja ke pusat kota Istvan. Sesampainya disana kau harus memeriksa tentang anggota keluarga Geraldine."


Lagipula aku tidak akan bertemu dengannya di pulau ini. Dia pasti masih jadi Adaire Charise Geraldine.


"Baik yang mulia." Jawab Eugene patuh seperti biasa. "Tapi maaf yang mulia, mengenai penumpasan tempat pelacuran terbesar di pulau itu bagaimana?"


"Kirim saja satu pasukan kita kesana. Biar mereka yang mengurusnya. Lagipula itu hanya masalah kecil saja." Kata Max dengan wajah datarnya.


Di masa lalu, pertama kali aku bertemu dengan Lily disana. Tapi saat itu dia adalah Adaire bukan Liliana, jadi apapun yang terjadi pada Liliana yang asli...bukanlah urusanku. Yang harus aku pedulikan adalah Adaire, aku sengaja kembali dua hari lebih awal karena aku akan mencegah kematiannya.


Kapal yang membawa Max itu melewati pulau Gardian dan pergi ke kerajaan Istvan yang letaknya cukup jauh dari sana.


Liliana sedang beristirahat melihat kapal besar yang melewatinya. Angin pantai berhembus ke arahnya membuat rambut merahnya berkibas kibas, melambai sesekali menutupi wajah cantiknya. Tiba-tiba saja dia memegang dadanya, begitu melihat dari kejauhan seorang pria dengan rambut hitam berdiri membelakanginya di kapal itu, kenapa ada rasa sesak di dalam dadanya. "Ya tuhan, aku kenapa? Mengapa aku seperti ini saat melihatnya? Padahal aku tidak kenal dia dan aku tidak melihat wajahnya, tapi...kenapa aneh rasanya?"


Ketika kapal itu semakin jauh sampai tak terlihat lagi, hati Liliana tiba-tiba menjadi sedih. Bahkan tanpa sadar air matanya menetes, seperti ada yang hilang pada dirinya.


"Lily, kenapa kau ada disini? Bos sudah mencari kita! Kau tau kan jarak dari sini ke restoran lumayan jauh? Ayo, kita harus bergegas." Nancy berusaha mengajak temannya pergi dari sana. "Lily, kau menangis? Kenapa?" Nancy melihat raut wajah Liliana yang tidak baik dan bulir air mata jatuh membasahi pipi sahabatnya itu.


"A-aku tidak tahu, disini rasanya sesak dan aku seperti kehilangan sesuatu didalam diriku...hiks..."


"Maksudmu apa? Apa yang hilang?" Nancy bertanya dengan raut wajah peduli pada Liliana. Dia tulus saat menanyakan keadaannya.


Alih-alih berbicara, Liliana memilih menyeka air matanya dan dia berjalan pergi darisana. Nancy juga mengekorinya dari belakang dan mereka pergi bekerja seperti biasa.


Selama bekerja Liliana selalu diganggu oleh para pelanggan yang di dominasi oleh pria disana. Jelas, itu karena mereka tertarik dengan kecantikan Liliana. Namun dengan kehadiran Liliana, restoran itu selalu ramai pengunjung.


Akhirnya hari pun berhasil di lewati, tibalah saat Liliana dan Nancy pulang ke rumah.


"Liliana, apa kepalamu terbentur sesuatu?"


"Apa maksud tuan Carl?" Liliana bertanya balik karena dia tak paham apa yang ditanyakan oleh Carl


"Biasanya kau akan diam saja bila di ganggu oleh mereka,tapi hari ini kau melawan mereka walau sedikit. Ada apa denganmu? Kau tampak berbeda." Carl merasakan ada yang berbeda dari Liliana pada hari itu, dia seperti menjadi orang lain.


"Lalu apa harus diam saja ketika diperlakukan seperti itu? Pria-pria gila itu melecehkan aku dan aku harus terus diam saja? Kau juga, kenapa kau tidak menolongku?"

__ADS_1


"APA? Apa sekarang kau sedang marah padaku?!" Carl berkacak pinggang, dia melotot melihat ke arah Liliana.


