
...🍀🍀🍀...
Liliana terpana melihat gadis cantik berambut perak dan bermata merah itu. Dia takjub oleh kecantikannya. Siapakah wanita yang saat ini sedang menatapnya itu?
Woah, cantik sekali wanita ini dia seperti peri. Siapa dia ya? Melihat dari wajahnya sepertinya usianya tidak jauh berbeda dengan Adara.
Si gadis berambut perak itu bersama dengan seorang wanita dibelakang nya yang memakai baju dayang istana. Dia menatap Liliana dengan tajam.
Siapa wanita ini? Warna rambutnya itu...
Liliana beranjak dari ranjang itu, melihat si rambut perak bersama dayang istana. Dia yakin pasti wanita didepannya ini bukanlah wanita biasa, melainkan anggota kerajaan.
"Sa-saya," serangan gugup dan bingung melanda Liliana, dia sudah dibuat terpaku oleh kecantikan si rambut perak.
Duh, apa yang harus aku katakan ya? Saking cantiknya dia, aku sampai sulit berkata-kata. Aku bahkan tidak tau siapa gadis cantik ini.
"Siapa kau? Kenapa kau berada di ruang perawatan khusus anggota keluarga kerajaan?!" tanya seorang dayang sambil melotot pada Liliana.
"Ru-ruang perawatan khusus anggota keluarga kerajaan?" Liliana terkejut karena tidak tahu menahu tentang ruangan itu. Dia pikir ruangan rawatnya ini adalah ruang rawat biasa, bukan khusus anggota keluarga kerajaan.
Eugene si bodoh itu, aku tau kau dekat dengan putra mahkota. Tapi membawaku kemari sama saja dengan melanggar hukum. Astaga! Eugene awas saja kau!
Tidak mau kehilangan kepalanya, Liliana segera membungkukkan setengah badannya didepan wanita berambut perak itu. "Mohon maafkan saya, saya tidak tau kalau ini adalah ruangan khusus anggota keluarga kerajaan," ucap Liliana sambil menahan sakit karena membungkuk didepan wanita itu. "Sa-saya Liliana dari keluarga Geraldine, saya tersesat hingga saya datang kemari,"
Ini tidak terdengar seperti alasan kan?
Si rambut perak melihat Liliana dengan tatapan tajam, tanpa senyuman dan wajah dingin. Entah kenapa Liliana merasa tidak asing dengan sikap yang ditunjukkan oleh rambut perak.
"Yang mu-" Dayang itu akan berbicara pada si rambut perak, namun rambut perak itu menggelengkan kepala.
"Annie, pergilah!" bisik wanita rambut perak itu meminta dayang nya untuk pergi.
Dayang bernama Annie itu keluar dari ruang perawatan. Meninggalkan Liliana dan si rambut perak disana. Gadis cantik yang disebut peri itu melangkah maju ke arah Liliana, sementara Liliana malah berjalan mundur.
"Saya mohon maaf yang mulia," ucap Liliana asal memanggil saja, walau dia tak tau siapa wanita yang berada didepannya itu.
"PFut.. hahaha," gadis berambut perak itu tertawa melihat raut wajah Liliana.
__ADS_1
"A-Apa saya mengatakan hal yang lucu?" tanya Liliana bingung.
"Kenapa nona memanggilku yang mulia? Aku bukan anggota keluarga kerajaan, aku juga tersesat sama seperti mu," ucap gadis itu dengan senyuman ramah pada Liliana.
Kali ini aku tidak boleh gagal! Aku harus mendapatkan teman. Nona cantik ini, harus jadi temanku. ucap wanita rambut perak itu didalam hatinya.
Liliana takjub, raut wajah datar dan dingin yang dilihatnya tadi menghilang dalam sekejap. "Be-benarkah?"
Dia bukan anggota keluarga kerajaan? Benarkah? Bukankah baru saja dia bersama dayang istana? Dilihat dari penampilannya, dia bukan bangsawan biasa.
"Apa nona tidak percaya?" tanya si rambut perak itu sambil duduk mendekati Liliana.
"Ah ... i-iya," jawab Liliana yang meragukan identitas wanita itu.
"Aku hanya seorang bangsawan biasa yang diundang ke istana, ba-barusan dayang istana mengantarku kemari ka-karena aku sedang sakit dan aku malah dibawa kemari," gadis berambut perak gugup.
"Oh begitu ya, aku juga tersesat. Temanku yang bodoh.. dia membawaku kemari!" gerutu Liliana menceritakan keluhannya.
Gadis berambut perak itu tersenyum, dia lega karena Liliana terlihat tidak mencurigainya lagi. Dia mengajak Liliana berkenalan, "Ngomong-ngomong.. aku belum tau namamu nona,"
"Bukankah aku sudah memperkenalkan diriku tadi. Namaku Liliana, kau bisa memanggilku Lily. Akulah yang belum tau namamu nona?" Liliana tersenyum dan mengulurkan tangannya pada gadis berambut perak itu.
