Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 115. Pemukiman


__ADS_3

...****...


Max menggoyangkan pinggulnya, dia menusuk nusuk Liliana sepuas hatinya. Sementara Liliana mendesah dan mengerang akibat serangan suaminya itu.


Bercak darah membasahi seprai yang berwarna biru itu. Menandakan bahwa sesuatu telah diterobos dan malam pertama telah terjalin.


Peluh peluh keringat membasahi Max dan Liliana yang sama-sama nikmat sekaligus lelah dengan aktivitas mereka. Ketika Liliana melambaikan bendera putih, Max masih bertenaga dan ingin terus melanjutkannya.


Berbagai macam gaya telah dipraktekkannya, Max akhirnya berbuka puasa. "Yang mulia...sudah cukup, apa kau tidak lelah, hah?" tanya wanita itu dengan nafas terengah-engah.


"Sebentar lagi sayang, sekali lagi ya?" Bujuk Max sambil menyentuh bagian sensitif tubuhnya.


"Kau ini...baiklah sekali lagi saja ya?" Kata Liliana setuju walau dia sudah sangat lelah bermain dengan suaminya.


Dia makan apa ya? Sampai staminanya tidak habis begini.


"Terimakasih. Sayang, aku mau kau diatas." ucap Max sambil merebahkan tubuhnya di ranjang.


"A-apa?" Liliana terperangah sambil melihat ke arah suaminya.


"Daritadi aku terus yang diatas, aku mau sekarang kau yang diatas." Max merentangkan kedua tangannya, dia menunggu Liliana naik ke atas tubuhnya.


"Tidak mau, itu memalukan..kau ini mesum ya?" Cicit wanita itu tersipu malu melihat tubuh suaminya yang tanpa sehelai benang itu.


"Sayang, ayo naik!" Ujar pria itu sudah tak sabar.


"Tidak mau, aku malu.."


"Sayang..." lirihnya memelas lagi.


"Uh! Sekali saja dan sekali lagi, ini yang terakhir!" Tegas wanita itu pada suaminya.


Liliana dan Max melakukannya lagi entah yang keberapa kalinya. Liliana berada posisi atas seperti penunggang kuda. Dia memeluk sang suami dengan erat, menikmati percintaan itu.


Setelah tenaga Liliana sudah diambang batas. Gadis itu tertidur pulas bahkan tanpa ke kamar mandi dulu. Max yang sebenarnya masih belum puas dan ini mengajak istrinya bermain satu ronde lagi, tak jadi mengajaknya. Dia tak tega melihat istrinya yang sudah tertidur pulas itu.


"Haahhh.. baiklah, kau tidur saja dulu." Max menyelimuti tubuh polos istrinya dengan selimut hangat. Malam itu adalah malam yang luar biasa untuknya. "Terimakasih istriku,"


Saat Max pergi ke dekat balkon, Liliana membuka matanya. Ternyata dia tidak tidur pulas seperti apa yang terlihat sebelumnya.


Sudah sekali, dengan mudahnya dia minta lagi menjadi dua kali, lalu jadi tiga kali. Dan entah berapa kali. Sudahlah aku pura-pura tidur saja, walau sebenarnya tubuhku remuk, saking lelahnya aku sulit memejamkan mata. Tapi aku harus memaksakannya, besok pagi aku harus bisa berjalan.


Tadinya Liliana sulit untuk tidur, namun dia akhirnya tertidur juga. Bahkan dia bangun saat matahari sudah berada ditengah. "Uhhhh..." Liliana merentangkan kedua tangannya, kemudian dia kembali menutupi tubuh polosnya dengan selimut. Ketika dia menyadari Max sedang duduk diatas ranjang.


"Istriku, kau sudah bangun?" sambut Max dengan wajah bahagia dan berseri-seri.


"Hem..." wanita itu memalingkan wajahnya dari Max.


Tidak adil! Mengapa dia masih terlihat bertenaga? Apa hanya aku saja yang lelah?. Liliana tak senang melihat suaminya tersenyum bahagia dan terlihat masih berenegik. Sedangkan tubuhnya masih lelah dan pegal.


"Wahai istriku, tersenyumlah. Bukankah hari ini adalah hari yang cerah setelah semalam?" Max memeluk sang istri dari belakang.


"Siapa yang bilang semalam, sekali lagi saja? Tapi nyatanya.. kau meminta sampai beberapa kali." Gerutu Liliana sebal.


"Maafkan aku, lain kali aku tidak akan terlalu berlebihan." Max menyadari kesalahannya semalam.


"Iya baik, syukurlah kalau kau sadar!" Seru Liliana sambil membelai wajah suaminya. "Tapi yang mulia, kenapa kau tidak membangunkan aku? Ini pasti sudah sangat siang," ucap wanita itu sambil melihat ke arah jendela ruangan itu yang cahayanya sudah terang benderang.


