Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 221. Rayuan Liliana


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Maximilian menjadikan Raja Lostier sebagai sandera, agar William melepaskan Liliana. Kini raja Lostier menjadi bahan tertawaan semua orang terutama para bawahannya yang telah takluk dalam kekuasaan Raja Istvan.


Raja Lostier yang memiliki nama Emmerson ini, dia menjadi bulan-bulanan para prajurit karena di diperlakukan seperti *njing oleh Maximillian.


Mereka dalam pencarian untuk menemukan Liliana, kabar dari pengawal mengatakan bahwa rombongan William masuk ke hutan lebat di perbatasan dan Max pun meluncur kesana. Tapi dia membawa Emmerson juga sebagai sandera.


"Apa kau tidak bisa melepaskanku saja? Aku kan tidak tahu dimana istrimu berada? Jika aku tau, aku pasti akan mengatakannya padamu." tutur Emmerson jujur, dia tidak tahu kemana William membawa Liliana.


Sialan! Kemana si William membawa istri dari di raja bengis ini?!


"Melepaskanmu? Hah! Jangan bercanda, kau bahkan tidak akan bisa buang angin sebelum istriku ditemukan." ancamnya seraya tersenyum sarkas.


"A-apa? Aku tidak boleh buang angin?!" Pekik Emmerson terkejut bukan main.


"Benar, kau tidak bisa! Ah ya....kau memang tidak tahu dimana istrimu berada ,tapi kau pasti tau bagaimana caranya menghubungi pria itu?"


"Sungguh! Sumpah demi Tuhan! Aku tidak tahu bagaimana cara menghubunginya!" Seru Emmerson bersungguh-sungguh, diiring anggukan kepala beberapa kali.


"BOHONG!" teriak Max tidak percaya.


"Sungguh...aku tidak tahu!"


Sialan! Aku memang benar-benar tidak tahu, bodoh!. Emmerson memakai pria itu dalam hati.


"Siapa yang bodoh? Kau yang BODOH!" Bentak pria itu kesal, matang menatap murka pada Raja Lostier.


Emmerson terkejut, mendengar ucapan Max yang seolah tau isi hatinya. "A-aku..." refleks dia gugup dan meneguk salivanya dalam-dalam.


"Kalau terjadi sesuatu pada istriku, kalau ada segores luka di tubuhnya, aku akan menggantung kepalamu di alun-alun dan kujadikan perhiasan di istanaku!" ancamnya tegas dan tidak main-main.


Tubuh Emmerson bergetar, hingga tanpa sadar keringat dingin keluar dari tubuhnya. Dia tidak berani bicara dengan Max, hanya tegang yang terasa saat ini. Dia takut dengan aura iblis yang ada didalam tubuh Max. Eugene yang ada didalam kereta itu bersama Max dan Raja Lostier, menatap Emmerson dengan pandangan meremehkan. Emmerson jengkel dengan tatapan Eugene padanya. Tapi ia tak berani bicara.


Dia hanya seorang rendahan yang di angkat menjadi pangeran karena seorang wanita. Beraninya dia menatapku begitu, hah!. Batin Emmerson yang jengkel dengan Eugene tapi tak berani bicara.


"Yang mulia, apa anda mencium bau aneh di sekitar sini?" tanya Eugene sapi menutup hidungnya dengan satu tangan. Dia mencium bau aneh di kereta kecil itu.


"Setelah kau mengatakannya, memang ada bau-bau aneh di sini. Tapi--apa?" Max juga mencium bau aneh di kereta itu.


Hidung Emmerson juga mulai mengelus-endus, menghirup bau bau yang disebutkan oleh Eugene. Dia juga mencium bau aneh itu.


"Astaga yang mulia! Ternyata baunya dari sini! Bah PESING!" ujar Eugene seraya menunjuk pada celana Emmerson yang basah. Basah oleh apa? Sepertinya itu--


"PFut..." Eugene menahan tawa.


Max tersenyum sinis, dia menatap tajam pada Emmerson dan membuat pria itu tercengang.


"A-apa? Kenapa kau melihatku begitu?"


Oh shitt aku mengompol? Benarkah? Aku bahkan tak sadar. Ini begitu memalukan!


