
...🍀🍀🍀...
Saat Max akan mendekat ke arah Liliana, tangan Liliana yang tertarik ke atas membuatnya terdiam. Wanita itu menandakan bahwa dia tidak mau Max mendekat padanya. "Hentikan itu! Jangan mendekat kumohon..."
"Lily," Max menatap Liliana dengan sedih.
"Ini sudah cukup, jangan lebih jauh lagi." Liliana menatap pria itu dengan tatapan berkaca-kaca.
"Lily, apa maksudmu? Kau ingin aku apa?"
"Aku dan anak kita sudah tidak bisa berada disisimu lagi, kau harus merelakan kami. Jangan berbuat sesuatu yang akan membuat hatimu sendiri terluka, Maximillian."
"Tidak, jangan katakan itu! Kau dan anak kita, kalian akan selalu berada disisiku, kau sudah janji bahwa kau akan menemaniku!"
"Aku tidak bisa, Maxim. Kita sudah tidak bisa seperti dulu lagi. Semuanya telah berubah, waktu dan keadaan tidak dapat mempersatukan kita. Mungkin....takdir kita memang sampai disini." Liliana menatap pria itu sambil tersenyum tipis, bibirnya pucat seperti tidak ada darah.
"Kau...kenapa kau lakukan ini?! Kenapa kau mengatakan itu?" Max menatap Liliana dengan mata berkaca-kaca.
"Kau harus bahagia, meski tanpa ada aku. Bangunlah dari mimpi dan hadapi kenyataan. Kita sudah tidak bisa bersama lagi, Maxim." Tangan Liliana membelai kedua pipi pria itu dengan lembut. "Lupakanlah aku,"
Kemudian dia memberikan kecupan lembut dibibir Max, dia menangis. Begitu pula dengan Max dan perlahan-lahan dia melihat Liliana menghilang. "Lily, maafkan aku...kumohon, jangan tinggalkan aku!"
"Kau harus bahagia, aku minta maaf.. maaf karena aku tidak bisa menemanimu lagi."
"TIDAK!! Kau tidak boleh pergi! Lily!!"
Kemudian pria itu membuka mata dengan kondisi nafas terengah-engah dan tubuh berkeringat. Rupanya itu hanya mimpi dan dia masih melihat Liliana tidak berdaya disampingnya. "Lily..." Max menyatukan keningnya dengan kening wanita yang sudah menjadi jenazah itu. "Kau tidak akan pergi kemanapun, kau akan hidup!!"
__ADS_1
Keesokan harinya, pagi itu Max bangun dan dia berburu di sekitar gua yang dia tempati bersama Liliana. Dia seperti tidak ingat dengan statusnya yang seorang Raja, hidupnya kini mungkin hanya untuk Liliana saja.
"Lily, lihat ini? Aku sudah bawakan kelinci, kau kan suka daging kelinci! Aku akan panggangkan untukmu ya." Kata Max sambil tersenyum melihat jenazah yang bersandar duduk di bebatuan.
Max seperti kehilangan akal, otak sehatnya tidak berfungsi. Dia bicara sendiri, namun seolah-olah dia bicara dengan Liliana.
Wush~~
Tiba-tiba saja terlihat cahaya didepan gua itu, Max bersiap untuk melihat siapa yang ada disana atau siapa yang mengancam bahaya. Bersamaan dengan cahaya itu, seseorang berjubah hitam, Duke Geraldine dan Aiden muncul disana.
Max tercengang melihat ketiga orang itu muncul dihadapannya. Mereka menatap Max dengan tatapan tajam, terutama Duke Geraldine. "Nona Liliana..." Aiden melihat jasad Liliana yang didudukkan diatas tanah dan disandarkan pada batu. Wanita itu sama sekali tidak bergeming, tentu saja karena dia sudah mati.
Liliana, apa kau sudah benar-benar tiada? Ini tidak mungkin, kan?. Aiden terperangah tak percaya melihat Liliana dengan wajah pucatnya.
Ketika Aiden akan berjalan mendekati Liliana, Max langsung mengarahkan pedangnya tepat ke leher Aiden seperti siapa menebas pria itu. "Jangan berani melangkah lagi, kalau kau berani melangkah...pedang ini akan membuat tubuh dan kepalamu terlepas!" Ancam Max pada Raja Gallahan itu.