"Aku lihat kau sangat lelah. Mana tega aku membangunkanmu," jelas pria itu sambil melepaskan pelukannya.


Liliana melihat ke arah Max, "Hem, semalam kau tidak tega padaku."

__ADS_1


"Semalam aku tidak tahan," ucapnya jujur. "Oh ya, aku sudah siapkan makanan untuk kita. Kau pasti sangat lapar, mandilah dan pakai baju. Lalu turun ke lantai bawah." Max beranjak dari ranjang itu, dia tersenyum pada istrinya yang semalam sudah memberikannya banyak cinta.


"Bajuku kan sudah dirobek olehmu, semalam. Lalu aku pakai apa?" tanya Liliana bingung sambil melihat sisa sisa gaunnya yang robek berserakan di lantai.


"Ada tuh, baju itu." Max mengarahkan matanya pada sebuah gaun sederhana berwarna merah muda. Liliana terpana melihat gaun itu ada disana, bagaimana Max mendapatkannya?


Liliana tidak bicara karena dia menelan pertanyaannya sendiri, dia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Membersihkan dirinya dari sisa sisa semalam. Di kamar mandi lantai atas itu terlihat lebih bersih, berbeda dengan kamar mandi di lantai bawah. Dan Max yang membersihkannya.


Wanita itu berbaring diatas bathtub. Namun sayangnya dia hanya bisa mandi dengan air dingin, karena tidak ada air hangat disana. Usai membersihkan diri, Liliana melihat dirinya di cermin. "Ish...ternyata bekasnya susah hilang. Dasar Maximilian!!" Liliana mengepalkan tangannya dengan gemas, melihat tanda-tanda cinta di tubuhnya masih ada. Terutama di bagian leher dan dada.


Selagi istrinya masih berada di dalam kamar mandi, di lantai bawah. Mas sedang memulihkan kondisi Mana ditubuhnya. Kini keadaannya sudah lebih membaik, walaupun dia masih belum bisa menggunakan sihir teleportasi. Tapi dia sudah bisa menggunakan sihir lainnya.


"Syukurlah...mana ku sudah kembali walau tidak penuh. Setelah ini, aku dan Lily harus segera kembali ke kerajaan."


Duk, Duk..


Terdengar suara langkah kaki yang menuruni tangga. Max melirik ke arah wanita cantik itu, dia terpana melihatnya. "Istriku, mari makan." ajaknya.


"Iyah," jawab wanita itu singkat.


Liliana menghampiri suaminya yang sedang duduk di meja makan. Di atas meja itu terlihat beberapa makanan mewah yang tersedia, tidak seperti sebelumnya mereka hanya makan seadanya.


"Yang mulia, dari mana kau mendapatkan banyak makanan mewah seperti ini?"


"Selagi kau mandi, aku menemukan sebuah pemukiman warga disekitar sini. Ya, jaraknya lumayan jauh juga. Aku melihat ada seorang pedagang yang menjual makanan, lalu aku membelinya. Semoga sesuai seleramu,"


"Hem, daripada membuang-buang uang seperti ini. Lebih baik yang mulia membelikan bahan makanan dan biarkan aku yang mengurus sisanya. Tapi, tak apa...karena sudah terlanjur membeli. Kita makan saja."


"Dasar pelit! Padahal kau putri seorang Duke yang paling kaya di kerajaan Istvan, tapi kau sangat pelit!" Max mengambil sendok sambil menatap istrinya yang duduk berhadapan dengannya itu.


"Yang mulia, ini bukan pelit tapi gaya hidup hemat." Liliana tersenyum.


"Hemat apanya? Huh! Aku tidak mau kalau nanti kau pelit pada anak-anak kita. Dan aku ingin kalau kita memanjakan anak-anak kita, tumbuh dengan banyak kasih sayang."


Baik Liliana maupun Max, mereka sama-sama tidak memiliki kenangan indah dan baik bersama orang tua mereka, terutama tentang sosok ayah.


Baik Raja maupun Duke Geraldine, mereka tidak menunjukkan kasih sayang pada kedua anak mereka. Max dan Liliana/ Adaire seperti anak yang terbuang. Yang satunya lebih memperhatikan anak lainnya dan ayah yang satunya lagi lebih memperhatikan ibu tiri. Mereka sepakat, bahwa kelak jika mereka mempunyai anak. Mereka tak mau anak-anak mereka sampai kekurangan kasih sayang.


Setelah selesai makan siang, keduanya memutuskan untuk meninggalkan rumah itu dan berjalan kembali menuju ke negeri Istvan, negeri dimana mereka seharusnya berada.


"Lily, apa kau lelah?" tanya Max pada Liliana yang berjalan tepat disampingnya. Mereka sudah berjalan selama hampir 1 jam, namun masih berada di padang rumput.


