
Liliana terkejut dengan undangan khusus calon putri mahkota yang dia terima dari Ratu. Padahal dia tidak pernah berniat sekalipun untuk menjadi putri mahkota, dia hanya ingin hubungan yang murni dengan urutan yang normal tanpa harus terjun ke dunia politik dan penuh intrik.
Aku tidak punya kualifikasi apapun untuk menjadi calon putri mahkota, dengan identitasku sebagai Liliana.. aku hanya seorang anak angkat. Bagaimana bisa Ratu mengirimkan ini padaku? Apa Maximilian yang melakukannya?
Liliana teringat mendiang ibunya pernah mengatakan bahwa berhubungan dengan orang istana tidak akan baik. Segera setelah menerima undangan dari istana Ratu, Liliana pergi ke kantor pemerintahan istana untuk bertemu dengan ayahnya dan membicarakan hal ini.
Beberapa menit kemudian setelah perjalanan menggunakan kereta kuda. Liliana sampai di kantor tempat ayahnya bekerja. Dia melihat beberapa orang disana sedang sibuk dengan tugas mereka masing-masing.
"Maaf nona, anda mau mencari siapa?" tanya seorang pria dengan pakaian rapi dan kulit putih bersih. Pria itu bicara dengan suara ramah.
"Maafkan saya, kehadiran saya telah menganggu tuan. Saya ingin menemui yang mulia Duke Geraldine," ucap Liliana sambil menundukkan kepalanya dengan sopan didepan bangsawan itu.
"Tidak nona! Anda tidak menganggu sama sekali. Jadi nona ingin bertemu yang mulia Duke? Mari ikuti saya, yang mulia Duke berada di gedung lain," ucap pria itu ramah.
Dia mengantarkan Liliana pergi ke gedung tempat Duke Geraldine berada. Liliana sangat berterima kasih kepada pria itu, karena sudah menunjukkan jalan padanya.
"Salam ayah, selamat siang!" ucap Liliana menyapa sang ayah yang sedang duduk di kursi.
"Siang Lily.. kenapa kau ada disini? Apa ada sesuatu yang mendesak?" tanya Duke Geraldine sambil beranjak dari tempat duduknya. Dia menghampiri Liliana yang membawa sepucuk surat ditangannya.
"Iya ayah, ada hal mendesak. Dan aku membutuhkan ayah untuk memutuskannya," ucap Liliana dengan tatapan yang dalam.
"Baik Lily.. duduklah dulu!" ujarnya pada Liliana.
"Terimakasih ayah dan maafkan aku karena aku datang kemari tanpa pemberitahuan," ucap Liliana, kemudian dia duduk di kursi.
"Kalau ini mendesak, kau tidak perlu meminta maaf." Duke Geraldine tersenyum hangat.
Tidak pernah Liliana/Adaire merasa sedekat ini dengan ayahnya di masa lalu. Setelah semua badai, Liliana bisa dekat dengan Duke Geraldine. Apalagi setelah masalah Adara dan Arsen.
Liliana langsung menunjukkan surat dari istana pada Duke Geraldine. Pria paruh baya itu melihatnya, dia tercengang. "Apa kau mengenal Baginda Ratu?" tanya Duke Geraldine dengan mata yang melebar menatap Liliana yang duduk berhadapan dengannya
"Ti-tidak ayah.." jawab Liliana tergagap.
Memang aku mengenal putri Laura dan putra mahkota, tapi aku tidak mengenal ratu.
"Lalu kenapa undangan ini.." Duke Geraldine menatap undangan cap Ratu itu dengan tajam
Tidak boleh... Lily tidak boleh terlibat dengan keluarga kerajaan. Hidupnya akan berat disana walaupun dia hanya calon putri mahkota, apalagi dia berasal dari kalangan bawah. Dia pasti akan terkejut. Apa tujuan Baginda Ratu melakukan ini?
"Ayah? Apa ayah baik-baik saja?" tanya Liliana keheranan melihat sang ayah yang melamun.
"Ah ya?" Duke Geraldine kembali menatap Liliana.
"Ayah, aku harus bagaimana? Bukankah ini adalah titah?" tanya Liliana.
"Benar ini adalah titah yang turun langsung dari Baginda Ratu, kau tidak akan bisa menolaknya. Penolakan terhadap keluarga kerajaan sama saja dengan pembangkangan," jelas Duke Geraldine.
"Jadi aku tidak bisa menolaknya ayah?" Liliana pura-pura tak tahu.
