
...🍀🍀🍀...
Apa maksudnya? Buah cinta? Apa putri Laura hamil?
Laura melihat wajah Eugene yang pucat saat mendengar ucapannya. Pria itu terdiam dengan wajah syok. Mulutnya kaku dan tidak bicara apapun. Dia pun duduk di atas pagar tembok balkon istana putri itu.
"Eugene, kenapa kau diam saja?" Laura mengerutkan keningnya. Dia takut kalau Eugene tidak mau menerima keberadaan bayinya.
"Putri Laura, apa kau benar-benar hamil? Anak kita?" Tanya Eugene sambil memegang tangan Laura.
Wanita itu mengangguk sambil memperhatikan raut wajah Eugene. Pria itu menghela nafas, dia tak percaya dengan apa yang dia dengar dari Laura.
Putri bungsu kerajaan Istvan itu sedang mengandung anak dari seorang ksatria yang berasal dari rakyat jelata. Pria yang sama sekali tidak pantas untuknya menurut aturan kasta dan status sosial mereka yang berbeda sangat jauh.
"Bagaimana bisa... bagaimana bisa kau hamil?" Eugene memegang kepalanya, daripada wajah bahagia. Pria itu menunjukkan wajah bingung dan syok.
Kenapa wajah Eugene seperti itu? Dia seperti tidak bahagia dengan berita ini. Aku pikir dia akan memelukku dengan senang, tapi kenapa..
Laura terheran-heran karena raut wajah Eugene saat tau dia sedang hamil buah cinta mereka. "Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa kau tidak senang karena aku hamil? Atau karena kau tidak percaya bahwa anak ini adalah milikmu?" Tanya Laura sembari menunjuk ke arah perutnya yang masih datar itu. Dia mulai emosi, melihat raut wajah dan mendengar pertanyaan Eugene padanya.
"Kau salah paham putri Laura, aku percaya anak ini milikku. Aku percaya tapi aku tidak..." Eugene tidak melanjutkan kata-katanya. Dia terlihat berpikir.
Bagaimana cara mengatakan ini padanya? Kalau aku belum mengharapkan semuanya secepat ini. Putri Laura hamil anakku? Bagaimana jadinya jika dia menderita, jika semua orang tau dia sedang hamil..hamil diluar nikah.
"Tidak apa? Jawab!" Laura bicara dengan suara keras.
"Aku hanya khawatir padamu. Jika semua orang tau kalau kau hamil diluar nikah, kau akan menjadi perbincangan semua orang. Kau akan terluka dan menderita."
Ya ini salahku juga karena aku tidak memakai apa-apa pada malam itu. Aku berpikir bahwa semuanya akan aman.
"Itu hanya jika semua orang tau, tapi kalau semua orang tidak tau. Aku akan baik-baik saja, apalagi kalau kita menikah! Semua masalah pasti akan selesai! Anak ini akan memiliki ayah, semua orang akan bungkam."
"Putri, apa kau pikir semuanya semudah itu? Bukankah Baginda Raja belum tau tentang hubungan kita? Bagaimana jika Baginda Raja tidak setuju?" Eugene mencoba memperkirakan kemungkinan yang akan terjadi jika Raja tidak setuju dengan hubungannya dan Laura.
"Lalu...apa kau mau mundur dari tanggungjawab setelah nasi sudah menjadi bubur?" Laura menatap tajam ke arah Eugene. Entah kenapa Laura merasa Eugene sedang membuat alasan agar dia tidak bertanggungjawab atas kehamilannya. Atau Eugene tak mau menikah dengannya.
"Aku tidak akan melarikan diri dari tanggungjawab, apalagi ada anak kita didalam perutmu. Aku hanya memikirkan masa depan kita, aku hanya bertanya jika....jikalau Baginda Raja menentang kita, kita akan bagaimana?" Eugene mencoba membuat Laura mengerti apa maksud hatinya.
"Ayahku pasti akan setuju karena aku sudah mengandung anak kita!" Kata Laura tegas. "Tapi... sepertinya kau tidak senang, aku hamil. Apa kau memang tidak mau aku hamil?" ucap Laura lagi.
Sejujurnya aku memang belum siap, tapi karena bayi ini sudah ada dan artinya aku sudah harus bersikap menjadi ayah.
