Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 193. Lamaran untuk Liliana


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


"Kenapa anak itu harus mirip denganku? Bukan denganmu?" Tanya Liliana dengan tangan yang masih mengalung di leher Max.


"Aku ingin anak kita mirip denganmu, karena nanti dia akan imut dan cantik sepertimu."


"Haaahhh? Bukankah kalau lebih baik, jika nanti anak kita sama sepertimu?" Tanya Lilliana yang merasa bahwa anaknya kelak akan sangat tampan dan cantik, bila mewarisi gen ayahnya.


Secara, Max adalah pria tampan dengan hidung mancung, kulit putih bersih, memiliki mata berwarna hitam kelam, wajahnya tidak bisa diragukan lagi ke tampanannya.


"Tidak, kalau anak-anak kita mirip sepertiku...sikap mereka akan sangat dingin dan juga kadang tak tahu aturan." kata Max yang sudah membayangkan apabila ada anak seperti dirinya, yang menyebalkan, dingin dan apatis terhadap keadaan sekitar. Sedangkan dia, ingin mempunyai anak yang memiliki sikap seperti Liliana. Sikap yang hangat, lembut, ramah dan ceria.


"Ya, itu benar. Kau memang orang yang tak tahu aturan. Kau juga, sombong, sering menaikkan alis, kalau marah kau suka mengoceh tak jelas, ah ya...dan kau sangat menyebalkan!" Gadis itu mengatakan semua sikap Max yang jelek-jeleknya saja.


"Haaahhh...apa kau sedang mengejek ku?"


"Maxim, ini pujian." Liliana tersenyum lalu memeluk Max dengan penuh kasih sayang.


Keduanya jalan-jalan sampai tak terasa waktu sudah malam. Waktunya Liliana untuk segera kembali ke kerajaan Gallahan. "Maxim, aku harus kembali..."


"Ya, kalau begitu kembalilah." Kata pria itu dengan santainya.


Liliana melotot ke arah tangan Max yang masih memeluk dirinya dengan erat. Dia masih berada di pangkuan pria itu. "Bagaimana aku bisa pergi kalau kau terus memeluk ku seperti ini?" atensi wanita itu mengarah pada Max dengan tajam.


Max membalikkan tubuh gadis itu jadi berhadapan dengannya.


"Ah... sebenarnya aku tidak rela kau pergi seperti ini. Aku ingin disisimu setiap saat!" Gerutu pria itu sambil menenggelamkan wajahnya di pelukan Liliana.


Liliana mendorong Max menjauh darinya. "Tidak bisa, kita belum menikah. Dan masih ada gunung yang harus kau lewati."


"Haaahhh..." dessah pria itu menghela nafas berat. Rasanya tak rela jika ia membiarkan Liliana pergi ke Gallahan, inginnya gadis itu berada disisinya sepanjang waktu. Namun ia harus rela dan harus menempuh perjalanan terakhir untuk mendapatkan Liliana.


"Aku pergi ya, aku tunggu surat lamaran dari Raja Istvan. Akan ku perlakukan suratnya dengan spesial." Gadis itu mengedipkan sebelah matanya dengan genit dan membuat Max semakin gemas.


Tangan Max mencubit hidung Liliana. "Woah...dari mana kau belajar hal seperti itu? Liliana ku sekarang jadi centil ya?"


"Ish...sakit, lepaskan!" Liliana menepis tangan Max yang memegang hidungnya. Kening wanita itu berkerut, matanya memicing menatap Max.


"Ingat baik-baik, kau hanya boleh genit padaku saja. Tidak boleh para pria lain, paham?" Max memperingati gadis itu, lalu dia mendaratkan bibirnya di kening Liliana, dikecupnya lembut kening itu penuh kasih sayang.


"Tentu saja, aku hanya genit padamu saja." balas Liliana sembari tersenyum, kemudian dia berjinjit dan mengecup pipi pria itu. "Aku pergi, jaga dirimu baik-baik. Aku menunggumu."


"Iya, kau juga. Jaga dirimu baik-baik, tunggulah aku!" Max mengecup punggung tangan gadis itu.


"Yang mulia, mari kita kembali.." ucap Dorman yang sudah berada di sana.


"Kau harus menjaganya ya!" Max melotot pada Dorman, yang kini telah menjadi orang kepercayaan Liliana.


"Baik yang mulia Raja," Dorman senyum sembari menundukkan kepalanya dengan hormat.


Setelah itu Liliana, Dorman dan beberapa Ksatria yang dibawanya kembali ke kerajaan Gallahan dengan kapal laut tercepat. Max juga langsung kembali ke istana setelah pertemuannya dengan sang kekasih hatinya itu.