Ya, aku juga tau itu. Tapi aku harus menunjukkan bahwa aku berasal dari kalangan bawah, agar ayah tidak curiga dengan identitasku.
"Benar, tapi kau tenang saja. Ayah akan bicara dengan Baginda raja dan Ratu, untuk sementara itu datanglah ke istana sesuai yang tertera disurat ini. Jangan lakukan hal apapun yang mengundang perhatian, masuk ke istana bukanlah hal yang menyenangkan Lily," ucap Duke Geraldine dengan kening berkerut.
"Iya ayah, jadi apa yang harus aku lakukan?" tanya Liliana.
"Pergilah bersama Daisy ke istana, hari ini kau harus belajar pengetahuan dasar tentang istana bersama Jackson tentang istana!" seru Duke Geraldine.
"Ba-baiklah ayah.."
Pada akhirnya aku tetap akan pergi ke istana. Liliana menghela napas.
Sepulang dari sana, Liliana langsung diberikan pelajaran dasar tentang aturan istana oleh Jackson. Dalam keresahan hati, dia memikirkan Max.
*****
Max sendiri sedang sibuk dengan urusan negara, dia yang selalu sibuk berperang. Kali ini dia harus berurusan dengan dokumen yang menumpuk.
"Astaga! Kapan ini akan berakhir? Ini benar-benar membuatku mual!" Max seperti akan muntah melihat tumpukan dokumen itu. Lebih baik baginya berada di Medan perang daripada berhadapan dengan dokumen yang menumpuk.
"Yang mulia, anda harus menyelesaikan semuanya hari ini.." Pierre mengawalnya untuk menyelesaikan dokumen negara.
"Apa? Sebanyak ini? Pierre apa kau ingin membunuhku?" tanya Max kesal. "Kenapa tidak pergi perang saja?" tanya nya lagi.
"Yang mulia, anda adalah calon raja negeri ini dan yang mulia tidak selalu pergi berperang, ada tugas lainnya yang harus dijalankan juga.." ucap Pierre menasehati.
__ADS_1
"Haahhhh.. lebih baik memenggal kepala seseorang daripada melakukan semua ini," Max gusar.
Aku rindu Lily, apa yang sedang dia lakukan ya? Haruskah aku mengirimkan dia surat?
Baru saja Max memikirkan wanita yang dia cintai, kedatangan Eugene membawa berita yang menyangkut tentang Liliana. Eugene mengatakan bahwa Raja dan Ratu sudah menentukan calon putri mahkota, bahkan mengirimkan surat undangan kepada para calonnya.
"Nona Liliana ada didalam daftarnya," ucap Eugene.
Max tercengang mendengar ucapan Eugene. Entah dia harus senang atau khawatir dengan berita ini. Max malah curiga apa maksudnya Ratu memasukkan nama Liliana di dalamnya. Apa dia tau bahwa Liliana dekat dengan dirinya?
"Kenapa bisa? Pierre...apa aku bisa-"
"Maafkan saya yang mulia, anda belum bisa pergi sebelum menyelesaikan semua dokumen ini, saya akan memeriksa setiap detailnya."
"AH!! Sial!" putra mahkota kerajaan Istvan itu mendesah kesal.
"Yang mulia, anda dilarang mengumpat!" Pierre mengingatkan Max dengan tegas, bahwa dia tidak boleh mengumpat.
"Baiklah.. baiklah...aku akan selesaikan ini lalu pergi," ucap Max sambil menahan kesal.
Max tidak bisa pergi darisana sebelum pekerjaannya selesai, akhirnya dia menulis surat untuk Liliana. Eugene lah yang bertugas menyampaikan surat itu.
"Sampaikan surat ini padanya," ucap Max pada Eugene sambil menyerahkan sepucuk surat pada Eugene.
"Baiklah yang mulia, hamba siap melaksanakan perintah!"
"Maaf, yang mulia.. anda bisa mengirim blackey untuk mengirim suratnya. Tapi mengapa anda mengirimkan surat lewat sir Eugene, bukankah itu akan terlihat?"
"Haha.. apa kau bodoh Pierre? Kalau mereka ingin melihatnya, maka biarkan mereka melihatnya. Malah itu lebih bagus," ucap Max sambil tersenyum menyeringai. "Pergilah Eugene!"
"Baik yang mulia," Eugene membungkukkan setengah badannya. Kemudian dia melangkah pergi darisana.
