Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 30. Undangan pesta


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Max sudah bersiap dengan memakai topengnya dia tak sabar ingin mengantarkan undangan itu pada Liliana.


"Yang mulia, anda mau kemana dengan penampilan seperti itu?" Pierre heran.


"Menemui kucing galak ku," jawab Max dengan wajah konyolnya.


"PFut...kucing galak?" Pierre menahan tawa mendengar nama panggilan Max untuk Liliana.


"Pierre, jangan membuatku emosi," Max menatap tajam ke arah Pierre.


"Maafkan saya yang mulia, tapi anda tidak boleh pergi sekarang," ucap Pierre mengingatkan.


"Kenapa tidak?!" tanya Max menyentak.


"Karena Baginda raja memanggil anda sekarang," jawab Pierre.


"Haaihh.." Max menunjukkan wajah kecewanya. Titah raja membuatnya tidak bisa menemui Liliana dengan segera.


...*****...


Semua gadis bangsawan maupun rakyat biasa di kerajaan Istvan dibuat heboh dengan datangnya undangan dari istana untuk semua wanita di kerajaan itu. Mereka tidak sabar untuk datang ke pesta terbuka yang diadakan di istana kerajaan Istvan. Para gadis berbondong-bondong ingin bertemu dan melihat langsung sosok putra mahkota kerajaan Istvan.


Undangan pesta terbuka untuk merayakan keberhasilan Maximilian dalam menumpas habis perdagangan manusia dan perangnya menaklukkan negeri lain, juga datang di mansion Geraldine.


Anya adalah orang pertama yang menerima surat undangan itu, dia langsung menyerahkannya pada Adara. Seharian itu Adara berada didalam kamarnya dengan keadaan tidak semangat dan kurang tidur, itu karena ulah Liliana yang selalu menakutinya.


"Nona, saya membawakan undangan dari istana untuk nona!" Anya tersenyum lebar sambil menyerahkan surat undangan dengan cap kerajaan Istvan didalam amplopnya.


Adara mengambil surat itu, dia membuka suratnya dengan hati-hati. Kemudian dia membacanya. "Undangan pesta terbuka?" Adara tercekat dan bingung melihatnya karena tidak biasanya istana mengadakan pesta terbuka. Biasanya yang undang ke istana hanya orang-orang tertentu saja, yaitu bangsawan tingkat tinggi.


"Pesta terbuka? Nona.. mengapa istana mengadakan pesta terbuka?" tanya Anya penasaran.


"Entahlah, kenapa kau tanya padaku?" Adara menawan dengan suara sinis. Moodnya memang tidak baik sejak hantu Adaire itu selalu muncul hampir setiap malam. Dia menjadi lebih pemarah dan sensitif.


"Maafkan saya nona," ucap Anya mengalah.


Nona masih saja seperti ini. Anya mengelus dada dengan sabar menghadapi sikap kasar Adara.


Untuk memperbaiki perasaan hatiku, bagaimana kalau aku datang ke pesta itu. Baiklah, aku akan datang saja.


"Anya!" panggil Adara pada pelayannya.

__ADS_1


"Ya, nona?" tanya Anya.


"Siapkan gaun paling mewah yang aku miliki, aku ingin menjadi pusat perhatian semua orang yang ada disana, lalu.. aku mau memakai berlian merah ku," ucap Adara sambil tersenyum menyeringai.


"Maksud nona kalung berlian berwarna merah itu?" Anya sedikit terhenyak mendengarnya. Entah kenapa wajahnya menjadi terlihat cemas ketika Adara mengungkit tentang berlian merah.


Kalung itu kan peninggalan nona Adaire, apa tidak masalah jika nona Adara memakainya ke istana?


"Iya aku mau pakai itu,kenapa? Apa kau mau melarangku memakainya?" Adara sudah marah duluan, bahkan sebelum Anya menjelaskan.


"Nona.. sebelumnya saya minta maaf atas sikap lancang saya. Kalung itu kan milik nona Adaire, sebaiknya nona jangan memakainya. Karena kalung itu ad-"


PRAK!