Sesampainya di istana dia malah mendapatkan kunjungan dari ibu suri, alias ibu tirinya. Wajahnya yang tadinya senang, mendadak berubah menjadi suram dengan mata yang tajam.


"Anda dari mana saja yang mulia Raja?" Tanya Freya dingin.


"Dari mana saya, bukan urusan anda yang mulia ibu suri." Max duduk di kursinya tanpa mempedulikan Freya yang masih berdiri di sana.


Freya mendecak dia merasa harga dirinya terluka karena tidak mendapatkan rasa hormat dari anak tirinya itu. "Yang mulia Raja, beginikah sikap anda kepada ibu anda?"


"Ibu? PFut..." ucapan Freya kontak saja membuat Max tertawa. Pengakuan Freya sebagai ibunya membuat Max mengejeknya.


"Kenapa kau malah tertawa? Aku sedang bicara denganmu, apa kau tidak tahu sopan santun?!" Tanya Freya dengan nada bicara sedikit membentak.


"Kau bilang, kau adalah ibuku? Tidak...tidak... kau jangan pernah mengatakan hal mengerikan seperti itu, kau bukanlah ibuku. Kau hanya istri dari ayahku." Max meralat semua ucapan Freya dengan sinisnya.

__ADS_1


Wanita paruh baya itu terlihat marah, alisnya terangkat, matanya menatap marah ke arah Max.


Sial! Anak ini, seharusnya aku tidak pernah menjadikannya seorang raja dengan mudah. Kalau saja aku punya anak laki-laki, Aku tidak akan pernah membiarkannya berdiri di atasku.


"Yang mulia Raja, memang benar aku adalah istri dari mendiang ayahmu, artinya aku juga adalah ibumu! Hormati aku dengan benar," ucap Freya tegas.


"Baik, aku akan menghormatimu sebagai istri dari ayahku tapi bukan sebagai ibuku. Jangan mengaku sebagai ibuku, kau tak layak." Mac tersenyum sinis pada Freya. Seperti sengaja memancing amarahnya.


"Sudahlah, jangan kau perpanjang masalah yang tidak penting ini. Aku kemari untuk mengatakan padamu, tolong tarik dekrit pernikahan untuk Laura."


"Maaf, aku tidak bisa." Max bicara pada Freya sambil membuka buka dokumen yang ada di atas mejanya.


"Kenapa kau melakukan semua ini? Kenapa kau menikahkan adikmu dengan seorang rakyat jelata?! Laura adalah putri dari kerajaan ini, dia adalah aset berharga..."


"Hem...siapa yang kau katakan sebagai rakyat jelata? Duke Eugene Ellenio Rhodes? Statusnya sudah ku angkat menjadi seorang Duke, dia cocok untuk Laura."


"Tapi--"


"Dan Laura juga setuju dengan pernikahan ini, jadi tidak ada alasan bagiku untuk melarangnya. Mereka suka sama suka," kata Max santai.


"Laura...apa dia sudah setuju untuk menikah dengannya?" Freya semakin terlihat marah manakala dia mendengar bahwa Laura juga setuju menikah dengan Eugene.


Max mendekati ke arah Freya yang masih berdiri mematung di sana dengan bingung."Ya. Dan ibu suri jangan lupa, aku adalah raja dari negeri ini. Tidak ada yang bisa menentang keputusanku yang sudah mutlak, sekalipun itu adalah dirimu."


Sial! Kalau begini caranya, aku tidak bisa membuat Laura menikah dengan pangeran dari kerajaan lain. Aku tidak sudi punya menantu seorang bawahan anak sombong ini.


"Aku mohon padamu, tolong batalkan dekritnya!" Kata Freya tegas.


"Ini sudah malam ibu suri, lebih baik anda beristirahat. Jaga kesehatanmu, jangan tidur larut."


Sakit, hati Freya. Diusir seperti itu oleh Max, dia mengepalkan tangannya dengan erat. Dia semakin tidak di hormati dan dihargai oleh anak tirinya. Seakan kekuatan dan otoritasnya di dalam kerajaan itu telah menghilang, karena kehadiran Raja baru itu.


Freya meninggalkan ruang kerja Raja dengan perasaan marah. Dia bahkan menendang pintu ruang kerja itu untuk melampiaskan amarahnya.


"Hah! Dasar anak sialan, beraninya dia menentangku secara terang-terangan seperti ini. Setelah dia menjadi raja, dia semakin sombong saja. Kalau saja, saat itu dia mati diterkam oleh iblis.... mungkin hidupku tidak akan seperti ini." Freya menggerutu kesal.


"Kita kembali ke istana ku!" Ujar Freya mendengus marah.


