
Liliana tetap meminta Max untuk pergi, sebaliknya Max bersikeras untuk tetap tinggal disana sebelum dia bicara dengan Liliana.
Hatinya resah gelisah tak tenang karena belum bicara dengan wanita itu. Dia tidak akan pergi sebelum bicara dengan Liliana.
"Yang mulia, jika anda tetap memaksa saya bicara dengan kepala panas seperti ini. Saya tidak yakin bisa bicara dengan baik dengan yang mulia. Lebih baik kita bicara disaat kepala kita sudah dingin."
"Tapi hatiku tidak tenang,"
"Ini sudah malam, ini jam orang beristirahat. Bukannya kau juga lelah karena habis bermain dengan nona Julia?" tanya Liliana dengan senyum sarkas dibibirnya.
Max tercekat dengan mata melebar menatap Liliana. "Lily..."
"Kalau anda tidak pergi sekarang, saya tidak akan mau bicara dengan anda lagi." ancam wanita itu pada Max dengan tatapan tajam tertuju ke arahnya.
Tidak baik jika dia terus disini, semua orang pasti akan membicarakan hal buruk lagi tentangnya. Aku tidak peduli dengan reputasiku, tapi reputasinya sebagai calon raja.
Max menghela nafas, dia mendesah dan memilih menyerah saat mendengar Liliana mengancam dirinya. "Baiklah, aku menyerah...aku akan kembali sekarang. Tapi kau harus janji padaku, bahwa besok kita harus bicara."
"Baiklah, saya janji yang mulia." ucap Liliana sambil tersenyum tipis.
Max pun berpamitan dengan sopan pada Duke Geraldine, dia masih menganggap pria itu sebagai ayah mertuanya. "Ayah, saya pamit pulang." Max membungkukkan badannya didepan sang Duke dengan penuh rasa hormat.
"Yang mulia, anda tidak perlu membungkukkan badan didepan saya seperti ini." ucap Duke Geraldine merasa tidak nyaman dengan perlakuan calon raja kepadanya.
"Ini adalah tatakrama saya sebagai menantumu, ayah." ucap Max sopan.
Belum lama dia marah-marah karena mau bertemu dengan Liliana. Sekarang sikapnya sangat sopan. Tapi kau adalah pria yang menyakiti putriku, aku tidak bisa membiarkanmu berada disisi putriku lagi.
Max pergi dari kediaman Duke Geraldine dan dia kembali ke istana. Namun dia dikawal oleh kstaria duke Geraldine. Sementara itu duke Geraldine berbicara dengan putrinya tentang hubungannya dan putra mahkota.
Mereka berdua berada didalam ruangan kerja sang Duke, dengan perapian yang hangat karena dini hari itu sedang hujan deras.
"Lily, ayah akan bertanya padamu...apa kau akan kembali pada putra mahkota?" tanya Duke Geraldine sambil menatap putrinya yang duduk tak jauh dari perapian.
Liliana menengadah, dia menatap ke arah Duke. "Ayah, apa aku punya jalan untuk kembali bersamanya lagi? Sepertinya tidak ada, kan?"
"Lily, sejujurnya ayah tidak mau kau kau kembali pada putra mahkota. Tapi, jika kau masih ingin bersamanya dan kau masih mencintainya...ayah akan mengusahakan yang terbaik agar kau bisa kembali dengannya. Meski harus menantang semua orang-"
"Tidak ayah! Aku tidak mau mengambil jalan yang rumit, jikalau aku kembali dengannya...aku pasti hanya akan jadi selir di istananya. Julia Norton, dia pasti akan menduduki kursi Ratu suatu saat nanti. Ini semua aku katakan bukan karena aku tidak mau berjuang atas cintaku, tapi aku sadar bahwa diriku tidak pantas untuk keluarga kerajaan. Tidak peduli betapa dalamnya aku mencintai yang mulia putra mahkota, aku tidak bisa berada disisinya dengan terus menerus menahan rasa sakit. Dia harus menjadi raja negeri ini, atau Ratu Freya akan mencelakainya." Wanita itu bicara dengan air mata deras yang mengalir dari kedua buah bola matanya.
Jalan yang harus Liliana akan sangat sulit, politik istana yang kejam menantinya. Belum lagi rasa sakit dari pengkhianatan Max kepadanya, dia tidak bisa mengandalkan cinta disaat-saat seperti ini. Baginya mencintai Max adalah rasa sakit
"Jadi, bagaimana keputusanmu? Kau benar-benar tidak ingin kembali dengannya?" tanya Duke Geraldine pada putrinya bersungguh-sungguh.
