Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 23. Blackey


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


"Astaga! Apa yang aku lakukan pada wanita yang tidak sadarkan diri?" Max melepaskan pagutan bibirnya dari bibir cantik Liliana. Dia terkejut dengan apa yang dia lakukan.


Anehnya sakit jantung yang sering dia alami, malah menghilang ketika dia mencium Liliana. Sekarang wajah Max yang menjadi merah dan tubuhnya memanas tanpa diketahui apa sebabnya.


Max kembali membaringkan wanita cantik itu ke ranjangnya. Tak lama kemudian, Almoore mengetuk pintu kamar pelan-pelan, dia membawa nampan berisi 2 piring makanan untuk Max dan Liliana.


Almoore kembali mengecek kondisi tubuh Liliana, dia berkata bahwa gadis itu sudah baik-baik saja dan hanya tertidur. Selagi menunggu Liliana bangun dari tidurnya, Max pamit pergi dari rumah itu.


"Aku titip dia, kalau dia sudah sadar.. segera kirimkan pesan padaku lewat blackey!" Ujar Max pada Almoore. Max menjentikkan jarinya, tiba-tiba saja muncul seekor burung elang berwarna hitam berukuran cukup besar berada di depannya.


"Salam dan hormat saya yang mulia," burung bernama Blackey itu bisa bicara, bahkan memberi hormat pada Max. Blackey adalah hewan ajaib peliharaan Max.


"Hem," jawab Max menanggapi hormat dari Blackey.


"Baik yang mulia. Tapi mengapa anda tidak menunggu nona sampai nona bangun?" tanya Almoore heran karena Max yang sedari tadi menunggu Liliana untuk bangun, malah pergi begitu saja.


"Aku mau mengurus cecunguk dulu sebentar," ucap Max dengan sorot mata yang tajam dan mengancam.


Apa dia mau membunuh orang? Tebak Almoore dalam hatinya melihat sorot mata Max yang memancarkan kemarahan.


Ya, pria itu memang sedang marah. Mungkin juga dia sedang bersiap untuk membunuh orang yang sudah mencoba melecehkan Liliana. Max memakai kembali topengnya untuk menutupi identitasnya sebagai putra mahkota.


Dalam sekejap mata, Max langsung menghilang disana. Dia sampai disebuah ruang bawah tanah seperti penjara. Disana ada Eugene dan beberapa kstaria pengawalnya.


"Hormat kami pada yang mulia," Eugene dan kstaria yang berada disana langsung memberikan hormat pada Max sambil duduk berlutut.


"Ya baiklah," jawab Max.


Ketika Max sudah menjawab hormat mereka, barulah mereka bisa berdiri tegap seperti semula. "Dimana si bajingan itu?" tanya Max dengan senyuman sinis dibibirnya.


"Sebelah sini, yang mulia." Ucap Eugene seraya menunjukkan jalan.


Eugene, Max dan Adrian (salah satu kstaria setia Max) datang menghampiri pria didalam sel penjara. Pria itu terlihat tak berdaya seperti sedang sekarat.


"To..long.. saya.." rintih pria itu kesakitan.


"Benar, aku akan menolongmu!" Max mengangkat kepala pria itu dengan sihirnya karena dia tak mau mengotori tangannya dengan menyentuh pria itu.

__ADS_1


"Ack!" Pria itu kesakitan karena tatapan Max menyakitinya. "Sa..sakit.. le-lepaskan saya,"


Orang ini pasti bukan orang biasa, hanya dengan tatapannya saja dia bisa menyakitiku. Siapa dia sebenarnya?


"Aku akan melepaskan mu dari rasa sakit itu, tapi kau harus memberitahu padaku...siapa yang sudah memintamu melakukan semua ini pada gadis itu?" Max menatap tajam ke arah pria yang diikat erat oleh tali itu, seakan-akan dia tidak akan melepaskannya.


"Sa-saya tidak mengerti maksud tu-tuan. Ka-kami hanya perampok biasa, kami tidak ada maksud un-untuk..."


Max menatapnya lagi dengan mata merah menyala, membuat si pria itu kesakitan. "AHHHHHH!! ACKK!!" pekiknya kesakitan.


Eugene dan tiga kstaria yang berada disana merasakan udara dingin dari tubuh Max. Mereka menatap Max dengan ngeri, tak pernah mereka melihat Max mengeluhkan kekuatan menyakiti orang lewat tatapannya.


Demi wanita itu, yang mulia sampai melakukan semua ini?


Eugene yang sudah berada lama berada disisi Max, tak pernah melihat Max semarah ini. Pada akhirnya si pria itu tidak tahan dengan rasa sakit yang diberikan oleh Max padanya, dia pun mengakui bahwa Adara yang memintanya untuk menculik, memerkosa dan membunuh Liliana.


