
Liliana keluar dari kamar pasangan suami istri itu, seperti apa yang diminta oleh Arsen. Adara histeris setelah dikunjungi oleh Liliana. Hal ini menandakan bahwa Adara adalah orang yang ingin mencelakainya.
Gadis itu sempat tidak percaya, Adara yang selalu terlihat baik di depan Adaire bisa melakukan hal sekejam ini untuk menyingkirkan seseorang. Namun, Liliana sudah dihadapkan pada fakta menyakitkan, bahwa sifat asli adiknya memang sudah rusak. Liliana kembali ke kamarnya, dia terlihat sedih seperti ingin menangis.
"Nona, apa anda baik-baik saja?" tanya Adrian melihat wajah Liliana yang bersedih. Adrian berada di depan pintu kamar gadis itu.
"Aku baik-baik saja," jawab Liliana datar.
Adrian membukakan pintu kamar untuk Liliana, agar gadis cantik itu bisa masuk ke dalam kamarnya tanpa membuka pintu. Liliana diperlakukan spesial oleh Adrian, "Nona, jika anda membutuhkan bantuan.. jangan ragu untuk meminta pada saya,"
"Aku heran, kenapa Sir Adrian dan si gila itu memperlakukan saya dengan spesial? Kalian adalah kstaria putra mahkota yang terhormat. Kalau putra mahkota sampai tau kalau kau melayani seorang gadis sepertiku disini, pasti dia akan marah kan?"
"Itu tidak akan terjadi nona, mana mungkin yang mulia putra mahkota akan marah pada nona," Adrian tersenyum.
Mana mungkin dia marah, dia sendiri yang mengirimkan aku kemari. Melayani nona Liliana, calon putri mahkota kerajaan Istvan dari dekat... aku merasa sangat terhormat. Aku bisa memamerkan ini nanti pada ksatria lainnya.
"Kenapa dia tidak akan marah? Aku ini bukan siapapun baginya. Mengapa dia membiarkan kstaria pengawalnya untuk mengawal ku? Aku bahkan tidak kenal dia," gumam Liliana bingung, mengapa putra mahkota membiarkan salah satu kstaria pengawalnya untuk mengawal dirinya.
"Itu karena yang mu.. maksud saya karena Sir Eugene adalah kstaria kepercayaan dan kesayangan yang mulia putra mahkota, dia memiliki otoritas besar di dalam kerajaan. Jadi, putra mahkota akan selalu mengizinkan apapun yang dia minta," jelas Adrian pada Liliana.
Semoga jawaban dan penjelasan ku ini masuk akal untuk nona.
Gadis itu tertegun tampak berfikir, dia merasa penjelsan Adrian bisa saja masuk akal dan bisa saja tidak masuk akal. Pasalnya dia berfikir kalau Max adalah orang gila yang akan melakukan apapun sesuka hatinya dan wajar saja jika putra mahkota akan kesal dengan keras kepalanya.
"Aku hanya berharap kalau si gila itu... dia tidak akan dibunuh oleh putra mahkota," gumam Liliana khawatir pada Max.
"Yang mulia putra mahkota tidak akan melakukan itu pada sir Eugene yang mulia," jawab Adrian dengan senyuman ramah dibibirnya.
"Putra mahkota itu terkenal haus darah dan iblis di medan perang, bagaimana mungkin si gila itu akan baik-baik saja?" gumam Lily mengkhawatirkan Max.
"Ah? Nona bilang apa barusan?" Adrian terperangah mendengar gumaman Liliana.
Iblis di medan perang? Haus darah? Dia bilang begitu tentang yang mulia?
"Tidak apa-apa. Sir Adrian, kalau kau lelah.. kau bisa beristirahat, aku juga akan beristirahat. Kalau ada apa-apa, kau bisa katakan padaku," ucap Lily pada Adrian ramah.
