Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 222. Sehari di hutan larangan


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


"Tu-tuan William! Makhluk itu adalah monster, ya sepertinya begitu!" kata salah satu pengawal William, memekik ketakutan melihat wujudnya yang berbulu, memiliki tubuh yang tinggi seperti beruang. Kuku kukunya hitam panjang, lidahnya menjulur keluar. Ia sangat menyeramkan.


William panik, manakala ia melihat sosok menyeramkan itu memegang tangan Liliana. Wanita hamil itu juga tak kalah paniknya.


"Liliana sayang, kau tenanglah! Aku akan menyelamatkanmu!" Kata William, sambil mengeluarkan pedangnya. Dia melangkah maju ke depan dengan berani dan menyerang mahluk itu.


Tapi mahluk itu bukanlah tandingannya, William dan beberapa pengawalnya tumbang disana dalam hitungan detik. "Le-lepaskan aku!" teriak Liliana sambil berusaha melepaskan dirinya dari makhluk itu.


"Bayi...bayi...." sorot mata merah mahluk itu menatap perut buncit Liliana dengan penuh hasrat, air liurnya menetes seperti kelaparan.


"Jangan sentuh bayiku! Lepaskan aku, makhluk jahat!!" teriak Liliana ketakutan.


Makhluk itu bergerak dan tangannya mengarah pada perut Liliana. Namun sebelum menyentuh perut buncit itu, tangan mahluk itu seperti terbakar.


"Roaaarrr...." mahluk itu mengeram, kesakitan dan tangannya memerah.


Semua orang takjub melihat semua itu, sebab si mahluk yang diyakini sebagai monster penghuni hutan larangan. Tidak bisa menyentuh perut Liliana.


Liliana melihat perutnya mengeluarkan cahaya yang bersinar terang, seperti melindungi dirinya. Makhluk itu mengeram, dia memegang tangan Liliana dan dalam sekejap mata Liliana menghilang bersama dengannya.


"TIDAK! Kyaaakkk!!"


Wush~~


William dan para pengawalnya masih terkapar di tanah, tidak berdaya. Kondisi mereka terluka parah, karena serangan Monster itu.


"Tuan William, makhluk itu membawa Ratu..." lirih seorang pengawal lemah.


"Sayangku, Liliana...tidak boleh terjadi sesuatu padanya..." William tulus mengkhawatirkan keadaan Liliana. Pastinya dia di bawa ke hutan larangan oleh monster.


Wiliam mencoba bangkit, meski luka parah yang dideritanya, dia akan masuk ke hutan larangan untuk menyelamatkan Liliana. Namun sebelum itu, Max sudah datang bersama para prajuritnya. Max memegang baju William dengan erat. "Dimana istriku?!"


Kedua mata William melebar melihat Max sudah berada di hadapannya. "To...long selamatkan Liliana." nafas William tengah-tengah.


"Apa maksudmu?!" tanyanya seraya membentak William dengan keras.


"Kau pasti bisa menyelamatkannya, kau kan kuat...kau pasti bisa mengalahkan makhluk itu."


Kening Max mengernyit, dia tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh William. "Mahluk apa? Aku tanya di mana istriku dan kau malah mengatakan tentang makhluk itu?"

__ADS_1


"Istrimu...dibawa monster ke-ke hutan lara-ngan--" ucap William terbata-bata, kemudian pria itu jatuh tak sadarkan diri.


Brugh!


Tubuhnya jatuh ke tanah. Sementara Max tertegun mendengar apa yang dikatakan William sebelum ia pingsan. Akhirnya tanpa basa-basi, Max bergegas pergi ke dalam hutan larangan.


"Yang mulia, apa anda akan benar-benar pergi kesana? Siapa tau tuan William berbohong tentang hal ini?" tanya Eugene seraya menahan Max untuk tidak pergi.


"Tidak, bajingan ini tidak berbohong karena aku benar-benar merasakan Liliana berada di dalam sana dan dia dalam bahaya." ucap Max dengan dada yang bergemuruh khawatir pada istri dan anak kembarnya.