Eugene menggenggam tangan Laura sambil tersenyum,"Bukan begitu putri, bukannya tidak senang, tentu saja aku senang karena kau sedang mengandung anak kita. Tapi, aku kaget dengan berita yang tiba-tiba ini...hingga aku tidak bisa mengendalikan raut wajah dan kehilangan kata-kata."
"Benarkah begitu? Kau seperti barusan karena kau terkejut, bukan karena kau tidak senang dengan kehadiran anak kita?" Tanya Laura sekali lagi untuk memastikannya.
Eugene menatap Laura penuh kasih sayang, "Iyah putri..aku senang mendengar berita ini. Aku sangat bahagia karena akhirnya aku akan menjadi seorang ayah," ucap Eugene sambil menatap perut datar istrinya.
"Syukurlah kalau kau bahagia, aku pikir kau tidak mau menerima anak ini. Eugene, maafkan aku karena aku sudah menipumu sebelumnya. Saat kita berhubungan, aku dalam keadaan subur dan aku tidak memakai kontrasepsi. Aku dengan sengaja sudah-"
Eugene mencium bibir Laura dan membungkam mulutnya. "Cukup! Jangan dijelaskan lagi, jangan minta maaf lagi. Aku sudah tau bahkan tanpa kau jelaskan sekalipun. Aku yang harusnya berterimakasih padamu, karena kau sudah melakukan pengorbanan besar untuk hubungan kita dengan mengambil resiko ini. Aku janji, aku tidak akan pernah meninggalkanmu.. aku akan berjuang denganmu." Kata Eugene sambil mencium punggung tangan Laura dengan mesra.
Laura memeluk Eugene dengan hati bahagia. Dia tinggal membujuk Raja untuk merestui hubungan mereka, karena pikirnya mau tidak mau Raja pasti akan merestui hubungannya dan Eugene. Sebab ada bayi mereka yang sedang tumbuh didalam tubuh Laura.
Keduanya sama-sama tidak akan menyerah satu sama lain akan cinta mereka. "Putri Laura, aku ingin bersamamu lebih lama. Tapi aku harus pergi pada yang mulia putra mahkota sekarang." Kata Eugene yang teringat tugasnya.
"Iya tidak apa-apa pergilah Bantu kakak untuk menemukan kakak iparku." Laura tersenyum manis, dia tak keberatan jika kekasihnya harus pergi.
"Maafkan aku, karena aku harus meninggalkanmu Putri Laura. Padahal aku baru saja kembali dan mengetahui tentang bayi kita, tapi aku harus meninggalkanmu lagi." Kata Eugene merasa berat hati. Dia masih merindukan Laura dan ingin lebih lama bersamanya, namun tugas negara sudah menunggu.
"Tidak apa-apa, kita bisa bertemu lagi nanti. Aku harap kau bisa menemukan kakak iparku," ucap Laura berdoa tulus untuk Liliana yang saat ini tak tau dimana keberadaannya.
__ADS_1
"Baiklah, aku harus menemui yang mulia putra mahkota. Setelah itu aku akan menemui kalian dan kita bicara lagi,"
"Kalian? Kenapa kalian? Bukan aku saja?" Tanya Laura dengan wajah polosnya.
"Tentu saja kalian, karena ada orang lain juga didalam tubuhmu. Apa kau tidak menghitungnya juga?" Tanya Eugene sambil melirik ke arah perut Laura.
Laura mendongakkan kepalanya, "Benar.. sekarang aku tidak satu tubuh lagi. Ada anak kita didalamnya. Maafkan ibu ya," Laura meminta maaf pada anaknya yang belum lahir itu.
"Ayah pergi dulu ya nak," dengan malu-malu, pria itu berpamitan pada anaknya yang masih ada didalam perut Laura.
Laura tersenyum melihat tingkah Eugene. Dia berharap agar mereka segera bisa menjadi satu keluarga yang bahagia seperti keinginannya.
Setelah itu Eugene pergi meninggalkan Laura dan pergi menuju ke ruangan Max. Namun Max tidak ada disana.
"Kemana yang mulia pergi? Bukankah dia mengajakku bertemu disini? Atau dimana ya? Aku lupa.." gumam Eugene bingung.
****
Max memang mengajak Eugene bertemu di ruangannya. Namun Max pergi menemui ayahnya sang Raja di ruangannya. "Putra mahkota? Kau sudah kembali?"