Adrian mengangguk dan mengatakan ya, dia heran karena Liliana ramah padanya dan begitu galak pada Max.
Liliana masuk ke dalam kamarnya, dia merebahkan tubuhnya di ranjang empuk itu. Dia menatap langit-langit kamarnya, sambil memikirkan masa lalunya yang menyakitkan. Berhubungan dengan Adara dan Arsen.
"Adara, apa dulu kamu juga sering berbuat jahat kepadaku? Apa dibelakangku kamu selalu seperti ini?" gumam Liliana berfikir. "Sebenarnya sejak kapan kau memiliki sifat seperti ini? Apa sejak kau datang ke rumah ini? Atau semenjak ada Arsen di dalam kehidupan kita?"
__ADS_1
Liliana sedih, pasalnya dia sangat menyayangi Adara setulus hatinya. Adaire selalu memberikan semuanya untuk Adara, adik kesayangannya. Dari mulai mainan kesukaan Adaire, pakaian, perhiasan. Adaire selalu mengutamakan Adara lebih dulu dibandingkan dirinya.
Itu karena Adaire merasa bahwa Adara adalah satu-satunya orang yang menyayanginya. Adaire tidak punya saudara selain Adara. Dimata Adaire, Adara selalu terlihat baik dan membelanya. Ketika dia diganggu oleh teman-temannya, Adara tersenyum lembut seolah dia tulus pada Adaire. Bahkan jika Adara meminta apapun padanya, pasti akan Adaire turuti.
"Sebenarnya apa salahku, sehingga kau merebut suamiku dan membunuhku Adara. Aku salah apa padamu, kenapa kalian berdua tega kepadaku?" tanya Liliana dengan mata berkaca-kaca, mengingat kepedihan hatinya.
Setelah lama menangis menumpahkan air matanya, Liliana menyeka air mata itu. Dia kembali memasang wajah tegas. "Sudah, jangan menangis Liliana! Waktunya memanfaatkan kesempatan yang ada," Liliana menyeringai, memikirkan sebuah ide di kepalanya.
Gadis itu pergi keluar dari kamarnya dengan membawa bantalan, juga memakai baju putih dan rambut yang dibiarkan tergerai panjang tanpa ikatan. "Nona, kenapa anda keluar dengan penampilan seperti itu?"
"Sir Adrian, apa kau bisa membantuku?" tanya Liliana sambil tersenyum.
Adrian terlihat senang, Liliana akhirnya meminta bantuan kepadanya. Karena dari tadi dia bosan hanya berdiri saja didepan pintu. "Siap nona, apa yang harus saya lakukan?"
Liliana berbisik-bisik ditelinga Adrian. Prajurit tingkat atas itu mengangguk-anggukkan kepalanya. "Apa kau bisa?" tanya Liliana.
"Saya bisa nona. Serahkan saja pada saya!" Adrian memegang dadanya dengan percaya diri, atas tugas yang akan diberikan oleh Liliana.
Wanita ini cukup licik, dia cukup untuk menjinakkan yang mulia.
"Baguslah," jawab Lily sambil tersenyum menyeringai.
...*****...
Malam itu, Adara dan Arsen sedang tidur diatas ranjang yang empuk dengan nyenyak. Tiba-tiba saja angin berhembus kencang menembus jendela kamar itu. Membuat jendela kamarnya terbuka lebar, hingga menimbulkan suara gaduh.
BRAK!
Adara terbangun karena mendengar suara kencang dari jendela yang terbuka. Dia melihat suaminya tertidur pulas disampingnya. "Anginnya sangat kencang sampai jendela saja terbuka lebar, apa mau hujan ya?" Adara turun dari ranjangnya. Dia berjalan menuju ke arah jendela kamar untuk menutup jendela itu, tak lupa dia memakai syal yang hangat.
Deg!
"Itu.. itu...."
Jantung Adara berdegup sangat kencang melihat sosok wanita gemuk dengan rambut panjang dan baju putih membelakanginya, sedang berdiri mematung didekat taman belakang.
