
...🍀🍀🍀...
Didalam hujan deras dan kebasahan, Max sendirian di makam Liliana. Dia enggan meninggalkan pemakaman itu dan meminta semua orang untuk pergi meninggalkannya sendiri di sana.
Raja Istvan itu berdiri berjam-jam di dalam hujan sampai malam pun tiba dan dia tidak peduli dengan keadaan di sekitarnya. Hingga Eugene dan Laura datang menghampirinya untuk membujuk sang raja.
"Kakak...kau bisa sakit kalau kau terus berdiri ditengah hujan seperti ini kak." Laura tulus mengkhawatirkan keadaan kakaknya itu.
"Yang mulia, apa yang dikatakan Putri Laura benar. Yang mulia bisa sakit kalau seperti ini, yang mulia adalah raja negeri ini. Apa jadinya bila Raja negeri ini jatuh sakit, apa yang yang akan terjadi pada rakyat? Saya tau, yang mulia sedang berduka atas meninggalnya nona Liliana. Tapi..."
"Apa kalian bisa diam saja?! Pergilah dari sini, tidak peduli aku mati atau tidak, bukan urusan kalian!" Max memotong ucapan Eugene dengan marah.
"Yang mulia..." Eugene menatap Max dengan cemas. Selain sebagai bawahan Max yang setia, Eugene juga telah berada lama di sisi Max sebagai sahabat dekatnya.
Tidak pernah aku melihat yang mulia sesedih ini, terakhir aku melihatnya begini ketika mendiang Ratu wafat.
"Yang mulia," ucap Adrian sambil menundukkan kepalanya di depan Max dengan hormat.
"Apa kau tuli? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk tidak menggangguku?" Max langsung emosi, padahal Adrian belum sempat mengatakan apapun kepadanya.
Adrian memaklumi dan paham bagaimana keadaan sang raja saat itu, wajar emosinya tak terkendali karena sang pujaan hatinya yang telah tiada.
"Yang mulia, mohon ampuni hamba! Hamba hanya ingin menyampaikan berita penting," jelas Adrian pada rajanya.
Disana juga masih ada Laura dan Eugene mendengarkan percakapan Adrian dan Max.
"APA berita penting itu?" Tanya Max sambil menatap Adrian dengan mata yang menyala.
"Ada penyihir agung yang bernama Abartia ingin bertemu dengan yang mulia," jawab Adrian.
"Penyihir agung?"
Mau apa dia bertemu denganku?
Malam itu dalam dan basah kuyup, Max berjalan kembali ke istana bersama Adrian, Laura dan juga suaminya. Ketika sampai di lorong istana, Max melihat pemandangan seseorang yang tidak indah di matanya. Ya, siapa lagi itu adalah Julia dan dua dayangnya.
Julia bukan kepala serai memelihara hormat kepada Max. Bukannya menjawab hormat itu, Max basah kuyup berjalan begitu saja tanpa melirik sedikitpun ke arah Julia.
Lagi-lagi aku diabaikan. Julia mengepalkan tangannya dengan kuat, dia geregetan dengan sikap Max yang selalu menolaknya. Padahal dia sudah menggunakan sihir untuk memanipulasi perasaan pria itu, namun ternyata semuanya tidak mudah.
"Yang mulia, apa anda baik-baik saja? Saya turut berduka cita atas meninggalnya mantan Putri mahkota." Julia memelas, dia memegang dadanya seolah simpati terhadap pria itu.
Max menghentikan langkahnya lalu dia menatap gadis itu. "Benarkah? Aku pikir kau akan berpesta malam ini, bukankah kau tidak punya lagi halangan untuk menjadi ratu negeri ini? Tapi, itu tidak akan pernah terjadi!" Max tersenyum sinis dan menaikkan alisnya, menajamkan pandangan kepada Julia.
__ADS_1
Laura dan Eugene yang ada disana, tersenyum puas melihat raut wajah Julia yang pucat pasi. Ya, walaupun wanita yang dicintai sang raja telah tiada, akan tetapi tidak ada yang bisa menggantikannya untuk menjadi ratu kerajaan Istvan.
Julia terdiam, dia terpukul untuk kesekian kalinya dengan sikap Max. Setelah Max, Eugene, Laura dan Adrian menjauh darisana. Barulah Julia marah-marah, dia melampiaskan kekesalannya kepada salah satu dayang istana. "Kenapa?! Kenapa diriku selalu diabaikan seperti ini?!" Julia mencekik salah satu dayang dengan gemas.
"No-nona...saya tidak bisa bernafas!" Dayang istana itu memekik kesakitan karena dicekik oleh Julia.
Nona Julia ini sudah gila!
"Nona, tolong lepaskan!" Kata seorang dayang lainnya yang berada disana.
Tak lama kemudian, Julia melepaskan cekikannya dan dia pergi begitu saja dengan marah.
****
Setelah bersih-bersih dan mengganti pakaiannya, dia bertemu dengan penyihir agung alias teman dekat Aiden, Raja Gallahan itu. Seorang pria muda, dengan penampilan tua dan jubah hitam dengan sedikit merah.
Ketika Max memasuki ruangan yang ada penyihir agung itu, semua orang memberi hormat padanya. Penyihir agung menyeringai, dia melihat aura yang kuat dari Raja Istvan itu.
"Salam hormat saya yang mulia," penyihir agung berdiri dan menundukkan kepalanya didepan sang Raja.
"Duduklah dan katakan kenapa kau menemuiku? Ada apa?" Tanya Max sambil duduk di sofa yang berhadapan dengan penyihir agung.