"Ya Baginda, saya sudah kembali." Max memberikan hormat pada pria yang sudah hampir berumur itu.
"Bagaimana dengan tugasmu? Kau kembali karena sudah selesai, kan?" Tanya Raja sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Apa semua itu penting dibandingkan istri saya yang menghilang?" Kata Max tiba-tiba menatap tajam pada Raja.
Raja berjalan mendekati Max, "Kenapa kau bertanya begitu? Tentu saja putri mahkota lebih penting dari semua tugasmu. Tapi, kau jangan cemas...ayah sudah mengerahkan semua orang untuk mencarinya. Dia pasti di culik oleh si pedagang manusia, jika orang-orang itu tau identitasnya. Mereka tidak akan berani melukai calon Ratu di negeri ini," ucap Raja menjelaskan.
"Baginda...tolong jangan pura-pura tidak tahu, anda tau istri saya tidak diculik oleh pedang manusia tapi ada ilmu sihir yang menghalang keberadaannya. Kenapa yang mulia masih berbohong kepada saya?" Tanya Max sinis.
Raja terdiam, dia sadar bahwa kebohongannya sudah diketahui. Pria paruh baya itu tak mengelak. "Ya aku tau, makanya aku sedang mencari seseorang yang bisa membawa istrimu kembali. Kau...fokus saja pada pekerjaan mu memburu iblis itu. Aku sudah dengar dari Demian kalau iblis telah bangkit dan menghabisi semua rakyat didesa itu."
"Yang mulia, kemungkinan besar iblis itu sudah ada di pusat kota. Dan dia yang menculik istriku," ucap Max memberitahu pada ayahnya.
"Apa?"
Keduanya saling terdiam dalam suasana tegang, tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Berusaha mencari cara menuntaskan semua masalah yang ada. Beberapa menit berlalu, setelah bicara dengan ayahnya dan meminta cuti dari tugas untuk mencari istrinya. Max keluar dari ruangan itu setelah mendapat izin.
Hatinya tidak tenang, sebab dia tidak tahu harus mencari Liliana darimana. Yang jelas, saat ini dia merasakan sesuatu bahaya sedang menimpa Liliana.
Jiwa mereka yang sudah terhubung melalui ikatan darah, seperti satu tubuh. Membuat Max bisa merasakan rasa sakit istrinya.
"Ugh!!" Max tiba-tiba saja memegang tangannya, dia merasakan sakit disana. "Lily....Haahhh...haahh..." Napasnya tersengal-sengal, lehernya kesakitan seolah dicekik sesuatu.
Sial! Apa yang terjadi pada istriku? Kenapa aku tidak bis menggunakan teleportasi dan langsung pergi padanya? Kenapa seperti ada yang menghalangi?
Firasatnya tidak salah, memang terjadi sesuatu pada Liliana. Dan sesuatu itu bukanlah hal yang baik.
...🍂🍂🍂...
Di penjara bawah tanah Lucis...
Liliana masih berjuang untuk tidak dimakan atau digigit oleh makhluk-makhluk yang jumlahnya 6 orang itu. Gadis itu dicekik oleh salah satu mahluk Iblis.
"Kkkeuuukkkk!!! Aaakkhhhhhh..."
Aku sudah melukai mereka berkali-kali, mereka hanya melemah sesaat namun mereka tidak mati. Apa yang harus aku lakukan untuk membunuh mereka? Tenagaku sudah mulai terkuras habis...
Tubuh Liliana sudah banjir akan keringat, wajahnya pucat, dia terlihat lelah. Bajunya berlumuran darah yang berasal dari para iblis itu.
Iblis iblis yang tadi dia serang, hanya melemah dan tidak mati. Wanita itu kini sedang memutar otak, mencari cara bukan hanya menyerang dan bertahan saja, tapi menghancurkan sampai habis.
__ADS_1
"Arrghhhhhhhhhh.... arrghhhhhhhhhh..." Makhluk menyeramkan itu mengerang, bersiap memakan Liliana.
Liliana berusaha untuk membela dirinya lepas dari cekikan mahluk itu. Dia menendang bahkan memukul si iblis.
Prok prok prok!
"Wah, rupanya kau masih hidup? Aku pikir kau sudah mati.. atau menjadi bagian dari mereka." Lucis bertepuk tangan sambil membawa tiga mayat wanita dan dia baringkan di lantai dengan kasar.