Liliana menggeleng, "Tidak apa-apa. Tapi, apa pemukimannya masih jauh?" tanya Liliana sambil melihat padang rumput disekitarnya.


"Masih jauh. Apa kau mau aku gendong?" Max menawarkan diri untuk menggendong istrinya.


"Aku masih punya dua kaki, usiaku baru akan menginjak 17 tahun. Aku masih sehat," ucap wanita itu menolak dengan ketus. Dia berjalan mendahului Max.


"Oh baiklah nona Liliana, jangan salahkan aku kalau nanti kau jatuh karena lelah. Jangan minta aku menggendongmu juga!" Max menyilangkan kedua tangannya didada, dia menatap wanita didepannya itu dengan tajam.


"Aku tidak akan," jawabnya datar.


Belum lama bicara, tiba-tiba saja tubuh Liliana oleng karena tersandung sesuatu. "Kyaakkk!!!"


"Lily!"


Max dengan sigap menangkap tubuh istrinya, dia sudah berada didepan Liliana. "Aku kan sudah bilang..."


"Hem.." Liliana tidak bicara banyak.


Max menundukkan badannya, dia jongkok didepan wanita itu. Tangannya menepuk-nepuk punggung, matanya menatap Liliana seraya memintanya untuk naik ke punggungnya itu. "Aku berat," ucap wanita itu yang secara tidak langsung menolaknya.

__ADS_1


"Kau tidak berat sama sekali. Semalam aku mengangkat tubuhmu dan memindahkan posisi bercinta kita beberapa kali, aku tidak lelah."


Liliana menatap tajam suaminya dengan mata yang lebar. "Yang mulia! Sekali lagi kau mengatakan tentang semalam, aku akan membunuhmu!" ancam wanita itu dengan bibir mengerucut.


"Mati ditanganmu, aku tidak masalah. Asalkan di pelukanmu." Kata Max sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Kau ini..."


"Hup! Ayo naik,"


"Tidak perlu,"


"Ayo naik, sebelum aku yang menaikimu."


"Yang mulia, kenapa kau selalu mesum?!"


Sejak kejadian tadi malam, kenapa pria ini menjadi begitu mesum?


"Lily, aku tidak suka berkata dia kali! Naik atau aku yang akan menaikimu,"


"Kalau aku berat, jangan salahkan aku ya! Jangan mengeluh, jangan sampai kau menyesal.."


"Tidak akan," pria itu menggeleng dengan yakin.


Kau seperti kapas, mana mungkin berat.


Diam-diam Liliana tersenyum manis, dia naik ke punggung sang suami, untuk pertama kalinya setelah malam pertama mereka. Tangan gadis itu melingkar di tubuh Max. Kemudian Max berjalan menuju ke pemukiman yang warga.


"Lily, apa kau tau?"


"Ya?" sahut Liliana.


"Kau adalah orang pertama yang berani naik ke punggung seorang calon Raja,"


"Lalu? Apa kau mau memarahiku? Kau akan menghukumku?" tanya Liliana sambil tersenyum.


"Ya, aku akan menghukummu."


"Apa?"


"Aku akan menghukummu, berada disampingku selamanya. Apa kau bersedia?" Tanya pria itu sambil melirik ke arah Liliana yang berada dibelakang tubuhnya.


Liliana mengangguk setuju, dia pun tersenyum. "Ya, aku bersedia."


"Jangan pernah tinggalkan aku, Lily.."


"Kau juga, jangan pernah tinggalkan aku, Maxim." ucap Liliana sambil tersenyum.


Tak lama kemudian, keduanya sampai di pemukiman warga. Liliana merasa tertipu, karena Max bilang sebelumnya bahwa masih jauh untuk sampai kesana. Nyatanya hanya berjalan beberapa langkah saja. Dia merasa dikerjai oleh suaminya. Untuk membujuk istrinya yang merajuk, Max membelikan eskrim untuk Liliana. Mereka berdua memakannya bersama sambil duduk di kursi panjang dengan santai.


Ketika sedang santai, tiba-tiba saja suasana di pusat pemukiman itu menjadi gaduh. Warga disana berlarian kesana kemari.


"Ahhh!! Tolong!! Tolong!! Ada iblis!!" suara warga berteriak-teriak ketakutan, meminta pertolongan.


Liliana dan Max melihat pemandangan didepan mereka, beberapa warga ada yang menjadi iblis.


"Maxim... mungkinkah,"


"Ambil ini!" Max menyerahkan belati miliknya pada Liliana. Wanita itu langsung mengambilnya.


"Mereka tidak bisa dibunuh dengan ini," ucap Liliana yang sebelumnya pernah melawan iblis.

__ADS_1


"Tebas lehernya, lalu bakar!"


...----*****----...


__ADS_2