
Mengapa kata-kata yang diucapkannya begitu familiar? Itu seperti...
Liliana terhenyak, diam didalam pelukan Max.
"Kumohon jangan melakukan semuanya sendiri. Kau bisa meminta bantuan orang lain... bahkan jika kau meminta dunia ini, aku akan berusaha untuk memberikannya padamu," ucap Max dengan ketulusan hatinya. Dia ingin menjadi tempat Liliana untuk bersandar.
Terimakasih, karena kata-kata mu saat itu.. aku menjadi lebih kuat dan semangat. Adaire...
"Apa yang kau bicarakan?" Liliana melepaskan diri dari pelukan Max, dia mendorong pria itu menjauh darinya. "Apa kau bicara ngawur karena sedang sakit? Lihatlah, wajahmu masih merah merah! Aku pikir kau pergi untuk mengobati dirimu, lalu kau pergi kemana?" gadis itu mengomeli Max yang pergi begitu saja dari sana.
Dia jadi berfikir yang bukan-bukan karena sedang sakit. Apa juga yang aku pikirkan? Dia bukanlah anak itu.
Max menatap Liliana dengan mata yang berkaca-kaca, dia masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Brieta. Bahwa didalam tubuh Liliana ada jiwa Adaire, gadis kecil yang dulu pernah menyemangati dirinya. Max melihat apa yang dibawa Liliana, dia memutuskan untuk pura-pura tidak tahu dan melindungi Liliana dari belakang. Jika dia menawarkan bantuan secara langsung, sudah pasti Liliana akan menolaknya.
"Apa yang kau bawa?" tanya Max sambil menatap bungkusan yang dibawa Liliana.
"Aku membawa salep dan obat untukmu, tabib mengatakan padaku.. kalau alerginya cukup parah, kau harus diperiksa."
"Jadi, tadi kau pergi begitu saja untuk membeli ini?" Max terperangah.
Liliana mengangguk, "Iya, Eugene..aku minta maaf ya, karena aku tidak tahu kalau kau alergi pedas," ucap gadis itu merasa bersalah.
"Tidak, ini bukan salahmu. Aku sendiri yang mau memakannya dan aku juga tidak bilang kalau aku alergi," Max tersenyum tipis, dia merasa tidak keberatan sama sekali.
Ternyata kau adalah dia.
"Tumben kau tidak marah padaku? Seharusnya kau marah padaku, aku sudah keterlaluan padamu. Tetap saja aku merasa bersalah dan aku harus meminta maaf padamu, maaf ya Eugene.." ucap nya merasa bersalah.
Ini aneh, kenapa dia tidak marah dan menganggap kesalahanku seolah adalah hal yang sepele?
"Sudahlah, jangan maaf maaf terus. Katanya kau mau mengobati ku?" tanya Max sambil tersenyum ramah.
"Melihatmu tersenyum ramah seperti itu, aku jadi takut.. apa kau memiliki niat lain untuk membalas ku?" tanya Liliana dengan memasang wajah waspada.
"Kenapa kau selalu berfikiran buruk pada orang lain? Ayo, kita duduk disana!" Max mengajak Liliana untuk duduk di kursi dekat pohon.
"Iyaahhh.."
__ADS_1
Liliana berjalan, tiba-tiba saja tubuhnya ambruk tak terkendali. Max buru-buru menangkap tubuhnya itu. "Kau kenapa?" tanya Max cemas.
"Eh.. aku tidak apa-apa," Liliana memegang lututnya.
"Tidak apa-apa bagaimana? Dimana yang sakit? Kakimu?" tanya Max cemas, tangannya masih menopang tubuh Liliana.
"Ah.. tidak apa-apa, kakiku hanya sedikit lemas."
"Kenapa bisa lemas?" tanya Max khawatir.
"Mungkin karena tadi aku berlari kesana kemari, jadi kakiku lemas. Tapi, aku tidak apa-apa!" Liliana menggelengkan kepala, berkata dia baik-baik saja.
"Jangan selalu bilang kau tidak apa-apa," wajah Max muram, dia menundukkan kepala.
"Kau bilang apa?" tanya Liliana tak mendengar jelas apa yang dikatakan oleh Max.
"Jangan bilang tidak apa-apa padahal kau memang sakit dan kau terluka! Pada akhirnya kau akan selalu memendam perasaanmu, kau menangis sendiri, terluka sendiri, hatimu akan sedih! Aku tidak suka!" ucap pria itu dengan suara yang sedikit membentak.
