
...🍀🍀🍀...
Pov duke Geraldine
#Flashback
10 tahun yang lalu..
Di mansion Geraldine, terlihat Duke Geraldine sedang bersama Jackson di ruang kerjanya. Mereka membicarakan masalah pekerjaan seperti biasa. Tak lama kemudian, Adaire kecil datang ke ruangan ayahnya bersama ksatria pengawalnya.
"Selamat siang ayah," sapa Adaire dengan senyuman ramah dibibirnya, dia membawa boneka beruang ditangannya.
"Adaire? Kenapa kau kemari?" tanya Duke Geraldine tanpa melihat ke arah putrinya. Dia sedang sibuk dengan berkas-berkas di mejanya.
"Ayah, ayo kita bermain! Aku punya mainan baru yah," Adaire mendekati sang ayah dan mengajaknya bermain.
"Cedric, bagaimana kau menjaga putriku? Kau tidak lihat apa yang sedang aku lakukan?" tanya Duke Geraldine dengan lirikan tajam pada Cedric, kstaria pengawal Adaire.
"Maafkan saya yang mulia Duke, nona-"
"Ayah...jangan marahi tuan Cedric, aku yang memintanya membawaku kemari. Kalau ayah tidak mau bermain denganku, ya sudah tidak apa-apa. Aku akan pergi saja, maafkan aku karena aku sudah menganggu ayah yang sedang sibuk," ucap Adaire dengan wajah sedih dan mata berkaca-kaca.
"Nona, tapi anda kan..." Cedric merasa kasihan pada Adaire yang belum lama ditinggal ibunya dan kurang diperhatikan oleh ayahnya yang sibuk.
"Tidak apa-apa, ayo kita pergi tuan Cedric!" Adaire kembali tersenyum, senyum yang dipaksakan.
Apa ayah menolak bermain denganku karena ayah tidak suka padaku? pikir Adaire kecil didalam hatinya.
"Ya nona, saya dan Daisy yang akan menemani nona," ucap Cedric dengan senyuman pahit, dia menggandeng tangan Adaire dan keluar dari ruangan Duke.
~Sejak kematian istriku, aku sibuk dan tanpa sadar aku sudah mengabaikan anakku. Sampai-sampai Jackson yang biasanya diam, ikut berkomentar dengan perilaku ku pada Adaire.~
"Yang mulia Duke, anda bisa meninggalkan pekerjaan anda pada saya. Anda harus bermain dengan nona Adaire," Jackson terlihat tidak tega melihat raut wajah nonanya yang selalu mendapat penolakan dari sang ayah.
"Kenapa harus bermain dengannya? Pekerjaan ku ini lebih penting daripada bermain,"
__ADS_1
"Yang mulia Duke, maafkan atas kelancangan saya. Tapi masa kecil adalah masa keemasan yang berharga bagi orang tua dan anak untuk menghabiskan waktu bersama. Masa emas itu tidak bisa diulang kembali, jika yang mulia melewatkan masa kecil nona Adaire seperti ini. Saya yakin hal itu akan selalu membekas di dalam hatinya sampai dia dewasa, menjadi kenangan yang tidak menyenangkan." Jelas Jackson pada Duke Geraldine.
~Saat itu aku mendengarkan saran Jackson, aku tidak mau melewatkan masa tumbuh kembang anakku. Apalagi Adaire belum lama kehilangan ibunya. Aku meluangkan waktu untuk bermain bersama anakku, di sela-sela kesibukanku sebagai tangan kanan yang mulia Raja. Aku dan Adaire menikmati' waktu kebersamaan kami setiap harinya walau hanya 1-2 jam, Adaire juga terlihat bahagia. Kali ini dia tidak tersenyum palsu seperti biasanya.~
Sampai pada suatu hari seorang pria datang membawa seorang anak perempuan yang cantik dengan rambut pirangnya.
"Maaf, siapa kau?" tanya Duke Geraldine pada pria itu, sambil melihat gadis berambut pirang disampingnya.
"Yang mulia Duke, mohon maafkan saya.. dia adalah putri anda," jelas pria itu singkat, memperkenalkan Adara sebagai anaknya.
"Apa maksudmu?" tanya Duke Geraldine tercengang mendengarnya.
"Anda ingat perang di perbatasan Istvan dan Valhala? Disana anda bertemu dengan seorang wanita bernama Shelly, dia adalah pelayan anda yang-"
"Cukup!" Duke Geraldine langsung menghentikan ucapan pria itu. Dia tau apa kelanjutan ceritanya. Suatu malam dia mabuk dan tidur bersama pelayan itu, namun dia tidak tahu bahwa dia sampai bisa mempunyai anak dengannya.
"Pelayan bernama Shelly itu kini telah meninggal dunia karena perbudakan manusia, dia meminta saya untuk mengantarkan anak ini pada ayahnya karena dia tidak punya keluarga selain anda," ucap pria itu pada Duke Geraldine yang membuatnya syok.
Duke Geraldine melihat anak perempuan itu, dia merasa iba. Duke Geraldine menatap mata Adara yang mirip dengan warna matanya, rambutnya juga berwarna pirang persis seperti dia.
"Mari kita menjadi saudara yang baik ya," Adaire mengajak adiknya itu bermain bersama.
"Iya ayo.. aku juga senang menjadi adik kak Adaire," Adara tersenyum lembut pada kakaknya. Ada tatapan jijik di mata Adara untuk Adaire, ya karena tompel diwajahnya itu.