Liliana mengangguk sambil menangis, "Iya.. ayah.." suaranya parau.
Ini semua demi menyelamatkan posisimu sebagai Raja, Max.. kau harus menjadi Raja. Meskipun bukan aku yang berada disampingmu.
"Baiklah, ayah hanya berharap akan kebahagiaanmu." Duke Geraldine memeluk putrinya seraya menghiburnya. "Kau tenang saja, setelah jabatanmu resmi di cabut. Ayah akan mencarikan pria baik-baik untukmu, kau tidak akan kesulitan mendapatkan pasangan." ucap Duke Geraldine pada putrinya.
__ADS_1
Wanita yang sudah diceraikan oleh raja, pada dasarnya akan kesulitan menikah kembali. Liliana ibaratkan wanita buangan Raja yang diceraikan dengan tidak hormat.
Sakitnya perceraian itu masih dirasakan oleh Liliana, walau ia tau Max terpaksa bercerai dengannya karena demi menyelamatkan semua orang.
Keesokan harinya, aula kerajaan penuh dengan para bangsawan yang meminta Liliana untuk turun tahta dan menggantinya dengan Julia. Para bangsawan memohon dan berlutut di depan Max. Mereka bahkan berani mengancam Max dengan posisinya sebagai putra mahkota dan menyerahkan kekuasaan pada Ratu.
Max sangat marah karena para bangsawan dan menteri berani mengajukan permintaan konyol seperti itu. "Pierre... menurutmu apa semua ini masuk akal? Mereka memintaku menurunkan jabatan putri mahkota dan menggantinya dengan putri Norton itu?" Max mendesis kesal setelah dia mengacak-acak dokumen di mejanya.
"Yang mulia, maafkan hamba...tapi semua ini masuk akal. Mereka pasti akan memanfaatkan kesempatan ini untuk menekan putri mahkota turun dari jabatannya karena yang mulia sendiri. Yang mulia yang sudah menceraikan putri mahkota tanpa berpikir panjang, hingga menyebabkan kekacauan.."
Plak!
Max melempar salah satu dokumen yang berada diatas meja ke arah Pierre dengan keras. "Apa kau sedang menyalahkanku? Kau berani?"
"Saya hanya memberikan pendapat saya, yang mulia. Jika yang mulia tidak menceraikan putri mahkota dengan tergesa-gesa, para bangsawan dan menteri fraksi Baginda ratu tidak akan turun tangan seperti ini. Apakah yang mulia tidak memikirkan bagaimana perasaan yang mulia putri mahkota saat ini? Bagaimana reputasinya di mata semua orang? Jika saya jadi yang mulia putri mahkota, saya juga pasti akan bimbang dan sakit hati. Mungkin, saya juga akan meninggalkan istana ini." Pierre ikut merasakan sakit hati yang dirasakan oleh Liliana.
Max terperangah mendengar ucapan Pierre yang menusuk ke dalam hatinya. "Benar, memang aku yang membuat semuanya jadi rumit. Aku...aku yang salah." Max memegang kepalanya yang berdenyut karena banyaknya masalah yang terjadi di istana.
Disaat Max sibuk menenangkan para bangsawan, Liliana datang ke istana menemui ratu. "Woah.. ada apa ini? Putri mahkota yang terbuang datang menemuiku?" secara terang-terangan Ratu menghina Liliana. Bahkan para dayang yang ada disampingnya juga menertawakan Liliana.
Tangan Liliana mengepal kuat meremas roknya, dia menahan air mata dan sakit hati karena diremehkan. Dia membungkukkan badannya didepan sang Ratu. "Hormat saya Baginda Ratu."
"Sebuah kehormatan bagiku, putri mahkota.. atau harus aku panggil kau nona? Aku bingung bagaimana posisimu saat ini?" tanya Ratu sinis.
Tahan Liliana, kau disini untuk melindungi posisi Max sebagai Raja. Semua masalah ini akan selesai jika aku pergi.
Ratu mempersilakan Liliana untuk bicara dengannya. Liliana tidak bicara panjang lebar, dia meminta agar Ratu membantunya untuk melepaskan posisi putri mahkota.
"Aku sangat terkejut, kenapa kau melakukan ini? Bukankah kau ingin berada disamping putra mahkota?" tanya Ratu dengan senyum sarkasnya.
"Saya tidak akan mengatakan alasannya. Yang mulia tolong tandatangani saja surat ini," ucap Liliana sambil menyerahkan secarik kertas pada Ratu.
Surat itu bertuliskan tentang penurunan putri mahkota. "Yang mulia Ratu, bukankah anda menginginkan semua ini?" tanya Liliana dengan wajah serius dan tegang.
