Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 163. Mode iblis


__ADS_3

...😈😈😈...


Sementara itu di depan club' diamond, semua orang di dalam sana telah diringkus oleh Adrian, Eugene dan juga pasukan kerajaan yang lainnya.


Madam Morena juga sudah ditangkap, dia sangat marah karena tidak bisa menemukan Liliana dimana-mana. Madam Morena dan semua anak buahnya di bawa ke sebuah kereta yang akan membawa mereka untuk tanggung jawabkan perbuatannya dan mendapatkan hukuman yang setimpal.


"Madam, aku tidak melihat kesayanganmu ada disini? Apa dia melarikan diri?" tanya Erika memanasi.


"Sial! Berlianku yang berharga dan aku beli dengan harga mahal, kabur entah kemana? Awas saja kau Liliana! Kalau aku menemukanmu, jangan harap kau bisa hidup!" Gerutu Madam Morena kesal.


"Erika, berhenti bicara yang macam-macam kepada Madam. Kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Liliana, jadi jaga bicaramu!" Ujar Teresa pada Erika, dia tidak suka Erika memanasi madam Morena seperti itu.


"Hey Teresa! Apa yang aku katakan itu benar? Dia pasti kabur bersama pria misterius itu, dia dia tidak mau terlibat dengan kita!" Erika Raja menjelek-jelekkan wanita yang tidak ada di sana dan Teresa selalu membelanya didepan madam Morena.


Sayangnya, madam Morena sudah terhasut oleh ucapan Erika dan dia bersumpah jika dia kembali menemukan Liliana, dia akan membuatnya menderita.


*****


Di kamar tempat Liliana dan Max menginap.


Sekujur tubuh Max gemetar, nafasnya terengah-engah dan itu membuat Liliana bertanya-tanya, sebenarnya apa yang terjadi kepada Max? Mengapa dia seperti itu?


Sinar hitam yang berada dileher Max belum juga menghilang, pria itu juga masih kesakitan. "Ughh.... arrrgghhh..."


"Tu-tuan...saya akan panggilkan seseorang." Liliana dibuat bingung oleh Max, dia takut terjadi sesuatu pada Max.


"Ja-jangan!" Max memegang tangan Liliana.


Sial! Mengapa tubuhku sangat panas seperti terbakar? Apa ini adalah efek dari simbol iblis? Kenapa harus aktif di saat seperti ini?


Liliana bisa merasakan tangannya yang gemetar dan terasa panas itu. Liliana semakin panik karenanya. "Aku akan--"


"Kau! Diamlah disini dan jangan pergi kemana-mana!" Terlihat Max seperti berusaha menopang tubuhnya untuk berdiri. Deru nafas nya terdengar begitu kencang, sesaat Liliana melihat mata Max berubah menjadi merah.


"Tu-tuan, apa yang terjadi pada anda? Apa anda sakit?"


"Akuhhh... baik-baik sajahh.." ucap Max dengan suara yang terengah-engah.


Ya Tuhan! Kepalaku rasanya seperti mau pecah, panas dan sangat...


Ketika Max keluar melalui jendela kamar dari lantai 3 penginapan itu, Liliana melihat ada tanda ular di leher Max. Dia tercengang juga cemas melihat Max seperti itu.


Max sendiri kini sudah berada di padang rumput yang sepi sendirian di malam yang gelap. "SIAL! Kenapa disaat seperti ini, aku malah..."


Tubuh pria itu jatuh terduduk, sinar hitam itu semakin menyelimuti tubuhnya yang merambat dari leher. Dia memegang kepalanya yang berdengung keras. Seakan tahu apa yang akan terjadi kepadanya, dia meminta Blackey yang tadinya bersemayam di dalam pedang untuk segera keluar.


"Aarrgghh...Blackey!!"


Dengan cepat si burung itu sudah muncul di depan Max, sepertinya Blackey sudah merasa tidak heran lagi dengan sosok Max yang seperti itu. "Yang mulia, apa yang mulia kambuh lagi?" Blackey terkejut melihat tubuh Max yang sudah diselimuti sisik ular, matanya juga berubah menjadi merah seperti mata ular. Bahkan sisik itu juga sudah mulai merambat ke wajahnya.