"Apa menurut tuan saya marah? Baiklah, anggap saja begitu. Saya memang marah pada tuan, karena tuan sebagai pemilik tempat ini malah diam saja ketika salah satu pegawainya di lecehkan."


Carl terperangah."Hah! Apa kau sedang protes padaku? Apa kau berhak untuk itu? Kau bahkan hidup dengan uang dariku, tanpa uang dariku kau tidak akan hidup!" Carl mendorong dorong tubuh Liliana yang mungil itu dengan jari telunjuknya, Carl angkuh dan sombong.


"Bos, sudah bos..." kata seorang pegawai yang lain pada Carl, melihat bosnya emosi dia berusaha menenangkan.


"Bos, dia hanya seorang wanita. Jangan berlebihan!" Ujar seorang pegawai pria sambil menahan tubuh Carl yang sudah menunjukkan emosi. Wajahnya merah dan matanya menatap tajam pada Liliana.


Nancy juga berusaha menenangkan Liliana yang marah pada Carl. "Lily sudahlah--"


Gadis itu menolak untuk mendengarkan Nancy. "Kenapa? Memangnya apa yang aku ucapkan salah? Lalu, apa aku hidup dengan uangmu? Bukankah aku berhak mendapatkan uang karena aku bekerja disini? Jadi, jangan bicara seolah-olah kau memberikan uang kepada kami secara cuma-cuma!" Tunjuk Liliana pada tubuh Carl, seraya mendorong-dorongnya.


"Apa kau bilang? Dasar wanita kurang ajar!!" Carl mendorong Liliana hingga dia jatuh menimpa salah satu meja di restoran. Beruntung saat itu hanya sedikit pelanggan yang datang karena hari sudah malam dan hanya pegawai pria yang bekerja malam disana.


Bruk!


Tubuh Liliana jatuh ke lantai, meja dan kursi yang ditabraknya juga ikut jatuh. Para pelanggan dan pegawai di restoran itu melihatnya, sudah bisa ditebak dari wajah mereka kalau mereka terkejut. Sudah jangan ditanya lagi.


"Kau...beraninya kau bicara padaku? Dasar wanita kurang ajar! Kalau bukan karena kebaikan hatiku, kau pasti sudah dijual oleh ayahmu ke tempat pelacuran! Atau kau sudah menjadi istri ke 6 dari Marquez Sven!" Teriak pria itu pada Liliana.


Marquez Sven? Siapa lagi itu?. Liliana terdiam sejenak, dia berusaha mencerna nama itu didalam ingatannya tapi sungguh dia tidak ingat tentang nama itu.


Pegawai disana berusaha menghentikan Carl untuk memukuli Liliana. Sementara Nancy membantu Liliana untuk berdiri. "Lily, kau tidak apa-apa? Apa kau terluka?" Nancy melihat temannya itu.


"Sialan! Wanita sialan kau, cuihhh!!" Carl masih saja marah-marah bahkan dia meludah pada Liliana.


Salah satu pegawai itu meminta Nancy membawa Liliana untuk pergi dari sana agar keadaan tidak semakin memanas. Nancy pun membawa temannya yang masih emosi itu dengan buru-buru, menghindari Liliana dari masalah.


Akhirnya kedua gadis itu berjalan pulang ke rumah mereka masing-masing yang satu arah. Malam itu mereka melewati jalanan yang cukup curam tanpa penerangan menuju ke rumah mereka.


"Lagian kau kenapa sampai melawan bos? Biasanya juga kau diam saja."


"Lalu apa aku harus diam saja?" Liliana melihat ke arah temannya.


"Lily, dari tadi pagi aku merasa ada yang aneh denganmu. Kau seperti orang lain, apa kau kerasukan sesuatu, hah?" Nancy yang paling tau tentang Liliana karena mereka saling kenal dari kecil. Dapat merasakan perubahan sikap Liliana yang signifikan itu.


"Nancy, saat di restoran...aku kan sudah bilang. Kalau aku lupa segalanya begitu aku bangun tidur." Jelas Liliana pada temannya itu.


Aku bahkan tidak yakin diriku siapa. Seperti ada yang hilang didalam hatiku.


"Ah! Jadi itu tidak bohong? Jadi kau dipukul ayahmu?" Nancy tercekat menatap ke arah Liliana.