"Dasar iblis sialan! Bagaimana bisa kau menyakiti menyakiti para wanita tidak bersalah itu? Dasar biadab!" Liliana menendang mahluk itu hingga menjauh darinya.
SLING!
Dengan mudahnya, Lucis kembali menutup para iblis itu didalam kurungan. Liliana mengambil nafas panjang, dia sampai terengah-engah karena lelah menghadapi mahluk itu.
"Haahhh.. haahh.."
Lucis mendekati Liliana sambil tersenyum, "Rupanya kau belum menemukan cara membunuh mahkluk itu. Walaupun sudah hidup dua kali, tapi kau masihlah kurang pintar."
Dia bahkan tau kalau aku hidup dua kali? Siapa dia sebenarnya?
"Lepaskan aku dari sini! Apa maumu sebenarnya? Kenapa kau menahan ku? Kau bisa saja mengambil wanita cantik lainnya untuk menjadi istrimu. Kenapa harus aku?" Liliana menatap tajam ke arah Lucis.
"Kenapa ya? Mungkin karena kau adalah istri orang itu," jawab Lucis dengan seringai dibibirnya.
"Kau berkata seolah-olah kau kenal dengan suamiku, apa kau kenal dia?" Tanya Liliana lagi penasaran.
"Heh!" Lucis hanya tersenyum dan tidak menjawab pertanyaan gadis itu. Dia menjauh dari jeruji besi, kemudian duduk santai di atas kursi. "Beristirahatlah dulu, nanti aku akan membuat mereka bermain denganmu lagi. Oh ya, apa kau mau makan?"
Liliana memalingkan wajahnya dari Lucis, dia sangat tidak suka padanya.
"Manusia jika tidak makan, pasti akan mati. Ayo makanlah bersamaku," ajak Lucis pada Liliana.
"Apa yang kau makan?"
"Ini.. makananku!" Lucis merentangkan kedua tangannya, matanya melirik pada 3 orang wanita yang tak bernyawa di lantai dengan bersimbah darah.
"Apa?"
Lucis menggigiti daging lengan wanita itu dan merobek-robeknya. Dia memakan daging manusia itu dengan lahap. Tak peduli mulutnya berlumuran darah, dia tetap memakannya.
Liliana sampai harus menahan mual melihat Lucis si raja iblis itu sedang makan. Dia berusaha tenang diluar walau sebenarnya dia ketakutan disana. Dia tak mau terlihat takut karena itu akan membuat Lucis semakin senang.
Menjijikkan... benar-benar..
"Kau benar-benar tidak mau ini?" Tanya Lucis sembari menyodorkan daging wanita itu pada Liliana. "Ini sangat enak dan mengenyangkan. Sayangnya aku lebih suka yang hidup,"
Menarik, wanita ini ketakutan tapi dia bisa menahannya dan tetap tenang. Persis seperti saudaraku itu.
"Kau adalah makhluk yang sangat menjijikan, pantas saja Tuhan mengusirmu dari surga! Tuhan sangat membencimu! Makhluk pembangkang yang hanya bisa merusak mahluk hidup lainnya dibumi!"
"APA kau bilang?" ucapan Liliana telah membangkitkan api emosi pada diri iblis itu.
"Aku bilang kau sangat menjijikkan dan kau adalah makhluk paling buruk di muka bumi ini!" Kata Liliana sarkas sambil tersenyum sinis.
Mata Lucis memerah, dia menatap Liliana dengan murka. "Kau salah paham! Tuhan mengusirku bukan karena Tuhan tidak suka padaku atau jijik padaku!" Lucis mencekik leher wanita itu hingga tubuhnya terangkat ke atas.
"Ackkkkkkkkkkkkk!!!! Kkeeeukkkkkk...." Mata Liliana melebar, dia amat kesakitan. Belum lagi kuku kuku Lucis yang panjang menusuk kulit lehernya yang tipis itu.
"Tuhan mengusirku...karena Tuhan takut kekuatan dan kekuasaannya akan tersaingi olehku!" Tangan Lucis gemetar, dia berencana membunuh gadis itu karena murka.
TBC...
__ADS_1
Apa Liliana akan mati? Apa dia akan selamat?
...-----***----...