
...🍁🍁🍁...
"Cemburu? Siapa yang cemburu?" Liliana memalingkan wajahnya lagi.
"Siapa ya yang cemburu? Bukankah kau yang paling tau?" Tanya Max seraya menggoda wanita itu.
Liliana menyergah pertanyaan Max, "Aku tidak!"
"Aku tidak bilang kau yang cemburu, kenapa kau marah? Apa kau memang merasa cemburu?" Max mendekati Liliana sambil tersenyum.
Aku cemburu? Kenapa aku cemburu? Karena apa aku cemburu?
"Yang mulia, tolong jangan ganggu saya! Pergilah!"
Entah karena malu atau marah, Liliana mengusir Max lagi dari sana. Max juga tidak tahu malu, dia terus menganggu wanita yang wajahnya memerah itu.
"Lily, sebenarnya alasan kamu marah besar padaku adalah masalah pertunangan yang diumumkan Baginda Raja, kan?"
"Tidak! Bu-bukan,"
Mendengar suara gelagapan dari wanita cantik itu, membuat Max semakin tertantang untuk menggodanya dan memancing Liliana agar mau bicara dengannya. "Benarkah? Jadi kau marah karena aku berbohong kepadamu tentang identitasku?"
"Iya," jawab Liliana singkat.
Semoga saja dia cepat pergi dari sini, aku tidak bisa melihat wajahnya lagi.
"Sayangnya aku belum cepat-cepat mau pergi dari sini," ucap Max sambil tersenyum menjawab.
Liliana melotot ke arah Max dengan pandangan bertanya-tanya. Lagi-lagi kata hatinya berbicara, "Apa dia membaca pikiranku?"
"Aku tidak bisa membaca pikiranmu, tapi aku tau melalui sorot matamu!" Max menatap wanita itu sambil tersenyum.
"Yang mulia!" Seru Liliana kesal, bibirnya mengerucut. Keningnya berkerut, dia seperti akan menangis.
"Hahaha, baiklah baiklah.. rasanya sudah cukup aku menggoda mu," Max tertawa kecil, dia puas sudah menggoda Liliana habis-habisan.
Max menunjukkan jarinya pada Liliana. "Apa yang anda lakukan yang mulia?" Liliana terheran-heran.
"Lihatlah, tidak terpasang cincin di jariku,'' ucap putra mahkota kerajaan Istvan itu sambil menunjukkan jarinya yang kosong tanpa ada benda yang terpasang disana.
__ADS_1
Benar-benar tidak ada cincin disana. Jadi dia tidak bertunangan dengan nona Julia? Tapi kenapa aku peduli?
"Lalu?" Wanita itu mendongak.
"Aku tidak bertunangan," jawab Max sambil tersenyum.
"Oh begitu ya? Lalu apa urusannya dengan saya?" tanya Liliana dengan sikap jaim dan tangan menyilang didada.
Ingat Liliana, kau tidak cemburu. Kau tidak mungkin cemburu. Tapi kenapa aku senang mendengarnya tidak bertunangan?
"Astaga! Kau adalah wanita yang sangat keras kepala, tapi aku tetap menyukaimu."
"Jangan mengucapkan kata gombalan itu pada seorang wanita, mereka bisa salah paham jika mendengarnya. Mungkin ada beberapa dari mereka yang akan terbawa perasaan karena ucapan yang mulia," tegur Liliana pada Max.
"Bahkan ucapan serius pun, kau anggap sebagai gombalan. Dengarkan aku Liliana, aku menyukaimu dan kau adalah wanitaku!"
"Bukan, saya bukan wanita yang mulia. Saya adalah saya sendiri," ucap gadis itu cuek sambil buang muka.
Max semakin gereget melihat Liliana marah seperti ini. Namun disisi lain dia juga tidak tenang karena Liliana marah dan menangis karena dirinya.
Sepertinya semuanya tidak akan selesai hari ini. Dia tidak akan mendengarkan penjelasan ku.
Aku tidak akan menyerah, aku akan menjadikan Liliana putri mahkota negeri ini. Dia adalah satu-satunya wanitaku, wanita Maximilian Gallan Istvan.
Liliana terdiam, dia mulai tersentuh dengan ucapan lembut yang meluncur dari pria itu. Entah dia sungguhan atau tidak, Liliana merasa kalau Max sedikit tulus padanya.
