
...🍁🍁🍁...
"Kenapa tidak?" tanya Max. "Putra mahkota adalah pria nomor 1 di negeri ini, dia terkenal dengan ketampanannya dan juga dia adalah calon raja negeri ini. Jika kau bersama dengan dia, kau pasti akan bahagia!"
Max membanggakan dirinya sendiri di depan Liliana, hatinya masih berdebar karena jawaban "Tidak" dari Liliana. Dia masih berharap akan ada jawaban lain selain tidak, pasalnya identitasnya adalah putra mahkota.
"Ya memang benar, katanya dia tampan. Dia pria nomor satu di negeri ini," Liliana mengangguk-angguk setuju ucapan Max.
"Bukan katanya, tapi dia memang tampan!" Max meralat ucapan Liliana, dia tak mau ada satupun cacat tentang putra mahkota dimata Liliana.
"Woah Eugene, ternyata kau sangat setia ya pada yang mulia putra mahkota." Gadis itu tersenyum sambil menepuk kepala Max.
"Aihhh.. kau tidak serius ya?" Max agak sedikit kesal karena Liliana tidak serius saat menjawabnya.
Bagaimana kalau dia tidak suka aku?
"Kenapa kau sangat serius? Aku heran, kenapa juga kau membicarakan dia? Lagipula hal itu tidak mungkin kan. Kenapa aku menolaknya tentu karena aku tidak mengenal dia dan dia juga tidak mungkin melamarku," jelas Liliana pada Max mengkonfirmasi semuanya.
Max agak sedikit lega, dia tersenyum tipis. "Benar juga, pantas dia memberi jawaban tidak. Orang dia tidak kenal dengan sosok putra mahkota, dia kan sukanya aku sebagai Eugene..si pengawal putra mahkota,"
"Eugene, kau tidak mau makan eskrim?" tanya Liliana sambil melihat ke arah Max yang memegang eskrim vanila mencair.
"Tidak, ini untukmu saja!" Max menyerahkan eskrim cone vanila ditangannya pada Liliana.
"Terimakasih," Liliana yang sangat suka eskrim, langsung mengambil eskrim itu dan menjilatnya dengan semangat.
"Kucing galak, ini jika saja.. jika putra mahkota suka padamu lalu melamarmu? Apa yang akan kau lakukan?" tanya Max dengan pandangan tangan mengarah pada Liliana.
"Huh, lagi-lagi kau membahas putra mahkota!" gerutu Liliana kesal.
"Jawab saja!" serunya penasaran.
"Maka aku tidak akan menerima dia,"
__ADS_1
"Kenapa?" Max mendekat ke arah Liliana, matanya mengharapkan jawaban baik dari Liliana.
"Katanya dia memiliki banyak wanita di luar sana, lalu mana mungkin aku mau menikah dengannya. Apalagi laki-laki dari keluarga kerajaan itu tidak setia," ucap Liliana merujuk pada Raja yang memiliki 3 selir.
"I-itu tidak benar. Putra mahkota adalah orang pria paling setia yang pernah aku temui. Dia juga pasti akan setia padamu, dia tidak akan memiliki selir! Dia hanya akan mencintai satu wanita saja," ucap Max yang ingin membuat spekulasi tentang putra mahkota berubah di mata Liliana.
"Kau pikir aku akan percaya itu? Tampaknya kau sangat setia padanya, bagus.. jangan seperti dia ya. Aku dengar dia banyak mematahkan hati banyak gadis, tapi aku harap bukan hatiku yang dipatahkan."
"A-Apa?" Max terpana.
Tapi aku tidak akan pernah menyakitimu.
"Eugene, jika aku menikah dengan keluarga kerajaan. Aku tidak akan menikmati kebebasan dalam hidup. Aku juga tidak mau terjun ke dalam dunia politik penuh intrik, belum lagi pasti akan ada wanita lain di dalam kehidupan pernikahan kami. Aku.. ingin menikah dengan seseorang yang hanya akan mencintaiku seumur hidupnya dan setia padaku saja, aku tidak mau ada orang ketiga atau pengkhianatan. Hubungan yang murni, tanpa ada politik, kekuasaan, tanpa orang ketiga. Aku tidak mau seperti itu, jadi jawabannya tentu saja tidak."