"Ja--ngann...banyak...ta--nyaa...Pergilah dan jaga Liliana untukku!" Titah Max dengan suara berat yang tertahan, ya dia memang sedang menahan rasa sakit di dalam tubuhnya.


"Tapi yang mulia bagaimana? Saya ya mungkin meninggalkan yang mulia dalam kondisi seperti ini?" Blackey cemas melihat kondisi majikannya yang seperti itu.


Max kesulitan untuk bicara dan suaranya berat. "Jangan khawatirkan a--kuhh...pergi saja dan beritahu pada Eugene...jika aku belum kembali seperti semu--la, untuk menungguku di pantai--besok!"


"Baiklah yang mulia, saya akan pergi untuk menemui nona Liliana." Kata Blackey patuh pada Max.

__ADS_1


Tak lama setelah Blackey terbang menjauh darinya, Max berubah menjadi manusia setengah ular. Kepalanya manusia dan badannya ular.


Entah sejak kapan Max berubah jadi makhluk menyeramkan seperti ini. Dia telah menjadi budak iblis dan jika tandanya mengalami perbedaan, maka dia harus siap ketika tubuhnya mengalami perubahan dan artinya dia harus segera melaksanakan tugas sebagai budak iblis.


Sedih, memang.


Namun, dia tak bisa berbuat apa-apa lagi untuk melawan segel iblis yang ada di dalam tubuhnya, bahkan untuk menekannya . Semua ini demi kehidupan wanita yang dia cintai. Hidupnya telah menjadi taruhan, tapi sayangnya Liliana tidak mengetahui semua itu.


~Blackey, hanyalah dia satu-satunya yang tau tentang Max yang memutar waktu karena Max menceritakannya pada Blackey tentang keadaannya. Dia hanya ingin satu orang saja yang tau tentang dirinya dan bisa menjadi tempatnya untuk berbagi cerita.


Sudah 2 kali dia berubah menjadi monster setengah ular ini sejak dia kembali mengulang waktu. Dan setiap dia berubah menjadi manusia setengah ular alias iblis ular, dia pasti akan mencari darah seseorang untuk mangsa dan dia akan kehilangan kendali.


"Darah....haus....haus..." Max membuka matanya lebar-lebar, kini mata itu bukan seperti matanya lagi. Dia berubah menjadi iblis dan mencari mangsa untuk dia makan.


Rasa dahaga dan lapar selalu menguasai dirinya ketika dia menjadi sosok ini. Namun dia menahan dirinya untuk memangsa manusia dan memilih mencari hewan untuk dia hisap darahnya. Begitu mengerikannya kutukan ini!


Max dengan sosok setengah ular ini mencari mangsa di sekitar Padang rumput yang sepi itu. Lidahnya menjulur keluar, hidungnya kembang kempis mencari sesuatu yang bisa dia makan.


Dari kejauhan, Raja iblis Utara melihatnya dan dia tersenyum senang bisa menjadikan Max budaknya. "Ckckck...ya inilah harga yang harus kau bayar demi cintamu, jadi rasakanlah penderitaan ini seumur hidupmu...adik Raja Lucifer." Gumam Raja iblis Utara mengejek Max yang kini menjadi budaknya karena segel itu. "Kau hanya bisa menahan n*fsu mu akan darah kalau kau meminum darah dari orang yang kau cintai, ya...tapi aku tidak akan memberitahu itu padamu. Biarlah kau menjadi pesuruh ku untuk mencelakai umat manusia lebih banyak lagi!"


Tak lama kemudian, Max menemukan seekor kelinci kecil yang berkeliaran disekitar sana. Dia langsung memakan kelinci itu, menghisap darahnya lalu membuang bangkainya ke sembarang tempat. "Aku...aku masih haus... aarrgghh...."


Setelah meminum darah kelinci, Max masih merasakan haus yang luar biasa itu. Dia pun masih mencari mangsa di sekitar sana. "Ugghh... Kkkeukhhhh...." Max memegangi lehernya, dia benar-benar tidak tahan dengan rasa haus yang membuatnya hampir mati ini. "Haus....haus...."


Kembali lagi dia mencari sesuatu untuk di hisap darahnya, kemudian dia menemukan seorang pria bertopi yang entah mencari apa di Padang rumput malam-malam begitu.