"Yang mulia, saya akan langsung bicara ke intinya. Yang mulia, dalam 5 jam lagi....nona Liliana masih bisa bangun kembali."
"Yang mulia saya tidak bohong, waktu anda yang tersisa hanya tinggal 5 jam dari sekarang. Percaya atau tidak, nona Liliana masih bisa kembali hidup." Jelas si penyihir agung itu dengan wajah yang serius.
Tangan sang Raja terkepal dengan erat, dia menelan salivanya kuat-kuat. Mencerna dan melihat apa yang ada dihadapannya saat ini. "Kau...jangan main-main denganku. Pendeta agung saja tidak bisa menghidupkan kembali orang yang sudah mati! Apalagi dengan dirimu? Pergilah sebelum kau kehilangan kepalamu!" Max tidak mempercayai ucapan Si penyihir agung itu begitu saja, dia bahkan langsung mengusirnya tanpa mengucapkan apa-apa lagi.
Sebab, pendeta agung telah mencoba menghidupkan Liliana. Namun pendeta agung mengatakan bahwa orang yang sudah mati tidak akan bisa hidup kembali kecuali adanya mukjizat dan keajaiban.
"Yang mulia, tolong dengarkan penjelasan saya lebih dulu! Saya sama sekali tidak berbohong pada yang mulia, saya hanya ingin membantu yang mulia dan mendiang nona Liliana!"
Dia tidak percaya padaku?
"PENJAGA!" Dalam satu teriakan saja para penjaga masuk ke dalam ruangan itu. Mereka memberi hormat kepada sang raja.
"Kami menghadap yang mulia," ucap para pengawal yang berjaga di depan.
"Bawa keluar pria ini dari istanaku dan dari kerajaan ini, aku tidak mau melihat wajahnya lagi!" Titah Max kepada para pengawalnya, untuk membawa penyihir agung pergi dari sana.
"Yang mulia, bukan saya yang bisa membawanya kembali tapi ANDA. Izinkan saya bicara lebih dulu, anda harus mendengarkan saya atau waktunya akan terlewatkan dan anda akan menyesal seumur hidup anda, yang mulia."
Ucapan penyihir agung, berhasil menyihir Max untuk mendengarkannya. Akhirnya, dia meminta semua para pengawal itu untuk kembali ke tempatnya semula dan dia akan mendengarkan apa yang dikatakan penyihir agung. Mereka kembali duduk di sofa yang empuk itu, terus saja sang raja menatap penyihir agung dengan tatapan yang tajam.
__ADS_1
"Katakan!" Ujarnya tegas.
"Yang mulia, saya bisa membantu anda untuk kembali membangkitkan nona Liliana dalam waktu 5 jam. Tentunya, ada hal yang harus yang mulia ketahui karena ini mengingkari hukum alam dan kehendak Tuhan."
"Katakan apa yang coba kau bicarakan ini? Apa kau benar-benar bisa membantuku?"
"Bisa, karena masih ada kesempatan kedua. Tapi, yang mulia harus melakukan apa yang saya--"
Max memangkas ucapan penyihir agung yang dia rasa telah kurang ajar pada dirinya yang memiliki status tertinggi. "Kau, apa kau mencoba memerintahku?!"
"Yang mulia, bukan seperti itu. Nona Liliana, dia bisa kembali hidup...tapi ada dua jalan yang harus dia lalui dan ada juga dua jalan yang harus yang mulia pilih."
"Jelaskan!" Teriak Max pada pria itu.
"Dikatakan bahwa orang yang dicintai bisa kembali hidup dengan dua cara, yaitu dengan darah orang dicintainya atau dengan jiwa."
"Apa?" Max masih belum paham apa yang dimaksud oleh penyihir agung.
"Jalan yang harus ditempuh oleh nona Liliana ada dua pilihan, pertama...dia kembali hidup dengan ingatannya, tapi dia akan berada di dunia yang lain dan jauh dari sini dan anda tidak bisa bertemu dengannya di dunia itu. Pilihan kedua dia kembali hidup dan masih bisa berada di dunia ini tapi dia akan kehilangan tentang anda dan semua masa lalunya."
"Pilihan kedua itu? Apa maksudnya memutar waktu?" Tanya Max pada penyihir agung.
"Benar, waktu akan kembali ke masa lalu...jauh sebelum anda bertemu dengannya. Tapi jika anda mengambil pilihan ini, anda harus menjual jiwa anda kepada iblis."
"A-apa?!"
Max tercengang mendengar ucapan penyihir agung itu, menjual jiwa pada iblis? Bukankah iblis telah dia musnahkan?
"Yang mulia anda salah, iblis itu tidak musnah...iblis masih tetap ada sampai hari kiamat tiba. Hanya saja mereka bersembunyi di balik kegelapan, anda yang punya saudara Raja iblis pasti tau hal ini kan? Iblis tidak mati, kecuali Tuhan memang menginginkannya. Anda tidak bisa membunuhnya dan hanya menyegelnya, itu adalah bukti nyata bahwa iblis tidak mati dan iblis hanya tidur."
"Apa kau sudah gila? Mengapa aku harus menjual diriku pada iblis?!" Max tidak terima begitu saja dengan saran dari penyihir agung.
"Ini cara untuk pilihan kedua dan cara untuk pilihan pertama, anda harus mati!"
Deg!
Tersentak Max mendengar pilihan kedua agar bisa kembali menghidupkan Liliana. Max dan penyihir agung saling menatap satu sama lain dengan tajam.
Tangan Max meremass pinggiran sofa dengan kuat, sampai hancur.
Pilihan mana yang akan Raja Istvan pilih untuk menyelamatkannya? Ayo berikan komentar kalian...
...****...
__ADS_1