"Astaga! Bukankah sudah kubilang, kau tidak boleh buang air atau buang angin sebelum istriku ditemukan! Dan sekarang kau malah buang air? Tidak tahu DIRI!" ketus Max pada Emmerson.


Sungguh Emmerson malu, harga dirinya seakan sudah tidak ada lagi di hadapan Max dan semua orang di sana yang mendengar kata dia mengompol. Astaga! Tuhan benar-benar telah memberikan hukuman secara tunai kepadanya yang bersikap sombong, dengan rasa malu yang luar biasa.


"PFut...apa benar Raja Lostier mengompol?"


"Sungguh memalukan! Dia seperti wanita,"


"Padahal tadi dia bersikap begitu sombong, haha."


Mendengar tertawaan dan pembicaraan para prajurit musuh tentang dirinya, membuat ia marah dan sakit hati.


Terlihat Max yang masih gelisah karena belum juga menemukan istrinya, kegelisahannya bertambah saat dia merasakan bahwa MANA yang diberikan olehnya pada Liliana bereaksi, itu artinya dia melakukan perlawanan terhadap orang disekitarnya.


Apa mungkin terjadi sesuatu padanya? Sesuatu yang berbahaya?

__ADS_1


*****


Sementara itu Liliana masih berada di dalam kereta bersama William si brengsek yang sudah menculiknya dan menjadikannya tawanan. Andai saja dia hanya sendirian, dia sudah pasti bisa melarikan diri dengan kedua kaki dan kekuatannya. Tapi dia tidak bisa melakukan itu, karena dia berbadan dua. Ada dua bayi kembar di dalam perutnya saat ini.


Dan juga dia telah menggunakan Mana yang membuat tubuhnya melemah. Dia tidak bisa menggunakannya lagi dan sekarang dia hanya bisa menunggu waktu yang tepat sampai mananya kembali terisi. Kedua tangannya juga terikat kuat, ia tak bisa berbuat apa-apa untuk saat ini.


"Kenapa diam saja? Kau tidak mau gunakan sihirmu lagi? Silahkan saja gunakan, maka kau akan melemah, sayang. Bayi dari si Raja iblis gila itu akan melemah karena ibunya yang keras kepala."


"Hah! Raja iblis gila? Bukankah kau yang tidak waras? BERANINYA kau dengan statusmu saat ini, berbicara informal padaku." Wanita hamil itu berdecih, dadanya bergemuruh melihat sikap William dan juga kata-kata informalnya.


"Kenapa aku tidak berani? Disini tidak ada suamimu sang raja iblis medan perang, jadi kenapa aku tidak berani? Dan meskipun dia ada disini, aku tidak akan takut."


"Benarkah?" Liliana menaikkan alisnya ke atas, mengerutkan keningnya juga.


"Aku tidak takut! Apa kau tidak percaya pada kata-kataku?!" suara William meninggi, rahangnya mengeras karena emosi. Dia merasa ada tatapan remeh yang tertuju padanya. Ya, tatapan itu dari Liliana.


"Hem..." Liliana hanya manggut-manggut saja, seraya tersenyum.


"Akan aku buktikan padamu, ketika aku bertemu dengannya....aku akan--"


"Kau akan apa?" Liliana memangkas ucapan William. Ia masih menatap pria itu dengan tatapan meremehkan.


"Aku akan membunuhnya." jawab William dengan wajah serius dan seringai dibibirnya, ia sangat yakin sekali dia bisa membunuh Max.


"PFut...hahaha..." Liliana tertawa terpingkal-pingkal, hingga membuat William melongo heran.


"Kenapa kau tertawa sayang?" tanya William dengan suara kesal.


"KAU? Mau membunuh suamiku? Buahahahaha..."


Tawa Liliana membuat Wiliam semakin jengkel karenanya. Dia menatap tajam pada wanita yang perutnya buncit itu. Ya, Liliana memang sangat meremehkan William karena kata-katanya yang begitu sombong.


Liliana menatap perutnya yang buncit. "Nak? Katanya pria ini mau membunuh ayahmu? Menyentuh ayahmu pun, ibu tidak yakin kalau dia bisa."