Max mengecup lembut kening Liliana tanpa permisi, kemudian dia berpamitan pada Liliana. "Tunggu yang mulia!"
Max yang baru saja mau keluar dari jendela, kembali membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah Liliana. "Apa? Apa kau sudah memutuskan untuk memaafkanku?" tanyanya dengan mata berbinar-binar.
"Belum. Saya hanya ingin bertanya, dibalik kebohongan yang mulia selama ini pada saya.. apa perasaan yang mulia juga kebohongan?" Tanya Liliana dengan pandangan tajam mengarah pada Max.
"Tidak, aku serius tentang itu. Aku akan membuktikannya padamu besok, tunggu saja!" Max tiba-tiba tersenyum licik.
Entah apa yang dia pikirkan didalam kepalanya.
Liliana tidak bertanya lagi, karena hal yang ingin dia tanyakan sudah terjawab. Dia membiarkan Max pergi begitu saja.
Beberapa detik setelah Max pergi dari sana, Liliana langsung duduk di atas ranjang sambil memegang keningnya. Wajahnya yang tadi cuek dan dingin, langsung tersipu malu. "Kenapa dia selalu saja menggoda orang lain? Lalu apa yang akan dia lakukan besok?" gumam Liliana, sebenarnya menantikan apa yang akan dilakukan Max besok.
__ADS_1
...******...
Max kembali ke istana dengan menunggangi kudanya, dia agak sedikit tenang karena sudah bicara dengan Liliana walau belum tuntas semuanya. Apalagi saat dia tau kalau wanita itu marah karena cemburu, hatinya semakin bahagia.
Sesampainya di istana, dia bertemu dengan Duke Norton dan putrinya yang baru akan keluar dari istana. "Salam kepada yang mulia putra mahkota," ucap Julia dan Duke Norton seraya memberi hormat pada Max.
Max tidak menjawab dan hanya menunjukkan ekspresi dingin. Dia pun masuk ke dalam istana begitu saja mengabaikan mereka.
"Kalau dia bukan putra mahkota, aku tidak akan mau dia menjadi menantuku," gerutu Duke Norton.
"Ayah jangan bicara seperti itu pada yang mulia," ucap Julia pada ayahnya. Matanya menatap Max yang baru saja masuk ke dalam istana dengan tatapan terpesona.
"Julia, apa kau benar-benar menyukainya?" tanya Duke Norton pada putrinya.
Julia tidak menjawab, dia hanya tersenyum manis. "Yang mulia putra mahkota sangat tampan, hatiku berdebar karenanya. Aku harus mendapatkannya,"
"Ayah, kau harus tetap membuatku menjadi putri mahkota!"
"Tenang saja, Baginda ratu ada di pihak kita. Dia pasti membantu kita mendapatkan kursi putri mahkota untukmu, mau berapapun calon putri mahkota di negeri ini. Kaulah pada akhirnya yang akan menjadi Ratu," Kata Duke Norton percaya diri.
"Baguslah ayah," Julia menghela napas, dia tersenyum senang.
Apapun yang aku inginkan harus aku dapatkan.
*****
Malam itu Max langsung menemui Duke Geraldine yang sedang mendengarkan hasil pemeriksaan jenazah Adaire di ruang kesehatan istana. Disanalah Duke Geraldine menemukan kebenaran bahwa Adaire ditusuk dan diracun.
Maka dugaan kuat pun mengarah pada Arsen, Adara beserta awal kapal yang ada bersama Adaire saat itu. Mereka yang tadinya berstatus sebagai saksi, berubah status menjadi orang yang dicurigai.
"Yang mulia putra mahkota saya sangat berterimakasih atas bantuan yang mulia yang sudah mengerahkan pasukan istana untuk membantu penemuan mayat putri saya. Juga mengungkapkan kenyataan ini," ucap Duke Geraldine sangat berterimakasih pada Max.
"Tidak perlu berterimakasih padaku, mendiang putrimu pernah menolongku dimasa lalu dan susah seharusnya aku melakukan ini," ucap Max.
Jadi kau benar-benar dibunuh Adaire? Sepertinya aku harus menunda dulu rencana ku dan membereskan semuanya satu-satu.
...----****----...
Hai Readers! terimakasih bantuan vote dan gift nya, besok dilanjutkan lagi ya🥰🥰 selamat berbuka puasa dan jangan lupa terawih, bagi yang menjalankannya 🥰
__ADS_1