Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 51. Saran kencan


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Wajah cantik Adara bengkak dan kini terluka, akibat ulah kedua wanita yang satu sel dengannya. Saat Adara yang angkuh itu meminta tolong pada sipir penjara karena dirinya yang ditindas. "Tolong! Penjaga tolong aku! Aku ditindas oleh mereka," ucap Adara seraya memohon pertolongan pada sipir penjaga.


Dengan langkah malas sipir penjara bawah tanah istana kerajaan Istvan itu menghampiri Adara. Dia melihat penampilan Adara yang acak-acakan, wajahnya bengkak dan terluka. "Ada apa?"


"Penjaga, mereka sudah menyakiti aku! Kau lihat ini? Aku terluka karena mereka, kau harus memberikan mereka hukuman!" Seru Adara tegas.


Sipir penjara itu malah menguap dengan wajah malas, "Aku kira kenapa," gumam sipir penjara kesal. Dia mengabaikan Adara dan malah berjalan pergi.


Kenapa dia malah pergi? Aku kan sedang mengeluh kepadanya?


Adara terpana diiringi rasa kesal, karena sipir penjara itu mengabaikan dirinya. Selama ini tidak ada seorangpun yang mengabaikan dirinya.


"Hahaha," wanita rambut keriting menertawakan Adara dan menatap gadis angkuh itu dengan mengejek.


"Kakak, aku baru tau kalau cantik tidak berguna disini?" sindir wanita berambut pendek dengan seringai diwajahnya dan melihat ke arah Adara.


"Benar, apa gunanya cantik kalau mulutnya berbisa seperti racun dan sikapnya seperti iblis. Apa orang-orang sudah buta melihat dia sebagai malaikat?" kata wanita berambut keriting dengan senyuman mengejek dibibirnya.


"Hei! Kenapa kau malah pergi? Aku mendapat ketidakadilan disini dan kau malah mengabaikan aku? Berani sekali kau seorang manusia rendahan saja memperlakukan aku seperti ini!" Teriak Adara marah pada sipir penjara itu. Belum lagi sindiran sindiran dari wanita yang memberinya pelajaran, membuatnya semakin marah.


Hatinya seperti tersulut api, dia pun terbawa emosi dan memaki sipir penjara. Penjaga itu menghampiri kembali Adara dengan wajah marah, "Ya saya memang memiliki status yang rendah di kerajaan ini. Lalu siapa anda? Tak lama lagi anda juga akan berstatus lebih rendah dari saya, jangan lupa ya bahwa anda adalah seorang tahanan!"


Setelah itu penjaga penjara pergi meninggalkan Adara dan sama sekali tidak memedulikan Adara yang terluka. Dia pun marah, kemudian melampiaskan kemarahannya dengan menyerang dua wanita di selnya. Adara membalas perlakuan kedua wanita itu dan akhirnya mereka malah berkelahi didalam penjara.


"Sialan kalian berdua! Lihat saja, kalau aku bebas dari sini.. aku akan membuat kalian membayar akibatnya!" Teriak Adara marah.


...*****...


Malam itu Max terlihat bingung di dalam kamarnya, pesta istana tinggal satu hari lagi. Dia meminta Pierre untuk mengundurkan pestanya menjadi lusa.


"Yang mulia, sebelumnya anda ingin pestanya di majukan. Lalu kenapa sekarang anda minta pestanya diundur?"tanya Pierre keheranan dengan keputusan Max yang selalu tegas , tiba-tiba saja menjadi plin-plan.


Apa sekiranya yang membuat yang mulia cemas?


"Ah...tidak, jangan lusa. 2 hari lagi saja, aku masih belum siap." Max menggelengkan kepalanya dengan bingung.


Apa yang dikatakan Laura tidak sepenuhnya salah? Bagaimana jika Liliana tau kebenarannya? Apa dia akan senang atau akan kecewa saat dia tau kalau aku adalah putra mahkota?


"Mohon maaf yang mulia, tapi sebenarnya yang mulia memikirkan apa sampai terlihat bingung seperti ini?" tanya Pierre sambil mengerutkan kening dan menatap putra mahkota kerajaan Istvan itu dengan cemas.


"Jangan banyak tanya, undur saja pestanya menjadi lusa!" seru Max tegas.


Selama dua hari ini aku akan membuat si kucing galak itu untuk menerima identitas ku sebagai putra mahkota.


#Flashback

__ADS_1


Sore itu Max mengantarkan Liliana ke rumahnya dan mendahului Arsen yang juga mengantarnya. Didepan pintu belakang kediaman Duke Geraldine, mereka berpisah.


"A-aku masuk ya," Liliana terlihat malu-malu, dia melangkah pelan menuju ke dalam rumah mewah bak istana kerajaan itu


"Tunggu!"


"Ya?" Liliana menoleh ke arah Max.


"Pertemuan kita, bagaimana?"


"Apa besok kau ada waktu?" tanya Liliana pada pria itu.


"Besok?" Max terlihat berfikir. Sebenarnya esok hari dia harus menghadiri acara pelantikan kesatria baru white knight.


"Kenapa? Apa kau sibuk? Ah benar juga, sebentar lagi kan pesta putra mahkota. Kau pasti sibuk, maka kita bisa lakukan lain-"


Max langsung memangkas perkataan Liliana dengan cepat. "Jangan lakukan lain kali! Karena aku bisa!"


"Baiklah, besok sore saat matahari akan terbenam. Datanglah ke taman Sakesfir," jawab Liliana langsung menentukan tempat mereka bertemu.


"Ya, aku akan datang! Pasti!" Max tersenyum senang. "Dan terimakasih karena sudah memberiku kesempatan," timpalnya lagi seraya berterimakasih.