"Hentikan ini Raja Istvan, cobalah berpikir rasional. Aku tau kau sedih, tapi ini tidak benar." Aiden menatap pria itu dengan tegas.
Melihat sang Duke menangis, membuat Raja itu tak berdaya. Dia menurunkan pedangnya dan ikut meneteskan air mata juga. Fakta Liliana dan anaknya yang tiada telah membuat dia frustasi.
Saat Max sedang menurunkan kewaspadaannya, barulah Aiden mulai mendekati Liliana. Dia sedih, melihat wanita yang dia cintai benar-benar tiada. "Liliana,"
Kenapa? Padahal kita baru kenal sebentar saja...padahal aku baru ingin memulai hubungan denganmu. Tapi kenapa kau sudah pergi saja?
Aiden meneteskan air matanya, dia memeluk Liliana yang memiliki suhu tubuh yang dingin itu. Jantung yang tidak berdetak, hidung yang tak bernafas. Dia benar-benar sudah tiada.
Max tidak bisa menghalangi lagi, akhirnya membiarkan Duke untuk membawa Liliana ke tempat peristirahatan terakhirnya.
__ADS_1
Setelah menempuh beberapa hari perjalanan, Duke Geraldine, Max, Aiden dan pasukannya tiba di kerajaan Istvan. Terjadi lagi ketegangan antara Duke Geraldine dan Max tentang pemakaman Liliana. Namun Max keras kepala dan dia menggunakan kekuasaannya sebagai kaisar agar Liliana bisa dimakamkan di makam kerajaan dengan posisi permaisuri dan tidak ada lagi yang bisa menantangnya.
"Apa hari ini adalah hari pemakamannya?" Laura melihat suaminya dengan mata berkaca-kaca.
"Ya, aku tidak menyangka bahwa nona Liliana akan berakhir seperti ini. Apalagi dia sedang hamil. Aku tidak dapat membayangkan bila kehilangan itu terjadi padaku, aku tidak bisa hidup tanpamu istriku." Eugene memeluk istrinya, dia turut berduka dengan kehilangan yang dirasakan oleh Max karena kehilangan orang yang dicintainya.
Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika posisi Max terjadi padanya dan dia kehilangan Laura, pasti dirinya akan amat sangat terluka.
"Kakak pasti sangat sedih, kita harus ada disana untuk menguatkannya, Eugene." Laura juga merasakan kesedihan yang sama.
Kakak Liliana adalah orang yang sangat baik, dia telah banyak membantuku bersama Eugene. Tapi kenapa orang baik cepat perginya?
Bukan hanya mereka berdua yang bersedih atas kepergian Liliana, tapi semua orang yang ada disana bahkan rakyat juga turut sedih karena Liliana. Putri mahkota yang baik dan membuat rakyat menjadi lebih baik meski dia tidak lama menjabat sebagai putri mahkota.
Hujan!
Mengiringi pemakaman itu, pemakaman yang di lakukan di tempat pemakaman keluarga kerajaan. Duke Geraldine berada dibarisan paling depan, Adara juga ada disana menyaksikan pemakaman itu. Dia menangis, bersamaan dengan para pelayan di mansion Geraldine yang sayang pada Liliana.
"Nona...nona...hiks... huhu..."
Adara melihat pemakaman itu dari kejauhan, "Harusnya aku yang mati lebih dulu, kenapa malah kau? Kau orang baik...tidak seharusnya tuhan mengambilmu." Gumam Adara sambil menangis, mengingat semua perbuatan jahatnya di masa lalu pada Liliana alias Adaire kakaknya.
Usai pemakaman itu, semua orang memberikan penghormatan terakhir untuk Liliana, mendoakan agar Liliana tenang di alam sana.
Setelah semua orang pergi, Max masih berada disana dibawah hujan. "Yang mulia, anda harus segera berteduh." ucap Adrian sambil membawa payung dan dia arahkan pada Max.
Max hanya diam membisu melihat nisan makam Liliana.
__ADS_1
Aku akan menghidupkanmu kembali Lily. Aku janji padamu.
...****...