Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 183. Teman Laura


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Gadis itu bungkam dan tidak mengatakan apa-apa soal pelecehan yang didapatkannya dari Alejandro. Bahkan ketika Daisy dan teman-temannya menanyakan tentang hal itu, Liliana menolak untuk bicara.


Mungkin gadis itu malu atau dia tak mau memperpanjang masalah.


Hingga tibalah di hari di mana upacara penobatan Raja akan dilakukan. Istana yang begitu megah itu dihias dengan indah. Beberapa menteri dan bangsawan kelas atas turut hadir dalam acara penobatan. Mereka ingin melihat seperti apa sosok Raja baru di kerajaan itu.


Tidak hanya para menteri dan bangsawan kelas atas saja yang diperbolehkan untuk melihat penobatan raja. Rakyat juga turut disertakan untuk melihat raja baru yang akan memimpin kerajaan tersebut.


Semua orang sibuk dengan urusan mereka masing-masing, terutama para pengawal dan dayang istana. Sampai-sampai, Max tidak bisa melihat Liliana selama 2 hari karena kesibukannya mempersiapkan ini dan itu.


Alejandro juga sibuk tidak ada waktu untuk mengganggu Liliana, setidaknya gadis itu bisa sedikit lebih tenang karena pria itu tak ada mengganggunya. "Haaahhh.... syukurlah hari ini begitu sibuk, karena si bajingan itu tidak datang menggangguku."


"Nona Liliana!"


Liliana menoleh ketika namanya dipanggil oleh seorang pria. "Sir Eugene?"


"Nona Liliana, aku ingin bicara denganmu sebentar!" Eugene menghampiri kadis itu dengan nafas yang terengah-engah, dia baru saja habis berlari.


"Ada apa sir Eugene?" Tanya


"Aku tau kau sibuk, tapi ini hanya sebentar saja...5 menit saja, ah tidak...aku minta waktumu 3 menit saja." ucap Eugene seraya memohon kepada Liliana.


"Baiklah, ada apa?"


"Nona Liliana, biasanya wanita suka apa? Ketika seorang wanita marah, pria harus memberikan apa?" Tanya Eugene terburu-buru.


"Hem... baiklah aku akan tanya dulu kepada Sir Eugene, siapa yang sedang marah ini dan kenapa dia marah?"


"Putri Laura, dia masih marah kepadaku."


Liliana lihat seperti sedang berpikir, beberapa saat kemudian dia mengajak Eugene duduk dulu di salah satu anak tangga di sana dan mereka bicara.


"Jadi, semenjak kejadian waktu itu... Putri Laura belum juga memaafkanmu?"


"Tidak, bukannya begitu! Putri Laura, masih belum mau bicara denganku...."


"Tapi apa kau sudah berusaha bicara padanya?"


"Sudah!"


"Lantas bagaimana?"


Eugene menggeleng. "Dia menghindar terus dariku,"

__ADS_1


"Hem...baiklah, saranku begini... kau bawa sesuatu yang mungkin disukai oleh tuan putri."


"Apa ya?"


"Kau kan kekasihnya, masa kau tidak tahu apa yang disukai oleh kekasihmu sendiri?"


"Putri, suka makan makanan yang manis-manis dan dia juga suka dengan bunga lotus."


"Nah...itu kau tau. Ya sudah, kalau begitu tunggu apa lagi. Berikan apa yang dia mau lalu bujuklah dia dengan kata-kata yang romantis. Karena aku melihat, putri adalah seorang wanita yang lembut. Dia makan dulu dengan apa yang kau lakukan, percayalah padaku!" Liliana tersenyum seraya menepuk bahu Eugene dan menyemangatinya.


"Baiklah, terima kasih telah memberikanku saran. Kau adalah teman yang baik, aku berharap bahwa selamanya kau menjadi temanku."


Aku takut suatu hari nanti teman tempatku mencurahkan isi hati, akan menjadi atasanku yaitu istri dari yang mulia Raja.


"Hah? Tentu saja, kita kan memang teman dan selamanya aku akan menjadi temanmu." Liliana merasa aneh dengan ucapan Eugene, seolah dirinya tak akan menjadi temannya lagi.


Tanpa mereka sadari, Laura dan Annie (Dayangnya) melihat Eugene dan Liliana yang sedang berduaan di anak tangga. Laura mencengkram gaun yang dikenakannya, wajah cantiknya itu kini terlihat sangat marah. Tatapan cemburu mengarah kepada mereka berdua.


Jadi...ini alasannya kau menjauhiku, Eugene? Apa karena dayang itu? Apa hatimu telah berpaling dariku?


"Yang mulia, mari kita kembali ke aula! Acara penobatan akan segera dimulai," ucap Annie mencoba mengalihkan suasana, dan mengajak Laura pergi ke tempat lain.


Laura terdiam dengan mata yang mengembun, dia memegang dadanya yang terasa sesak. Melihat pria yang dia cintai tersenyum dan tertawa bersama wanita lain di hadapannya.


Laura kehilangan kata-kata, dia pun memberikan badannya dan melangkah pergi dari sana. Liliana dari kehadiran gadis itu, dia langsung meminta Eugene untuk menyusu Laura. Karena dia tahu bahwa Laura salah paham kepada mereka.