Adara dan Adaire selalu bermain bersama, Duke Geraldine juga sudah memverifikasi fakta bahwa Adara memang anaknya. Kedua anak yang kehilangan ibunya ini terlihat sangat menyedihkan untuknya. Tapi menurutnya lebih menyedihkan hidup Adara yang selama ini tinggal ditempat pelacuran.
Suatu hari Duke Geraldine baru pulang dari perjalanan jauh, dia membawa boneka beruang berwarna pink yang baru untuk Adaire. Dan membawa boneka beruang juga untuk Adara, bonekanya berwarna merah. Adara dan Adaire menyambut ayahnya di depan mansion.
"Ayah, ayah sudah datang?" sambut Adaire dengan ramah pada sang ayah. Duke Geraldine memeluk Adaire.
"Ayah! Aku juga mau dipeluk ayah," Adara merentangkan tangannya, dia tersenyum manis menyambut kedatangan Duke Geraldine.
Duke Geraldine memeluk kedua putrinya bersamaan, tanpa mereka sadari Adara memasang wajah sinis pada Adaire. "Ayah sayang kalian berdua.. ini ayah bawakan oleh oleh untuk kalian. Ini untuk Adaire dan ini untuk Adara," ucap Duke Geraldine sambil tersenyum, dia memberikan boneka berwarna pink untuk Adaire dan yang merah untuk Adara.
"Terimakasih ayah, padahal aku tidak memintanya. Tapi ayah memberikannya kepadaku, terimakasih ayah.." Adaire tersenyum dan memeluk boneka beruang berwarna pink itu.
__ADS_1
"Sama-sama, apa kau suka hadiahnya? Adara, apa kau suka?" tanya Duke Geraldine pada putri bungsunya.
"Iya ayah, aku suka..hiks.." Adara tiba-tiba menangis, dia melihat boneka beruang itu dengan sedih.
"Kenapa kau menangis adikku?" tanya Adaire cemas pada adiknya.
"Ada apa Adara?" Duke Geraldine duduk jongkok di depan putrinya, dia menyeka air mata Adara dengan cemas.
"Maafkan aku, tapi aku suka warna pink.." ucap Adara sambil menangis tersedu-sedu.
"Ta-tapi bukankah kau suka warna merah?" tanya Adaire yang ingat benar kalau Adara pernah mengatakan padanya, bahwa dia suka warna merah.
~Seandainya saat itu aku tidak pilih kasih dan memperhatikan Adaire juga.. seandainya saat itu aku tidak meminta boneka beruang Adaire, apakah hubungan kami akan berbeda?~
"Aku suka warna pink!" Adara berlari masuk ke dalam rumah sambil menangis. Duke Geraldine merasa kasihan pada Adara yang sudah melalui banyak penderitaan selama ini, dia pun meminta Adaire untuk menyerahkan bonekanya dan menukar boneka itu dengan boneka milik Adara.
"Adaire, nanti ayah akan belikan lagi boneka yang bagus untukmu. Sekarang, bisakah kau memberikan boneka mu untuk adikmu? Kau sayang adikmu kan?" Duke Geraldine berusaha membujuk Adaire.
Dengan mata berkaca-kaca, Adaire menyerahkan boneka itu pada sang ayah. "Iya ayah, tidak apa-apa. Ambil saja bonekanya untuk adikku," ucap Adaire sambil tersenyum pahit.
"Kau memang anak yang baik nak," ucap Duke Geraldine sambil tersenyum menyentuh pundak Adaire. Dia menyusul Adara dan memberikan boneka milik Adaire kepada gadis kecil itu.
Adaire tersenyum sambil menahan tangisnya. Sejak saat itu Adaire terbiasa memberi pada Adara dan Duke Geraldine juga tidak pernah memperhatikannya lagi. Dia lebih memerhatikan Adara karena dia menganggap Adara lebih membutuhkan perhatiannya daripada Adaire.
Duke Geraldine juga lebih mengedepankan keinginan Adara daripada Adaire, tanpa sadar kasih sayangnya sudah berat sebelah untuk kedua putrinya itu.
~Mengapa? Mengapa saat itu aku tidak sadar bahwa aku bersikap sangat tidak adil! Adaire anakku kau pasti sangat menderita.. maafkan ayahmu ini nak..Jika saja ayah menemukan buku harian mu lebih cepat, ayah pasti akan meminta maaf padamu lebih awal. Ayah tidak pernah membencimu, karena kau gemuk atau jelek! Ayah sayang padamu nak, mau seperti apapun rupa mu ~
#End flashback
"Kau mau bicara apalagi Adara? Apa yang tidak aku lakukan untukmu? Kau selalu mendapatkan apapun yang kau mau? Tapi kenapa kau berbuat seperti ini pada kakakmu sendiri?" tanya Duke Geraldine sambil menangis penuh emosi setelah menceritakan semuanya.
"Hahaha.. jadi ayah baru sadar sekarang, kalau ayah sudah bersikap tidak adil pada kak Adaire? Kasihan sekali ayah, tapi sayangnya penyesalan itu sudah sangat terlambat ayah.. kak Adaire sudah tiada," Adara tersenyum mengejek sang ayah, dia tertawa sinis dengan air mata mengalir membasahi pipinya. "Dan jangan salahkan aku... ayah, karena ayah lah yang paling bersalah disini, ayah yang sudah mengabaikan kak Adaire!" teriak Adara sambil menangis.
Duke Geraldine terpana mendengar ucapan Adara, kini semua sifat asli Adara sudah terbongkar didepan sang ayah. Duke Geraldine terpukul dengan ucapan Adara kepadanya tentang Adaire.
__ADS_1
...---****---...