Max terpaku mendengar penjelasan Liliana, tubuh dan bibirnya mendadak jadi beku. Wajahnya menjadi pucat, dia seperti kena serangan mental.
Lalu jika aku memberitahumu bahwa aku adalah putra mahkota, kau akan tetap menolak diriku karena posisiku ini. Posisi yang bahkan tidak aku inginkan dari dulu. Aku berada di posisi ini hanya karena...
Liliana melihat wajah Max yang pucat, "Eugene ada apa? Kenapa wajahmu pucat begitu? Apa kau sakit?" tanya Liliana cemas.
Bagaimana aku bisa jujur padamu tentang identitasku yang sebenarnya?
Terlambat sudah untuk Max berkata jujur. Dia menjadi dilema dan bingung, setelah mendengar pandangan dan jawaban dari Liliana tentang putra mahkota kerajaan Istvan itu.
Rumor dan gosip tentang putra mahkota juga tidak baik dikalangan masyarakat. Tapi yang paling penting adalah perasaan Liliana kepadanya. Namun sekarang semua harapan itu seakan musnah karena dia sudah merasa ditolak.
"Eugene, apa kau baik-baik saja?" tanya Liliana sambil menatap pria itu dengan tatapan cemas.
"Aku akan baik-baik saja," jawab Max sambil tersenyum pahit.
Ada apa dengan Eugene? Kenapa dia terlihat seperti itu?
Setelah menghabiskan waktu seharian bersama Max. Dia diantar kembali ke mansion Geraldine. "Masih ada pertemuan kedua dan ketiga. Jangan lupa,"
__ADS_1
"Iya, kau tenang saja. Aku tidak akan mengingkari janjiku." kata Liliana sambil tersenyum.
"Aku akan mengabarimu tempat pertemuan kita besok," ucap Max sambil tersenyum pahit.
Liliana mengangguk lalu melangkah masuk ke dalam mansion. Namun, dia kembali berbalik ke arah Max dan menatapnya.
"Apa?" Max bertanya.
"Kalau kau sakit, harusnya kau bilang. Jangan lupa minum obat dan istirahat, pasti tidak mudah menjadi pengawal pribadi putra mahkota," ucap Liliana menasehati.
Max tersenyum senang mendengar perhatian Liliana padanya. Dia pun melangkah pergi dari sana dengan wajah sedih memikirkan masa depannya nanti bersama Liliana.
Tak alam kemudian, Max kembali ke istana dengan wajah muram. Eugene dan Blackey yang juga baru kembali dari pencarian jenazah Adaire, melihat Max terlihat lesu.
"Sir Eugene, ada apa dengan yang mulia? Bukankah dia baru berkencan dengan nona Liliana?"
"Iya, lalu kenapa yang mulia malah terlihat seperti orang yang kalah perang?" Eugene juga memiliki pertanyaan, saat melihat raut wajah Max
"Apa jangan-jangan nona Liliana sudah menolak yang mulia?" tanya Blackey menebak.
Max langsung duduk diatas tiang balkon, wajahnya sedih dan tidak bisa didefinisikan dengan kata-kata. Mungkin juga dia sudah kena mental.
"Aku harus bagaimana, kalau aku mengatakannya. Aku salah, kalau aku tidak mengatakannya, itu artinya aku sudah berbohong. Harusnya sejak awal aku tidak berbohong padanya," gerutu Max sambil menggelengkan kepalanya dengan bingung.
Eugene dan Blackey mendekati Max yang sedang duduk di atas tiang balkon itu. Mereka membungkukkan setengah badan mereka, sesuai dengan formalitas.
"Selamat sore yang mulia, salam." ucap Eugen dan Blackey bersamaan.
"Ya. Ada apa?" jawab Max malas.
"Yang mulia, kami ingin melaporkan tentang temuan kami mengenai jenazah nona Adaire Charise Geraldine," jelas Eugene dengan wajah serius.
Max langsung duduk tegap, dia menatap tajam ke arah Eugene. "Apa yang kalian temukan?" tanya Max penasaran.
__ADS_1
...----*****-----...