Eugene berjalan di lorong, dia merasa seseorang sedang memperhatikannya. Eugene hanya tersenyum, dia seperti sudah tau siapa yang mengikutinya.
Di tengah perjalanan menuju keluar istana, Eugene melihat putri Laura sedang berjalan ditaman bunga bersama Annie, pelayannya. Laura sedang menyiram bunga-bunga disana.
"Yang mulia, biar saya saja yang menyiramnya." kata Annie. "Jika Baginda ratu melihat ini, apa yang akan Baginda ratu katakan? Tolong yang mulia..jangan begini.."pinta Annie pada Laura untuk menghentikan aktivitasnya.
"Ibuku tidak akan tau kalau kau tidak bicara padanya. Kau tidak usah membantuku menyiram bunga ini, kau bantu aku saja menanam tanaman yang lain," ucap Laura sambil tersenyum cerah.
Putri Laura adalah gadis tercantik yang pernah aku temui dalam hidup ini. Tapi, aku tidak bisa memilikimu. Dan kita tidak mungkin bisa bersama.
Laura merasakan ada seseorang orang menatapnya, dia menghentikan aktivitasnya menyiram bunga. Dia melirik ke sebelah kiri tepat di lorong istana, dia melihat sosok pria kekar bertubuh tegap dengan rambut pirangnya yang tampak menawan. Dia adalah Eugene, ketua kstaria black knight yang kini berstatus sebagai pengawal putra mahkota.
Kedua mata mereka saling bertemu dan menatap, tak lama kemudian Eugene langsung memalingkan wajahnya. Dia bergegas pergi, menghindari tatapan Laura.
"Sir Eugene!" Laura memanggil Eugene dengan gelarnya. Hal itu membuat Eugene tak bisa mengelak atau menghindar.
Eugene menghentikan langkahnya, dia berbalik dan menghampiri Laura dengan patuh.
"Selamat sore tuan putri," sapanya pada Laura.
"Seharusnya kau menyapaku tanpa aku suruh, padahal tadi kau melihatku.. tapi kau malah pergi begitu saja melewatiku?"
"Maafkan ketidaksopanan saya yang mulia, lain kali saya akan-"
"Cukup! Kau tidak bisa minta maaf saja atas kesalahanmu ini," ucap Laura sambil menyilangkan kedua tangannya didada.
Eugene terperangah mendengarnya, "Lalu apa yang harus saya lakukan yang mulia?"
"Sebagai menebus kesalahan, kau harus membantuku membersihkan rumput liar di tamanku ini!" Titah Laura pada Eugene
"Sekarang?"
"Tentu saja, masa besok?" Laura menatap tajam pada pria yang sudah memikat hatinya sejak lama itu.
"Maafkan saya yang mulia sepertinya sekarang tidak bisa, saya harus pergi melakukan perintah yang mulia putra mahkota!" Tolak Eugene dengan sopan.
"Kau mau kemana?" tanya Laura sambil melihat surat yang diselipkan Eugene dibalik bajunya.
"Saya akan menyampaikan surat untuk nona Liliana," jawab Eugene.
Laura tidak bisa membantahnya, dia pun membiarkan Eugene pergi karena dia sudah mendengar bahwa Liliana menjadi salah satu calon putri mahkota.
Sebaliknya dia malah menemui Ratu, untuk menanyakan tentang pemilihan putri mahkota. Ratu menolak menjawab Laura, karena dia tau Laura dekat dengan Liliana.
__ADS_1
...*****...
Surat itu sampai dengan cepat pada Liliana, dia membaca suratnya di dalam kamar setelah belajar seharian dengan Jackson.
"Kau baru ingat padaku sekarang setelah berhari-hari tidak menemuiku?" Liliana gusar sambil melihat surat itu.
Matanya mulai melebar membaca isi isi surat itu, tanpa sadar dia tersenyum.
...Liliana ku tersayang.....
"Tersayang?" Liliana tersenyum.
...Apa kabarmu hari ini? Maafkan aku tidak bisa menemuimu akhir-akhir ini. Aku sibuk dengan berbagai urusan negara. Tapi kau tenang saja, hukuman untuk Count Wales dan nona Adara akan segera dijatuhkan 3 hari lagi didepan semua orang....
...Lalu.. aku dengar kalau kau menerima undangan sebagai calon putri mahkota. Jangan salah paham, aku benar-benar tidak melakukannya. Aku memang ingin kau menjadi putri mahkota, tapi harus dengan persetujuanmu. Bahkan aku belum mengatakan perasaanku dengan benar. Ini semua adalah rencana Ratu, aku tidak tahu apa yang ada didalam pikirannya. Tapi aku yakin ini tidak baik, sebisa mungkin kau harus menghindar darinya atau berlindung pada putri Laura....