Haruskah aku memberitahu dia kalau aku adalah putri bungsu dari Raja Istvan? Ah tidak boleh, dia tidak boleh tau kalau aku adalah anak raja.. nanti dia akan menjauhi ku. Lebih baik aku berpura-pura saja menjadi orang lain.
"Namaku Lau-, maksudku namaku Eve!"
Yah Eve. Namaku Laura Evania de Istvan dan nama kecilku adalah Eve. Ini tidak termasuk berbohong kan?
"Baiklah Eve, salam kenal." jawab Liliana ramah sambil berjabatan tangan dengan Laura.
Laura Evania de Istvan, dia adalah anak satu-satunya dari ratu Freya dan raja Alberto. Adik tiri Max.
Setelah berkenalan, Laura mencoba mengakrabkan dirinya pada Liliana. Dia yang kesepian karena selalu berada di dalam istana, senang melihat ada anak gadis yang seumuran dengannya. Dia ingin mempunyai teman dan dia menyukai Liliana. Dia terpaksa merahasiakan identitasnya sebagai putri, karena jika Liliana tau kalau dia seorang putri. Maka Liliana akan bersikap segan padanya, sedangkan Laura ingin mendapatkan satu teman baik.
Laura melihat punggung Liliana yang terluka, dia segera bergegas keluar untuk memangil tabib istana. Namun saat dia akan pergi keluar, dua orang pria sudah berdiri dihadapannya. Mereka adalah Chris dan Max, Chris sudah membawa tanaman herbal untuk menyembuhkan luka Liliana.
Deg!
__ADS_1
Laura langsung terdiam melihat sosok Max yang menatap dirinya dengan tajam. Max heran kenapa Laura bisa berada di dalam ruangan itu bersama Liliana. Laura menelan ludah, tubuhnya gemetar melihat sang kakak ada disana.
"Eugene! Kau dari mana saja?" tanya Liliana dengan wajah cemberut pada Max.
Lah? Eugene? Kenapa nona Lily memangil kakak begitu?
Laura terpana dan langsung menoleh ke arah Max, dia tersenyum menyeringai. Max menghampiri Liliana dengan cemas. "Tadi aku dan tabib mencari dulu obat herbal untuk lukamu," ucap Max pada Liliana.
"Harusnya kau bilang padaku, kau pergi lama sekali. Dan kenapa kau tidak mengatakan kalau ruangan ini khusus anggota keluarga kerajaan? Dasar bodoh!" protes Liliana setengah memarahi Max yang meninggalkannya disana.
Kenapa Laura ada disini?
Laura yang tadinya mau pergi dari sana, malah tersenyum sendiri dan menghampiri Liliana. "Hoho, jadi kakak juga berpura-pura menjadi orang lain untuk mendekati nona Lily? Tapi mengapa dia melakukan itu? Kakak ku yang tidak pernah benar-benar peduli pada wanita, menyamar seperti ini?"
Jiwa penasaran Laura meronta-ronta, dia ingin tau bagaimana bisa Max menggunakan nama pengawal pribadinya pada Liliana. Apakah tujuannya menyembunyikan identitas sama dengan dia?
"Nona Eve, kau juga sedang sakit kan? Biarkan tabib mengobati nona lebih dulu," ucap Liliana sambil tersenyum pada Liliana.
"Eve, hah?" Max melirik ke arah Laura dengan kening berkerut. Sebenarnya apa yang terjadi? Adik kakak itu saling bertanya-tanya dalam hati.
"Eh, Eugene.. apa kau mengenal nona Eve?" tanya Liliana polos.
"Ah, tidak.. ah iya aku mengenalnya. Nanti aku akan jelaskan padamu. Oh ya nona EVE, sepertinya kita harus bicara sebentar," Max tersenyum dingin, suaranya menekan dan mengancam Laura.
"Baiklah Sir EUGENE. Tuan Chris, lebih baik kau obati dulu luka nona Lily," titah Laura pada Chris.
Nona Lily?. Max marah dengan panggilan yang diucapkan Laura begitu akrab kepada Liliana.
Chris menjawab, "Ya.. baik yang mu-"
"Hey!" Teriak Laura dan Max membentak Chris seraya memintanya untuk diam. "DIAM!"
Chris tampak bingung, apa yang terjadi pada dua saudara ini. "Eh.. sebenarnya apa salah si pak tua ini?"
Kenapa aku jadi bingung ya? Apa hubungan Eugene dan nona Eve?
Liliana menggaruk kepalanya dengan bingung, apa yang sebenarnya terjadi disana antara Max dan Laura. Kedua saudara dari kerajaan Istvan itu pergi keluar dari ruangan rawat.
__ADS_1
...----*****----...