"Yang mulia, jika memang itu benar... izinkan saya untuk mengikuti yang mulia," ucap Eugene, dia siap jika harus mengikuti rajanya kemanapun dia pergi.


"Tidak pangeran Eugene, kau tidak boleh ikut denganku ke dalam sana. Kau masih memiliki tanggung jawab terhadap anak dan istrimu yang sedang menunggumu di istana, bila kau ikut denganku. Nyawamu, bisa berada dalam bahaya...sebab kau tidak memiliki kekuatan supranatural seperti yang aku miliki untuk menembus hutan larangan itu."


Apa yang dikatakan oleh Max benar. Untuk orang biasa seperti Eugene yang tidak memiliki kekuatan sihir seperti dirinya dan orang tersebut masuk ke hutan larangan. Maka hanya akan ada bahaya yang mengancamnya setiap saat.


Hawa di dalam hutan larangan itu, sama sekali tidak bersahabat dengan manusia. Tanaman yang menyeramkan dan bisa melawan, belum lagi monster-monster yang tinggal di dalam sana. Kita tidak bisa memprediksi apa yang bisa terjadi di hutan larangan tersebut.


"Jika terjadi sesuatu padaku di dalam sana, kau dan putri Laura harus menjadi--"


"Tidak yang mulia! Anda dan juga Baginda Ratu akan kembali dengan selamat," Eugene memangkas ucapan rajanya, ia percaya bahwa Max akan kembali dengan selamat membawa istrinya.


"Baiklah, aku pasti akan kembali dengan selamat." Max tersenyum tipis, kemudian dia melangkah pergi memasuki hutan larangan membawa pedang yang dia gunakan untuk menyegel iblis sebelumnya.


"Lily, di mana kau sayang?" gumam pria itu resah.


Suasana benar-benar mencekik disana, beberapa serangan didapatkan oleh pria itu di sepanjang perjalanannya. Tak mudah memang, karena hutan itu adalah hutan yang tidak terjamah oleh manusia.


Bahkan di hutan itu, setiap waktu seperti sama. Semuanya malam dan gelap. Max terus berjalan menyusuri hutan itu, meski banyak orang yang mengatakan bahwa manusia yang masuk ke dalam hutan tersebut tidak akan selamat. Tapi dia percaya bahwa Lilliana baik-baik saja.


Sementara itu disisi lain, Liliana memang masih baik-baik saja walau nafasnya terengah-engah. Udara yang ada didalam hutan larangan membuatnya sesak, dia dibawa ke sebuah gua yang basah oleh monster itu.


"Kau mau apa? Jangan mendekat! Tolong....kumohon!" Teriak Liliana, ketika makhluk itu mendekat ke arahnya. Mata merahnya menatap Liliana dengan sendu.


Aneh, apa ini perasaanku saja atau memang makhluk ini melihatku dengan tatapan sedih? Tapi kenapa?


Monster itu menyerahkan buah-buahan diatas daun pada Liliana. Liliana terheran-heran melihat sikap makhluk yang ada didepannya itu. "Ke-kenapa..."


"Roaaarrr..."


Monster itu seolah mengisyaratkan Liliana untuk memakan buah-buahan darinya. Liliana tersenyum, dia paham dengan isyarat dari monster tersebut. "Terima kasih, ternyata kau baik juga..."

__ADS_1


Aneh, makhluk itu sama sekali tidak menyakiti Liliana. Bahkan dia menjaga Liliana di sana, hanya saja saat wanita itu akan melarikan diri. Barulah monster itu marah. Liliana semakin tidak paham apa yang monster itu mau darinya.


Dengan harapan yang besar, Liliana yakin bahwa suaminya akan datang. Sampai tak terasa hari pun sudah sore, saat hujan deras. Si monster tengah tertidur pulas, Lilliana pun mencoba untuk kabur dan dia berhasil keluar dari gua itu.