Adara terlihat marah, dia melempar vas bunga ke arah Anya. Terlihat pipi Anya tergores karena ulahnya. "No..nona.." Anya tersentak melihat Adara yang semakin emosional saja.


Pecahan vas bunga berada di lantai.


Jarinya menunjuk pada wajah Anya sambil melotot, "Jangan pernah kau sebut nama orang mati itu dihadapan ku lagi! Dan kalung itu adalah milikku, bukan miliknya! Paham?"


Alasanku membunuhnya adalah untuk ini. Untuk memiliki semua miliknya, maka aku harus memanfaatkannya tanpa ada yang terlewat. Tidak boleh ada seorang pun yang mengambil posisiku dirumah ini sebagai nona satu-satunya dari keluarga Geraldine. Hanya boleh ada aku, tidak boleh ada orang lain.


Namun pikiran Adara mungkin salah, karena kematian Adaire tidak membuat Duke Geraldine mencurahkan semua kasih sayangnya pada Adara. Di hatinya selalu ada Adaire, anak sulungnya dari wanita yang sangat dia cintai. Pagi itu duke Geraldine terlihat sedih karena mengingat kembali Adaire dan mendiang istrinya yang sudah tiada.


Rasa bersalah semakin memenuhi hatinya, ketika Adaire menghilang didalam kapal pesiar saat sedang berada didalam bulan madu. Duke Geraldine sudah mengerahkan orang-orang untuk mencari Adaire, namun belum ada hasilnya setelah 2 bulan pencarian. Tak sedikitpun dia menaruh curiga pada Adara atau Arsen, karena Duke sangat percaya kepada mereka yang tidak mungkin mengkhianati Adaire. Terkadang cinta pun bisa membutakan mata, mungkin itulah yang terjadi saat ini pada Duke Geraldine yang belum mengetahui kebenarannya.


"Yang mulia, apa anda yakin tidak akan makan terlebih dahulu?" tanya Jackson, kepala pelayan di rumah itu dengan cemas.


"Tidak, aku akan langsung berangkat," jawab Duke Geraldine dengan wajah pucat dan suara yang lemah.


Raja memintaku datang ke istana utama, ada apa ya? Apa ini masalah dengan putra mahkota? Apa dia membuat ulah lagi?


Duke Geraldine berjalan ke depan rumahnya menuju ke kereta menuju ke istana untuk segera memenuhi panggilan dari Raja.


"Ayah! Maksud saya, yang mulia Duke.." panggil Liliana pada Duke Geraldine yang akan menaiki kereta.


Pria paruh baya itu menoleh ke arah Liliana dan menghentikan langkahnya. Liliana berjalan cepat menghampirinya, sambil membawa kotak bekal untuk Duke Geraldine. "Kau bisa memanggilku ayah, tidak usah sungkan nak," pria itu menyunggingkan senyum ramah dibibirnya.


Ayah, sebenarnya aku ingin bersikap seperti putrimu dan memanggilmu ayah. Tapi aku tidak bisa melakukannya dengan tubuh ini, karena tubuh ini bukan tubuhku.


"Maafkan saya yang mulia, tapi saya harus bersikap sopan pada yang mulia. Yang mulia, anda tidak boleh melewatkan sarapan. Saya buatkan ini untuk yang mulia, sesibuk apapun yang mulia, yang mulia...harus memakannya ya. Kalau yang mulia tidak makan tepat waktu, nanti sakit perut anda akan kambuh."


Duke Geraldine mengambil kotak bekal itu, dia jadi teringat dengan hal yang pahit baginya.

__ADS_1


#FLASHBACK


"Ayah! Tunggu aku ayah!" Adaire berlari kesulitan dengan tubuh gemuknya menghampiri sang ayah.


Duke Geraldine berhenti ditempatnya, dia menunggu Adaire yang berlari ke arahnya. Adaire membawa kotak bekal untuk ayahnya yang melewatkan sarapan karena terburu-buru. "Ada apa Adaire? Ayah sudah terlambat dan sedang buru-buru,"


Adaire menyerahkan kotak bekal itu pada ayahnya. "Lagi-lagi ayah melewatkan sarapan! Ayah, sesibuk apapun dirimu.. ayah tidak boleh sampai melewatkan makan, kalau ayah tidak makan tepat waktu, nanti sakit perut ayah bisa kambuh," jelas Adaire perhatian pada ayahnya. Duke Geraldine tersenyum dan menepuk kepala Adaire dengan penuh kasih sayang.