"Soal itu, aku rasa mungkin benar. Kau kan bilang ayahku tukang pukul?" Lirik gadis itu pada Nancy yang berjalan tepat disampingnya.


"Iya, ayahmu selalu menyiksamu."

__ADS_1


"Mari kita lupakan itu, bagaimana tentang uang tabungan kita untuk melarikan diri itu?" Liliana menatap Nancy sambil tersenyum.


"Uang tabunganku masih utuh, tapi punyamu sepertinya tidak. Kau pernah bilang padaku beberapa hari yang lalu, kalau ayahmu menemukan uang tabungan yang kau sembunyikan dan dia memakainya untuk berjudi."


"APA? Dasar ayah bajingan!" Dengus Liliana kesal.


Nancy tercengang melihat temannya mengumpat seperti itu. Pasalnya Liliana yang dia kenal tidak pernah mengumpat seperti itu, Liliana yang dia kenal adalah wanita lemah lembut dan tidak pernah melawan ayahnya. Kini Liliana tampak berbeda.


"Bagus...aku suka kau yang seperti ini." Nancy tersenyum.


.


"Syukurlah...aku juga suka berteman denganmu. Oh ya Nancy, ceritakan tentangku sebelum aku kehilangan ingatanku?" Liliana penasaran dengan dirinya di masa lalu.


Didalam perjalanan, Nancy menceritakan tentang masa lalu Liliana sebelum dia hilang ingatan. Tentu saja dengan senang hati dia menceritakannya, kebiasaan Liliana, sikap ayah Liliana dan kebersamaan mereka sebagai sahabat.


 


Keesokan harinya di sebuah penginapan pusat kota kerajaan istvan, Max tidak langsung pulang ke istana. Dia malah pergi meningal dan jalan-jalan terlebih dahulu sampai penumpasan tempat pelacuran di pulau Gardian usai. Itu pun dilakukan oleh pasukan yang di pimpin oleh Adrian.


Tok, tok, tok!


Pintu kamar penginapan itu diketuk oleh seseorang dari luar. Max terlihat sedang duduk di kursi sambil membersihkan pedangnya yang berlumuran darah.


"Yang mulia, ini saya Eugene."


"Masuk!" Ujar Max pada seseorang yang mengetuk pintunya itu.


Eugene membuka pintu dan membawa beberapa dokumen di tangannya. Tak lupa begitu dia memberi hormat pada putra mahkota kerajaan Istvan itu. Pandangannya tertuju pedang berlumut darah itu. "Yang mulia apa yang terjadi saat saya pergi tadi?" Tanya Eugene cemas.


"Seperti biasa, nenek sihir itu mengirim pembunuh untukku." Max melirik ke arah tumpukan 5 orang mayat di sisi lain kamar itu. Mayat berlumuran darah dan seperti biasa tidak ada yang bisa mengalahkannya.


Yang mulia memang hebat. Eugene memuji Max didalam hatinya.


"Kenapa kau malah menanyakan itu? Kau mau apa kesini?" Tanya Max lagi. "Langsung katakan saja!"


"Yang mulia, saya sudah mendapatkan informasi tentang keluarga Duke Geraldine. Tentang nona Adaire yang anda tanyakan, tuan Duke tidak memiliki anak yang bernama Adaire. Dia hanya memiliki satu orang putri bernama Adara."


Max langsung mengambil dokumen yang berada ditangan Eugene. Dia tercengang tak percaya dengan dokumen yang dilihatnya. "Tidak mungkin! Mana mungkin tidak ada yang bernama Adaire? Duke Geraldine...memiliki putri sulung bernama Adaire Charise Geraldine!"


"Maaf yang mulia, tapi Duke Geraldine hanya memiliki satu orang putri dan itu bernama Adara. Mungkin nona itu yang dicari yang mulia?"


"Tidak! Bukan dia, tapi Adaire!" Teriak Max sambil menggigit bibir bagian bawah bibirnya dengan gemas.


Jika Adaire tidak ada...lalu dimana dia? Sebenernya kenapa masa depan berubah?


Max jadi teringat ucapan Abartia sebelum dia memutar waktu.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2