...Mari kita bertemu di istana besok untuk bicara lebih jelas....
...Salam cinta dari kekasihmu❤️...
"Kekasih? Siapa kekasihmu? Dasar dia selalu saja percaya diri," gumam Liliana.
Setelah membaca surat itu Liliana semakin berdebar karena besok dia akan memasuki istana untuk acara perkenalan calon putri mahkota.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Daisy dibantu pelayan lainnya, menghias Liliana secantik mungkin. "Cukup, hentikan...aku lelah dan pegal,"
"Nona tahanlah sebentar lagi, anda harus tampil secantik mungkin!" kata Daisy sambil menghias rambut Liliana. Dia memegang kepala gadis itu agar tegap.
"Cantik boleh, tapi jangan sampai mencolok ya?" pinta Liliana pada para pelayannya.
Aku yang dimasa lalu tidak pernah berdandan, di kehidupan ini harus berdandan. Ternyata jadi cantik juga merepotkan.
Gadis itu sampai tertidur karena lama didandani oleh para pelayannya. Setelah selesai berhias dan memakai gaun berwarna merah. Liliana bercermin dan melihat dirinya.
Betapa cantik wajahnya, rambutnya yang merah berkilau. Hidungnya yang mancung, kulitnya putih bersih. Namun dia masih merasa semua yang dia miliki ini adalah milik Liliana dan bukan Adaire.
Walau dia sudah menjadi Liliana, jiwanya tetaplah Adaire. Si gadis gemuk, jelek bertompel. Dia tidak bisa melupakan identitasnya meski sudah memiliki tubuh baru yang dia inginkan. Namun semua sudah takdir Tuhan.
"Wah lihatlah nona kita yang cantik!" Seru seorang pelayan dengan mata penuh kekaguman.
"Putra mahkota pasti akan tergila-gila saat melihat nona," ucap pelayan berambut pendek.
"Bukan putra mahkota saja, bahkan semua pria di istana akan jatuh cinta pada nona!" Seru seorang pelayan lainnya.
"Kalian terlalu berlebihan," Liliana hanya tersenyum menanggapi semua orang yang mengaguminya. Ketika gadis itu melirik ke arah jendela, dia melihat Max disana.
Sedang apa dia disini?
"Kalian keluarlah! Aku ingin pergi ke kamar kecil dulu," titah Liliana pada pelayan yang ada di kamarnya.
"Apa nona tidak perlu bantuan kami?" tanya Daisy.
"Tidak perlu, ini urusan pribadi!"
"Baiklah nona, jika nona membutuhkan bantuan... jangan ragu untuk memanggil kami," ucap Daisy sambil membungkukkan badannya.
Daisy dan ke 3 pelayan yang membantu Liliana berhias, pergi keluar dari kamar itu. Segera setelah para wanita itu pergi, Max langsung masuk tanpa persetujuan dari Liliana.
"Yang mulia, tidak baik jika anda selalu menyelinap ke kamar seorang gadis. Kau akan menodai kehormatannya,"
"Jika noda itu bisa membuatku memilikimu, aku akan datang setiap hari dengan membobol jendela bahkan membobol hatimu," Max menghampiri Liliana sambil memegang pinggulnya.
Gadis itu terperangah, "Yang mulia, apa yang anda lakukan?"
"Kau mau kemana dengan pakaian yang cantik ini? Rambutmu juga? Apa apaan ini?" Max melepas ikatan rambut yang sudah sudah payah dipasangkan oleh pelayan.
Rambut merah itu terurai panjang berkibas di sekitar wajah Max. Max mengambil sehelai rambut itu kemudian menciumnya. "Yang mulia, apa yang anda lakukan? Para pelayan sudah memasangkan ini dengan susah payah!" gerutu gadis itu marah.
"Lily, aku tidak suka kau berdandan keluar seperti ini. Aku hanya ingin, aku saja yang melihatmu cantik.." Max memeluk lembut Liliana.
"Yang mulia.."
"Aku mencintaimu.. sungguh, tapi aku juga tidak ingin membatasi kebebasanmu," ucap Max sambil membelai rambut Liliana.
Liliana membalas pelukan Max, dia menyambut pria itu. Namun dia tak paham apa yang dikatakan Max dengan suara yang sedih.
__ADS_1
...****...