Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 53. Kencan pertama


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


"Lily, kau sudah boleh berbalik." Max tersenyum.


Liliana membalikkan tubuhnya, dia melihat punggung Nicholas yang lari terbirit-birit darisana. "Eugene, apa yang kau lakukan padanya? Dia sampai menjerit-jerit seperti itu?" tanya Liliana dengan kening berkerut keheranan.


"Aku hanya bicara saja padanya, kau tenang saja. Selama kita bersama, tidak akan ada yang menganggu kita!" Max memegang tangan Liliana.


"Kenapa kau selalu menyentuhku sembarangan?" ucap Liliana sembari menepis tangan Max. "Dan aku yakin kau tidak hanya bicara padanya. Apa kau memukuli dia?"


"Kau benar, seharusnya aku memukuli dia juga. Mematahkan lengannya saja tidak cukup!" Max menjentikkan jari, terlihat senyum jahat dibibirnya itu. "Harusnya aku membunuhnya juga," gumam Max pelan.


Pletak!


Liliana memukul kepala Max dengan kesal. "Apa kau sudah gila? Membunuh? Wah...otakmu benar-benar kriminal ya?" gadis itu menegur Max dengan kesal.


Hanya kau yang berani memperlakukan putra mahkota calon raja kerajaan Istvan, dengan tidak hormat. Hanya kau Liliana.


Max terlihat sedih karena kepalanya baru saja di pukul oleh Liliana. "A-aduh.. sakit.." Max memegang kepalanya sambil merintih kesakitan.


"Sudah terlambat untuk mengeluh sakit bukan? Apa kau mau menipuku?" tanya Liliana tak percaya bahwa Max kesakitan.


"I-ini benar-benar sakit, aduh.. pukulan mu itu. Arrggghh..." Max jatuh terduduk sambil memang kepalanya.


Melihat Max berguling-guling di tanah dan merintih kesakitan, membuat Liliana tercekat. Apa pria itu benar-benar kesakitan karena pukulan darinya?


"Hei, apa kau benar-benar sakit?" ucap Liliana seraya bertanya dengan tatapan cemas pada Max.


Apa aku memukulnya terlalu keras?


"Ugghhh.. ini sakit sekali," Max memegang tangan Liliana. Hingga gadis itu berada di atas pahanya.


"Kyaaaakkk!!" Pekik Liliana kaget begitu Max memegang tangannya begitu erat. Kini gadis itu berada di pangkuan Max. "Tenagamu begitu kuat barusan, bagaimana bisa kau masih tetap kesakitan? Kau pasti menipuku ya kan?" Liliana menaikkan alisnya, dia melihat pria yang masih menunjukkan kesakitannya itu.


"Aku benar-benar sakit, ugghh.. kau jangan diam saja, lakukan sesuatu!" pinta Max menggerutu pada gadis itu.


"Aku harus berbuat apa?" tanya Liliana panik, dia cemas karena Max terus merintih kesakitan.


"Kau harus membuat sakit kepalaku menghilang," jawab Max sambil meringis.


"A-aku.. apa aku beli obat saja ya?"


"Bodoh, aku tak butuh obat." jawab Max


"Lalu?" Liliana terperangah, dia kesal dipanggil bodoh. Namun dia memaafkan Max karena pria itu sedang terluka karenanya.

__ADS_1


"Elus kepalaku saja, coba elus dulu, siapa tau sakitnya bisa hilang?"


"Masa begitu?" Liliana tak percaya.


"Elus dulu!" Ujar Max pada gadis itu sambil mengambil tangan Liliana dan meletakkan tangan itu diatas kepalanya.


Sepertinya dia percaya kalau aku sakit. Hehe, dasar.


Max cekikikan di dalam hatinya, melihat raut wajah cemas yang sedang memandanginya itu. Dia senang karena Liliana ternyata mulai membuka hati untuk dirinya.


Tangan Liliana memegang kepala Max dengan hati-hati, dia mengelus-elus bagian atas yang terkena pukulan mautnya itu. Max tersenyum, dia menikmati elusan tangan Liliana. Sentuhan lembut dari wanita itu membuat Max teringat masa lalu, ketika ibunya masih hidup. Ratu Rosabella yang selalu memanjakan Max dan mengelus dirinya seperti ini.


Tanpa sadar kepala Max bersandar pada bahu Liliana.


Harum tubuh Lily sama seperti wanginya ibu.


"Eugene, apa kau sudah merasa baikan? Mengapa kau diam saja?" Liliana keheranan melihat Max tidak bicara sepatah katapun saat dia mengelus kepalanya.


