Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 78. Ditolak camer


__ADS_3

Keringat dingin tiba-tiba bercucuran di wajah putra mahkota itu. Tak pernah dalam seumur hidupnya, dia merasakan ketegangan yang luar biasa.


Padahal hanya beberapa kata saja, tapi hati Max dibuat berdebar, jantungnya dibuat senam dan perasaannya dibuat goyah ketika berhadapan dengan Duke Geraldine.


Maximilian, tenanglah! Kau kemana kan wibawamu itu?


Yang mulia, kenapa wajah anda pucat sekali? Apa anda sedang sakit?


Blackey bertanya lewat telepati.


Diam kau burung jelek! Kalau kau tidak mau aku goreng.


Blackey pun diam, dia hanya tersenyum melihat melihat Max yang tegang seperti itu. Dia jadi tak sabar menceritakan apa yang dia lihat saat ini kepada Eugene dan Adrian. Wujud Blackey saat ini tak terlihat oleh Duke Geraldine dan hanya terlihat oleh Max saja.


"Kalau kau ingin bertanya, silahkan.."


"Yang mulia, apa anda selalu masuk ke dalam kamar putri saya seperti ini?" tanya Duke Geraldine tak lepas dari tatapan tajamnya.


Tidak peduli dia putra mahkota atau bukan, aku tidak boleh membiarkannya menodai putriku. Dalam kehidupan dan kesempatan kali ini, aku harus melindungi putriku.


Max mengambil napas dalam-dalam kemudian dia menjawab dengan jujur pertanyaan itu. Bahwa dia memang selalu masuk ke kamar Liliana dengan cara seperti ini.


"Yang mulia, apa anda tau tindakan anda sangat tidak baik? Putri saya, dia wanita yang belum menikah, dia masih gadis dan anda seorang pria yang belum menikah. Bagaimana bisa anda masuk ke dalam kamar putri saya seperti seorang pencuri?"


Ya, yang mulia memang mau mencuri. Mencuri putrimu ke pelaminan, tuan Duke..hihihi..


Blackey kembali bicara dengan telepati, burung itu tertawa cekikikan. Disaat Max sedang tegang.


Blackey, terkutuklah kau!


Karena kesal, akhirnya Max menggunakan sihirnya untuk menyegel kembali Blackey didalam pedangnya hingga si burung ajaib itu tidak terdengar lagi suaranya.


"Sebelumnya aku mohon maaf, bukan maksud ku menodai kehormatan putrimu tuan Duke. Aku akui aku memang salah, seharusnya aku langsung menemui putrimu lewat pintu depan," kata Max sambil tersenyum dan menundukkan kepalanya didepan pria itu.

__ADS_1


Duke Geraldine ternganga mendengar ucapan Max yang terdengar tidak tau malu itu. Bukan hanya ucapan meminta maaf saja yang membuat Duke Geraldine kaget, tapi sikapnya yang sopan didepannya.


Apa aku tidak salah? Putra mahkota yang tidak pernah meminta maaf atas kesalahannya, selalu ingin menang sendiri dan tidak pernah membungkukkan badannya pada orang lain. Sedang melakukan semua itu padaku?


Sebagai orang kepercayaan kaisar, Duke Geraldine selalu berada didalam istana dan dia tau sedikit sikap Max. Kini dia malah heran kenapa Max tidak bersikap seperti biasanya dan malah bersikap penuh hormat.


"Yang mulia maksud saya bukan itu! Anda tidak boleh melakukan ini pada seorang gadis," ucap Duke Geraldine tegas.


"Baiklah tuan duke, maaf aku bersalah. Tapi, kau jangan salah paham. Kami tidak pernah melakukan hal yang kau pikirkan, sungguh!"


"Benarkah?" pria paruh baya itu tidak percaya begitu saja, pandangannya curiga terhadap si putra mahkota.


Ah ya? Bagaimana dia akan percaya padaku dengan mudah?


"Itu benar. Mohon maafkan aku tuan Duke, aku tidak akan melakukan ini lagi-"


"Sudah berapa lama yang mulia memiliki hubungan dengan putri saya?" Duke Geraldine langsung memangkas ucapan Max yang belum selesai.


Jika kau adalah orang lain, sudah pasti aku akan memotong lidahmu saat ini juga karena memangkas ucapanku.


"Aku sudah lama mengenal Liliana, tapi kami baru menjalin hubungan sekitar 3 hari." Jelas Max jujur


"Bagus, maka segeralah putus dengan putri saya. Saya juga akan meminta Lily, untuk tidak menemui anda lagi.."