"Kau berani meremehkanku? Lihat saja, aku akan membunuh pria yang kau cintai itu tepat didepanmu!" ancamnya pada Liliana, pria itu mendengus marah.


"Baiklah, sudah jangan bicarakan itu dulu. Tuan William, aku lapar...bayiku lapar,"


Liliana mulai terlihat lelah, dia lapar dan haus. Apalagi dia terbiasa makan dan minum tengah malam, nafsu makannya bertambah banyak.


"Kau lapar?" tanya William pada Liliana.


"Iya, bisakah kau memberikan ku makanan?"


"Aku bisa saja melakukannya, tapi--aku butuh ciuman. Cium aku dan kau akan mendapatkan makanan."


Kau masih saja cantik Ratu Liliana, bahkan ketika hamil besar pun...pesonamu masih tidak berkurang. Tak heran raja iblis medan perang itu amat tergila-gila padamu.


Wanita itu terbelalak mendengar ucapan William yang kurang ajar padanya. "Kau..."


"Kalau kau tidak mau, ya sudah...aku tidak akan memaksa. Terserah padamu kau mau makan atau--"


Cup!


Dengan cepat Liliana mengecup pipi William, dia menahan marah dan berpura-pura semanis mungkin di depan William. Sudah kepalang tanggung, dia akan menggunakan tipu muslihat agar William sedikit melonggarkan penjagaannya yang ketat padanya.


"Bisakah kau berikan aku makanan? Aku mohon...kau pasti tidak mau aku dan anakku kenapa-napa kan?" Rayu wanita itu pada William dengan wajah memelas.


Sungguh, aku benar-benar jijik padamu! Suamiku maafkan aku...maafkan aku karena sudah mencium pria lain. Ini darurat dan demi keselamatan.


Dalam hati Liliana memohon maaf pada Max karena dia merasa sudah mengkhianati suaminya itu karena sudah mencium William.


Disisi lain William tertegun, wajahnya tersipu malu, dia memegang pipinya yang baru saja dicium oleh wanita cantik itu. "Aku sudah tau bahwa kau memang ada rasa padaku. Baiklah sayang, mari kita makan dulu...kau harus sehat." ucap William, nampaknya dia sudah terperdaya oleh pesona dari Liliana dan menuruti semua perintah wanita hamil itu.


Akhirnya William dan rombongan yang menculik Liliana, berhenti di sebuah desa kecil yang sudah jauh dari perbatasan negeri Istvan. Tak terasa mentari sudah mulai terbit, pantas saja dia sangat lapar.


William mengajak Liliana turun dari kereta untuk makan di kedai yang ada di sana. "Ayo sayang, kita turun dan makan disana."

__ADS_1


"Hem...kau benar-benar tidak peka," ketus Liliana.


Jijik sekali, kenapa dia memanggilku sayang terus? Uh...rasanya aku mau muntah.


"Ada apa sayang?" tanya William yang melihat Liliana terdiam.


"Bagaimana bisa aku turun kalau kondisiku seperti ini? Katanya kau sayang padaku," ucap Liliana merajuk sekaligus merayu pria itu.


"Kenapa sayang?" tanyanya lembut.


"Tanganku terikat! Aku tidak bisa bergerak bebas, aku juga sedang hamil...apa kau tega padaku? Bukankah kita akan kabur bersama?" bujuk rayu Liliana padanya.


Matanya berbinar dengan ucapan Liliana. "Serius? Kau mau pergi bersamaku?"


Dia tersenyum bahagia dengan ucapan Lilliana, yang mau kabur dengannya. Ternyata ia masih menyimpan rasa pada Liliana.


"Iya, bukankah tadi kita sudah berbicara di dalam? Jadi, tolong lepaskan ikatan ini..." pintanya dengan akting mata berkaca-kaca.


Terimalah serangan akting dari wanita hamil ini, laki-laki brengsek.


"Baiklah sayang, kau tenang saja." William menganggukkan kepalanya. Dia pun melepaskan ikatan tali di tangan Liliana.


"Sakit sekali..."