"Ada apa denganmu? Kenapa kau menjadi aneh seperti ini? Aku hanya lemas, aku benaran baik-baik saja!" kata Liliana heran karena Max menjadi aneh setelah kepergiannya itu.
"Tapi aku bahkan belum mengobati mu," ucap Liliana.
"Tidak perlu di obati, aku baik-baik saja sama sepertimu yang baik-baik saja," ucap Max dengan nada sarkas seolah membalikkan apa yang dikatakan Liliana padanya.
"Hey! Kau ini kenapa?" Liliana mendesah kesal melihat sikap Max yang berubah. Dia yang selalu bercanda pada Liliana, tiba-tiba saja berubah menjadi serius.
Max kembali mengantar Liliana ke rumahnya. Max pergi dengan kesal. Liliana tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya dan apa yang membuat pria itu marah. "Aku salah apa? Kenapa dia jadi mengatakan hal hal yang aneh dan tiba-tiba marah?" gumamnya tidak paham.
...*****...
Beberapa pelayan di mansion itu berada di kamar Liliana. Mereka menggeledah kamarnya, disana juga ada Adara. "Ada apa ini nona Adara?" tanya Liliana tidak mengerti apa yang dilakukan para pelayan dengan menggeledah kamarnya.
"Nona, saya sudah menghentikan mereka! Tapi mereka tetap menerobos masuk ke dalam kamar dan menggeledah kamar nona," Daisy menghampiri Liliana dengan wajah yang terluka dan rambut yang acak-acakan. Daisy mengadu pada nona nya.
"Daisy? Apa yang terjadi padamu?" tanya Liliana berfokus pada wajah Daisy yang terluka, seperti bekas cakaran. "Nona Adara! Bisa kau jelaskan kenapa kau melakukan semua ini?" tanya Liliana sambil menatap tajam ke arah Adara dengan marah.
"Oh.. tidak apa-apa, hanya saja kalung berlian merah milik mendiang kakak ku menghilang," jawab Adara dengan suara ketus.
__ADS_1
Gadis itu tersentak kaget mendengar kalungnya menghilang, pasalnya kalung itu adalah kalung berlian merah itu adalah peninggalan ibunya. "Hi-hilang?" Liliana terpana dan menjadi panik. Dia masih melihat para pelayan itu menggeledah kamarnya.
"Iya, aku pikir kalung itu dicuri. Mungkin saja kau pencurinya," ucap Adara tanpa basa-basi langsung menuduh Liliana.
Liliana mengepalkan tangan dengan gemas, dia menebak bahwa ini adalah ulah Adara yang ingin menjebak dirinya. Dia kesal karena Adara menggunakan kalung peninggalan ibunya untuk menjebaknya.
Adara, kau sangat keterlaluan! Pasti kau sudah menaruh kalung itu di dalam kamarku untuk menuduhku?
Liliana susah bisa membaca pikiran dan rencana licik Adara untuk membalasnya.
"Nona Liliana tidak mencuri!" kata Daisy membela Liliana.
Plakkkk
Adara melayangkan tamparannya para Daisy. Hingga wanita paruh baya itu jatuh tersungkur ke lantai.
"Beraninya seorang pelayan rendahan seperti mu berteriak kepadaku!" Adara menatap Daisy dengan jijik.
Liliana membantu Daisy berdiri, "Maaf, tapi saya tidak pernah mencuri kalung itu,"
"Oh begitukah? Mari kita lihat saja,kau pencuri atau bukan? Karena kau adalah orang asing disini," Adara menyilangkan tangannya di dada dengan angkuh, dia juga menunjukkan otoritasnya sebagai anak kandung Duke Geraldine.
Wanita j*l*ng! Aku akan menunjukkan siapa dirimu dan siapa aku di rumah ini.
"Hentikan semua ini! Kalian tidak boleh menggeledah kamarku seenaknya!" Teriak Liliana pada para pelayan yang menggeledah kamarnya dengan marah.
Seorang pelayan menghampiri Adara sambil membawa kalung berlian merah itu, "Nona! Apa ini kalungnya?"
"Benar, ini kalungnya! Pengawal cepat kalian tangkap pencuri ini dan seret dia ke dalam penjara!" ujar Adara kepada pengawal di rumahnya.
Ini balasanku untukmu wahai wanita j*lang!
Semua orang disana langsung menatap tajam ke arah Liliana.
...----****----...
Hai Readers! Jangan lupa dong komen dan like nya untuk dukung author 🤗 makasih juga ya buat yang kasih gift dan vote nya ❤️❤️😍 author mau up lagi nih, tapi komen dulu ya hihi
__ADS_1