Angin itu berhembus semakin kencang dan membuat bulu kuduk Adara berdiri. Wanita gemuk itu mendekati Adara, bukan dengan berjalan tapi dengan melayang.
"Kak...kakak?" Pekik Adara dengan mulut ternganga. Tubuhnya gemetar melihat sosok yang diyakini sebagai Adaire berada didepannya.
"Kenapa Adara? Kenapa kau membunuhku? Kenapa kau menikah dengan suamiku? Kenapa kau sangat kejam padaku.... aku ini kakakmu.." sosok wanita gemuk itu mengulurkan tangannya pada Adara.
__ADS_1
Bibir Adara gemetar, juga tubuhnya. Tiba-tiba saja hawa dingin menusuk ke kulit hingga merasuk ke dalam tulangnya. "Tidak! Kau sudah mati! Tidak!"
Tidak mungkin, kak Adaire tidak mungkin ada disini...
"Adara.. ayo ikut aku, ikutlah denganku Adara...mari kita mati bersama!" suara wanita itu serak basah, dengan tampilan menyeramkan dengan rambut panjang coklat yang menutupi wajah. Di perutnya seperti tertancap pisau yang Adara gunakan untuk membunuh Adaire di kapal pesiar itu. Perut wanita gemuk yang terlihat seperti Adaire itu mengeluarkan cairan merah seperti darah.
Adara semakin ketakutan dan berjalan mundur menjauh dari sosok wanita gemuk itu.
"Tidak! Pergi! Kau.. jangan ganggu aku lagi!!" Teriak Adara ketakutan.
"Adara....kalau aku mati, kau juga harus mati..kita kan bersaudara.." sosok wanita itu mendekati Adara dan meraih tangannya dengan kuat. Mata berwarna birunya menatap tajam ke arah Adara.
"Aku tidak mau! Tidak mau! Pergi kau dari sini! Kau sudah mati!" Adara berusaha melepaskan dirinya dari sosok hantu Adaire itu.
"Tidak.. kau yang membunuhku, maka kau harus ikut denganku," ucap wanita gemuk itu menarik tangan Adara.
"Iya memang aku yang membunuhmu, tapi aku.. aku minta maaf kakak..tolonglah pergi dari sini, disini bukan alam mu lagi!" ucap Adara sambil menangis.
Adara berhasil melepaskan dirinya dari sosok hantu itu, dia membangunkan suaminya yang tertidur pulas. "Sayang! Suamiku, tolong! Tolong aku!"
...*****...
Adrian turun dari atas atap, setelah mengerjakan tugasnya. Dia membawa kipas angin ditangannya, terlihat cahaya dari kipas itu. Sosok gemuk itu juga memperlihatkan wujud aslinya.
"Nona, bagaimana pekerjaan saya?" tanya Adrian dengan senyuman manis di bibirnya. Dia menanyakan hasil pekerjaannya membuat angin dengan kipas sihir dan kabut palsu,pada Liliana.
"Kerja bagus sir Adrian, dia ketakutan." Liliana tersenyum puas sambil melepas rambut palsunya yang panjang.
"Benarkah? Tolong ceritakan kerja baik saya nanti pada yang-, maksud saya pada sir Eugene," ucap Adrian senang mendapatkan pujian dari Liliana.
Sementara itu Daisy menangis, dia tak percaya bahwa Adara adalah orang yang membunuh Adaire, nona yang sangat dia sayangi.
"Nona..nona ku yang malang...hiks,"
Liliana memeluk Daisy yang menangis.
...---****---...
Hai Readers ku tersayang, terimakasih kesabarannya untuk menunggu up novel ini, author harap komen dan like nya ya🤭 biar semangat up..
Untuk jadwal update nya belum pasti, insyaallah nanti Senin akan ada jadwal fiksnya..😍😍😘
__ADS_1