Keesokan harinya, istana geger dengan menghilangnya Alejandro dan kedua bawahannya dari penjara istana. Padahal mereka akan segera dihukum. Semua prajurit istana dikerahkan untuk mencari mereka bertiga. Ya, Max sudah tahu bahwa semua ini adalah ulah dari ratu alias Ibu suri. Dia memperkirakan semua ini, dan dia yakin bahwa mereka bertiga tidak akan pergi jauh.


Di tempat lain, Alejandro dan kedua bawahannya tengah melarikan diri ke sebuah hutan belantara karena prajurit kerajaan mengejar mereka sampai ke sana. Max sengaja mengarahkan Alejandro dan kedua bawahannya untuk pergi ke sana. Hutan belantara itu adalah hutan larangan, di mana hutan itu hanya dihuni oleh sekumpulan hewan buas. Lama kelamaan, mereka tidak akan bisa bertahan di sana dan lalu mati.


Max tidak mau berlama-lama memikirkan Alejandro yang kabur, dia hanya berfokus kepada surat lamaran untuk Liliana. Dia mendiskusikan masalah permaisuri kerajaan Istvan dengan para menteri bawahannya.


"Yang mulia, apa anda yakin ingin memilih putri dari kerajaan Gallahan sebagai permaisuri negeri ini?" Tanya seorang menteri pertahanan kerajaan. Pria paruh baya itu tampak ragu dengan pilihan yang diambil oleh rajanya.


"Ya, aku yakin." Max tidak banyak berbasa-basi, dia menjawab dengan singkat, padat, dan jelas.


Kemudian seorang pria paruh baya lainnya mengacungkan tangan. "Maafkan saya yang mulia, izinkan hamba untuk berbicara."


"Silahkan." Max menatap pria paruh baya itu dengan tajam, mempersilahkan dia untuk bicara.


"Yang mulia, saya mohon maaf bila saya lancang bertanya seperti ini. Saya bertanya demi kebaikan negeri ini juga."


"Lanjutkan!"


"Yang mulia, seorang permaisuri harus memiliki darah bangsawan dan benar-benar harus memiliki pengetahuan tentang kerajaan. Namun dari yang saya dengar, putri Liliana tidak memiliki semua itu."


"Hem... penjelasanmu sangat logis tuan Cedric. Itu semua memang benar, akan tetapi jika dia bisa lebih dari ekspetasi kalian, bagaimana?"


Semua menteri saling melirik satu sama lain, mereka masih mencerna apa yang dikatakan oleh Max. "Baiklah, aku akan ulangi lagi pertanyaanku. Ralat, bukan pertanyaan...tapi tantangan!"


Para menteri mengalihkan atensi mereka dengan tajam ke arah sang raja yang tengah duduk di singgasana. "Tantangan apa yang mulia?" Tanya seorang menteri memberanikan diri.


"Jika putri Liliana bisa menjadi seperti yang kalian inginkan, kalian tidak boleh mengatakan bagaimana statusnya. Kalian harus menerima Putri Liliana sebagai permaisuriku. Kalian bisa percaya padaku, bahwa pilihanku tidak salah."

__ADS_1


Liliana adalah mantan Putri mahkota di kehidupan sebelumnya, tentu saja dia sangat menguasai bagaimana perannya itu. Mereka tidak akan bisa meremehkan Liliana.


"Baiklah yang mulia, kami akan mencoba mempercayai pilihan yang mulia."


Setelah selesai rapat tentang permaisuri itu, Max mendapatkan kepercayaan dari para menterinya untuk mengirimkan surat lamaran kepada Liliana. Pada saat itu juga, Max langsung menyerahkan surat lamaran itu lewat Gustaf, orang kepercayaan mendiang raja.


Dalam satu hari, surat lamaran itu sampai di kerajaan Gallahan. Ibu suri dan orang-orangnya memeriksa surat-surat lamaran yang datang kepada Liliana. Dari mereka, Ibu suri memilih kandidat terbaik. Dari mulai segi wajah, status dan kedudukan. Tentu saja Max telah menang segalanya dari semua kandidat yang lainnya.


Namun Ibu suri penasaran dengan dalamnya cinta antara Max dan Liliana. "Yang mulia, apa benar tidak apa-apa seperti ini?" Tanya Dorothy, pelayan setia ibu suri.


"Hahaha...bukankah ini menyenangkan? Aku akan sedikit bermain-main dengan kisah cinta mereka. Tapi kau tenang saya Dorothy, aku tidak akan berlebihan karena pada akhirnya, kita sudah tahu siapa pemenangnya."


"Haahhhh...baiklah yang mulia."