"Aku tidak apa-apa, eh maksudku aku sangat sakit.." Max keceplosan.


Liliana langsung berdiri dari pangkuan Max, dia mendorong pria itu dengan kasar sehingga ia terjengkang di rerumputan. "Kau! Sudah kuduga menipuku,"


"Ti-tidak, aku tidak menipumu. Ini benar-benar sakit," Max terduduk di rumput dengan bibirnya mengerucut.


"Sudahlah, aku mau pulang saja!"


"Masa kau mau pergi begitu saja? Ini kan hari pertama kita berkencan," ucap Max seraya berlutut didepan wanita itu sambil menyodorkan bunga buket mawar pada Liliana.


Aku tidak pernah berlutut didepan siapapun, hanya di depanmu dan ibuku... aku berlutut.


Gadis itu langsung terpana melihat Max yang tiba-tiba berada dihadapannya, berlutut dan membawa bunga. Semua orang yang berada di taman itu melihat ke arah mereka berdua.


"Eugene, apa yang kau lakukan?" tanya Liliana dengan wajah memerah, menatap pria yang berlutut di depannya.


"Ehem, a-aku.." Max mendadak terkena serangan panik dan menjadi gugup dalam seketika.


Sialan! Aku malah kehilangan kata-kata. Ada apa denganku? Aku tak pernah gugup sebelumnya.


"Eugene.." lirih Liliana.


Semua orang disana menantikan momen romantis antara Liliana dan Max yang mereka anggap sebagai pasangan kekasih.


"Wah, apa akan ada pernyataan cinta?" tanya seorang wanita tua pada suaminya.


"Hihi, dulu juga menyatakan cinta padamu disini istriku. Dan kita sudah awet sampai kakek nenek," ucap si kakek pada istrinya.

__ADS_1


Namun semua momen yang mereka nantikan itu hancur seketika ketika ucapan Max pada Liliana membuat semua orang tercengang.


"Cepat ambil bunganya! Kaki ku pegal!" Max menunduk sambil menyodorkan bunga itu pada Liliana. Suaranya tegas dan lugas.


"APA??" Liliana tersentak kaget mendengar perkataan Max yang juga menghancurkan fantasi romantis semua orang disana.


Apa dia mempermainkan aku?


Liliana mengambil bunga itu, kemudian dia menyuruh Max berdiri dengan suara bernada kesal. Kemudian mereka berdua jalan-jalan dan menghabisi waktu bersama di taman itu sambil mengobrol, untuk mengenal satu sama lain.


Setelah lama berjalan-jalan, Liliana dan Max duduk di sebuah kursi panjang dekat kolam ikan.


"Ini adalah kencan pertamaku, aku minta maaf ya kalau aku masih banyak kekurangan." ucap Max dengan suara lembut.


Aku harus jadi pria lembut dan penuh kasih sayang.. seperti apa yang dikatakan oleh Pierre.


"Hey, aku belum setuju untuk berkencan denganmu!" Pekik Liliana sambil menjilat eskrim coklat yang ada ditangannya.


"Tapi kau sudah setuju untuk memberiku kesempatan! Ini artinya kita sudah kencan dan tinggal ke tahap kekasih."


"Terserah kau saja," Liliana malas menanggapi, dia masih sibuk dengan eskrimnya.


Tiba-tiba suara Pierre menggema ditelinga Max.


Yang mulia, yang paling penting dalam hubungan adalah kepercayaan dan kejujuran. Itu adalah hal yang paling diinginkan oleh setiap wanita. Jadi yang mulia harus jujur pada nona Liliana tentang identitas yang mulia.


"Hei Lily!"


"Apa?"


"Aku hanya bicara saja.. jika seandainya putra mahkota melamarmu, apa yang-"


"PFut.. hahaha, kenapa kau mengatakan hal sekonyol itu Eugene?" Liliana tertawa terbahak-bahak mendengar candaan Max.


"Kucing galak, aku belum selesai bicara!" Max kesal karena omongannya dipotong oleh Liliana.


"Habisnya, kau bicara tidak masuk akal. Putra mahkota tidak mungkin melamarku, dia juga tidak kenal aku!"


"Ini hanya misalkan saja, bagaimana jika dia melamarmu, apa kau akan menerimanya?" tanya Max sambil menatap serius ke arah Liliana.


Ayolah jawab ya! Jawab ya saja!


"Tentu saja tidak," jawab Liliana tegas.


Max terpukul mendengar jawaban dari Liliana. Apa maksudnya tidak?

__ADS_1


...----****----...


__ADS_2