
...πππ...
Setelah menghabiskan makanan yang manis-manis. Max dan Liliana berencana untuk pergi melihat festival kembang api di tengah kota.
"Kenapa tiba-tiba ada festival kembang api? Bukankah festival hanya diadakan saat acara ulang tahun berdirinya kerajaan atau acara penting lainnya?" tanya Liliana sambil menjilati permen lolipop yang dia beli dari warung pinggir jalan.
"Hem.. tidak harus begitu juga. Bisa saja ini untuk merayakan kencan pertama kita setelah kita menjadi pasangan kekasih," ucap Max sambil tersenyum manis.
"Hahahaha kau ini sangat suka bercanda ya," ucap Liliana sambil tertawa. Dia tak percaya pada ucapan Max kepadanya.
"Sepertinya kau akan tetap menganggapku bercanda meski aku bicara serius, haihhh.. sudahlah.." Max menghela nafas panjang, bibirnya mengerucut sebal pada kekasihnya itu.
Aku sengaja membuat pesta kembang api besar-besaran hanya untuknya, tapi dia menganggapku bercanda.
"Ah! Ada tempat bermain!" Ujar Liliana sambil berlari mendekati wahana bermain ditengah kota.
"Hey! Kucing galak! Tunggu aku!" Max mengikuti Liliana dari belakang.
Liliana melihat ada komedi putar dan kincir ria disana, banyak anak-anak bermain disana dan semua mainan itu gratis untuk dinaiki.
"Kenapa banyak orang disini? Aku membuat festival ini hanya untuk kekasihku.. kenapa mereka juga ikut menikmatinya?" gerutu Max kesal melihat banyak orang yang ikut menikmati festival yang dia buat untuk Liliana.
Gadis itu menatap orang-orang yang sedang naik wahana dengan mata berkaca-kaca. Max melihat mata berkaca-kaca kekasihnya itu, seperti akan menangis.
"Hey.. kau kenapa? Kau menangis?" tanya pria itu dengan tatapan cemasnya tertuju pada Liliana.
"Ah...tidak.." Liliana menyeka air matanya.
"Apa kau ingin aku menyingkirkan mereka?" tanya Max sambil menatap tajam pada orang-orang yang berada didekat wahana bermain.
"Kau ini bicara apa? Kenapa mereka harus disingkirkan?" tanya Liliana sambil menatap pria itu dengan kening berkerut.
"Karena kau menangis saat melihat mereka, jadi aku harus menyingkirkan mereka, itu logikanya kan?" tanya Max dengan wajah cemberutnya.
"Apa kau hanya tau menghancurkan dan menyingkirkan seseorang? Hentikan itu dan mari kita pergi," Liliana mengajak Max pergi disana.
"Mau pergi kemana?" tanya Max sambil memegang tangan Liliana. "Bukankah kau ingin pergi naik wahana itu?" tebak Max saat melihat Liliana yang sedari tadi tak melepaskan pandangannya dari wahana bermain itu.
"Tidak!!" Seru Liliana sambil melihat wahana. bermain itu.
"Bohong.. kau mau kan? Bahkan kau sampai menangis seperti ini," ucap Max yang matanya tak luput memperhatikan raut wajah Liliana.
"Aku tidak mau...!!" Bibir gadis itu tertarik ke bawah, matanya masih menuju ke arah kincir ria.
Setiap melihat kincir ria, aku ingin sekali naik kesana.
"Jadi kau mau naik apa? Kincir ria? Komedi putar? Atau yang lainnya?" tanya Max menawarkan semua wahana yang ingin dinaiki oleh Max.
Liliana tidak menjawab, dia melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Max bergumam sendiri bahwa wanita sulit dimengerti.
Dia pun menggandeng tangan Liliana, Max mengajaknya naik kincir ria karena dari tadi Liliana melihat kincir ria sambil menangis. Tak lupa sebelum naik, Max membeli air minum untuk kekasihnya itu. Dia juga tau bahwa Liliana belum minum dari tadi.
"Yang mulia, apa kau-"
"Aku sudah bilang.. panggil namaku saja. Kalau kau memanggilku begitu terus, akan ada yang mengenali ku nanti." Max meralat ucapan Liliana yang selalu memanggilku yang mulia.