Dorothy hanya menghela nafas, dia sudah tahu bahwa sebenarnya niat Ibu suri memang sudah bulat untuk menikahkan Liliana dan Max. Namun Ibu suri sengaja mengadakan seleksi jodoh untuk Liliana, dia menganggap bahwa hal ini menyenangkan, sekalian ingin melihat dan menguji cinta mereka.


"Dorothy, siapkan pena dan juga kertas. Aku akan menuliskan surat untuk para kandidat..." Ibu suri tersenyum dengan semangat. Tak sabar ia menantikan drama kecemburuan, kesetiaan, dan persaingan cinta yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.


Mungkin ini akan seperti hiburan untuk dirinya.


Segera setelah itu, semua kandidat yang akan menjadi suami Liliana mendapatkan surat dari ibu suri, termasuk Max. Dia mendapatkan perintah untuk datang ke kerajaan Gallahan dan selama satu minggu itu dia harus menetap di sana untuk mengikuti proses seleksi.


Tentu saja, para menteri yang mendengar hal ini memberontak tidak setuju. Lantaran, Raja tidak boleh meninggalkan kerajaannya apalagi dalam waktu 1 minggu. "Yang mulia! ini benar-benar tidak masuk akal!"


"Ya yang mulia, mana bisa anda yang seorang raja ini ditugaskan untuk menatap satu minggu di sana. Apa dikiranya yang mulia tidak punya pekerjaan?"


"Itu benar, yang mulia adalah raja dari negeri ini. Apa jadinya negeri ini tanpa kehadiran yang mulia?!" protes para bangsawan kepada keputusan Max untuk pergi meninggalkan kerajaannya dan pergi ke kerajaan kekasihnya.


Max diterpa kebingungan, dia merasa bahwa semua ini telah direncanakan oleh seseorang. Bahkan menikahi seorang putri saja sangat sulit, ah tidak! Dulu saat dia menikahi Liliana, dia juga pernah mendapatkan penolakan tegas dari Duke Geraldine selaku ayahnya.


Akhirnya Max merencanakan sesuatu yang agak berbahaya. Dia bicara dengan Eugene dan Brieta di ruangannya.


"Yang mulia? Apa Anda benar-benar yakin dengan keputusan anda ini?" Tanya Brieta dengan kening berkerut.


Max menganggukan kepalanya dengan yakin tanpa ada keraguan sedikitpun. "Ya, aku yakin."


Eugene terlihat tidak senang dengan keputusan Max. "Yang mulia..hamba tidak--"


"Ssstt... ini hanya satu minggu saja, aku mohon padamu. Setelah ini aku akan langsung menikahkanmu dengan Laura." Kata Max seraya memohon kepada pria itu, ini adalah pertama kalinya dia memohon kepada seseorang.


"Yang mulia...tapi saya takut tidak bisa!"


"Tidak ada bantahan, Eugene! Setelah ini kau akan mendapatkan hadiah yang paling indah dariku, hadiah untuk pernikahan kalian tentunya." Max menepuk Eugene sambil tersenyum.


Setelah Eugene setuju dengan permintaan Max, akhirnya Brieta memberikan sebuah ramuan kepada Eugene. Ramuan itu sudah dicampur dengan darah dan juga sehelai rambut Max.


"Iuhh....apa ini?!" Eugene menutup hidungnya.


"Minum saja dan setelah ini masalah selesai!" Brieta tersenyum.


Eugene terlihat ragu untuk meminum ramuan aneh itu, dia mencium bau-bau aneh dari ramuannya. Dia menelan saliva, kemudian langsung meneguknya dalam sekali tegukkan.


"Uweeekkk...."


Rasanya seperti kotoran hidung, sial!


"Hey! Jangan berani kau memuntahkan ramuan itu!" ujar Max pada Eugene.


Eugene menelan ramuan itu dengan susah payah, meski dia ingin muntah. Tak lama kemudian, terlihat cahaya hijau dari tubuh Eugene.


Tak lama setelah itu, Eugene berubah wajahnya persis seperti Max. "Haha... Brieta terima kasih, aku akan berikan apapun yang kau mau. Tapi, sekarang aku harus mengejar cinta dulu!" Max tersenyum senang, kini ada yang menggantikan pekerjaannya di istana. Dan selama itu dia akan pergi untuk meraih cintanya.


"Yang mulia,suara saya..." Eugene terkejut, manakala dia mendengar suaranya sendiri yang mirip dengan suara Max.


"Ya baguslah, tidak akan ada yang curiga bahwa kau bukanlah aku. Lakukanlah pekerjaanmu dengan baik, aku akan pergi dari sini. Sampai jumpa satu Minggu lagi.."

__ADS_1


...*****...


Hai Readers! Besok pengumuman pemenang GA ya..jangan lupa 😍😍😘


__ADS_2