Jalanan becek dan licin, membuatnya harus berhati-hati supaya tak jatuh. "Haahh... syukurlah...aku bisa keluar darinya, tapi sekarang bagaimana caranya aku bisa keluar dari hutan ini?" Liliana menatap langit yang tampak gelap dan selalu tampak begitu, namanya juga hutan larangan hutan kematian, tentulah menyeramkan.


Ditengah langkahnya dalam hujan, Liliana mendengar suara desis yang terdengar keras menuju ke arahnya.


"Ssss....ssss..."


"Kenapa ada suara--ah suara apa itu? Suaranya terdengar seperti ul--"


Sebelum Liliana menyelesaikan ucapannya, sesosok ular raksasa mendekat ke arahnya. Ular berwarna hitam, dengan lidah menjulur keluar. Liliana tercengang melihat sosok ular yang bentuknya tak lazim itu. Bukan hanya dirinya saja yang tegang saat itu, tapi bayi yang ada didalam kandungannya juga ikut merasakan ketegangan ibunya.


Tiba-tiba Liliana merasakan kontraksi pada perutnya, perut itu mengencang dan membuatnya kesulitan untuk melangkah. Wajahnya dipenuhi oleh peluh keringat dan basah.


Tuhan! Suamiku, siapapun tolong aku.


Sang ular raksasa menatap ke arahnya dengan tajam dan atensinya mengarah pada perut buncit Liliana mengeluarkan cahaya aneh lalu dia menunjukkan taringnya. Seolah ingin menyerang Liliana.


Lari tak bisa, diam juga tidak boleh. Apa yang harus Liliana lakukan?


Disaat ular raksasa membuka mulutnya lebar-lebar, ekornya hendak membelit tubuh Liliana. Saat itu monster yang berwujud serigala berbulu hitam menyelamatkan Lilliana. Dia adalah monster yang tadi menculiknya.


"Kau menyelamatkan aku?" gumam Liliana yang melihat pertarungan antara serigala hitam raksasa dan ular raksasa di depannya.


Jleb!


Jleb!


Si serigala hitam itu menggigit, mencakar adalah andalannya, sementara si ular. Dia membelit, menggigit dan bisa meracuni. Keduanya berdarah darah dalam pertarungan sengit, sementara disisi lain. Liliana jatuh sambil memegang perutnya, dia tampak kesakitan. "Nak...ini belum waktunya kalian keluar...apa kalian sudah mau keluar?" tanyanya pada perut buncit itu.


...****...


Hai Readers, maaf ya malam gak jadi up ketiduran 🙈 hari ini up dua nya deh 😉 makasih ya yang udh mengikuti ceritaku sejauh ini. Dan ya ada cerita baru dariku, yang akan release besok 😁



Ariana seorang artis papan atas, multitalenta terpaksa harus mengakhiri karirnya karena sebuah skandal. Ia pun menghabiskan waktunya di rumah dengan membaca novel online. Dia candu dengan salah satu novel bergenre berlatar kerajaan, yaitu "Love for Stella" dimana si pemeran utama Stella, seorang saintess memiliki akhir bahagia bersama putra mahkota. Namun bukan kisah itu yang membuat Ariana tertarik, melainkan kisah Roselia si pemeran figuran, putri dari penjahat kerajaan yang hidup menderita sampai akhir hayatnya. Mendapatkan ujaran kebencian dari semua orang, sampai Ariana meneteskan air mata saat membaca kisahnya.


"Oh tuhan! Bila aku menjadi Roselia, aku akan melawan orang-orang yang menindasku, aku akan bertahan hidup! Aku tidak sanggup dengan penderitaanmu Roselia, kau harus bagaimana...kau orang baik, hanya saja ayahmu seorang penjahat, bukan berarti kau jahat."

__ADS_1


Entah apa yang terjadi, tiba-tiba keesokan harinya Ariana terbangun dari tidurnya dan berubah menjadi Roselia yang malang.


__ADS_2