"Kemana ya kalung milik Elisha? Apa dia benar-benar menjatuhkannya disini?" gumam pria paruh baya itu.


Max mencoba menahan hasratnya untuk meminum darah pria itu walau dia haus. Beberapa kali dia menelan saliva dan dia tidak kuat lagi. Saat ini Max bukanlah manusia, tapi dia adalah iblis dan tentu saja dia tidak terkendali.


Dia pun menerkam pria paruh baya itu, mengigit lehernya lalu menghisap darahnya. "Aaahhhhh!!"


"Hah? Apa yang aku lakukan? Mengapa aku..."


Max terkejut mendapati dirinya berlumuran darah begitu banyak, ditangannya juga. Dan dia lebih terkejut lagi saat melihat ada pria paruh baya yang terbaring diatas rerumputan, pria itu berlumuran darah dan ada bekas gigitan besar di lehernya. Ia juga heran kenapa dia bisa berubah secepat ini? Biasanya dia harus meminum dulu banyak darah agar dia kembali menjadi manusia. Tapi kenapa?


"A-apakah aku yang sudah...." Ia tak berani berkata-kata, apakah ini memang perbuatannya? Jika benar, maka ini adalah masalah besar karena dia sudah membunuh manusia. "Ti-tidak mungkin aku membunuhnya. Bukan aku! Bukan aku yang membunuhnya,aku hanya makan darah hewan saja!" Ia berusaha menyangkal kenyataan yang ada didepan matanya.


Aku sudah membunuhnya. Ya Tuhan! Terkutuklah aku! Max merutuki dirinya sendiri didalam hati. Kenapa dia bisa sampai kebablasan membunuh Liliana.


"Ayah....ayah dimana?? Ayah!"


Terdengar suara seorang wanita sedang memanggil ayahnya. Max langsung panik dan menyembunyikan dirinya, namun matanya masih melihat pria paruh baya itu.


Wanita itu rupanya adakah seorang anak perempuan yang cantik, berusia sekitar 10 tahunan. Dia tidak sendirian, tapi bersama seorang ibu. "Ibu, dimana ayah?'


"Katanya dia mau mencari kalungmu yang hilang disini." jelas ibu itu pada anaknya.


"Benarkah Bu?" Tanya anak perempuan itu.


Kemudian, sang ibu terkejut sampai menjatuhkan lampu penerangan yang dibawanya. "SUAMIKU! Tidak, suamiku!!" Wanita paruh baya itu ambruk, lalu menghampiri pria yang dia panggil suami itu. Anak perempuannya juga ikut menghampiri ayahnya. "Ayah!! Ayah!!"


"Apa yang terjadi? Suamiku! Kau kenapa?!" Wanita paruh baya itu menangis, mendapati suaminya tidak bernyawa lagi dengan bersimbah darah dan wajah pucat.


"Ayah...ayah...kenapa ayah meninggalkanku? ayah kan susah janji padaku untuk kembali! Ayah...hiks..."


Anak perempuan dan wanita paruh baya itu menangisi si pria yang sudah dibunuh oleh Max secara tidak sengaja dibawah pengaruh mode iblisnya. Max sakit hati melihat itu dan merasa bersalah karenanya seorang suami dan seorang ayah tewas.

__ADS_1


Dalam hati dia mengucapkan kata maaf dan mengutuk dirinya sendiri. 'Kau sangat kejam! Kau bajingan! Brengsek!'


Isak tangis seorang anak dan istri yang ditinggal itu, membuat Max tidak tega dan dia hendak menolong mereka. Namun sudah ada warga disekitar sana yang menolong dan akhirnya dia mengurungkan niat itu.


Aku seorang pembunuh. Aku pembunuh! Aku membunuh orang yang tidak berdosa.


Max memang terbiasa membunuh manusia lainnya di medan perang, tapi dia membunuh orang-orang yang pantas dia bunuh. Namun kali ini rasa bersalah menyiksanya, karena dia telah membunuh orang yang tidak berdosa.


Max pun kembali ke penginapan, bukan lewat pintu tapi lewat jendela seperti tadi. Dia melihat Liliana yang baru saja masuk ke dalam kamarnya.