"Ya," jawab nya singkat.


#End flashback


"Haahhhh.. baiklah yang mulia putra mahkota, saya akan mengatur lagi pestanya menjadi lusa," Pierre membungkukkan badannya seraya patuh atas perintah sang putra mahkota.


"Ya, yang mulia?" sahut Pierre seraya menoleh ke arah Max.


"Pierre aku ingin menanyakan sesuatu padamu," ucap Max ragu-ragu dengan suara yang pelan.


Pierre kembali berjalan kembali mendekat ke arah Max. "Yang mulia ingin bertanya pada saya?"


"I-iya, kau kan sudah punya istri. Kau pasti pernah berkencan bukan?" tanya Max dengan suara gugup.


"Benar saya sudah punya istri dan saya pasti saya sudah pernah berkencan. Bahkan sampai beberapa kali," jelas pria itu sambil tersenyum ramah.


"Ehm, lalu apa yang kau lakukan saat kencan dengan istrimu sebelum kalian menikah?" tanya Max sambil menundukkan kepalanya dengan malu.


Kenapa aku harus sampai menanyakan ini?


Pierre tersenyum ramah, dia terkekeh mendengar pertanyaan Max dan wajah malunya itu. Seorang playboy yang terkenal suka bermain wanita di luar istana, bertanya tentang kencan pada seorang pria yang setia pada istrinya? Hal ini cukup lucu untuknya.


"PFut," Pierre terkekeh.


"Pierre kau berani menertawakan aku?" Max menyilangkan kedua tangannya di dada. Dia menatap Pierre dengan marah.

__ADS_1


"Mohon maafkan saya yang mulia. Saya hanya merasa heran, mengapa yang mulia menanyakan hal seperti ini pada saya? Bukankah yang mulia memiliki-" Pierre tidak melanjutkan ucapannya karena dia merasa yang dia katakan bisa melebihi batas.


"Kenapa tidak dilanjutkan? Karena aku memiliki banyak wanita diluar sana? Pikirmu begitu kan? Memang benar aku seorang player, tapi aku tidak pernah berkencan serius dengan salah satu dari mereka," terang Max jujur.


Max melihat Pierre yang menatapnya dengan tidak percaya. "Apa kau tidak percaya padaku?"


"Tidak yang mulia, eh maksud saya-"


"Sudahlah! Aku akan memaafkan kelancangan mu, kalau kau mau menjawab beberapa pertanyaan ku," ucap Max dengan tatapan tajam seperti biasanya.


Max dan Pierre terlihat berbicara serius. Max memperhatikan apa yang dijelaskan Pierre dengan seksama.


Hingga keesokan harinya, Max sudah bergaya dengan baju sederhana yang selalu dia pakai. Max tersenyum dan diam-diam pergi dari istana seperti biasanya. "Yang mulia, ini barang yang anda pesan!" Eugene menyerahkan buket bunga mawar merah pada Max dan juga sekotak coklat.


Astaga, baru kali ini aku melihat yang mulia gugup begini. Pierre melihat Max dengan heran. Akhir-akhir ini sikap Max berubah melunak, dia tidak terlalu kejam seperti biasanya.


Apa benar ini adalah senjata untuk berkencan? Hem... Pierre tidak akan berbohong padaku, kan?


"Ehem, Eugene apa aku sudah tampan?" tanya Max sambil berdehem.


"Yang mulia, anda sangat tampan. Wajah yang mulia putra mahkota adalah nomor satu di negeri ini," Eugene memuji dengan sopan dan tulus.


"Sepertinya aku harus meminta Pierre menaikan gaji mu," ucap Max yang tersenyum senang dengan pujian itu.


"Yang mulia sudah terlihat sempurna, nona Liliana pasti akan tergila-gila pada anda," Eugene memuji lagi Max dengan senang.


"Aku lebih tampan dari Count Wales kan?" tanya Max dengan wajah masam, membandingkan dirinya dengan Arsen.


Kenapa yang mulia tiba-tiba mengungkit soal count Wales? Jangan bilang yang mulia cemburu padanya karena kemarin Count Wales mencari nona Liliana dan hendak mengantarnya pulang.


"Eugene!" Serunya menyentak.


"Yang mulia adalah cahaya kekaisaran ini, tidak ada yang bisa menandingi yang mulia dalam hal ketampanan, kekuatan dan tentunya kekuasaan!" Kata Eugene dengan penuh ketegasan.


"Hem...baiklah, sepertinya aku akan memberimu libur satu hari di bulan ini!" Max merasa tersanjung, dia semakin percaya diri.


"Terimakasih yang mulia, kebaikan anda sungguh tidak terhingga..."Eugene tersenyum bahagia mendapatkan libur walau hanya satu hari setelah memuji Max.


Jika soal nona Liliana saja, dia seperti menjadi orang yang berbeda.


"Huh, dasar kau penjilat!" bisik Blackey yang kini berwujud burung kecil. Dia menggerutu pada Eugene.


"Ini pujian, bukan jilatan Blackey!" Seru Eugene sambil tersenyum bahagia.


"Oh ya kalian berdua tinggal saja disini, aku akan pergi berdua saja bersama Lily. Kalian habiskan waktu kalian dengan baik sampai aku kembali," titah Max yang tidak mau diganggu oleh siapapun saat berkencan dengan Liliana.


"Lalu kami harus melakukan apa yang mulia?" tanya Blackey bingung.

__ADS_1


"Bantu Duke Geraldine untuk menemukan jasad putrinya," ucap Max pada kedua pengawal setianya itu.


...-----*****----...


__ADS_2