"Lalu aku harus panggil apa? Maximilian? Max.. Maxim?"
__ADS_1
Max tercekat mendengar Liliana memanggilkan dengan nama. Hatinya berdebar bahagia, seperti ada taman bunga disana. "Panggil aku lagi," pintanya pada gadis yang duduk di depannya.
"Maximilian, Max...Maxim.. Ah sepertinya Max dan Maximilian terlalu umum, apa Maxim itu-"
Belum sempat Liliana menyelesaikan kata-katanya, sebuah kecupan lembut mendarat dibibirnya dari Max. Pria itu tersenyum puas karena berhasil mencuri bibir ranum nan cantik milik Liliana. "Maxim!" pekik wanita itu terkejut.
"Maxim, aku suka panggilan itu. Hanya kau saja yang memanggilku begitu." Max tersenyum lebar, hingga kedua lesung pipinya terlihat.
Deg!
Ya Tuhan, ada apa dengan jantungku? Mengapa ini berdebar begitu kencang? Kenapa dia terlihat lebih tampan hari ini?
Liliana memegang dadanya dengan raut wajah yang tidak dapat dijelaskan oleh kata-kata.
Max mencondongkan wajahnya pada wajah gadis itu, "Lily sayang.." ucapnya mengalun dengan lembut.
"Stop! Jangan menggodaku lagi, kau sudah mencuri bibir ku, tidak boleh lagi!" Liliana mendorong tubuh pria itu. Keningnya berkerut, dengan pipi memerah.
Bahaya, ini sangat berbahaya. Bisa-bisa aku terkena serangan jantung kalau terus begini.
"Ada apa Lily? Apa kau merasa kepanasan? Kau tidak mau buka bajumu?" tanya Max seraya menggodanya.
"Kau! Si mesum ini...hentikan itu! Aku tidak akan tergoda olehmu lagi."
"Jadi kau tergoda olehku? Sudah aku duga kalau aku tampan!" Max semakin percaya diri.
"Ya kau memang tampan, ta-tapi kau juga bukan yang tertampan di mataku." Kata gadis itu sambil memalingkan wajahnya dari Max.
"Apa? Yang benar? Memangnya siapa yang tampan selain diriku?" tanya Max sambil mendekati tubuh wanitanya. Tatapan matanya memburu dan tajam.
"Ka-kau terlalu dekat.. aku kan sudah bilang jangan sembarang mendekat," Liliana meletakkan tangannya pada dada bidang milik Max sambil mendorongnya. Kedua mata gadis itu memutar, kepalanya menunduk tak mau menatap Max.
Semakin Liliana mendorong Max, pria itu malah semakin mendekat padanya. Max mengunci tubuh Liliana dan saat itu mereka akan menunju ke puncak kincir ria.
"Katakan.. siapa yang tampan selain diriku?" Tanya Max sambil mengangkat dagu wanita itu.
Huhu, senang sekali melihat wajahnya yang seperti ini. Rasanya seperti menganggu kucing yang ingin makan ikan dan aku malah mengambil ikannya.
Liliana masih tidak mau menatap ke arah Max, walau wajahnya sudah terangkat oleh tangan Max yang kekar.
Uh.. sepertinya aku salah bicara dan malah memancing si mesum ini.
"Kau tidak mau jawab? Kalau begitu-"
Aku tak punya cara lain.
Liliana melingkarkan kedua tangannya ke kejar Max. Dia membenamkan benda kenyal itu pada bibir Max dengan lembut.
Hmphh!!
Lily menciumku duluan?
Ciuman romantis itu bersamaan dengan kincir ria mereka yang sudah sampai ke puncaknya. Dengan senang hati, Max menanggapi ciuman itu. Tangannya melingkar di tubuh mungil kekasihnya, mendekap dengan erat.
Dasar, si tukang cari kesempatan. Baiklah aku akan membiarkanmu kali ini. Tangan Liliana bergerilya memeluk kekasihnya juga.
DUARR!!
__ADS_1
DUARR!!!
Suara kembang api juga menyertai malam romantis mereka yang bersatu dalam cinta. Kedua bibir mereka menyatu bersama dengan suasana itu.
Kembang api bukan hanya meledak dilangit malam, tapi juga dihati Liliana dan Max yang sedang merasakan kasmaran akan indahnya cinta. Tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya, saat ini mereka hanya tau cinta dan cinta saja.