Belum apa-apa Max sudah ditolak tegas, dia yang pantang menyerah tentu tidak tinggal diam dan menerima begitu saja. "Tuan Duke, mengapa anda mengatakan ini? Aku adalah kekasih Lily, kenapa anda langsung menolaknya?" protes Max tidak terima.


"Saya tidak pernah melarang Liliana memiliki seorang kekasih, asalkan orang itu jangan anda yang mulia.." ucap Duke Geraldine sambil tersenyum pahit. Terang-terangan dia menolak putra mahkota kerajaan Istvan itu.


"Tapi kenapa? Apa karena aku adalah putra mahkota kerajaan ini?" Max menatap Duke Geraldine dengan kecewa.


"Bukan hanya karena itu saja yang mulia. Putri saya memang tidak pantas untuk bersama yang mulia," ucap Duke Geraldine sambil menundukkan kepala.


Tidak baik berhubungan dengan keluarga kerajaan yang penuh intrik dan politik. Aku tidak mau anakku hidup menderita lagi di kehidupan kali ini.

__ADS_1


"Ta-tapi Liliana sudah didaftarkan menjadi putri mahkota," Max gelagapan, dia tidak tahu bagaimana cara membujuk seseorang. Karena dia selalu mendapatkan apa yang dia inginkan dengan mudah. Namun dihadapan Duke Geraldine, dia seperti kehilangan kekuasaannya. Dia tidak berkutik dan tidak berdaya, karena dia adalah ayah dari wanita yang sangat ia cintai.


"Apa anda belum mendengarnya dari baginda Raja? Bahwa saya sudah menarik mundur putri saya dari posisi kandidat calon putri mahkota," Duke Geraldine menjelaskan dengan tegas.


Liliana sudah mundur dari posisi putra mahkota?


Melihat Max terdiam, Duke Geraldine bicara lagi pada pria itu. "Yang mulia, saya sudah selesai bertanya dan anda sudah selesai menjawab. Saya sudah menjelaskan semuanya, kelak saya tidak ingin putri saya memiliki hubungan dengan anda. Maafkan saya yang mulia, silahkan pergi dari rumah saya!" kata Duke Geraldine tidak memberikan celah atau kesempatan untuk Max bicara.


Tidak, aku tidak mau kehilangan Liliana.


Max menatap tajam ke arah sang Duke, "Maaf tuan Duke, aku tidak bisa menerima semua permintaanmu. Aku mencintai Liliana dan begitu juga dengan Liliana, kami tidak akan putus.."


"Yang mulia, jika anda hanya ingin main-main dengan putri saya. Lebih baik anda hentikan semua ini, anda tidak akan bisa-"


"Duke Geraldine! Aku tidak pernah main-main dengan putrimu. Aku mencintainya dan aku bisa bersumpah hanya putrimu satu-satunya yang akan menjadi pasanganku!" Max bicara setengah berteriak. Dia tidak bisa menahan lagi emosinya, apalagi ketika dia dibantah oleh Duke Geraldine terus menerus.


Duke Geraldine menangadah memandang pria tampan itu, dia tidak percaya akan keluar kata cinta dari mulut Max si monster di medan perang.


KLAK


"Ayah, ada apa? Aku mendengar suara-"


Liliana membuka pintu kamar itu, dia memakai gaun tidurnya dan sebuah syal yang menutupi pakaiannya. Dia terkejut melihat Max dan ayahnya berada di kamarnya.


"Yang mulia putra mahkota?" Liliana terlihat bingung ,dia menatap kekasihnya yang tampak marah.


Si gila ini, kenapa dia bisa ada disini? Dan juga kenapa ayah ada disini?


"Kembalilah ke kamarmu Lily," titah Duke Geraldine pada putrinya.


"Tapi ayah.. yang mulia putra mahkota, dia.." gadis itu semakin bingung dengan situasi yang terjadi. Tapi dia yakin bahwa ada sesuatu antara ayahnya dan Max.


"Lily, pergilah! Dan anda juga yang mulia.. berbahaya bila ada rumor bahwa anda datang ke kamar anak gadis saya dimalam hari," Duke Geraldine menatap tajam ke arah Max, seraya memintanya pergi dengan cara yang halus.

__ADS_1


Max menahan ludahnya, dia tidak percaya bahwa dirinya yang sempurna akan ditolak mentah-mentah oleh ayah dari orang yang dia cintai.


...----*****----...


__ADS_2