Eugene berlari menyusul Laura, dia menghadang wanita itu. "Putri Laura..."


Putri Laura menangis? Apa benar Iya salah paham padaku dan Liliana?


Laura menangis, lalu dia mendorong Eugene dengan kesal. Seakan mengerti dengan situasi, Liliana dan Annie menghindar dari sana dan membiarkan mereka hanya berdua saja.


"Yang mulia, tolong dengarkan saya! Kita tidak berbicara selama beberapa hari, apa yang mulia ingin tetap seperti ini?"


"Bukankah ini yang kau mau? Kau ingin putus denganku kan? Karena kau memiliki wanita lain!" Tuduhnya dengan dirinya air mata yang mengalir dari matanya.


Benar tebakan Liliana, wanita itu benar-benar salah paham dengan hubungan Liliana dan Eugene.


"Astaga.... yang mulia, anda salah paham. Nona Liliana dan saya tidak ada hubungan apapun selain pertemanan. Dia berbicara dengan saya, karena saya meminta saran kepadanya untuk membujuk yang mulia."


"Kau pasti bohong! Semua pria sama saja,"


"Yang mulia, saya berkata jujur! Kalau yang mulia tidak percaya pada saya, yang mau lihat tanjakan sendiri kepada gadis itu. Selama beberapa hari ini batin saya tersiksa, memikirkan bagaimana caranya untuk meredakan kemarahan dari wanita cantik di hadapan saya ini. Lalu saya meminta saran dari seorang wanita yang mungkin akan mengerti perasaan wanita lainnya. Jadi, saya---"


"Tunggu! Jadi kau benar-benar tidak ada hubungan apa-apa dengan wanita itu?" Pungkasnya sembari meletakkan jari telunjuknya di bibir pria itu.

__ADS_1


"Sungguh, sumpah demi Tuhan! Kami hanya berteman,"


"Hem..."


"Yang mulia, saya mohon maaf... karena perkataan saya beberapa hari yang lalu telah menyakiti hati anda. Saya--"


"Cukup! Jangan ada minta maaf, sekarang aku akan bertanya untuk kejelasan hubungan kita!"


Eugene mengganggukan kepalanya dengan patuh.


"Apa kau benar-benar serius denganku? Apa kau akan menyerah berjuang untukku? Untuk hubungan kita?"


Eugene memberanikan dirinya untuk mengecup bibir cantik itu. Kemudian dia mengatakan bahwa dirinya akan berjuang untuk hubungan mereka, dan dia tidak akan mundur.


Laura terlihat senang mendengarnya, Mereka pun berpelukan dan berbaikan. Annie dan Liliana juga terlihat bahagia melihat kedua orang itu berbaikan. Setelahnya, Laura mendekati Liliana.


"Hormat saya yang mulia putri,"


Putri Laura sangat cantik, dia seperti peri.


Laura memegang tangan Liliana. "Tidak... jangan seperti itu. Aku minta maaf karena sudah berpikir yang bukan-bukan tentangmu dan aku terima kasih kepadamu karena membuat Eugene mau berjuang untukku. Karena kau adalah temannya, maka kau adalah temanku juga." Gadis yang tadi cemburu dan marah itu, memperlihatkan senyuman manis di bibirnya.


"Yang mulia, mana bisa orang biasa seperti saya berteman dengan yang mulia." Gadis itu melihat Laura dengan penuh kekaguman, selain cantik, hatinya juga baik.


"Tidak! Selama ini aku tidak pernah punya teman yang benar-benar menjadi temanku. Aku yang mengajakmu berteman, Jadi kau tidak boleh menolak aku." Laura cemberut seraya memelas pada Liliana.


Akhirnya Liliana setuju untuk berteman baik dengan Laura dan menjadi teman bicaranya. Liliana adalah teman bicaranya.


****


Semua orang telah berkumpul di aula istana, rencananya mereka akan pergi ke pusat kota dan acaranya di pindahkan ke sana. Bertujuan agar semua rakyat juga bisa melihatnya.


Max sudah bersiap dengan jubah kebesarannya, dia akan di lantik oleh pendeta agung. Wajah pria yang akan menjadi Raja itu terlihat gelisah, manakala dia tak melihat sosok Liliana disana. Sudah dua hari karena kesibukannya, dia tak sempat melihat


Liliana. Dia sangat merindukannya, dan rasa rindunya tak terbendung lagi. "Adrian,"


"Ya, yang mulia!"


"Kau carilah dayang ku, dia harus ikut denganku ke acara penobatan itu."


Dayang istana, harusnya tidak ikut ke acara penobatan. Tapi Max mengecualikan Liliana, dia ingin agar wanita itu ikut dengannya ke pusat kota.


Namun sayangnya, saat Adrian akan mencari Liliana. Dia harus mengurungkan niatnya itu karena keadaan mengharuskannya untuk bersama Max, lantaran acara penobatan akan dimulai dan mereka harus segera berangkat ke tempat acara itu akan dilangsungkan.


...****...

__ADS_1


__ADS_2