Tak lama setelah itu, Liliana melepaskan pagutan bibirnya lebih dulu. "Haahhhh.. aku tidak bisa bernafas,"
"Apa maksudmu melakukan ini untuk menggodaku?" tanya Max sambil tersenyum.
"Tidak..hanya saja aku ingin melakukannya dengan kekasihku saat sampai dipuncak kincir ria," jelas gadis itu sambil mengusap basah dibibirnya.
"Apa itu?" Max masih berada dekat dengan Liliana.
"Ayah pernah bilang padaku, jika pasangan berciuman di kincir ria saat berada dipuncak. Dikatakan bahwa mereka akan bersama selamanya,"
Max terpana, dia seperti melihat sesuatu yang indah di depannya. Benar, itu adalah keindahan dari kebahagiaan. Bahwa Liliana ingin bersama dengan Max selamanya.
Dia ingin bersamaku selamanya? Aku pikir perasannya tidak sedalam itu padaku.
"Ta-tapi, aku tidak tahu itu akan terwujud atau tidak...ja-jadi aku hanya ingin mencobanya saja, aku cuma iseng!" Ucap Liliana terbata-bata.
"Itu akan terwujud, kita akan selamanya bersama. Semuanya akan terwujud," ucap Mac sambil membelai rambut panjang Liliana, kemudian dia memeluk gadis itu penuh kasih sayang.
Bagiku kau adalah cinta pertama dan terakhir ku Liliana.
"Maxim.." Liliana tersenyum dan membalas pelukan Max.
Syukurlah raut wajahnya sudah membaik, tadi dia seperti akan memakanku. Tapi, aku juga ingin bersamamu selamanya Maxim..
Mereka melihat kembang api bersama-sama dengan perasaan bahagia. Max bersandar di bahu Liliana dan gadis itu membiarkannya saja, tangan Max terus menggenggam Liliana.
...****...
Duke Geraldine baru saja pulang setelah bekerja dan menemui Adara di penjara. Dia disambut oleh kepala pelayan di rumahnya yaitu Jackson.
Geordo dan Lizzy juga menyambutnya malam itu dengan sopan. Mereka mengatakan akan kembali ke desa mereka keesokan harinya.
"Tidak apa, jika kalian tidak ada urusan lain. Kalian boleh tinggal disini semau kalian," ucap Duke Geraldine sambil tersenyum ramah pada kedua tamunya itu.
"Tidak yang mulia Duke, kami harus kembali karena restoran kami sudah lama tutup dan tidak ada yang mengurusnya. Kami sangat berterimakasih pada yang mulia Duke dan nona Liliana yang sudah mengizinkan kami tinggal disini." Kata Geordo sambil membungkukkan setengah badannya pada Duke Geraldine.
"Tidak perlu berterimakasih. Selama ini kalian selalu menolong Liliana. Yah...tapi sayang sekali kalau kalian harus pergi besok, ini berarti makan malam terakhir kalian disini," ucap Duke Geraldine merasa sayang karena Geordo dan Lizzy hanya tinggal 2 hari saja disana.
"Maafkan saya yang mulia Duke," ucap Geordo sopan.
"Kalau kalian butuh sesuatu, kalian bisa beritahu padaku. Dengan senang hati aku selalu membukakkan pintu rumahku untukmu," ucap Duke Geraldine dengan senyuman tulus tanpa dibuat-buat.
"Terimakasih yang mulia Duke,"
Duke Geraldine meminta pelayannya menyiapkan makanan istimewa untuk kedua tamunya ini. Geordo dan Lizzy sudah berada di ruang makan tapi mereka belum melihat Liliana dari tadi pagi.
"Jackson, apa Lily ada di rumah?" tanya Duke Geraldine yang tidak melihat anaknya sejak terakhir kali dia melihatnya ditempat eksekusi Arsen.
"Nona berada di kamarnya sepanjang hari yang mulia," jawab Jackson. "Saya akan panggilkan nona,"
"Tidak perlu, biar aku saja yang memanggilnya." ucap Duke Geraldine sambil berjalan menuju kamar Liliana.
__ADS_1
...----****----...
Hai Readers, berhubung ini hari Senin..boleh gak author minta vote atau gift nya ππβΊοΈ