Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 201. Manja


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Raja Istvan mengusap sedikit darah akibat panah yang tancapkan oleh William ke tangannya itu. "Sialan! Pria itu malah kabur, dia harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya!"


Eh tunggu, seharusnya aku jangan mengusap darah ini.


William benar-benar tidak sepintar yang terlihat di wajahnya, dia tidak tahu saja bahwa Max sudah kebal oleh racun. Sejak kecil dia sudah mendapatkan ilmu kekebalan racun dari gurunya, bahkan dia juga sering diracun oleh ibu tirinya dan dia jadi kebal akan racun tersebut.


Jadi, racun di panah itu tidak berarti apa-apa untuk Max. Hanya memiliki sedikit reaksi pusing kepala saja.


"Yang mulia, Pangeran itu benar-benar bodoh sekali! Dia sudah salah memilih lawan, dia tidak tahu kalau yang mulia sudah kebal terhadap racun sedari kecil." Kata Blackey yang sudah berada di samping Max.


"Haha... jujur saja, aku juga ingin menertawakan dia." Max terkekeh, mengingat wajah konyol William.


"Yang mulia... izinkan hamba untuk memberi pelajaran kepadanya!"


"Tidak usah, memberinya pelajaran adalah urusanku. Lebih baik kau ikuti dia dan jangan biarkan dia memenangkan binatang buruan yang dia mau." Titah Max pada burung gagak itu.


"Baik yang mulia, tapi anda mau kemana setelah ini?"


"Oh...aku akan disini saja." Max duduk diatas tanah dengan santai.


"Mengapa yang mulia?" Blackey terheran-heran.


"Sebentar lagi Liliana akan datang, dia pasti cemas melihatku seperti ini. Aku harus memanfaatkan momen dengan baik!" Max tersenyum, dia ingin Liliana mencemaskan dirinya.

__ADS_1


Max membayangkan saat wanita itu mencemaskannya. Dia sangat senang melihat wanita yang ia cintai mencemaskan dirinya.


"Haha...baiklah yang mulia," jawab Blackey dengan terkekeh kecil.


Yang mulia sudah menjadi budak cinta.


Blackey dari sana dan segera melaksanakan apa yang diperintahkan oleh rajanya. Sementara rajanya hanya duduk diam di atas tanah seperti sedang menunggu kedatangan seseorang. Ya, dia menunggu Liliana datang. Dan benar saja, tak berselang lama setelah blacky pergi, Liliana dan Dorman datang ke sana dengan menunggangi kuda mereka.


"Itu pasti Lily..." gumam Max yang mendengar suara tapak kuda mendekat ke arahnya. Pria itu segera berbaring di atas tanah yang kotor, dia memegangi tangannya yang terluka.


"Max--yang mulia Raja! Apa yang terjadi padamu?" Liliana turun dari atas kudanya, lalu dia menghampiri pria itu dengan cemas. Dorman juga mengikuti langkahnya turun dari kuda dan menghampiri Max.


"Putri Liliana, a-aku di panah oleh panah beracun oleh Pangeran William." jelasnya terbata-bata seolah dia kesakitan padahal lukanya ini sama sekali tidak sakit.


Gadis itu menautkan alisnya ke atas, dia menatap Max dengan cemas. "Benarkah dia melakukan itu?" Tanya Liliana pada Max.


Hihi, senang sekali melihat Lily cemas seperti ini padaku.


"Tuan Dorman, tolong kau cari Duke Vergon dan Duke Tharis!" Titah Liliana pada Dorman.


"Tapi yang mulia, bagaimana dengan yang mulia dan yang mulia raja?" Tanya Dorman yang ragu meninggalkan Liliana dan Max berdua di sana.


"Kau tidak usah cemas. Biar aku yang mengurus Raja Maximillian."


"Baiklah yang mulia, saya akan segera kembali!" ucap Dorman buru-buru.

__ADS_1


Dorman pergi buru-buru dari sana, meninggalkan Max dan Liliana berdua saja. Liliana membawa sapu tangannya, dia membalutkan sapu tangan di lengan kanan Max terluka.


"Maxim, apa yang kau rasakan? Apa kau pusing? Atau--hmphh--"


Max membungkam Liliana dengan ciuman lembutnya, kemudian dia tersenyum setelah berhasil mencuri bibir cantik itu. "Kau..." Liliana memegang bibirnya yang masih panas itu.


"Aku baik-baik saja, hanya sedikit pusing." Max tersenyum tanpa rasa bersalah. Dia cepat mengakhiri sandiwaranya, karena dia tidak tega melihat wajah cantik itu cemas padanya. Ya, walaupun awalnya dia senang melihat wajah cantik itu mengkhawatirkan dirinya.


"Jadi kau berpura-pura sakit??"


"Tidak, aku benar-benar sakit! Dan soal padahal beracun itu tidak bohong, kau lihat saja sendiri!" pria itu mengambil anak panah yang ada di atas tanah, kemudian menunjukkannya kepada Liliana.


Setelah melihat anak panah itu, Liliana mengidentifikasikan bahwa panah itu memang beracun. Max tidak berbohong kepadanya, Pangeran William memang sudah memanahnya dengan panah itu. "Jadi... insiden saat kau memanah juga--"


"Ya, dia adalah pelakunya. Dia yang sudah membuat anak panah dan busur yang aku pakai menjadi bermasalah." Pria itu melakukan kepalanya seraya membenarkan spekulasi yang akan dikatakan oleh Liliana terhadap William.


"Haahhhh.... dia benar-benar keterlaluan. Aku tidak percaya kalau dia akan melakukan semua ini." Kata Liliana sebal. "Kau tenang saja , dia pasti akan mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatannya."


"Iya itu harus. Tapi sayang, kepalaku sakit?"


"Kau serius atau kau..."


"Sayang, aku serius." potongnya cepat, dia memegang tangan Liliana dan meletakkannya di atas kepala.


"Dasar manja," ucap Liliana sambil mengusap kepala Max dengan senyuman.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2