Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 25. Perkenalan


__ADS_3

#Sedikit pengumuman yang Readers! Author ganti nama Liliana dengan nama Lily, biar gak kepanjangan ya.😍☺️ Makasih untuk vote , gift like dan komen kalian ya..😍


.


.


...πŸ€πŸ€πŸ€...


Max melihat Liliana pergi melangkah keluar dari rumah itu tanpa mempedulikan Max atau mengucapkan sesuatu padanya. Max mendengus kesal, pikirnya bagaimana bisa seorang Max putra mahkota kerajaan Istvan yang sempurna diabaikan oleh Liliana. Anak angkat dari Duke Geraldine yang berasal dari kalangan bawah.


"Tanpa mengucapkan terimakasih.. kamu mau pergi begitu saja? Aku tau yang ada dipikiran mu pasti balas dendam.." Max menebak apa yang sedang dipikirkan oleh Liliana. Itu semua memang benar, Lily juga tidak menyangkalnya.


"Terimakasih, sudah kan?" kata Lily cuek, lalu melangkah pergi.


Max memegang tangan Lily dengan erat, "Kau ini benar-benar ya.. aku tidak habis pikir denganmu. Kau hampir celaka dan kau masih memikirkan balas dendam? Apakah kau tidak berfikir bagaimana hal ini bisa terjadi? Kau celaka karena kau bermain api!" Max tidak mengerti apa yang membuat Lily sampai membalas dendam dengan menggebu-gebu pada Adara dan Arsen sampai membuatnya dalam bahaya.


Lily menepis tangan Max, dia menatap pria itu dengan kesal. "Apa urusanmu? Kau siapa? Kenapa kau ikut campur urusanku? Kau tidak tau apa yang aku rasakan.. kau tidak tau apa yang pernah aku alami. Jadi, jangan berkata seenaknya.. kau tidak tau apa-apa pria gila!" Bentak Lily marah.


Almoore mendengar perdebatan mereka, "Wow.. nona itu berani membentak yang mulia," gumam Almoore pelan.


Max mengepalkan tangannya dengan kesal, "Ya, aku memang tidak tau apa-apa tentangmu..aku tidak berhak untuk ikut campur, tapi aku sudah terlibat didalamnya!"


"Apa maksudmu? Kau terlibat di dalam apa?"


"Aku sudah terlibat didalam urusanmu, jadi aku harus tau urusanmu juga," jelas Max.


Lily mengernyitkan dahi, "Kau bicara omong kosong ya? Sejak kapan kau terlibat? Kau iyu hanya orang asing yang baru ku temui beberapa kali.."


"I-itu benar.. tapi.." Max gelagapan.


Max memutar matanya, dia mencari-cari alasan agar dia bisa terlibat dalam urusan Liliana. Gadis itu menatapnya dengan heran, kemudian dia kembali melanjutkan langkahnya.


Pikirannya sudah penuh oleh serangkaian balas dendam untuk Adara dan Arsen selanjutnya. Dia akan membalas perbuatan Adara yang sudah mencelakainya. Dia tidak akan melewatkan kesempatan untuk membalas dendam, baginya hidup kembali adalah untuk membalas orang-orang yang pernah menyakitinya di masa lalu. Sementara Max tidak tahu apa-apa tentang masa lalu Lily sebagai Adaire.


Ah, aku pakai alasan itu saja!


Pria itu tersentak sambil tersenyum, dia pun berkata pada wanita yang belum lama melangkah jauh darinya itu. "Aku akan beritahukan pada yang mulia Duke Geraldine, bahwa kau sebenarnya bukan teman mendiang nona Adaire.."

__ADS_1


Lily terbelalak mendengarnya, dia langsung membalikkan badannya, menoleh ke arah Max yang berdiri tegap sambil tersenyum disana. Sementara Almoore masih mengintip pasangan yang terlihat sedang bertengkar itu dari jendela rumahnya, dia bersama Blackey juga.


"Blackey, apa yang mulia benar-benar menyukai nona rambut merah itu?" tanya Almoore penuh rasa penasaran. Dia bertanya pada Blackey karena Blackey selalu bersama Max.


"Sepertinya begitu tuan Almoore," jawab si burung elang itu yakin.


"Aku baru pertama kali melihat yang mulia putra mahkota begitu lemah pada wanita. Biasanya setiap wanita selalu bertekuk lutut dibawah kakinya,"


.


.


.