#ENDFLASHBACK


"Bagaimana kau bisa tau kalau aku suka sakit perut kalau terlambat makan?" tanya Duke Geraldine heran.


"Sa-saya..itu.. sebenarnya dari surat mendiang Adaire, dia pernah mengatakan pada saya bahwa-" Liliana tiba-tiba terdiam.


Aku tau segalanya tentang ayah, tidak ada yang aku tidak tau tentang ayah.


"Sudah cukup, terimakasih." ucap Duke Geraldine buru-buru masuk ke dalam keretanya dan pergi dari sana. Liliana bingung dengan sikap duke Geraldine padanya. Namun dia senang karena ayahnya membawa kotak bekal itu dan dia pasti akan memakannya.


Liliana kembali masuk ke dalam mansion, dia melihat Adara sedang mondar-mandir di ruang tamu dengan menunjukkan undangan pesta istana.


"Wah nona, beruntung sekali ya mendapatkan undangan pesta dari istana. Apalagi tuan kanselir sendiri yang memberikannya secara langsung," ucap Anya sengaja membanggakan surat undangan pesta itu. Anya melirik pada Liliana yang kebetulan sedang lewat disana. Gadis itu hanya mengernyitkan dahi, tidak paham apa yang dibicarakan oleh Anya.


"Tentu saja, aku kan putri keluarga Duke yang terhormat dan memiliki darah bangsawan murni. Tidak seperti seseorang yang hanya mengandalkan nama kakak ku untuk tinggal disini dan memperoleh gelar bangsawan," sindir Adara pada Liliana dengan wajah sinisnya.


Tampaknya dia masih belum puas dengan hantu Adaire. Baiklah Adara, jadi kau ingin bermain dengan Liliana?


Liliana diikuti Daisy, berjalan menghampiri Adara dan Anya yang sedang duduk di kursi. "Apa saya salah dengar ya?"


"Oh memang apa yang salah?"tanya Adara sambil tersenyum menyeringai.


"Ya ada yang salah, saya dengar ada kata bangsawan murni disana. Setahu saya, anda bukanlah bangsawan murni," Liliana menaikkan alisnya, terlihat senyuman yang mengajak wanita itu untuk ribut.


Perkataan Liliana, sontak membuat Adara berdiri dari sofa yang dia duduki. Dia menatap tajam ke arah wanita itu. "A-Apa kau bilang?"


"Kenapa? Apa saya salah? Bukankah anda adalah anak yang mulia Duke dan seorang pelayan? Lalu anda masih menganggap diri anda murni? Cih!" Liliana menghina asal-usul Adara yang terlahir sebagai anak haram, anak seseorang pelayan.


Adara mencengkram roknya dengan kesal, dia menatap tajam Liliana dan tidak berkutik dengan kata-kata pedas dari wanita itu. "Kau.. bagaimana bisa-" Adara gelagapan melihat ekspresi Anya dan Daisy yang baru tau kalau Adara adalah anak haram.


Apa nona Adara adalah anak haram? Itu berarti nona Adara dan nona Adaire bukan saudara kandung?. Daisy membatin.


"Kan sudah saya bilang saya itu teman baik dan teman dekat.. mendiang nona Adaire, saya tau semuanya tentang keluarga ini, termasuk anda nona Adara," Liliana mendorong pelan tubuh Adara dengan jadi telunjuknya. Dia tersenyum puas melihat wajah Adara yang pucat pasi karena perkataannya.


"Kalau kau tidak mau aku membongkar ini dihadapan semua orang, kau diam saja dan bersikap baiklah padaku," bisik Liliana pada Adara.

__ADS_1


Adara gemetar ketakutan dan kesal dibuat oleh Liliana.


...----***----...


__ADS_2