"Sakit sayang? Oh maafkan aku!" William memegang tangan Liliana yang memerah karena tali itu. "Orang-orang itu beraninya mereka mengikatmu dengan keras begini. Aku akan menghukum mereka! Huh, padahal sudah kubilang untuk tidak mengikatmu keras-keras!" William meniup niup pergelangan tangan Liliana yang memerah. Pria itu terlihat sangat lembut pada Liliana, sebelum Liliana merayunya. "Maafkan aku ya, mari kita pergi ke kedai itu, obati lukamu dan makan makanan yang enak. Kau dan hatimu pasti lapar." sambungnya lagi perhatian.


Liliana mengangguk saja, dia pun berpendapat bahwa William sebenarnya orang yang baik, hanya saja dia salah jalan. Kehilangan gelar pangeran dan mendapatkan hukuman berat, membuatnya gelap mata.


William pergi bersama Liliana ke kedai makanan disana. Dia mengobati tangan Liliana yang terluka, lalu memberikan wanita itu makanan enak seperti janjinya. Disuguhkan makanan enak, tentu saja dia tidak sungkan. Ia langsung melahapnya dengan semangat. Na_fsu makannya besar karena dia tidak sendiri saja.


****


Di dalam perjalanan yang tak tau mau kemana, Max, Raja Lostier dan sebagian prajuritnya masih melakukan pencarian. Raja Lostier mengeluh, ia ingin buang air dan mengganti celananya yang basah.


Max tidak membolehkannya, dia tidak memberikan izin pada pria itu wajah hanya sekedar buang angin saja. Sontak saja Emmerson menjadi bahan tertawaan semua prajurit Max di sana.


Tak lama kemudian, Max mendapatkan kabar dari Blackey bahwa sebuah rombongan ada di desa yang cukup jauh dari perbatasan negeri Istvan, dekat hutan larangan.


"Ratu pasti ada disana," gumam Max sambil tersenyum. "Pangeran Eugene, mari kita pergi kesana!" titah Max pada Eugene.


"Ya yang mulia."


Max melihat secercah harapan, dia yakin istrinya berada di sana. Max dan rombongannya pergi ke tempat yang disebutkan oleh Blackey.


*****


Seperti ada telepati diantara Liliana dan Maximillian.


Liliana masih mengulur waktu di kedai itu, menunggu Max datang padanya. Berbagai tipu muslihat ia lakukan untuk menghambat waktu. Sampai pemilik kedai itu mengira Liliana dan William adalah pasangan suami istri.


Jijik, kesal, sebenarnya ia enggan merayu William meski hanya berakting. Akhirnya ia berhasil menemukan celah untuk kabur, ketika William dan pengawal pengawalnya sedang mengobrol.


"Bagus, mereka sedang asyik mengobrol. Ini kesempatanku untuk kabur."


Dengan membawa perut besarnya, ia keluar dari kamar mandi di kedai itu secara diam-diam dibantu oleh si pemilik kedai. Liliana mengatakan bahwa dia bukan istri William dan dia berada dalam penculikan, si pemilik kedai itu percaya pada Liliana.


Wanita itu berhasil kabur dari William, lewat pintu belakang. Dia sudah berhasil kabur lewat pintu belakang, Liliana berjalan berlainan arah dan di belakangnya adalah hutan larangan.


"Ah...ini kan hutan larangan, aku tidak boleh masuk ke dalam sana." Liliana melihat hutan lebat disana. Hutan yang memiliki aura hitam, dengan kabut dan tanaman merambat berukuran tidak biasa di sana.


Jantung Liliana seketika berdebar melihat hutan yang menyeramkan itu. Tiba-tiba saja dia merasakan gerakan di perutnya. "Auchhh...kenapa sayang? Apa kalian merasakan sesuatu di sini? Ya, ibu juga merasakannya, mari kita pergi dari sini."


Wanita itu balik badan, menurutnya lebih baik untuk kembali pada William daripada terjadi sesuatu yang tidak diinginkan jika dia berjalan terus kesana.


Hatinya tidak enak, suasananya pun berbeda. Baru saja Liliana melangkah menjauh dari sana, ada sepasang tangan dingin yang menahan tangannya dari belakang dan tepat saat itu juga, didepan Liliana ada William dan pengawalnya.


"Sayang...kau..."

__ADS_1


Mata William terbelalak melihat ada sosok menyeramkan di belakang Liliana.


...*****...


__ADS_2