"A-Apa maksudmu? Aku adalah teman Adaire.." Lily memicing, menunjukkan bahwa dia terancam dengan ucapan Max.


"Bukan, kau bukan temannya. Nona Adaire tidak punya teman dekat."


Aku hanya menebaknya saja, tapi melihat reaksinya.. sepertinya itu benar. Ada alasan kenapa dia masuk ke dalam keluarga itu, menggunakan nama mendiang nona Adaire. Dan alasannya itu sudah pasti...


Sangkal Lily, "Aku sahabat pena nya!"


"Aku tidak mau!" Lily menolak dengan tegas, di tau bahwa pria gila itu ingin macam-macam dengannya.


"Oh.. jadi kau mau begini saja? Ya ya.. bagaimana kalau aku memberitahukan ini pada yang mulia Duke? Lalu balas dendam mu akan berakhir,"


Tidak.. balas dendam ku tidak boleh berakhir secepat ini. Arsen dan Adara, mereka harus mendapatkan apa yang mereka harus dapatkan!


"Kau... ish.. kau maunya apa?" tanya Lily menyerah pada akhirnya, dia menatap pria bertopeng yang berdiri di depannya.


Apa mau pria ini? Kenapa aku pikir kalau dia ingin terlibat denganku?


Max sempat terpana sejenak, dia tidak menyangka bahwa balas dendam yang ada di dalam hati Liliana sangat besar untuk pasangan suami istri itu. Sampai-sampai dia rela melakukan apa saja untuk melindungi rahasianya.


"Aku akan merahasiakan balas dendam mu dan sebagai gantinya aku ingin tiga permintaan darimu," jelas Max mencoba bernegosiasi dengan wanita itu.


"Baik, kau mau minta apa?" tanya Lily tegas.

__ADS_1


"Sebelum bernegosiasi, bukankah kita harus berkenalan lebih dulu?" Max tersenyum menggoda wanita itu.


"Kau kan sudah tau namaku," jawab Lily.


"Tapi kau belum tau namaku," Max tersenyum tipis.


"Apa namamu penting?" Lily berkacak pinggang dengan gaya cueknya.


Max yang tadinya tersenyum lalu berwajah kecut begitu mendengar pernyataan ketus dari Liliana. Wanita itu seperti tidak punya ketertarikan padanya. Mental Max terpukul, hatinya tertampar, melihat ada wanita di dunia ini yang menolaknya.


Uh.. hati nurani ku! Tenang saja Maximilian, jangan buru-buru. Wanita ini adalah ikan besar, ikan besar.. dia harus pancing dulu dengan umpan, memakan umpan itu, terjebak di dalam kail, setelah itu dia akan bertekuk lutut kepadaku, lalu aku bisa memegangnya sepuas hatiku.


Almoore dan Blackey menertawakan Max dari dalam rumah. Mereka tak menyangka akan tiba dimana hari Max akan ditolak dan dicueki oleh seorang wanita. "PFut.. Blackey, apa kau lihat wajahnya?" Almoore menahan tawa sekuat tenaganya. "Aku juga melihatnya tuan," si burung elang hitam itu hanya tersenyum.


.


.


"Tentu saja penting, aku kan orang yang menjaga rahasia mu. Jadi kau harus tau namaku!" Kata Max dengan percaya diri.


Lily menghela napas, "Baiklah, siapa namamu?"


"Eh?" Max terperangah.


"Aku bilang...siapa namamu?" tanya Lily sekali lagi.


"Namaku?" Max malah terlihat bingung ditanya namanya sendiri. Alasannya kenapa dia bingung, karena dia tak bisa mengungkapkan identitasnya begitu saja.


Namaku? Aku harus jawab apa? Kalau aku bilang aku putra mahkota sekarang, dia pasti akan terkejut. Aku ingin memberitahunya saat pesta nanti.


"Hey!" Seru Lily melihat Max melamun.


Max masih melamun, tak lama kemudian Eugene dan Adrian datang menghampirinya. "Hormat ka-" Saat akan memberi hormat pada Max, putra mahkota Istvan itu langsung memotong ucapan mereka.


"Namaku Eugene, aku adalah pengawal pribadi putra mahkota!" Max buru-buru ketika memperkenalkan dirinya.


Kenapa namaku disebut? Eugene keheranan.

__ADS_1


Eugene dan Adrian terperangah mendengar ucapan Max pada Lily. Sementara Almoore dan Blackey menahan tawa geli mendengar sang putra mahkota mengakui dirinya sebagai Eugene.


...---***---...


__ADS_2