
"Jangan macam-macam kepadaku, kalau kau tidak mau aku permalukan!" Liliana mendorong tubuh Adara dengan tubuhnya, seraya berbisik kepada gadis berambut pirang itu.
Adara mengepalkan tangannya dengan gemas, wajahnya memerah. Bibirnya kaku tidak mampu bicara sepatah katapun di depan Liliana. Dia merasa dirinya selalu terancam ketika gadis berambut merah itu berada disekitarnya. Saat Liliana berjalan melewatinya, Adara memegang tangan gadis itu. "Tunggu!"
"Ada apa? Kau mau aku membongkar aibmu lagi?" sindir Liliana pada Adara dengan senyuman sinisnya.
"Mari kita bicara sebentar!" Adara mencengkram tangan Liliana dan mengajaknya berbicara.
"Uh.. nona Adara, maafkan saya..tapi anda tidak perlu menyakiti saya seperti ini," Liliana sengaja mengeraskan suaranya agar semua orang disana mendengarnya.
"Apa yang kau katakan? Aku sama sekali tidak menyakitiku," bisik Adara pada Liliana.
Aku hanya memegang tangannya dan dia bilang aku menyakiti dia?
Liliana memelas, "Maafkan saya nona, saya bersikap kurang ajar pada nona. Saya tidak akan mengatakan tentang asal-usul nona Adara la-"
Plakkkk
Tamparan mendarat di pipi kiri Liliana, hingga menimbulkan suara keras. Pengawal dan pelayan disana melihat apa yang dilakukan oleh Adara pada Liliana. Gadis rambut merah itu memegang pipinya yang baru saja ditampar oleh Adara. Matanya mulai menunjukkan air yang akan tumpah.
Ternyata aslinya, kau adalah orang seperti ini Adara. Kenapa sebelumnya aku tidak tahu kalau kau begitu emosional? Berapa lama kau berpura-pura dan menahan semuanya dengan sikap palsu mu?
Adara mendengus kesal, rasanya dia ingin membunuh Liliana saat itu juga. Dia tidak tahan dengan sikap Liliana yang berubah-ubah, terkadang dia kasar dan sinis, satu detik kemudian dia memelas seolah teraniaya. Trik ini mirip sekali dengan yang selalu dia lakukan dimasa lalu. Pura-pura tertindas, lemah, bersikap lembut dan manipulatif. Kini dia merasakan bagaimana rasanya dimanipulasi oleh orang lain dan orang itu adalah Liliana.
Wanita yang datang ke rumah itu dengan identitas sebagai Liliana, sahabat pena mendiang kakaknya yang bahkan tidak pernah Adara ketahui sekalipun. Karena dia merasa kalau kakaknya tidak punya teman dekat dan hanya dekat dengan dia.
"Ikut aku, kita bicara di tempat lain" Adara terlihat tidak nyaman dengan tatapan curiga semua orang kepadanya.
"Kita bicara saja disini nona Adara, biar mereka saja yang pergi." ucap Liliana sambil menatap Daisy seraya memintanya pergi. Daisy mengangguk patuh.
"Kalian pergilah! Tutup pintunya, jangan ada yang kemari!" titah Adara pada pelayan dan pengawal yang sedang berdiri di ruang tamu itu.
Mereka mematuhi perintah Adara dan pergi meninggalkan Adara berduaan disana bersama Liliana. Kini kedua wanita itu berhadapan dengan mata yang tajam.
Liliana menyeka air matanya, dia tersenyum menyeringai. Matanya menatap tajam ke arah Adara.
__ADS_1
"Haa.. jadi kau menunjukkan sifat aslimu hanya didepan ku saja?" Adara menurunkan bahu, dia tersenyum sinis setengah tak percaya bahwa Liliana menunjukkan wajah aslinya.
"Ada apa kau mengajakku bicara? Cepatlah, aku mau pergi keluar," tanya Liliana dengan gaya cueknya, dia tidak mau berbasa-basi dengan Adara. "Ngomong-ngomong... pukulan mu, lumayan juga ya Adara?" Liliana memegang pipinya.
"Dasar wanita busuk! Kau benar-benar ular berbisa, rubah merah!" Seru Adara terpana dengan Liliana yang memiliki dua wajah.
"Kau mengajakku kemari hanya untuk berbicara ini? Kalau kau sudah selesai berbicaranya, aku bisa pergi kan?" Liliana menaikkan alisnya, dia berusaha bersikap tegas dan mendominasi pada Adara. Dia tidak mau diremehkan dan dianggap lemah sama seperti Adaire.
"Tunggu! Dasar rubah merah!" Teriak Adara emosi.