"Tuan--apa yang terjadi? Kenapa tuan...." Liliana kaget bukan main saat melihat wajah dan baju Max penuh dengan darah. Kini topengnya juga sudah terlepas dan menunjukkan seluruh wajahnya yang sedari tadi membuat Liliana penasaran.


Max sendiri heran mengapa Liliana menatapnya dengan mata lebar seperti itu. Lalu dia pun menyadari bahwa dirinya masih berlumuran darah. 'Gawat! Lily tidak boleh tau kalau aku adalah monster. Lebih baik aku menjauh darinya'


"Kau terluka tuan? Kau dari mana saja? Saya sudah mencari anda dari tadi!" Oceh Liliana khawatir pada Max. Dia berjalan mendekati Max, akan tetapi pria itu berjalan mundur darinya.


"Tuan..." Liliana semakin bingung.


"Jangan mendekat!" Max pun pergi dari sana, lewat jendela dan dia menghilang begitu saja. Liliana dibuat bingung dengan semua itu.


****


Setelah itu Max tidak menunjukkan wajahnya didepan Liliana lagi, Liliana tinggal seorang diri di kamar yang sudah dipesan oleh Max. Hingga keesokan harinya, ketika Liliana akan check out dari sana. Seorang pria yang adalah pemilik penginapan itu, memanggil Liliana.


"Hey! Nona rambut merah!"


"Apa anda memanggil saya, tuan?" Tanya Liliana.


"Kau yang tinggal bersama pria bertopeng itu bukan?"


"Iya benar." Jawab Liliana dengan kepala setengah menunduk.


Pria itu membawa sepucuk surat dan sekantong kecil yang entah apa isinya, dia memberikan itu semua pada Liliana. "Apa ini tuan?"


"Aku tidak tahu, yang jelas dikantong itu ada uang. Sumpah demi tuhan aku tidak mengambilnya sedikitpun! Aku adalah orang yang jujur." Pria itu berusaha menjelaskan pada Liliana.


"Ini dari siapa? Dan kenapa diberikan pada saya?" Tanya Liliana bingung.


"Pria bertopeng itu, dia yang menitipkannya padaku sebelum pergi. Katanya itu untukmu," jelas pria itu singkat.


"Maaf tuan, apa tuan tau siapa namanya?"


"Pacarmu sendiri kau tidak tahu namanya? Astaga!"


"Katakan saja padaku, siapa nama pria bertopeng itu?!"


"Saya tidak tahu, mungkin disurat itu tertulis namanya." Ucap si pria sambil tersenyum tipis.


Sebelum benar-benar pergi meninggalkan penginapan itu, Liliana duduk dulu di sebuah kursi panjang sambil menikmati secangkir teh yang dia pesan.


Dia bermaksud untuk membaca surat yang diberikan oleh Max. "Kenapa dia tiba-tiba meninggalkanku seperti ini? Padahal semalam kami hampir saja...semuanya terasa aneh, apa semalam dia hampir dibunuh atau bagaimana? Kenapa dia berlumuran darah? Aish.... terlalu banyak pertanyaan hingga aku pusing sendiri!"


Liliana pun mulai membuka surat itu, disana hanya tertulis beberapa kata saja.


...Maaf, tolong lupakan semua yang terjadi diantara kita. Anggap saja kita tak pernah bertemu, jika suatu saat nanti kau bertemu denganku jangan memanggilku atau pura-pura kenal denganku karena kita hanya orang asing yang tak sengaja dipertemukan oleh sebuah kebetulan. Oh ya...uang disana ada 700 koin emas, kau bisa pakai untuk membeli rumah atau kebutuhanmu yang lain. Ingat! Kau tidak boleh kembali ke tempat terkutuk itu lagi....


"Hah! Apa-apaan ini? Dia anggap apa aku ini? Dia bahkan tidak menyebutkan namanya sampai akhir. Baiklah...kalau kau bilang begitu, maka kita tidak usah bertemu lagi! Aku juga tidak mau tuh kenal denganmu lagi, kita kan hanya orang asing."

__ADS_1


Liliana meremass surat itu dengan geram. "Huh!" Desis Liliana kesal.


...****...


__ADS_2