"Benar, aku tidak akan munafik. Aku memang ingin kau turun dari posisimu, tapi apa kau memang ingin melakukan ini?" tanya Ratu sambil menatap tajam ke arah Liliana.
Aku ingin melakukan ini? Apa pentingnya perasaanku sekarang? Jika aku tidak melepaskan posisi ini, maka dia yang akan terluka karena ditekan oleh para menteri.
Liliana berpikir panjang tentang masa depan kerajaan Istvan jika Max kehilangan posisinya. Dia terpaksa meminta bantuan Ratu, karena hanya wanita itu yang bisa membantunya agar Max melepaskan dirinya.
Kedua wanita itu bicara dengan serius. Karena tidak ada ruginya jika Ratu menandatangani surat itu, Ratu pun setuju.
Setelah berbicara dengan Ratu, Liliana meminta agar Ratu tidak bicara tentang pertemuan mereka pada Max. Ratu setuju, dia memerintahkan semua orang disana untuk merahasiakan kedatangan Liliana ke istana Ratu.
"Setelah ini apa yang akan kau lakukan, nona Liliana?" tanya Ratu pada Liliana, dia penasaran setelah posisinya lengser. Wanita itu akan pergi kemana.
Aku sangat bahagia melihat wanita ini sedih, walau dia tidak mati. Lebih baik melihatnya hidup menderita.
"Ini bukan urusan anda yang mulia Ratu." jawab Liliana ketus.
__ADS_1
"Oh baiklah kalau kau tidak mau katakan, aku tidak akan memaksa. Tapi, apa kau benar-benar akan pergi menemui putra mahkota sekarang?"
"Ya, mungkin ini yang terakhir kalinya." Gumam Liliana pelan.
Liliana pergi meninggalkan istana Ratu setelah bicara dengannya. Dia pun berjalan bersama Daisy ke istana putra mahkota. Semua pengawal dan dayang disana menatap Liliana dengan tatapan iba.
"Yang mulia, kenapa kita tidak langsung pulang saja? Mereka..."
"Daisy, jangan dipedulikan. Kita jalan saja ke depan. Dan jangan panggil aku yang mulia lagi, saat ini aku hanya nona dari keluarga Duke."
Tegarlah Liliana! Kau pernah menghadapi hal yang lebih buruk daripada ini dimasa lalu.
"Yang mulia..."
Bagaimana bisa anda menahan semua penghinaan ini dengan tubuh kurus seperti itu, nona? Bagaimana bisa mereka menatapmu seperti ini?
Daisy merasa sakit hati karena Liliana diperlakukan dengan tidak sopan.
Ya Tuhan, mengapa kepalaku pusing seperti ini.
Liliana masuk ke dalam istana putra mahkota, meski tatapan tajam terus mengarah padanya. Dia berusaha untuk tidak peduli pada semua orang yang ada disana.
Eugene dan Laura terlihat berjalan di lorong istana putra mahkota, mereka berpapasan dengan Liliana. "Kakak ipar!" Sambut Laura pada Liliana.
"Salam hormat saya, yang mulia putri."
"Kenapa kakak ipar bersikap formal seperti ini padaku?" tanya Laura heran.
Oh ya, aku lupa. Aku tidak boleh menunjukannya sikap seolah aku sudah bukan putri mahkota kerajaan ini. Mereka hanya boleh tau setelah aku pergi.
"Maafkan aku. Tapi, apa putri Laura tau dimana putra mahkota berada?" Liliana langsung mengalihkan pertanyaan.
"Yang mulia ada di ruang kerjanya," jawab Eugene.
Tanpa bicara panjang lebar dan untuk mempersingkat waktu. Liliana langsung pergi ke ruang kerja Max sendirian karena dia meminta Daisy untuk kembali. Dia membutuhkan waktu berdua dengan Max.
Ceklet!
"Aku kan sudah bilang, pergilah dari sini!!" Max mengambil dokumen di mejanya. Dia hendak melempar dokumen itu pada orang yang sudah membuka pintu ruang kerjanya.
"Apa kau akan melemparku, Max?" tanya Liliana sambil tersenyum pada Max.
Max tercekat dan langsung beranjak dari tempat duduknya ketika dia melihat wanita cantik berambut merah didepannya itu. "Liliana?"
Wanita itu memandang Max dengan tatapan terluka, namun bibirnya tersenyum.
"Ayo kita bicara sambil jalan-jalan." ajak wanita itu pada putra mahkota kerajaan Istvan.
...****...
__ADS_1