Kstaria-kstaria yang ada disana terkejut karena Adara yang terkenal baik hati dan lemah lembut, bisa berbuat hal yang sangat jahat pada Liliana.


"Saya sudah mengatakan semuanya, sekarang to-tolong bebaskan saya!" pinta pria itu ketakutan.


"Bebas? Ya, aku akan membebaskan mu.." Max tersenyum sinis.


Pria itu tersenyum lega mendengar ucapan Max, tapi dia ketakutan melihat wajah Max yang masih menyimpan amarah padanya. Max mengambil pedang Eugene, kemudian dia menebas leher pria itu tanpa ampun.


"Kau bahkan tidak mengucapkan maaf ataupun terimakasih padaku, mengesalkan," Max mengusap darah yang terciprat ke wajahnya dengan telapak tangannya. "Sial, si bajingan ini membuatku sangat kotor!"


Kepala pria itu menggelinding ke bawah, Max sama sekali tidak ketakutan melihatnya. Dia sudah terbiasa melihat pemandangan berlumuran darah itu, karena dia sudah berada dimedan perang sejak usianya 10 tahun.


"Hiyyy," para kstaria itu menelan ludah melihat kepala si pria menggelinding dibawah mereka.


"Yang mulia harus kami apakan mayatnya?" tanya Eugene.


"Khusus yang ini ,berikan saja untuk makan malam Blackey!" Max tersenyum menyeringai.


Malang sekali pria itu.


Kasihan ckckck


Kedua kstaria disana masih ngeri mendengar ucapan tidak berperasaan dari Max. Padahal mereka juga sudah berada lama disisi Max. Melihatnya menyiksa dan membunuh orang pasti sudah terbiasa, tapi mereka tetap saja memiliki rasa ngeri.

__ADS_1


Yang mulia, nona cantik berambut merah sudah bangun.


Max mendengar suara Almoore yang disampaikan oleh Blackey melalui telepatinya. Max tersenyum mendengar kabar baik itu.


"Yang mulia, anda mau kemana lagi?" tanya Eugene pada sang putra mahkota.


"Kenapa kau selalu bertanya? Padahal kau sudah tau aku mau kemana!" Max gusar mendengar pertanyaan yang sering ia dengar dari Eugene.


"Maafkan saya yang mulia. Lalu apa yang harus kami lakukan?" Eugene bertanya lagi.


"Apa maksudmu?" Max mendongak.


"Maksud saya tentang dalang penculikan ini," kata Eugene memperjelas nasib Adara.


"Untuk sementara ini, kalian harus tutup mulut dulu. Jangan sampai hal ini tersebar keluar, aku akan bicara dengan korbannya dulu," jelas Max sambil memikirkan Liliana.


Eugene dan dua kstaria disana terlihat bingung dengan ucapan Max. Pasalnya Max yang selalu memutuskan sendiri dalam melakukan sesuatu, memutuskan untuk bertanya lebih dulu pada Liliana.


"Oh ya, kirimkan juga pesan pada nona yang bernama Adara itu!" Entah apa yang Max pikirkan, terlihat seringai diwajahnya. Seperti ada ide jahat di dalam otaknya.


...****...


Di kediaman Duke Geraldine, Adara sedang minum teh dengan santai dengan senyuman indah dibibirnya.


"Sepertinya hari ini, suasana hati nona sangat baik." Anya tersenyum melihat majikannya tersenyum bahagia dan terlihat santai.


"Haha, tidak ada yang lebih membahagiakan daripada hari ini." Adara tertawa memikirkan kondisi Liliana yang mungkin saja sudah dipermalukan oleh pria-pria suruhannya itu.


Apa dia sudah mati? Atau masih dilecehkan oleh mereka?


Saat sedang memikirkan musibah yang menimpa Liliana, tiba-tiba saja seorang pelayan


datang dan memberitahukan bahwa ada hadiah untuknya di luar mansion.


Adara yang sudah bahagia mendapatkan hadiah itu, langsung buru-buru keluar dari rumahnya. Dia melihat Nicholas memegang sebuah kotak besar dengan pita merah ditengahnya.


"Hadiah dari siapa ini Nicholas?" tanya Adara sambil memegang kotak itu dengan senyum bahagia.


"Saya tidak tahu nona," jawab Nicholas.

__ADS_1


Adara tak sabar untuk membuka kotak itu, dia pun membuka kotaknya. Matanya terpana melihat isinya. "KYAAAAKKK!!" Teriak Adara takut.


...---***---...


__ADS_2