"Jangan berteriak begitu, bagaimana jika orang-orang diluar menyangka yang bukan-bukan? Kau harus jaga image baikmu yang mulai itu," Liliana tersenyum puas melihat kemarahan Adara.
Tenangkan dirimu Adara, kau tidak boleh terpancing emosi. Kau harus tenang di depannya, jangan tunjukkan kau lemah dan kalah.
"Ini semua karena dirimu dasar wanita sialan!" Gerutu Adara gemas melihat Liliana.
Liliana duduk di kursi dengan santai, "Kau mau bicara padaku kan? Ayo duduk,"
"Kau bersikap seperti kau adalah nona rumah ini, dasar wanita busuk!" Adara menatap tajam pada Liliana. Perempuan yang sudah membuat hidupnya tidak tenang.
Walau masih berada didalam kemarahan, Adara duduk berhadapan dengan Liliana. "Cepat katakan, apa yang kau ingin bicarakan?" tanya Liliana tidak sabar.
Hem, kenapa dia menanyakan ini? Sudah jelas itu karena dia curiga denganku.
"Iya, dia menulis tentang asal-usul mu didalam salah satu suratnya."
"Tidak mungkin! Kakakku tidak mungkin menulis itu, kau pasti berbohong. Kakakku, dia menyayangiku dan dia tidak akan pernah mengatakan hal pribadi seperti itu pada orang asing," Adara tidak percaya pada Liliana.
Ya, benar Adara. Kakakmu Adaire sangat menyayangimu, bahkan sampai akhir hayatnya. Tapi sekarang tidak. Liliana tersenyum tipis.
"Tapi aku bukan orang asing, aku teman dekat kakakmu. Buktinya, aku tau semua tentangmu dan seluk-beluk rumah ini," ucap Liliana.
Tidak mungkin si gendut itu mengatakan semuanya.
"Kau!! Aku akan membongkar siapa kau sebenarnya, kau akan menyingkir sendiri dari rumah ini. Atau aku yang akan menyingkirkan mu!" Adara bangkit dari tempat duduknya dengan marah. Dia pergi begitu saja dari ruangan itu.
__ADS_1
Liliana menghela napas lega, ternyata berpura-pura kuat bisa membuatnya sangat lelah. Ketika dia sedang sendirian, seseorang mengetuk kaca kamarnya.
Tok! Tok! Tok!
"Siapa? Apa itu kau, sir Adrian?" tanya Liliana sambil mendekati jendela ruangan itu.
Wush~~~
"Astaga!" Pekik Liliana terkejut melihat Max tiba-tiba berada didepan matanya.
"Kenapa kau memanggilnya? Apa kau tidak rindu padaku?" tanya Max sambil tersenyum percaya diri.
"Kau! Mau apa kau kesini?" Liliana berkacak pinggang, dengan kening yang berkerut.
Max memegang kening Liliana dan menutup bibir wanita itu dengan tangannya. "Eugene.. "
"Kau itu cantik, tapi kenapa aku tidak pernah melihatmu tersenyum? Kau selalu saja memiliki raut wajah yang marah dan kening yang berkerut, harus bagaimana aku agar kau tersenyum?" Max ingin melihat wanita cantik itu tersenyum, selama ini dia selalu melihat Liliana marah-marah.
Entah kenapa Liliana malah tertegun mendengar ucapan Max. Dia menatap pria bertopeng itu dengan tatapan aneh.
"Hei, kau dengar tidak? Aku sedang bicara!" Max menggerutu, karena Liliana malah diam saja.
Liliana menepis tangan Max dengan kesal, "Kau ini bicara apa? Kenapa kau ada disini?" tanyanya ketus seperti biasa.
Tidak boleh Liliana. Kau tidak boleh tersentuh, hatimu tidak boleh berdebar. Cukup satu kali saja, hatimu berdebar. Tidak lagi, tidak boleh.. jika hatimu berdebar lagi, maka kau hanya akan mati. Liliana memegang dadanya, perasaannya menjadi tidak karuan.
Kenapa dia selalu jutek padaku? Apa karena dia mengira aku jelek? Haruskah aku membuka topeng ini? Ah tidak, aku tidak boleh melakukannya sekarang. Aku ingin membuat dia terkejut.
"Aku kesini untuk menagih hutang," jawab Max sambil tersenyum.
"Ah.. apa kau butuh uang? Berapa yang kau butuhkan?" tanya Liliana.
"Aku tidak butuh uang, aku butuh kau dan waktumu satu hari ini," jawab Max sambil memegang tangan Liliana dan tersenyum jahil.
"Kau-" Liliana terperangah dengan sentuhan Max.
__ADS_1
...----****----...
Hai Readers! Berhubung ini hari Senin, author boleh gak minta vote, giftnya? Author mau up lagi nih, jangan lupa komennya ya 😍😍🤭